
Suara azan subuh berkumandang, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Segera ku bangun dari pembaringan yang beralaskan tikar itu, untuk mengambil wudu dan melaksakan salat.
“Mbak, di panggil Ibu ke dapur” ucap Faris, adikku
“Iya Ris, sebentar, Mbak rapikan dulu mukenanya” aku melipat mukena dengan rapi dan berjalan menghampiri ibu.
“Sini Bu, Iffah bantu” aku segera mengambil alih pekerjaan yang sedang ibu kerjakan.
“Mbak, hari ini mau sekolah?” tanya ibu pelan, aku hanya mengangguk ragu sebagai jawaban.
“Ibu belum punya uang untuk membayar SPP Mbak, Mbak masih mau datang ke sekolah?” ibu menatapku dengan intens, membuatku menjadi bimbang.
“iya Bu, sekarang atau nanti akan tetap terjadi ‘kan?” ucapku pelan
Ibu terdiam, tatapan matanya menjadi sendu membuatku semakin merasa bersalah.
“Bu, Iffah tidak masalah jika memang harus terjadi sekarang, Iffah tidak pernah menyalahkan siapa pun, bukankah Allah memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya? Ibu, Iffah janji suatu saat nanti akan Iffah raih asa yang telah terangkai” air mataku mengalir, entah mengapa suasana menjadi sedih, aku tersenyum meski hati menangis aku harus tetap terlihat tegar.
“Bu, sudah jam 06.00 wib. Iffah harus berangkat, Iffah ke kamar dulu ya, Bu” aku meninggalkan ibu yang masih terdiam, segera ku kamar untuk bersiap-siap sekolah, tak butuh waktu lama aku pun telah siap.
“Mbak, Mbak mau sekolah?” tanya Faris
“Iya, Ris” jawabku singkat
Jam tangan yang melingkar di tangan kananku menunjukkan pukul 06.30 wib. Itu artinya sebentar lagi kelas akan di mulai, aku segera berpamitan dengan ibu dan adik-adikku. Ya, aku anak pertama dari 3 bersaudara, jangan tanyakan ayahku di mana? Karna aku pun tak tahu. Ayah pergi meninggalkan luka, menghancurkan asa yang telah terangkai indah.
Tak lama aku sampai ke depan gerbang sekolah. Aku menyusuri koridor dengan langkah pelan, sambil melihat teman-temanku bermain. Ya, aku bersekolah di salah satu sekolah yang berada di Jakarta, sekolah ku dekat dengan jalan raya hingga hiruk-piruk mobil terdengar sampai kelas. Bel masuk telah berbunyi, semua siswa berlari ke kelas masing-masing, begitupun dengan kelasku. Suasana menjadi ricuh, dikarenakan guru tidak bisa masuk ke kelas, membuat kami menjadi bebas tanpa pengawasan. Namun, tak lama wali kelas masuk memberi pengumuman dan memanggil nama-nama anak yang bermasalah.
__ADS_1
Suasana menjadi tegang, begitupun dengan ku. Seketika aku panik saat bu Nia memanggil namaku dengan suara lantang. Bahkan saat bu Nia telah meninggalkan kelas pun, aku masih saja gelisah. Bel pelajaran berbunyi menandakan bahwa pelajaran pertama telah usai dan akan dimulai pelajaran kedua. Aku sama sekali tidak memperhatikan penjelasan bu Okta. Tak lama bel istirahat berbunyi, seketika hatiku kembali tidak tenang. Aku berjalan dengan langkah pelan menuju ruangan bu Nia. Satu persatu temanku yang dipanggil sudah lebih dulu ke bu Nia, mereka dipanggil karna membolos kemarin. Ah, dunia memang tak adil, mengapa aku yang sangat menginginkan sekolah sangat sulit untukku bersekolah, mengapa mereka yang sudah bisa sekolah, tidak perlu lagi memikirkan biaya sangat senang membolos?
Tok
Tok
Aku mengetuk pintu ruangan bu Nia, kebetulan sekali wali kelasku seorang guru BK, jadi bu Nia mempunyai ruangan sendiri, setidaknya tak ada yang mendengar jika nanti bu Nia menghinaku. Ya, dunia memang tak adil, selalu kasta yang di nilai.
“Masuk” sahut bu Nia dari dalam, aku melangkahkan kakiku dengan gemetar
“Siang, Bu” sapaku
“Iffah, bagaimana? Apa uangnya sudah ada?” tanya bu Nia
“Maaf, Bu” hanya kata maaf yang terucap dari bibirku
“Iffah, ini surat untuk Ibumu, sepertinya pihak sekolah tidak bisa memberikan toleransi lagi, kalian hanya bisa berjanji, tanpa ada itikad baik!” bu Nia berkata tegas membuatku tersentak, ada yang sakit dalam diriku, aku berusaha menahan tangisanku. Tidak! Aku tidak boleh menangis.
