Meraih Asa

Meraih Asa
Titik Terang


__ADS_3

Kali ini Aku terpaku pada satu titik masa lalu, tentang Aku yang terbelenggu oleh ingatan masa lalu, sedikit sesak ketika ingatan itu terputar. Hitungan windu bergerak perlahan membawa senja dan fajar bergantian, temani renggang yang tak terelakan. Hingga beratus malam perpisahan membuat tali yang menyesakkan terlepas, bebaskan Aku dari ingatan masa lalu.


“Mbak, makan dulu yuk!” ajak Riris


“Duluan, Ris” sahutku


Ku dengar Riris menghela napas pelan. Dan seperti nya dia tidak menunggu lagi di depan kamar. Aku teringat akan laci yang selalu terkunci, Ibu selalu menguncinya dan tidak ada yang boleh membukanya. Aku mengobrak-ngabrik lemari ibu, mencari kunci lemari tersebut. Tak lama Aku menemukannya dan segera ku buka laci itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Mataku tertuju sama sebuah koran yang tergeletak di laci tersebut, di lihat dari cover dan tanggalnya, koran itu adalah koran lama. Aku mengambilnya dan membacanya. Mataku mengembun karna air mata yang tertumpuk di pelupuk mata. Dalam hati Aku selalu bertanya-tanya. Benarkah berita ini? Mengapa Ibu merahasiakannya? Bukankah Aku berhak tahu?


“Aku, membencimu Ayah, jika memang berita ini benar” tangan ku mengepal, mataku memerah karna menahan tangis dan marah


Aku berusaha mengontrol emosiku, akan ku bukti kan sendiri ayah. Aku keluar dan bersikap seperti biasa saja, kembali mempacking kue-kue yang di buat Riris.


“Mbak, baik-baik saja?” Tanya Riris


“Iya, Ris, Mbak hanya butuh ketenangan, oh ya, Faris mana?” tanyaku


“Kurang tahu, Mbak, tadi pergi tapi belum balik-balik” katanya


“Assalamualaikum” Faris datang membawa 2 bungkus bakso


“Waaah, Mbak sudah keluar” Faris memelukku, membuatku menjadi risih


“Lepas, Ris” Aku memukul tangannya dan dia melepaskan pelukan dengan senyuman tanpa dosa


“sekarang jam berapa?! Kemana aja Kamu?! Kenapa baru pulang?!” tanyaku bertubi-tubi


“sabar, Mbak, sabar, jangan marahlah, Mbak ku sayang, lihat nih, Faris bawa bakso” Ia menunjukkan bakso yang dibawa


“baksonya gk panas, beli dimana kamu?!” tanyaku


“hehe di rumah temen” katanya


“nih, antar semua pesanan ke konsumen, ini buku catatannya jangan sampai salah alamat” perintahku


Faris menerima buku catatan dengan wajah yang lesu, Ia melihat buku catatan tersebut, dan berkata “banyak banget, Mbak, kan Faris baru datang, cape loh”


“ck, udah sana, cepat pergi, nanti konsumen pada ngebatalin lagi kalo kelamaan” titahku


Faris pergi dengan wajah lesu, aku dan Riris terkikik geli melihat nya, biar kan saja, siapa suruh pulang sore.


“makan, Ris” tutur ku pada Riris


“iya, Mbak” jawab nya


Aku berjalan ke arah depan, mataku melihat sebuah kartu nama yang jatuh dari saku celana Faris, tapi Aku tak memberi tahu nya, aku justru mengambilnya


“Ris, Mbak ke kamar dulu sebentar, ya” kataku


“iya, Mbak” tuturnya


Aku mengambil handphone untuk menelphone nomor yang tertera dalam kartu nama tersebut.


Tuut… Tuut…


“ayo angkat, Aku butuh penjelasanmu”


Tuut.. Tuut…


“ck, angkat”


Tak lama seseorang mengangkat telephone ku, Aku terdiam sejenak saat mendengar suaranya, ingin ku bicara tapi Aku ragu, lama Aku terdiam hingga orang di seberang sana mematikan saluran telephonenya. Aku kembali menelphone dan Ia kembali mengangkat telephone ku


“Hallo”


...


