
Beberapa kali aku mengetuk pintu, tapi tak Ada yang menyahut. Aku terus mengetuk dengan tempo cepat tapi rumah masih saja tampak hening. Ku mencoba membuka pintu tapi pintu terkunci.
“ck, kemana sih Faris” gerutuku
“Sabar, mungkin sedang pergi” ucap nya lembut
“Sudah sana pergi, Saya bisa menunggu sendiri” tuturku
Tapi ia hanya tersenyum menanggapi, membuat ku kesal sendiri.
“Ya Allah, Mbak, Mbak kenapa?” tutur Faris yang baru saja datang
Mungkin Ia heran melihatku, penampilan yang berantakan, mata yang sembab, dan cara bicara ku yang masih sesegukkan.
“Mbak,…”
“gpp, cepet buka pintunya!” potong ku
“iya, iya, sabar!” Faris membuka pintu dengan wajah kesal
Aku melihat sekeliling rumah, tampak sepi dan bersih. Aku berjalan ke dapur, melihat seisi dapur, masih tampak sama, tak ada peralatan membuat kue.
“Faris… Faris” teriakku
“Jangan teriak, Mbak, samperin Farisnya” teriak ayah dari ruang depan
Aku mencebik kesal, katanya gk boleh teriak tapi sendirinya teriak. Aku menghampiri Faris dan bertanya “Hari ini gk Ada orderan? Kok gk ada yang buat kue?” tanyaku galak
“Mbak, tuh ya, abis nangis sampai mata sembab gitu yang di tanya malah orderan bukan nya istirahat” tuturnya heran
Ayah terkekeh dan berkata “ya, begitulah Mbakmu”
Aku berdecak kesal, Aku berjalan menuju kamar dengan menghentakkan kaki dan menutup pintu dengan sedikit keras
“Riris sakit, jadi orderan di batalin sama Faris” teriaknya
“Sesekali libur gpp kali” tutur Ayah
“iya..iya” jawabku malas
Aku mengambil photo yang tersimpan di dalam lemari. Aku mendekap kuat meluapkan rasa rindu yang tak bisa ku salurkan.
“Ibu, bantu aku, apa yang harus ku lakukan, Bu?” monologku
“haruskah aku memaafkan Ayah, Bu? Jujur aku sangat senang bisa kembali seperti ini, bersama Ayah” monologku lagi
Mataku memanas, cairan bening yang sedari tadi kutahan akhirnya lolos juga. Sesak di dada tak bisa ku hindarkan. Aku larut dalam tangisan. Hingga suara perdebatan membuatku tersadar. Aku segera keluar melihat apa yang terjadi.
“Kau… Semua gara-gara kau” tante Vania menunjuk ku
“Stop Vania! Jangan pernah menyalahkan Putriku!” Ayah berkata dengan tegas
Tante Vania terdiam, tapi tak lama Ia mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya, pistol itu ia arahkan kepadaku. Faris berteriak memanggil warga, pun begitu dengan Ayah yang terlihat panik
Aku memejamkan mata, tak tahu harus berbuat apa, tak lama suara pistol terdengar keras di seluruh ruangan tapi Aku tak merasakan apa-apa. Aku membuka mata, dan ku lihat Ayah tergeletak bersimbah darah.
“Ayaaah” Aku berteriak dan ku taro kepala Ayah di pahaku
“tadi, Mbak manggil apa?” Tuturnya parau
__ADS_1
“Ayah, Ayah harus bertahan, Ayah pasti kuat” aku menangis dengan tersedu-sedu. Ia tersenyum lalu memejamkan mata.
Aku mengguncang bahunya. Tak Ada respon dari Ayah. Ayah masih tetap terpejam. Aku semakin panik. Aku berteriak meminta tolong, warga berbondong-bondong menghampiri rumah ku. Dan menolong Ayah, membawa nya ke rumah sakit terdekat.
“Ayah, maafkan Mbak”
-
-
-
-
-
-
-
-
Berjalan Mondar-mandir, hatiku gelisah, karna Ayah masih di periksa.
“Mbak” Faris datang dengan nafas terengah-engah
“Habis dari mana?!,” tanyaku
“mengejar tante Vania, tapi sekarang tante sudah berhasil di tangkap dan sudah di kantor polisi” tuturnya
Aku memalingkan wajah, kembali melihat pintu operasi. Ya, Dokter sedang berusaha untuk mengambil peluru yang ada pada diri Ayah. Tak lama pintu ruangan terbuka menampilkan laki-laki berjubah putih.
“Dok, bagaimana keadaan Ayah Saya?,” tanyaku
“to the point, Dok” tanyaku tak sabar
Ia mengehela napas pelan kemudian berkata “Karna Luka tembakan itu, Ayah Anda tak bisa di selamat kan, Maaf” tuturnya
Tubuhku luruh ke lantai, menangis tersedu-sedu di depan ruangan Ayah. Faris langsung memelukku. Menenangkan diriku.
“Ayah, Maaf” tangis ku pecah saat Faris menuntun ku ke ruangan Ayah
“maaf, maaf” gumamku
“Mbak..”
