Meraih Asa

Meraih Asa
Aku, Putrinya!


__ADS_3

Aku sudah memiliki teman untuk membantu ku membuat kue dan mengirimnya kepada konsumen. Riris namanya, dia orang yang cekatan serta telaten, teman ngobrol yang asik, dan selalu bisa di andalkan.


Tok


Tok


“Mbak, siapa yang mengetuk pintu?,” tanya Riris


“Mbak, juga gk tahu,” tuturku


Suara ketukan pintu dengan tempo yang sangat cepat membuat kami ketakutan. Pasalnya Faris tak pernah mengetuk pintu secepat itu, dan Faris lebih sering tidak mengetuk pintu. Aku membiarkan suara ketukan pintu, tapi semakin lama suara itu semakin terdengar keras. Segera ku hampiri dan membuka pintu.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat ke pipiku, menimbulkan warna merah di pipiku.


“kak Rosa?” ucapku tak percaya


“pelakor” tuturnya penuh penekanan


“Kak, maksud Kakak apa?” ucapku


“gara-gara kamu, orang tua ku menjadi ribut” tuturnya sambil menunjukku


“jaga ucapan, Kakak” ucapku penuh penekanan


Dia tertawa meremehkan dan berkata “Ayahku sering ke sini mengunjungi mu, apa namanya jika seorang suami mengunjungi perempuan tanpa sepengetahuan istri kalo bukan perempuan simpanan”


“Kakak sudah salah paham” sanggahku


“wajar jika seorang ayah mengunjungi putrinya” tuturku dengan tegas membuat kak Rosa bergeming.


Karna keributan yang kami buat membuat semua tetangga berkumpul di depan rumah, Riris menghampiriku dengan tergopoh-gopoh. Melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Plak


Tanpa kuduga seorang perempuan menghampiriku. Lantas menampar pipiku dengan kencang. Membuatku tersungkur dan darah mengalir dari sudut bibir ku.


Sumpah serapah tak henti keluar dari bibir nya, hatiku hancur, luka itu masih basah dan menganga. Namun, Ia begitu tega menabur garam di lukaku.


Perempuan itu menghampiriku dan membisikkan sesuatu di telingaku, mataku membulat sempurna saat mendengarnya.


“Aku, putrinya! Aku, putri kandungnya!” teriakku


“pergi kalian! Pergi dari sini!” Teriakku lagi


Ibu dan anak itu pergi meninggalkan ku, sifat mereka sama, sama-sama memuakkan. Aku berlari ke kamar dan mengunci pintu, ku abaikan panggilan-panggilan dari Riris. Ku seka ujung mata yang kembali basah, mengapa hatiku harus selalu dikoyak berulang-ulang?


Faris pov

__ADS_1


Aku kaget saat pulang dan mendengar semua cerita dari Riris, pesanan kue semua di handel oleh Riris, sedangkan aku membujuk Mbak agar mau keluar dari dalam kamar.


“Mbak, ceritalah dengan Faris sebentar, melupakan kesedihan yang dunia berikan dan tunjukkan luka yang menganga lebar” ucapku


Mbak masih terdiam, tak ada sahutan dari dalam, tapi ku yakin bahwa Mbak mendengarkan apa yang kubicarakan


“Faris memang tidak bisa mengobatinya dan mungkin tidak akan pernah bisa, karna Faris pun ikut terluka” Tuturku lagi


Mataku mengembun karna air mata yang menumpuk, tak bisa di pungkiri aku khawatir melihat Mbak, tapi aku juga harus bisa tenang.


“Mbak, jika Mbak terluka, biarkan saja, tidak perlu di balut, Faris yakin Mbak bisa menyembuhkannya sendiri” aku menitikkan air mata, Mbak sama sekali tak meresponku


Lama kami terdiam, membuat suasana semakin hening.


“pergilah, Mbak ingin sendiri” akhirnya Mbak membuka suara, membuatku menjadi tenang


Aku merogoh saku celana ku, ku ambil kartu nama yang sempat diberikan oleh Ayah.


“Jl.pondok karya” Monologku


Aku bersiap untuk pergi ke tempat ayah berada, memberi tahu apa yang sudah putri dan istri tercintanya lakukan. Aku berangkat menggunakan angkutan umum. Berdesak-desakkan di dalam bus, berebut tempat duduk, semua ku lakukan agar ayah tak mengganggu kami lagi. Bukan karna tak sayang, bukan juga karna tak rindu, tapi bagiku keceriaan Mbak lebih utama dari segalanya. Tak lama aku pun sampai dan berjalan menyusuri komplek, melihat-lihat blok rumah ayah.


“Assalamualaikum” ucapku saat sudah sampai di depan pagar rumah ayah


Tak ada siapa pun yang menjawab, akhirnya aku membuka pagar dan mengetuk pintu, berulang kali ku mengetuk dan mengucap salam tapi rumah tampak sepi tak berpenghuni. Mobil terparkir di depan, ada beberapa sepeda juga menandakan bahwa pemilik rumah ada di dalam. Aku menunggu cukup lama, ingin rasanya Aku pergi tapi aku juga tak yakin jika aku bisa ke sini lagi.