“Mbak, Riris pulang ya, sudah jam 21.00 wib” pamit Riris


“Iya, Ris, Mbak ikut kamu sampai depan ya, kita jalan bareng” ucapku

__ADS_1


“kemana, Mbak?” Faris berjalan ke arah ku


“jalan-jalan, sudah Kamu di rumah saja, beresin tuh bahan-bahan kue. Oh ya, sama jangan lupa simpan baik-baik plastik buat packing ya, dadah, Faris” titahku sambil melambaikan tangan ku


Riris hanya tersenyum melihat interaksi kami. Di perjalanan kami saling bercerita, berbagi pengalaman, tapi pembicaraan lebih dominan aku yang banyak bercerita, Riris hanya menanggapi dengan tersenyum dan menjawab sesekali jika aku bertanya. Di persimpangan aku dan Riris berpisah, Riris harus segera pulang menemani Ibu dan adiknya, begitu pun dengan ku, aku harus segera ke taman, bertemu dengan seseorang.


Sudah satu jam Aku menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda dia datang. Apa dia melupakan janjinya? Malam semakin larut, aku duduk di bangku taman seorang diri, menunggu layaknya orang bodoh. Jam di tangan kananku menunjukkan pukul 23.30 wib. Sudah hampir tengah malam tapi orang yang ku tunggu belum datang juga.


“Mbak, maaf Ayah telat” tuturnya menyesal


“Saya kira, Anda lupa dengan taman ini” tuturku


“Tidak mungkin Ayah melupakan taman yang penuh dengan kenangan ini, Mbak” Ia tersenyum, senyum yang tak bisa aku artikan


“Saya ingin menanyakan sesuatu” tutur ku


“Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan, Mbak” Ia tersenyum dan mengusap ujung kepalaku lembut


Seketika aku terpana, sudah lama sekali aku tak merasakan usapan lembut dari nya, dia tersadar karna melihat ku yang hanya diam bergeming hingga ia menurunkan tangannya dari kepalaku


“maaf, Ayah reflek,” tuturnya


Aku kikuk, Aku pun sama tak bisa berkata apa-apa, sampai hampir melupakan tujuanku bertemu dengannya


“ekhem” Aku berdeham, menutupi rasa gugupku


“tapi Ayah punya satu permintaan sebelum, Mbak bertanya” tuturnya


Aku terdiam


“Panggil Aku, Ayah” tuturnya lagi


Aku memalingkan wajah ku ke arah lain. Ah, Aku benci situasi seperti ini. Membuatku jadi tak berdaya.


“gpp, jika, Mbak masih belum bisa, Ayah Akan tunggu, sampai waktu itu tiba,” tuturnya


Aku melihatnya menitikkan air mata, apa yang harus ku lakukan? Aku tak tahu apa yang seharusnya aku lakukan? Aku seperti anak durhaka saat ini, membiarkan Ayah ku menangis karna diriku sendiri, Aku berusaha menetralkan jantungku, sebelum Aku bertanya tentang apa yang terjadi


“Mbak, dapat dari mana ini?” Ia terlihat kaget, dan kembali bertanya


“Jawab saja, iya atau tidak!?” tuturku


Ia memalingkan wajah nya, bibirnya masih saja terdiam, tak ada jawaban darinya


“Jawab!” teriakku


“Ya” tuturnya


Seketika air mataku luruh, Aku menangis memecah keheningan malam. Sesak, rasanya sungguh sesak mengetahui yang sebenarnya


“dengarkan penjelasan Ayah dulu, Mbak” Ia memelukku dengan erat, menenangkan ku dalam tangisan


“Tidak! Kau bukan Ayah ku, kau bukan Ayah ku!” Aku memberontak dalam pelukan, tapi ia semakin erat memelukku


“Mbak, dengarkan Ayah” Ia terus membisikkan kata-kata penenang


Akhirnya Aku terdiam, membiarkan nya memelukku. Aku merindukan pelukan ini, sudah lama sekali Aku tak merasakannya, tapi kenapa harus saat ini? Saat Aku sudah mengetahui kebenarannya. Aku terus menangis hingga tertidur dalam pelukan.


...


Aku mengerjap mata pelan, melihat sekeliling ruangan, ruangan yang sangat asing bagiku. Aku melihat Jam dinding yang terpajang di kamar, jam yang menunjukkan pukul 05.30 wib. Dengan langkah pelan aku berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamar untuk berwudu dan melaksanakan salat, aku salat menggunakan mukena yang berada di atas meja. Setelah salat aku keluar kamar, menelisik setiap ruangan yang ada di rumah ini, rumah yang cukup besar dengan kamar yang banyak.


