
Rutinitasku kini mencari nafkah, menggantikan ibu berjualan keliling, serta mengurusi keperluan rumah, beruntung adik-adikku sudah mengerti mereka membantuku membuat gorengan dan membersihkan rumah tanpa ku pinta. Aku tersenyum miris melihat teman-temanku berangkat dengan berpakaian sekolah lengkap. Dulu, aku paling semangat untuk berangkat sekolah, selalu berprestasi, gelar juara selalu melekat dalam diriku, berharap kelak aku mendapatkan beasiswa.
Insecure?
Tentu saja, aku insecure dengan teman-temanku, aku merasakan minder sekaligus iri dengan mereka. Aku selalu berusaha untuk tetap tersenyum mengabaikan rasa sakit yang ada di hati. Berusaha untuk tetap baik-baik saja, meski hati menangis, keadaan memaksaku untuk tetap tegar.
“Mbak, Faris berangkat dulu ya” Faris mencium punggung tangan ku dan aku hanya tersenyum menanggapi
“Ris” panggilku
Faris menoleh ke belakang sejenak.
“Semangat” Tangan bebas ku membuat kepalan dan ku angkat ke udara, memberi semangat kepada Faris, meski sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bicarakan. Faris hanya tersenyum dan mengatakan “pasti Mbak, tunggu kesuksesan Faris ya” ucapnya dengan tersenyum. Aku menghela nafas pelan dan memasuki rumah, ku lihat Rara yang masih duduk termenung di bangku yang sudah usang.
“Rara” panggilku, Rara hanya melihat ku sejenak lalu kembali menunduk
“Ra, mau sampai kapan Rara begini?” tanyaku pelan
Ia hanya menggeleng dan kembali menangis, aku memeluknya membiarkan adikku menangis mengeluarkan rasa kecewa yang hadir kembali. Rara memang sangat dekat dengan ibu, karna kedekatannya ia sangat merasa kehilangan.
“Mbak, Rara ingin Ibu, Rara janji tidak akan nakal” lirihnya
“Ra, Mbak mau jualan, Rara mau ikut?” tanyaku, aku berusaha mengalihkan perhatiannya, setidaknya ia melupakan tentang ibu sesaat. Ia melihatku dengan tatapan sayu tak lama ia pun mengangguk. Tak butuh waktu lama untuk kami bersiap-siap. Dan berjalan meninggalkan rumah untuk berjualan.
Toko demi toko kami hampiri. Namun, dagangan kami belum ada yang terjual. Suasana semakin terik, matahari sudah berada diatas kepala, kami mampir di masjid terdekat untuk salat dan beristirahat. Seseorang temanku menghampiri.
“Iffah?” tanyanya ragu, aku hanya tersenyum canggung menanggapi
“bukannya Kamu harus sekolah? Kenapa berjualan?” tanyanya
“Aku berhenti, dan sekarang Aku jualan gorengan, dan rengginang, Kamu mau beli?” tanyaku
“tidak, pasti itu makanan tidak sehat kan? Sudah Kamu jajakan dari pagi” ucapnya sinis
Seketika aku menangis, air mataku mengalir tanpa di perintah, aku menunduk menutupi air mataku ini, dengan sigap tanganku menyeka air mata, dan tersenyum menutupi rasa sakit. Tidak! Aku tidak boleh lemah, masih banyak harapan yang akan tercapai meski jalanan yang ku lalui tidaklah mudah.
“Rara, kita pulang aja ya? Rara pasti lapar, Mbak juga sudah cape” ucapku
__ADS_1
“tapi, dagangannya Mbak?”
“nanti biar Mbak saja yang keliling lagi ya, Rara di rumah aja”
“Rara takut sendiri Mbak” Aku tersenyum mendengar ucapannya, ku usap ujung kepalanya
“Nanti Mbak tunggu sampai mas Faris pulang” Rara hanya mengangguk mendengar ucapanku.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Semua kami lewati dengan suka cita. Tak ada keluhan yang keluar dari bibir adikku.
“Assalamualaikum” Ucap kami saat memasuki rumah
“Rara istirahat dulu, Mbak ke dapur dulu” aku berjalan ke dapur dan memasak nasi goreng, beruntung tadi aku sempat masak nasi. Jadi Rara tak perlu menunggu lama. Tak lama ku dengar suara Faris mengucapkan salam. Segera ku pindahkan nasi kepiring dan membawa nya ke depan. Beruntung aku memasak semua nasi yang ada.
