Meraih Asa

Meraih Asa
Kehadiran Ayah


__ADS_3

Rasa haus yang menyerang membuat ku harus terbangun di malam hari. Tapi Aku takut untuk berjalan ke arah dapur, entah lah perasaan ku sedang tidak enak saat ini. Faris sedang menginap di rumah temannya membuat ku seorang diri di dalam rumah. Rasa haus yang semakin mendera memaksaku untuk berjalan ke dapur. Suara derap langkah terdengar membuat semakin takut.


“Faris” panggilku


Namun semua tampak sepi, tak ada yang menyahut panggilanku. Aku berlari mencari tempat bersembunyian.


“Ayah” ucapku kaget


Laki-laki itu menoleh namun ia menghiraukan panggilanku. Ia menelisik setiap sudut rumah membuat ku menjadi risih.


“ada apa Anda kemari?” tanyaku


“bagaimana mungkin anda bisa masuk? Pintu sudah ku kunci?” tuturku lagi


“pintu belum kamu kunci, buktinya Ayah bisa masuk” ucapnya


Aku termangu, untuk pertama kali nya ia menyebutkan diri nya ‘ayah’ setelah sekian tahun Aku tak pernah mendengarnya lagi.


“Fah” ia memegang pundakku, membuat ku tercengang


Mataku mengabur karna air mataku yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Aku kembali memasuki kamar. Mengapa Aku tak merasa senang ia datang?


“Fah” ia mengetuk pintu kamar


“Pergilah, izinkan kami hidup bahagia tanpa kehadiran mu” ucapku


“Maaf” hanya kata itu yang di ucapkannya.


Tak lama derap langkah itu terdengar menjauh. Aku menangis tersedu-sedu. Kehadirannya menghadirkan luka yang sudah mengering.


“Ayah” rintihku

__ADS_1


Ingin rasanya Aku memelukmu, tapi setelah apa yang kau lakukan Aku semakin membencimu. Rasa rindu selalu terlintas meski rasa sakit dan benci padamu tak terbatas. Tak jarang Aku menangis ketika Aku mengingatmu. Banyak sekali kata yang ingin ku cerita kan padamu


“apa yang harus kulakukan, Bu?”


“apa yang harus kulakukan?”


“mengapa Ayah kembali hadir, Bu?”


Aku terus meracau, sesekali ku pukul dadaku yang terasa sesak. Sesesak inikah rasanya merindu? Aku memejamkan mata dan mendekap photo keluarga ku hingga pagi menjelang.


Akhirnya fajar datang menyapa, Aku bergegas melaksanakan salat dan merintih dalam doa. Aku kembali mengingat kejadian semalam, semesta pernah membiarkan kita bersama dalam kurun waktu yang tidak lama, ku biarkan rindu bertemu dalam tafakur penuh doa, saling menjaga dalam kalam yang esa. Detik menyambut lelah tak berkesudahan, namun masih terduduk diambang batas kelengahan.


Jam dinding di rumah ku menunjukkan pukul 05.30 wib. Dengan cekatan Aku membuat kue melupakan kehadiran Ayah.


“Assalamu’alaikum” ucap Faris yang baru datang


“waalaikumussalam, Ris, sini bantu Mbak bungkus-bungkus kue!” perintahku


“Huuft baru juga nyampe” gerutunya yang masih kudengar


“Sini, Ayah bantu” Ayah mengambil alih kue-kue yang dipegang Faris


Kami terdiam, melihat ayah dengan tatapan yang sulit di artikan, Faris menyenggol sikutku dan matanya menunjuk ke arah ayah. Aku hanya mengedikkan bahuku, tak peduli dengan situasi yang aneh ini. Aku berjalan meninggalkan mereka, sayup-sayup ku dengar ayah memanggilku, tapi ku tak peduli kan suara itu. Hatiku masih merasakan sakit, sakit yang belum bisa kusembuhkan dari luka masa lalu.


Tidak dapat dipungkiri mendapat perhatian dari ayah adalah dambaan setiap anak, semburat bahagia memasuki hati ini. Ada rasa aneh ketika ayah memberi perhatian padaku, angan-angan indah memenuhi rongga khayalan. Wahai hati.. Bisakah kau melupakan masa lalu?


Aku terdiam di taman, taman yang penuh kenangan dengan keluargaku. Taman yang menjadi saksi bisu kebersamaan kami. Tanpa sadar bibir ini mengulum senyum mengenang laki-laki yang ku panggil ayah itu.


“Mbak” panggil Faris


Aku terdiam, mataku masih menatap lurus ke depan. Mengabaikan Faris yang hadir di sisi ku.

__ADS_1


“Faris tahu, Mbak di sini, Mbak selalu ke sini jika perasaan Mbak sedang dilemma,” tuturnya


“Iya, sampai bosan Mbak melihatmu, kamu lagi, kamu lagi yang muncul,” tuturku kesal


Dia tertawa dan berkata “Mbak, mengharapkan siapa,?” tanya nya


“pangeran berkuda Putih?” ucapnya meledek


“Ck, sudahlah, Mbak mau pulang, pesanan semakin banyak” Aku pergi meninggalkan Faris yang masih tertawa terpingkal-pingkal


Aku berjalan terburu-buru agar cepat sampai rumah untuk mengejar orderan, langkah ku terhenti saat sosok laki-laki yang sangat ku kenali berdiri di depan pintu rumah dan menoleh kepadaku sambil tersenyum, senyuman yang ku rindukan namun juga ku benci


“Mbak,” ucap nya pelan


“permisi, Saya ingin masuk,” ucapku datar


“Apa yang harus Ayah lakukan, agar Mbak mau memaafkan Ayah?” tuturnya


Aku hanya diam membisu dengan segala rasa yang menggerogoti jantungku. Aku benci tapi juga rindu, ingin rasanya Aku memeluknya menyalurkan rasa rindu yang selama ini ku pendam.


“maafkan Ayah, maafkan Ayah” ayah memelukku dengan erat,


“Mbak, tidak merindukan Ayah?” tuturnya


Aku terdiam, membiarkan ayah memelukku. Tapi hal itu tak berlangsung lama, kenangan kelam tentang ayah memutar dalam ingatan, seperti kaset yang terus terputar. Aku melepaskan pelukan itu dan masuk ke rumah membiarkan ayah terdiam di depan rumah.


“Aku rindu Ayah, Rindu ini selalu ada Ayah, tapi bukan berarti benang yang telah kusut bisa di urai kembali, bukan berarti waktu yang telah berlalu bisa kembali” aku kembali menangis di balik pintu


Merutuki diri mengapa sangat sulit memberikan maaf untuk Ayah? Rasa ragu menerpa hati, ku langkahkan kaki membasuh wajah dengan berwudu. Membentangkan sajadah dan memilih bersua pada sang pemaaf


Sayup-sayup ku dengar ayah dan seorang perempuan yang ku yakini istri ayah berantem di depan rumah. Perempuan itu sepertinya merasa keberatan jika Ayah selalu ke sini.

__ADS_1


Aku berdeham dari dalam, membuat mereka berhenti berdebat. Ku dengar suara langkah menjauh, mungkin mereka merasa tidak enak hingga akhirnya mereka memutuskan pulang.


Ah, Aku kembali dilema, haruskah Aku memaafkan Ayah?


__ADS_2