“Sudah bangun, Mbak” suara bariton yang ku kenali itu menyadarkanku


Dengan refleks aku menoleh ke arahnya, aku terdiam, kemudian tersadar dan berusaha mencari pintu keluar, laki-laki itu semakin mendekat, membuatku menjadi takut


“dengarkan dulu penjelasan, Ayah,” tuturnya


Ia terus menghampiriku sedang kan aku terus melangkah mundur hinga punggungku menyentuh tembok. Pengakuannya membuat ku takut, sangat takut, aku tak percaya bahwa ia berani melakukannya


“Saya ingin pulang, Saya ingin pulang” Racauku menangis

__ADS_1


“tenang, Mbak, dengarkan dulu penjelasan Ayah, Ayah terpaksa melakukannya demi kalian!,” tuturnya


“Bohong! Anda Bohong!” aku terduduk lesu dengan tangan menutupi wajah


“Mbak, tenang dulu ya, tenang ya, Mbak” ia mengusap punggungku lembut


Setelah beberapa jam aku menangis akhirnya aku tenang, di tuntun aku untuk duduk di atas sofa, ia memberikan ku air putih untuk menetralkan tenggorokan ku yang kering.


“Mbak, Ayah Mau menjelaskan semuanya, tapi Mbak harus janji untuk jangan memotong ucapan Ayah sedikitpun” tuturnya lembut


Aku terdiam mencerna ucapan nya, aku takut, jika aku tak bisa menahan emosiku sendiri. Lama ku terdiam sampai akhirnya aku mengangguk sebagai jawaban


Ia mengehela napas pelan dan mulai bercerita “Ayah terpaksa, Mbak, Ayah terpaksa melakukannya, semua karna Ayah ingin melindungi kalian”


Ia menitikkan air mata terlihat jelas raut penyesalan dari wajah nya, aku tak berani bertanya-tanya, membiarkannya menyelesaikan ceritanya


“Ayah, memang bukan ayah kandung, Mbak dan Faris, tapi Ayah menyanyangi kalian layaknya anak kandung Ayah” tuturnya lagi


“tapi kenapa…”


“dengarkan Ayah dulu” Ia memotong ucapanku


“Ini” ia menunjuk kan foto seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Faris


“ini papah, papah kandung, Mbak”


“papah” aku mengambil photo, dan kuusap wajah papah


“Kenapa? Kenapa Anda membunuhnya?! Apa salah Papah Saya?!” teriakku


Ia masih terdiam, matanya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong


“Jawab?!” teriak ku lagi


“Maaf” tuturnya


“hanya itu?” tanyaku


“Ayah disuruh oleh seseorang” tuturnya


“Siapa?! Siapa?!” tanyaku


“Vania, karna itu Ayah menikahi Ibu, Ayah merasa bersalah” ia menundukkan kepalanya


“Ayah tak bisa lagi menjelaskan nya” tuturnya lagi


“Jelaskan, jelaskan, ku mohon” aku menggoyang-goyangkan lengannya tapi ia masih saja diam


Aku menangis dan berteriak, menuntut dia menjelaskan semuanya, aku bahkan melempar barang-barang yang ada di ruangan ini, membuat ruangan menjadi berantakan, tapi Ia masih diam bergeming tak merespon apa yang ku lakukan. Aku terdiam sejenak, mengatur emosiku.


“Rara?” tanyaku


“Rara, anak Ayah” jawabnya


“Jika Rara anak Anda kenapa Anda tak menolongnya saat itu?!” tanyaku


“Rara sudah meninggal, Rara meninggal karna terlambat mendapatkan pertolongan, itu semua karna Anda?!” aku menunjukknya membuat Ia tersentak


“Ayah, tidak bisa, saat itu Ayah benar-benar tidak bisa” jawabnya


“Karna tante Vania? Karna dia juga kan Anda meninggalkan Ibu?!” tanyaku,


Ia hanya mengangguk mengiyakan


“kenapa?” tubuhku luruh ke lantai, aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak, sangat sesak, Ia berusaha menghentikan aksiku dengan cara memelukku.


Aku kembali tenang dalam pelukannya, “jangan lepas pelukan ini, Ayah, Aku ingin terus berada dalam pelukanmu” kata-kata itu hanya sampai ke tenggorokan, tak sanggup aku mengatakannya


“Saya ingin pulang” hanya kata itu yang terucap


“Kita pulang, Ayah antar ya” tuturnya lembut

__ADS_1


Aku pulang di antar Ayah menggunakan mobil. Kami sama-sama terdiam, tak ada yang memulai pembicaraan di antara kami. Ia fokus menyetir mobil, begitupun dengan ku, aku fokus dengan pikiranku. Tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan perempuan yang berpenampilan ayu itu.


__ADS_2