Waktu berlalu begitu cepat, bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas, saling mendorong sambil bercanda. Ah, bahagia melihatnya, apa nanti aku akan terus melihat suasana seperti ini? Apa nanti aku akan tetap merasakan suasana yang sangat aku impikan? Aku terus bertanya dalam hati, semua terasa tak adil buatku.
Waktu telah menunjukkan pukul 14.30 wib. Tapi aku masih enggan beranjak dari tempat dudukku, seketika air mataku mengalir, aku menangis seorang diri di dalam kelas, aku tak tahu besok masih bisakah aku belajar disini? Masih bisakah aku menulis disini? Seseorang masuk dengan tergesa ke dalam kelas, dengan sigap aku menyeka air mata yang mengalir dan berusaha untuk baik-baik saja.
“duluan ya, Sis” tuturku kemudian dan pergi meninggalkan temanku begitu saja
Tiiin
Tiiin
__ADS_1
“Jalan jangan sambil melamun dong, Mbak!” teriak sopir mobil tersebut
Suara yang sangat lantang menyadarkanku dari lamunan, aku menghela nafas pelan. Mengusap dadaku dengan pelan.
Hampir saja ~ pikirku
…
“Assalamualaikum, Bu” ucapku
Tak ada sahutan dari dalam, berkali-kali aku memberi salam, rumah tampak kosong. Aku memasuki rumah, menyusuri setiap ruangan yang ada.
“Ibuuu” teriakku
Aku melihat ibu sudah tak berdaya di dapur, dengan wajah yang pucat pasi dan suhu tubuh yang dingin. Aku keluar berteriak meminta tolong tak ada seorang pun yang mendengar. Aku tak tahu mereka tidak dengar atau hanya pura-pura tidak dengar. Aku berlari mengelilingi jalanan, menghampiri rumah demi rumah. Namun, semua tampak sepi, seakan semua sudah direncanakan. Tak lama aku bertemu dengan salah satu warga, aku memaksanya untuk ke rumah supaya bisa memeriksa ibu.
“Innalillahi wa innailaih roji’un” ucap orang itu pelan
Aku menangis duniaku berkabung. Lagi, aku kembali kehilangan sosok yang sangat aku cinta. Sosok yang selama ini menyemangatiku, menemani hari-hariku, tak ada lagi senyum manis yang menyambutku di pagi hari. Tak ada lagi tempat ku berkeluh kesah. Tak membutuhkan waktu lama, rumah ku menjadi ramai oleh tetangga. Mereka membantuku untuk mengurusi jenazah ibu. Meski dalam hati aku bertanya “ke mana kalian? Ke mana kalian tadi? Mengapa kalian tidak ada disaat aku membutuhkan kalian? Andai, andai tidak terlambat, mungkin ibu masih bisa di selamatkan” kata-kata itu hanya sampai ke tenggorokan.
“Mbak, kenapa wajah Ibu ditutupi kain putih?” ucap Rara, adik ku yang baru saja pulang dari mengaji
“Mbak, apa yang terjadi sebenarnya? Mbak, tolong jawab Kami!” Faris mengguncangkan bahuku kencang, tapi aku masih saja terdiam, aku tak mampu berbicara, mulutku terasa kelu. Hanya tangisan yang keluar dari bibir ini. Ah, kakak macam apa ku ini? Seharusnya aku tegar, seharusnya aku bisa menahan diriku.
Rara adikku yang berumur 8 tahun itu, menangis histeris di dekat jenazah ibu, sedangkan Faris hanya diam menatap ibu dengan tatapan kosong. Bukan hanya aku yang kehilangan disini tapi juga mereka adik-adikku. Mereka pun sama tak akan menyangka jika ibu pergi terlalu cepat. Tapi aku disini tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya menangis meratapi nasib kami selanjutnya.
…
__ADS_1
Seminggu sudah kepergian ibu, tak ada yang berubah dalam hidup kami, kami masih saling diam, tak ada yang berani memulai pembicaraan. Aku segera bersiap-siap untuk berjualan keliling menggantikan ibu mencari nafkah. Setidaknya tidak ada yang boleh putus sekolah seperti ku.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 wib, aku masih belum pulang, berdiam diri di taman sambil menawarkan dagangan kepada orang yang berlalu lalang. Aku melihat senja dengan mata berkaca-kaca, Aku berharap masalahku sama seperti senja, datang hanya untuk sementara. Dalam hatiku selalu bertanya, jika aku diizinkan melangkah mengapa harus ada kata pembalasan?