Setelah sekian lama aku menunggu, sayup-sayup ku dengar suara ribut-ribut dari dalam. Aku tak ingin tahu tapi aku penasaran setelah terdengar mereka menyebut nama Mbak


“Merasa bersalah heh” perempuan yang ku yakini istri ayah itu berucap dengan nada merendahkan


“selama ini aku sudah berusaha menjadi apa yang kamu inginkan, apa sulit jika aku menebus kesalahanku dengan putriku?” ucap laki-laki itu lagi


“hahaha kau tahu? Kau sekarang tak lagi memperhatikan putriku, kau lebih memperhatikan anak tak berguna itu! ” ucap perempuan itu


Tangan ku mengepal, nafasku naik turun karna menahan emosi, mata ku memerah menahan rasa sesak di dada.


“Ingat, Arnold, aku memegang rahasiamu, jangan pernah macam-macam jika kau tak ingin semakin di benci oleh anak-anak mu!” Tuturnya lagi


Tak ada suara lagi yang terdengar dari dalam, hanya suara derap langkah yang semakin dekat dengan ku. Aku buru-buru pergi dari rumah Ayah, dan mengumpat di gang samping rumah Ayah. Aku melihat mobil yang berjalan semakin jauh, Aku mengurungkan niatku untuk bertemu ayah. Dalam perjalanan ku selalu bertanya-tanya, apa yang kau rahasiakan Ayah?


Aku pulang dengan berjalan kaki, sambil melihat anak-anak yang sedang bermain dengan asik.


Kriuk…


Aku memegang perutku yang terasa lapar, sedari pagi Aku memang belum makan apa-apa. Aku celingak celinguk mencari pedagang kaki lima. Tapi tak ku temukan pedagang yang lewat. Akhirnya kuputuskan untuk makan bakso di ujung jalan gang komplek rumah ayah.


“Bang, bakso satu mangkok” ucapku


“siap, Bang, duduk dulu, Bang” ia memberikan ku kursi

__ADS_1


Sambil menunggu bakso datang, Aku melihat-lihat lingkungan di komplek ini, suasana yang begitu sepi, hanya ada beberapa mobil yang terparkir di beberapa rumah. Tak lama bakso ku datang, dan dengan lahap aku memakannya. Tanpa sengaja mataku melihat anak kecil yang terduduk lesu di samping warung kecil. Anak kecil dengan memakai baju lusuh sedang bercanda dan tertawa begitu bahagia. Padahal Aku melihat mereka seperti sedang menahan lapar. Aku membayar bakso ku dan menghampiri mereka.


“Halo” sapaku


Anak kecil itu beringsut mundur, seperti takut dengan ku, Aku coba mengakrabkan diri. Meski awal nya mereka takut tapi akhirnya mereka bisa ku ajak berbicara.


“Orang tua mu mana?” tanyaku


“Ada, sedang mengamen di lampu merah” ucap salah satu anak


“sudah makan?” tanyaku


“belum, nunggu Ibu datang” anak yang paling kecil menjawab dengan polosnya


“Tunggu sebentar, ya” tuturku


Aku berjalan menghampiri warung yang ada di samping nya, membeli beberapa roti dan air minum, beruntung Aku membawa uang lebih.


“ini” Aku memberikan roti dan air minum yang baru saja ku beli


“Tidak apa-apa, kalian lapar ‘kan?” tuturku kemudian


“Tapi kata Ibu, nunggu Ibu pulang” anak yang paling kecil iu kembali berkata dengan polos nya


“Tidak apa-apa, makanlah” Aku menaronya di dekat mereka, tak butuh waktu lama mereka pun mengambil makanan yang ku beri


Melihat mereka makan dengan lahap, membuat Aku teringat sosok ibu.


“Ibu, Aku lapar” tuturku


“sebentar ya, Nak, ibu masak dulu” ucap ibu


“Dari tadi belum matang nasinya, Bu” tanyaku


“belum” ucap ibu pelan


Saat itu, dari pagi hingga sore ibu selalu berkilah jika ibu masih memasak, sedang kan Aku sudah begitu lapar. Sampai akhirnya malam tiba, Ada tetangga yang memberi kami makanan. Akhirnya kami bisa makan malam itu, dengan satu bungkus nasi dan lauknya kita bagi untuk 3 orang. Untuk ku, untuk Mbak, dan untuk Rara. Ibu tidak mau makan katanya sudah Kenyang padahal ku tahu bahwa ibu pun sama, belum makan apa-apa dari pagi.


Sempat terbesit dalam pikiranku, mengapa? Mengapa masalah selalu datang dalam hidup ku? Aku selalu bertanya-tanya tentang kesusahan ku pada sang pencipta. Padahal banyak di luar sana yang lebih berat masalahnya dari hidup ku. Hanya saja mereka menutupinya dengan senyum dan rasa syukur


Hai, **guys


Terima kasih karena sudah mau membaca cerita author. ini cerita pertama author, maaf kalo gk nyambung ya.


jangan lupa vote dan share karena vote kalian memberi semangat pada author**.


salam sayang dari author


__ADS_1


sketsa qolbu


__ADS_2