“Ayah, Ris, Ayah” tutur ku dengan tangisan
Beberapa perawat datang menghampiri, untuk memandikan jenazah Ayah. Aku masih terisak, seperti mimpi rasanya, kehilangan orang yang kita sayangi. Kak Rosa datang Aku melihat tangannya yang terkepal kuat, melihatku dengan tatapan sinis. Tapi kemudian ia melayangkan tamparan ke arahku tetapi berhasil di cegah oleh Faris. Mata Faris memerah menahan Amarah, napasnya memburu, Ia menghempaskan tangan Kak Rosa kasar.
Seorang perawat datang menghampiri, melerai keributan yang kami buat. Kak Rosa menangis, Aku tahu ini juga berat bagi Kak Rosa, Karna sudah bertahun-tahun bersama Ayah.
Jenazah Ayah dimakamkan di TPU dekat rumah Ayah. Setelah acara pemakaman selesai, Aku langsung pulang, dan kembali menangis di kamar. Penyesalan memang selalu datang diakhir membuat dadaku kian sesak. Kadang rasa nya ingin saja ku dekap waktu agar Ia tak berdetak cepat , menelan habis umurku juga bahagia ku. Begitupun perihal yang sudah lalu, ingin ku habis kan waktu ku bersama Ayah.
“Ayah, Maafkan Mbak”
-
-
__ADS_1
-
-
Faris POV
Selepas pulang dari pemakaman aku langsung beristirahat di kamar. Seharian aku mengurung diri di kamar, keluar jika ada perlu saja, begitupun dengan Mbak, aku tak melihat Mbak selepas pulang dari pemakaman. Aku menghampiri kamar Mbak, dan mengetuk pintu, tapi tak Ada sahutan dari Mbak, hanya terdengar isakan.
“Mba, Makan yuk!,” Ajakku
Mbak, membuka pintu dengan penampilan yang berantakan, mata yang sembab, isakan yang belum berhenti, dan rambut yang acak-acakkan.
“Faris, Lapar” Aku mengusap perutku yang terasa lapar
“Ayo makan, Mbak juga lapar” mbak berjalan ke arah dapur untuk mengambil makan dan matanya melihat sekeliling dapur
“Makanannya mana?,” tanyanya
“kan belum, Mbak masak” ucapku dengan cengiran
“Astaghfirullah, jadi kamu belum masak?!” tanyanya dan aku menggeleng sebagai jawaban
“kamu manggil, Mbak buat masak?!” Ucap nya dengan emosiku yang mulai tersulut
“hehe, iya,” tutur ku tanpa beban
“Faris!” teriak nya
Aku berlari ke ruang depan dan berteriak “Faris tunggu ya, Mbak makanannya”
Samar ku dengar Mbak menggerutu, tapi tetap saja Mbak memasak, lama ku menunggu akhirnya Mbak datang dengan sepiring nasi goreng
“Kok lama? Cuma sepiring lagi bawa nya” tutur ku
“Ini buat, Mbak, kamu masak sendiri, sudah Mbak masakin nasi, tinggal di goreng” ucap nya dengan menunjukku
“Ck, Mbak tuh ya, perhitungan aja” tutur ku cemberut
Mbak mengabaikanku, dan kembali menitikkan air mata
“Mbak, kenapa?,” tanyaku pelan
“Andai waktu bisa di ulang,,,”
“Mbak, tak Ada senja dan hujan yang abadi” ucapku memotong perkataan Mbak
“begitupun dengan poros jam, tidak Ada angka yang bertulis berkali-kali, masing-masing memiliki fasenya, lalu apa yang Mbak sesali?” tuturku lagi
“masa lalu? Sesesal apapun Mbak, waktu tidak akan pernah kembali” tutur ku lagi
“tumben bijak” katanya
“Eh, kok nasinya tinggal segini?!” Mbak berkata setelah melihat sepiring nasi goreng tersisa seperapatnya saja
“terima kasih, Mbak” tutur ku dan berlari ke kamar
“Faris!” Ia kembali berteriak dan Aku hanya tertawa dari dalam kamar
Aku berbaring menatap langit-langit kamar, mengusap perut yang sudah kenyang, karna sedari tadi Aku sambil memakannya. Aku terdiam sejenak, hanya pada malam Aku berbincang pada rindu, rindu yang tak pernah bisa diungkapkan. Rumah ini begitu banyak menyimpan kenangan membuat rindu masih terpasung rapi.
__ADS_1
Rumah yang berisikan 2 kamar 1 ruang depan serta dapur dan kamar mandi. Rumah Ibu yang diwariskan kepada kami ini, membuat kami terbayang-bayang dengan kenangan. Hanya tinggal barang-barang yang belum lengkap. Mbak lebih memilih melengkapi peralatan dapur karna itu membantunya untuk membuat kue dan menghasilkan uang.
“Bu, Yah, Ra, Faris disini berjuang untuk bangkit, meski terbayang-bayang kenangan bersama kalian” gumamku