Meraih Asa

Meraih Asa
Pegawai Baru


__ADS_3

Pesanan semakin banyak, kue buatan Mbak memang terbilang enak dan murah, mungkin itu yang membuat pelanggan terus menerus order. Mbak sendiri terlihat kewalahan mengurus semuanya. Aku membantunya hanya sesekali, Aku terlalu sibuk dengan dunia ku. Kehadiran ayah membuatku tidak fokus dengan tugasku dan Mbak terlihat semakin murung. Aku sering sekali memergokinya sedang melamun padahal saat itu ia sedang memanggang kue.


“Mbak” panggilku


Mbak terlihat kaget saat Aku memanggilnya, membuat ku yakin bahwa Mbak kembali melamun.


“Mbak, sepertinya orderan semakin banyak” ucapku


“Alhamdulillah” Katanya


“Sepertinya kita butuh pegawai, Mbak” usulku


“pegawai?” tanya Mbak


“ya,” tuturku


“Huuft, untung kita belum seberapa, Ris,” ucapnya


“Kita masih merintis, waktu itu saja kita pernah rugikan?,” tuturnya lagi


“tapi, Mbak gk bisa mengurus ini semua, Faris belum bisa bantu sepenuhnya, Mbak,” tuturku


“Sudahlah, Ris, Kamu tidak perlu memikirkan ini” Mbak terlihat abai dengan usulku, Ia justru menyibukkan diri dengan mengerjakan yang lainnya


“Mbak” keluhku


Ia tak menggubrisku, masih tetap diam bergeming, membuat ku geram, tapi Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, semua keputusan Mbak yang menentukan.


Malam pun tiba, Aku tak berhenti membujuk Mbak agar Mbak mau menerima usulku, Aku terus mengganggunya, membuat Mbak geram.


“Ck, apa sih, Ris,” ucapnya kesal

__ADS_1


“ya, Mbak,” tuturku dengan wajah yang memelas


“Iya apa toh? Kamu tuh berisik banget, ngeganggu tau gk!” sahutnya kesal


“cari pegawai, buat bantu, Mbak,”


“gajinya pake apa? Pake daun!” tuturnya kesal


“Mbak tuh, Faris nih peduli sama Mbak, tapi, Mbak gk mau nerima usulan Faris,” sahutku ngambek


“Usulmu tak logis, Ris” tutur kesal


“Faris punya temen yang mau bantu, Mbak,” Tuturku


“Maksudnya?” Mbak melihatku intens membuat ku menjadi gugup


“hmmm, gini looh.. Gini..”


“Sabar, Mbak tersayang” ucapku sambil tersenyum, Ia hanya berdecak kesal


“Ada teman Faris yang butuh pekerjaan, Mbak, dia tidak melanjutkan SMA, Ibu nya sakit, Ayah sudah tiada, dia yang jadi tulang punggung keluarga nya, kan kasian Mbak, nyari pekerjaan itu susah” tuturku dengan ekspresi memelas


“gajinya? Dia kan butuh uang pastinya, sedang kan kalo kerja di sini, Mbak gk bisa gaji dia besar,” Ucapnya


“Faris, sudah ngomong kok, Mbak, katanya gk papa, yang penting dia dapat kerjaan,” Tuturku


“perempuan?,” tanya Mbak


“Iya, hehe” Aku tersenyum malu dan menggaruk tekukku yang tidak gatal


“Siapa kamu?,” tanya nya judes

__ADS_1


“Bukan siapa-siapa, Mbak, cuma teman,” tuturku


“Yakin? Kok Mbak gk yakin,” tuturnya nya meledek


“Mbak tuh apaan sih? Faris kan nawarin supaya Mbak gk cape,” ucapku menutupi kegugupanku


“Ok, nanti Mbak fikirkan lagi,” katanya


Mbak masuk kedalam kamar, begitu pun dengan ku. Malam semakin larut, tapi Aku masih terjaga, Aku gelisah dalam tidurku. Aku pejamkan mata dengan terpaksa, melupakan gelisah yang hadir malam ini.


Akhirnya Fajar datang menyapa, Aku bangun dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang Muslim.


“Ris, Mbak setuju,” tuturnya tiba-tiba


“Setuju apa, Mbak?” tanyaku


“Ck, setuju temanmu itu bekerja disini membantu, Mbak” tuturnya


“yes,” ucapku senang, Mbak melihatku membuat ku salah tingkah


“Tapi dia bisa bikin kue kan?” tanya Mbak


“Bisa, Mbak” jawab ku cepat


Mbak melihatku dengan tatapan aneh, mungkin aneh bagi Mbak, karna aku terlalu senang. Aku pamit untuk bersiap-siap sekolah, meninggalkan Mbak yang masih terdiam dalam kebingungannya.


Dua hari kemudian teman ku mulai membantu Mbak, ku lihat mereka sangat akrab dan kerja sama pun terlihat baik. Mbak terlihat senang karna ada teman ngobrol, membuat Mbak lupa tentang kehadiran Ayah yang selalu mengganggu pikiran Mbak akhir-akhir ini.


**jangan lupa dukung author dengan cara memberikan vote


salam sayang dari author

__ADS_1


sketsa qolbu**


__ADS_2