Meraih Asa

Meraih Asa
Merintis Usaha


__ADS_3

Aku memandang photo keluarga dalam waktu yang lama, photo yang berisikan Aku, Mbak, Ibu, Ayah, dan Rara yang saat itu baru saja lahir. Aku memandangnya lama sambil sesekali mengusap wajah Ibu, Ayah, dan Rara dalam photo. Ada senyum yang tercipta bersamaan dengan mengembunnya kedua bola mata. Satu dua tetes bening jatuh di atas photo tepat di sudut bibir gambarnya Rara. Aku mencoba memejamkan mata menghalau bulir yang lolos tanpa diminta.


“Semoga kalian tenang di Sana, Bu, Ra, dan semoga Ayah bahagia dengan jalan yang ayah ambil” rintih batinku pilu


Aku melihat bulan yang memancarkan sinarnya yang indah, membuatku takjub dengan sinarnya yang memukau, bagiku malam lebih menakjubkan daripada senja. Dimana temaramnya mampu membawa gulita penuh kenang. Tawa, sedih, duka, bahagia semua beradu tanpa bisa dipilah.


“Ris” Mbak duduk disamping ku, mengusap punggungku lembut.


“Ris, bagaimana jika Mbak berhenti bekerja?,” Tanyanya


“Mbak, cape?,” tanya ku pelan


Mbak terdiam, air mata jatuh tanpa diperintah, matanya menatap kosong ke arah depan. Mbak menceritakan semuanya tentang ayah yang selalu hadir tapi hanya untuk menyakiti, mbak memberikan surat yang Ayah beri tadi sore kepadaku.


Kamu memang anak kandung ku, tapi bisakah kamu pergi dalam hidup ku? Jangan pernah menampakkan diri di depan keluarga ku, Aku sudah bahagia, pergilah sejauh mungkin, Aku akan bertanggung jawab atasmu dan adikmu.


Hatiku hancur, jiwaku terluka, ayah yang kubanggakan dulu kini hilang entah kemana, Aku seperti tidak lagi mengenali ayahku, Aku merobek surat itu dan membuangnya sembarang arah, akan ku buktikan kami bisa sukses tanpa bantuan beliau.


“Maaf, Maaf, Mbak, karna Faris tidak tahu selama ini jika Mbak tersakiti, Mbak terlalu pandai menyembunyikan perasaan, tawa senyum bahagia yang Mbak tunjukkan ternyata semua ini hanya kepalsuan” ucapku dengan mata memerah


“Mbak, bisa sakit jika terus seperti ini,” tuturku lagi

__ADS_1


“Mbak sudah terbiasa dengan luka, Ris. Mau terbang bebas sekalipun rasanya sudah lupa untuk mengepakkan sayap” Mbak menyeka air matanya yang sudah turun


“Mbak, Faris adik Mbak ‘kan?” tanyaku pelan


“Mbak, bisa cerita kepada Faris, Faris bukan anak kecil lagi, Mbak!” ucapku dengan penuh penekanan


Aku mengehela nafas pelan kemudian bertanya “sekarang rencana Mbak apa?”


“Mbak punya tabungan, selama ini Mbak sisihkan gaji Mbak, itu bisa kita pakai untuk modal membuat kue, dan kita jualan di online” ucapnya


“Faris setuju, nanti Faris bantu pasarkan ya,” ucapku


“Yasudah, sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur besok Mbak akan memundurkan diri,” ucap Mbak


“Ibu” teriakku


Nafasku tersegal, aku terduduk dan mulutku tak berhenti Mengucap istighfar, mataku melihat jam yang ternyata pukul 02.30 wib. Ku langkahkan kaki ku dengan pasti ke kamar mandi, segera ku berwudu dan melaksanakan salat. Pukul 3 dini hari, masa masih mempermainkanku agar terjaga, menikmati rintik hujan yang tidak begitu besar. Namun, mampu mempengaruhi suasana hati. Gemerisik suaranya yang beradu dengan bumi. Menarik kembali kotak kenang yang sengaja kututup rapi. Hembusan angin perlahan menggantikan selimut menghangatkan hati. Edarkan pandang pada setiap sudut yang kian menyepi, hingga fajar datang menyapa hari.


Allahu akbar


Allahu akbar

__ADS_1


Suara azan subuh berkumandang, ku langkahkan kaki ku dengan pasti ke arah masjid. Untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Sudah lama sekali aku tak ke sini, ternyata aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, sehingga aku melupakan Rabb ku. Ku hamparkan sajadah dan bersimpuh memohon ampun. Aku terlalu sibuk mengejar dunia, membantu Mbak berjualan hingga mencari pekerjaan sampingan. Kalam syahdu mengiringi fajar, melantunkan ayat yang keindahannya mengalahkan alam semesta, mentitah para sahaya menghadap sang pemilik raga, bersujud khusyuk di hamparkan sajadah mengabarkan pada hati si penyajak muram bahwa kan datang cahaya bagi yang merindukan surga.


Nit..


Nit…


Alarm di jam tangan ku berbunyi, menunjukkan pukul 05.30 wib. Aku segera pulang membantu Mbak membereskan rumah sebelum Mbak berangkat bekerja, Aku berjalan di jalanan yang sepi sendiri. Mengingatkan ku akan sebuah keputusan asa an. Aku pernah berputus asa, menapaki jalan kerikil penuh duri membawa raga tanpa arah pasti,


“Assalamualaikum” ucapku saat memasuki rumah


“waalaikumussalam” sahut Mbak


“Mbak, sudah jam segini, Mbak belum bersiap-siap,?” tanyaku


“Hari ini, Mbak hanya memberikan surat pengunduran diri,” ucap nya


“oh iya, besok kita sudah mulai jualan ya, Ris, hari ini Mbak akan belanja bahan-bahannya dulu” tuturnya lagi


“siap, Mbak,” ucapku memberi hormat


Aku membantu Mbak sambil bercerita, cerita tentang masa kecil kami, sedih memang tapi itu membuat kami tertawa, menertawai kepolosan kami dulu. Pukul 06.00 wib. Kami berangkat bersama, Mbak membeli keperluan untuk jualan esok dan Aku berangkat sekolah.

__ADS_1


Hari esok pun tiba, Mbak menepati ucapannya, ia sibuk membuat kue dari jam 04.00-06.30 wib. Sedangkan Aku, membawa kue-kue yang Mbak buat kesekolah dan menitipkannya pada kantin sekolah, begitu pun dengan Mbak, Mbak berjualan keliling dan menitipkannya ke warung-warung.


Hari ke hari dagangan kami semakin laris, kami mulai menyisihkan keuntungan untuk membuka toko sendiri. Kami juga berjualan lewat online, sehingga pesanan semakin banyak. Kami punya impian dan ingin saja tidak cukup untuk mewujudkan impian kami. Maka dari itu, kami berusaha dan bekerja keras serta berdoa pada yang maha kuasa.


__ADS_2