Meraih Asa

Meraih Asa
Mendapatkan Pekerjaan


__ADS_3

Hari-hari kita lalui dengan senyum dan rasa syukur. Seperti biasa, aku dengan rutinitasku dan Faris dengan rutinitasnya. Faris membantuku jualan dengan membawa dagangan ke sekolahnya. Tak jarang ia di hina, namun Faris menganggapnya itu sebagai pecutan supaya ia tetap semangat. Pagi ini aku harus mengumpulkan berkas-berkas SMP ku untuk diserahkan ke PKBM supaya aku bisa ikut ujian tahun depan.


“Mbak, sedang apa?,” tanya Faris


“Mbak cari ijazah SMP, Faris lihat?,” Jawab ku tanpa mengalihkan atensi ku sedikitpun dari berkas-berkas yang kupegang


“Mbak, ijazah-ijazah ada di tas yang biru, tas itu bukan tempat ijazah,” ucapnya


“oh iya, Mbak lupa,” ucapku dan segera berlari mencari tas biru


“Hehe, Mbak pagi ini kenapa sih rusuh banget, ingat! Jangan terburu-buru,” ucapnya meledek


“Iya iya, sudah sana berangkat nanti telat” usirku


“hmm, Faris berangkat dulu ya Mbak, dagangan yang diatas meja Faris bawa,” Faris mencium punggung tangan ku


“Iya, Ris,” ucapku


“Hati-hati di jalan,”tuturku lagi


Ia hanya tersenyum dan memberiku hormat seakan ingin menghormati bendera. Aku tertawa melihatnya. Ah, begitu indah cara Allah mempererat persaudaraan kita. Masalah-masalah yang kita hadapi, membuat persaudaraan semakin erat.


Jam tangan yang melingkar di tangan kananku menunjukkan pukul 06.15 wib. Aku segera berangkat tak lupa mengunci pintu dan menaruhnya di dalam vas depan rumah, supaya jika Faris pulang Ia tak perlu menungguku terlalu lama.


Aku berjalan menyusuri jalanan kota. Hiruk piruk suara mobil dan motor terdengar jelas. Di kota ini sudah sangat ramai. Orang-orang berlalu lalang memulai kegiatannya, toko-toko sudah mulai di buka, anak-anak berangkat sekolah dengan memakai seragam yang lengkap. Aku duduk di sebuah emperan toko yang masih tutup, menunggu bu Farhah datang. Tak lama bu Farhah datang dan mengajakku ke salah satu warung yang sudah buka.


“Ibu turut berduka cita, Fah,” Ucap bu Farhah


“iya, terima kasih Bu,” aku menunduk, aku kembali menitikkan air mata


“yang datang akan selalu pergi, layaknya malam yang selalu tergantikan pagi. Hukum semesta sudah tertulis oleh sang pemilik hati, tapi masih saja manusia membenci yang pergi. Seandainya semua mengerti tentang takdir mungkin tak ada lagi yang harus ditangisi,” ucap bu Farhah, aku terdiam, merasa tertampar dengan ucapan bu Farhah. Ah, andai aku bisa menerima takdir mungkin tak ada lagi yang harus ku sesali


“Iffah, jangan pernah menyerah dengan keadaan, ketika semua jalan tertutup, tegaklah kembali dan cari jalan baru berserahlah pada Allah. Dan jemputlah keajaiban sebuah titik terang yang membawamu pada sebuah keberhasilan” bu Farhah mengusap ujung kepalaku lembut. Ah, aku seperti memiliki ibu lagi


“Anggap Ibu seperti Ibu kandung Mu, jangan pernah sungkan untuk bercerita pada Ibu tentang kesulitanmu,” tuturnya lagi


“iya, Bu,” ucapku


“Iffah, Mau kerja? Ibu ada lowongan pekerjaan tapi untuk jaga toko, Iffah Mau?,” tanya bu Farhah

__ADS_1


“Mau, Bu,” Ucapku penuh semangat


“tapi aku masih tetap bisa belajar kan, Bu?,” tanyaku


“tentu saja” ucapnya sambil tersenyum


“Sudah ayo kita pergi, teman Ibu sudah menunggu,” Tuturnya lagi


“daganganku?,” Tanyaku


“bawa saja Iffah, nanti taro saja di depan toko, toko nya lumayan laris, kau bisa sambil jualan di sana” Ucap bu Farhah


“berkasnya, Bu,” tuturku lagi


“sini Ibu bawa” bu Farhah mengambil berkas ijazah yang sedang ku pegang


Dan kami pun pergi menemui teman bu Farhah. Toko nya lumayan jauh dari tempat tinggal ku dan tempat aku berjualan, jadi kami terpaksa menaiki angkutan umum suapaya sampai dengan segera disana. Tak lupa aku mematfaatkan waktuku dengan berjualan di angkutan umum. Bu Farhah pun terlihat tak masalah aku sambil jualan. Aku tersenyum daganganku hampir habis, tinggal beberapa bungkus rengginang yang belum terjual. Ah, tak masalah, aku pun akan menjualnya nanti di depan toko. Akhir nya kami pun sampai di sebuah toko dengan bangunan yang modern. Terlihat besar dari luar, baru dirintis memang tapi toko nya ramai pengunjung.


