
Aku memperhatikan Mbak Iffah yang sedang memasak untuk makan malam kami. Di usia remaja Mbak, Mbak justru menjadi tulang punggung keluarga sejak sepeninggal Ibu. Mbak berhenti sekolah untuk bekerja, menafkahi ku dan adikku Rara. Mbak berbeda dari teman-temannya, di saat temannya masih bercanda, bersenang-senang menikmati masa remajanya, Mbak justru menghabiskan masa remajanya dengan bekerja. Aku tahu, di hati Mbak, Mbak masih menginginkan sekolah, terlihat jelas raut kecewa ketika Mbak melihat teman-temannya berseragam rapi. Tubuh Mbak yang beriisi kini menjadi kurus karna kelelahan. Matanya yang sering bengkak karna menangis setiap malam. Mbak memang punya banyak kekurangan, tapi Mbak selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku.
“Wah, enak nih” ucapku dengan senyum jahil saat melihat Mbak membawa makanan
“Enak lah, Mbak yang masak” ucap nya berbangga diri
“Iyain deh, biar gk ngambek lagi” tuturku terkesan terpaksa
“Dasar” Mbak melempar bantal ke arahku dan aku hanya tertawa menanggapi
“Alhamdulillah, hari ini Ibu ada rezeki lebih, kalian mau makan apa untuk malam nanti?,” tanya Ibu dengan senyuman yang khas
“Mau sayur bayam dan tempe goreng, Bu,” ucap Rara dengan antusias
“ck, bosen,” ucapku
“Apasih, Mas tuh bikin Rara kesel aja,” Rara mengerucutkan bibirnya
Karna melihat Rara yang lucu, kami semua tertawa dan menciumi Rara dengan gemas membuat Rara menjadi menangis.
“Ris,” tegur Mbak
__ADS_1
Suara Mbak membuyarkan lamunanku, membuatku tersadar bahwa kita sudah tidak bisa bercanda seperti dulu. Mataku memerah menahan tangis, rasa rindu menyelimuti hatiku, rindu akan hangatmya kekeluargaan.
“Faris, kangen Rara, Mbak,” tuturku
“Ah iya, ini makanan kesukaan Rara,” jawab Mbak Iffah
“hahaha, udah ah, Faris gk mau galau lagi, Faris lapar,” ucapku sambil tertawa, tawa yang menunjukkan kepalsuan
…
Suara azan subuh berkumandang membangunkan ku dari tidurku yang lelap. Aku segera bangkit dari pembaringan yang beralaskan tikar itu. Aku segera mengambil wudu dan melaksanakan salat. Aku berdoa penuh kekhusyuan karna hanya pada doa dan waktu ku bergantung. Doa dalam diam, dimana harapan aku tautkan untuk memiliki waktu yang tidak sebentar menjadi pribadi yang bernilai.
“Iya, Mbak,” jawabku
“Mbak, mau langsung berangkat, gk enak sama kak Rosa,” ucap Mbak dengan terburu-buru, belum sempat aku menjawab, Mbak sudah lebih dulu pergi meninggalkan rumah.
Padahal jam masih menunjukkan pukul 05.30 wib. Tapi Mbak sudah berangkat untuk bekerja, Mbak itu sosok yang pekerja keras, dan aku tak mungkin mengandalkan Mbak Iffah saja, aku pun sama membantu Mbak jualan untuk menambah penghasilan. Dengan cekatan Aku membereskan rumah serta daganganku untuk ku bawa ke sekolah dan menaruhnya di warung-warung kecil. Aku harus terus belajar dan tidak mengeluh dengan keadaan, terus memantapkan kekuatan untuk terus siap menerima tantangan di depan. Kesedihan, kegembiraan, dan emosi lainnya hanya sementara, sebagaimana sesaatnya malam yang digantikan oleh siang, tak selamanya kesedihan melanda dan tak selamanya kegembiraan ada. Aku harus mencintai dan menikmati segala prosesnya untuk mencapai kesuksesan yang haqiqi.