“Lihat! Mbak bawa apa? Ayo cepat dimakan,” ucap ku
“Nasi goreng lagi Mbak?,” Tanya Rara lesu
“untuk saat ini kita makan nasi goreng dulu ya, in syaa Allah secepatnya kita akan makan nasi pakai lauk yang enak” Aku mengambil gorengan sisa tadi pagi untuk dijadikan lauk makan kami.
“Sini Mbak, Faris bantu” Faris membereskan tempat makan kami dan ke dapur untuk mencuci piring.
“Rara, istirahat ya” ucapku sambil tersenyum. Ia hanya mengangguk dan masuk ke kamar untuk tidur di tempat yang beralas tikar itu.
“Ris, Mba berangkat lagi ya” pamitku pada Faris
“Iya, Mba” sahutnya dari dapur
Aku kembali menjajakan jualanku, rumah demi rumah ku hampiri, namun tak ada satupun yang membeli rengginangku. Aku tidak akan menyerah, meski tubuhku letih aku tak bisa beristirahat.
“Fah, kamu sekarang jualan?” Lagi, aku bertemu dengan temanku, aku menunduk, rasa sakit dan malu kembali hadir. Tidak! Ini semua sudah takdir bukan?
“ya” jawabku singkat
“gk malu? Gini ya Fa, Kamu itu pintar, seharusnya seusia kamu itu hanya belajar bukan jualan, kalo Aku sih gk mau jualan, malu-maluin aja” ucapnya sinis
“Kalo Kamu gk mau beli, gk usah ngehina” ucapku dan pergi begitu saja
__ADS_1
“Di kasih tahu malah sewot” gerutunya yang masih dapat ku dengar
Azan magrib berkumandang, aku segera mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat, dalam diam ku bermunajat, supaya Allah memudahkan impianku, melalui caranya. Aku duduk di teras masjid sebelum aku berjualan lagi. Tanpa sengaja mataku melihat sekelompok remaja yang sepertinya baru saja pulang sekolah. Mereka bercanda dan tertawa, dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. Ah, dulu pun aku begitu. Aku menangis ternyata aku tak sekuat yang kuharapkan. Segera aku menyeka air mata yang menetes, sambil menunggu azan isya aku menawarkan kepada orang-orang yang mampir ke masjid. Tak sia-sia rengginangku pun laku terjual.
“Fah?” Seseorang memanggilku dan menepuk bahuku, aku pun menoleh
“Bu” sapaku, ya, dia guruku, guru yang paling mengerti dan membelaku saat aku ingin dikeluarkan
“Kamu jualan apa?” tanyanya
“Rengginang, Bu” Ucapku sambil tersenyum canggung
“Harga berapa, Fah?” lagi, ia kembali bertanya
“15.000 satu bungkus” jawab
“nih, Ibu beli 3, tidak perlu kembalian” Bu Farhah memberikanku uang 50.000
“Alhamdulillah, terima kasih” ucapku dengan senang
“Iffah, Ibu ingin bicara sama Kamu sebentar bisa?” Tanya nya, aku mengangguk ragu, dan akhirnya kita berbicara di teras masjid setelah sholat isya
“Kegiatan Iffah sekarang hanya jualan?” Tanya bu Farhah
“Iya, Bu,” jawabku
“Iffah, Ibu punya kenalan teman, teman Ibu punya lembaga paket C, Iffah bisa ikut paket C jika mau, supaya Iffah bisa lulus SMA sama seperti teman-teman yang lain,” ucapnya
“Pasti Mahal ya, Bu biayanya,” tanyaku ragu
“Iffah, Ibu bisa bicara nanti soal biayanya sama teman Ibu, yang terpenting Iffah harus mau belajar kembali,” ucapnya dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya
“Mau, Bu,” jawabku dengan penuh semangat
“Baik, nanti kita bicarakan lagi ya, Ibu pulang dulu,” ucapnya, dan aku pun mengangguk mengiyakan.
Mendapatkan tawaran seperti itu rasanya sangat senang, aku tak perlu insecure dengan diri sendiri. Karna kenyataannya proses seseorang menuju kesuksesan berbeda-beda. Aku yakin diriku bisa menjadi orang yang bernilai. Aku akan buktikan bahwa orang sepertiku juga bisa mempunyai mimpi dan berhak mencapai apa yang diimpikan
__ADS_1