“Assalamualaikum,” sapa bu Farhah


“Wa’alaikumussalam, Bu,” ucap salah satu pegawai


“baik, terima kasih,” ucap bu Farhah


Kami pun masuk ke dalam toko dan berjalan ke salah satu ruangan yang berada di lantai 2, toko nya lumayan besar, ada 2 lantai disini, lantai untuk ruangan bos yang di panggil nona muda tersebut.


“Assalamu’alaikum” Ucap bu Farhah sambil membuka pintu


Aku terperangah dengan ruangan ini, ruangan yang di desain sederhana namun elegan. Terdapat lukisan nan indah yang di pajang di ruangan ini, wangi ruangan yang berbau soft serta warna dinding yang tidak norak. Jelas saja di panggil nona, karna usianya masih muda dan terlihat cantik. Rambut yang lurus sebahu, hidung yang mancung serta bola mata yang indah.


“ini yang kakak ceritakan?,” ucap gadis itu


“ya” bu farhah mengangguk dan tersenyum


“ Siapa namamu?,” Tanya gadis itu


“Iffah kak eh nona,” jawabku canggung


“Hahaha santai saja, panggil saja kakak, dan saya gk segalak yang kamu kira jadi tak perlu takut,” ucap nya sambil tertawa

__ADS_1


“Terima kasih,” jawabku


“oke, kalo gitu kakak pamit ya Rosa,” ucap bu Farhah


“Ibu pamit ya, Fah,” tuturnya lagi


Gadis itu mengacungkan jempolnya, aku hanya tersenyum menanggapi. Ya, gadis itu bernama Rosa, gadis yang cantik nan anggun. Setelah bu Farhah pergi gadis itu menjelaskan kepadaku tentang pekerjaan ku, karna aku harus sekolah malam mengejar paket ku. Aku selalu dapat sift pagi.


“oh ya, apa yang Kamu bawa?” tanyanya, dia menunjuk ke kandung kresek yang sedang ku pegang. Ah, bahkan aku sendiri pun lupa jika aku masih memegang kantung yang berisi rengginang.


“rengginang kak, jualan Saya,” Jawabku canggung


“Berapa satu nya?,” tanyanya


“15.000/bungkus,” jawabku


“taruh saja disini, kakak akan membeli semua,” tuturnya


“Alhamdulillah, Terima kasih kak,” jawabku sambil tersenyum senang


“Hmmm maaf kak, jika di perbolehkan, saya mau lihat-lihat ruangan kakak, karna saya suka sekali dengan desain nya,” tutur ku


“Ya, silakan,” jawabnya


Aku melihat dengan teliti foto-foto yang berada di dinding ruangan ini, ruangan yang sangat nyaman di tempati, tanpa sengaja aku menjatuhkan album foto yang berada di meja, dan aku melihat orang yang sangat aku kenal di foto itu.


“Maaf kak, boleh Saya bertanya?,” tanyaku


“ya, silakan,” jawabnya


“Maaf, kak, foto ini siapa?,” tanyaku pelan


“Ayah ku, ayah tiriku,” ucapnya


“Ayah?,” Tanyaku lagi


“Iya, dia Ayahku, kenapa Fah?,” tanyanya


“Tidak… Tidak apa-apa, kak” jawabku

__ADS_1


Kak Rosa menceritakan tentang ayah, kebaikan ayah yang selalu ada buat kak Rosa, selalu mengerti kak Rosa, selalu melindungi kak Rosa, selalu mengajarkan kak Rosa hal-hal yang menarik. Berbeda sekali dengan ku, ingin sekali ku berkata, “dia Ayahku, Ayah yang meninggalkan kami, dia pergi tanpa kabar, dan kembali hanya untuk bercerai dengan Ibu, dia Ayahku, Ayah yang telah menggoreskan luka dalam hati anak-anaknya, Ayah yang telah membuat ku trauma dengan laki-laki, karna dia aku tak bisa melanjutkan sekolah lagi”. Namun, kata-kata itu hanya sampai ke tenggorokan, aku hanya mendengarkan cerita kak Rosa, cerita indah tentang Ayah.


__ADS_2