“Nak, jangan pernah mengeluh atas apa yang sudah terjadi hari ini, lakukan yang terbaik, karna orang-orang sukses berawal dari ketangguhan serta keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita” nasehat Ibu saat itu
Kriiing
__ADS_1
Jam alarm ku berbunyi, menandakan bahwa kini telah pukul 06.00 wib. Segera ku bersiap untuk berangkat sekolah. Aku mengunci pintu dan berjalan dengan tergesa-gesa mengejar waktu supaya aku tidak terlambat. Jarak sekolah ku cukup jauh, dan aku menempuhnya dengan berjalan kaki, melewati warung-warung kecil di pinggir jalan, tak lupa aku menitipkan daganganku ke warung-warung tersebut.
“segala sesuatunya butuh perjuangan, tidurpun butuh perjuangan bagi mereka yang insomnia, bernafas pun Ada prosesnya, pencernaan pun begitu terlebih bagi mereka yang di anugrahi dengan cobaan pada masing-masing sistem organ nya, untuk mendapatkan semua itu bukankah harus ada upaya?,” ucap Ayah
“sebagaimana hukum newton 2, yang berbunyi aksi\=reaksi, untuk hal-hal kecil di dunia pasti Ada prosesnya, lalu bagaimana jika yang kau inginkan hal yang besar? ” Tuturnya lagi
Ucapan Ayah terngiang jelas dalam ingatan, dimana kita tidak boleh menyerah dengan keadaan. Tidak sedikit orang yang merendahkan ku akan sebuah mimpi yang mungkin tidak bisa ku capai.
“masa depan nya mau jadi apa sih?”
“ kamu tuh punya masa depan yang suram”
“mending mati aja, daripada hidup nyusahin Kakaknya”
Begitu kata-kata mereka yang masih terdengar oleh ku ketika aku melewati koridor sekolah. Bermimpi itu bebas, kita berhak bermimpi setinggi apapun, tak perlu takut, tak perlu berfikir bahwa itu mustahil, dan tak perlu ragu untuk jujur. Bukankah manusia yang tidak punya keinginan sama saja dengan manusia yang tidak punya tujuan? Lagi-lagi ini tentang tujuan,tentang impianku, mimpi ku, keinginan ku, adalah tujuan yang seharusnya aku kejar.
Bel pertama berbunyi, menandakan bahwa kelas akan di mulai. Seorang guru masuk memulai pelajaran bahasa Indonesia. Aku menyimak pelajaran dengan seksama, guru tersebut memberikan pelajaran berharga tentang sebuah waktu.
“waktu terasa singkat saat kalian sedang gembira. Anehnya, waktu juga terasa singkat bahkan berkurang ketika kalian terlambat. Waktu terasa lambat saat kalian sedang menunggu bosan. Anehnya, waktu terasa lambat bahkan terasa berhenti saat kalian sedang sedih dan susah. Perhatikan baik-baik, Nak, ternyata waktu terasa berbeda saat perasaan kita juga berbeda. Dengan kata lain pemaknaan kita terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh perasaan. Waktu tidak di tentukan oleh durasi atau arloji. Maka, nikmatilah waktu kita, matfaatkan sebaik mungkin. Dan hal ini akan menentukan perasaan kita dan berpengaruh terhadap pencapaian kita” ucapnya tegas
Detik pun berlalu menjadi hitungan jam. Bel sekolah telah berbunyi semua siswa berhambur keluar kelas. Aku berjalan menyusuri koridor, melihat siswa yang bercanda dan tertawa dengan lepas. Tak sedikit teman yang membicarakanku, memaksaku untuk menyerah dengan keadaan. Tak sedikit pula teman yang mendukung ku, mengatakan bahwa diri ini kuat. Aku membiarkan mereka bermonolog diri ini begitu kuat. Meskipun jiwaku telah hilang entah kemana. Adakalanya kesendirian lebih berharga, daripada dikelilingi banyak tangan yang ikut menabur garam di lukaku.
__ADS_1