
“Ris, cepat! Nanti Mbak terlambat!” teriakku dari luar
“sebentar, Mbak”
“Ayo, Ris”
“Sebentar, Mbak, Faris sedang mencari buku” Faris mengobrak-abrik buku yang sudah tertata rapi di meja
“Ck, Mbak bisa telat ini kalo nunggu Kamu terus!” sahutku kesal
“Yaudah, Mbak jalan duluan Sana, ngapain nunggu Faris?!”serunya
“Yasudah, Mbak jalan duluan, Kamu jangan sampai telat” ucapku
“Iya” sahutnya malas
Waktu menunjukkan pukul 06.00 wib. Masih terlihat pagi memang, tapi jarak dari rumah ke toko sangat jauh bagiku. Aku tidak ingin telat, karna ini adalah mata pencarianku. Sudah tiga bulan aku bekerja di sana, dan sampai saat ini aku masih bisa membagi waktuku, untuk belajar dan juga bekerja. Kini, aku menjadi tulang punggung keluargaku. Di kota ini hanya Ada aku dan Faris, kami tidak mengetahui apapun tentang kerabat. Karna ayah Dan ibu tidak pernah menceritakan tentang asal-usul kami. Aku harus semangat supaya aku bisa membahagiakan Faris, keluarga yang ku punya.
Aku berlari menuju toko, tapi langkahku terhenti seketika. Aku melihat pemandangan yang sangat ingin aku hindari. Kak Rosa serta kedua orang tuanya sedang asik berbicara di depan toko. Mereka tertawa lepas terlihat jelas raut bahagia dari wajah mereka. Aku menekan dadaku yang terasa sesak, ingin ku berteriak, menceritakan pahitnya hidupku tanpa seorang ayah.
“Permisi, pak, bu” ucapku ketika aku melewati mereka
“Ros, dia pegawaimu?” tanya ayah yang masih bisa ku dengar
Aku tidak mengengarkan percakapan mereka selanjutnya. Segera ku kerjakan tugas, Dan menyapa para karyawan yang lain. Mataku kembali berkaca ketika tanpa sengaja orang yang ku panggil ayah mencium kening kak Rosa lembut dan memeluknya ketika berpamitan. Ingin sekali ku berkata “hai, Ayah, Aku putrimu, putri kandungmu, kenapa kau tak melakukan itu kepadaku? Aku iri ayah, Aku iri melihat kedekatanmu dengan putri tiri mu, aku sakit ayah, hatiku sakit melihat sikapmu pada kak Rosa. Andai, andai Ibu membolehkan aku membencimu, kamu lah orang yang paling ku benci di dunia ini, Ayah” kata-kata itu hanya sampai ketenggorokan, aku tak sanggup mengatakannya,
“Kak, maaf hari ini Aku bisa izin? Badanku terasa tidak enak,” ucapku
“Silakan, Fah, semoga lekas sembuh,” ucap kak Rosa
“Terima kasih” Aku tersenyum, dengan sigap Aku membereskan barang-barangku dan pergi dari toko tersebut.
Aku berjalan menyusuri kota, air mataku tidak dapat ku tahan lagi, Aku menangis di sepanjang jalan. Orang-orang melihat ku dengan tatapan iba. Aku tak peduli dengan tatapan itu, Karna mereka pun tidak akan mengerti tentang perasaan ku saat ini.
Aku melangkahkan kaki ku ke arah taman, taman yang telah menjadi saksi bisu tentang kebersamaan kami, taman ini banyak sekali kenangan tentang ayah, ibu, aku serta adik-adikku. Aku terduduk lesu di rumput-rumput hijau, aku menunduk menutupi air mata yang mengalir.
__ADS_1
“Ayah, Aku merindukanmu, Aku rindu semua tentang dirimu, usapan lembut tanganmu, pelukan hangat dari mu, senyuman manismu, semangat dari mu yang membuatku merasa nyaman. Ayah, Aku merindukanmu tapi juga membencimu, aku harus bagaimana ayah? Apa yang harus kulakukan tentang perasaan ku padamu?” racauku
“Mbak” panggil seseorang dan aku pun menoleh
“Ris?,” tuturku
“Faris kangen, Ayah,” Faris duduk disampingku
“Faris rindu, Ayah, Faris rindu Ibu, Faris rindu Rara,” Tuturnya lagi, Aku terdiam, Aku masih saja terdiam
“Faris tadi bertemu dengan Ayah, Mbak” ucapnya
“Mbak tahu? Ayah seperti lupa dengan Faris, Bolehkah Faris membenci Ayah, Mbak?,” ucapnya menangis
“Ris” panggil ku pelan
“hahaha, Faris cengeng ya, Mbak” dia menyeka air matanya dan berusaha untuk tersenyum. Aku menunduk melihat nya, tatapan matanya memancarkan kebencian yang diiringi rasa rindu
“Ayah, kata yang sederhana namun bermakna,” tuturnya lagi
“Faris, Kamu ingat? Dulu kita sering sekali ke taman ini,” Ucapku memecah keheningan, Faris terdiam, tatapan matanya lurus kedepan
“dulu kita sering sekali bermain di ayunan sana” aku menunjuk ayunan tempat dulu aku bermain dengan ayah
“Iya, Mbak, Faris ingat, dulu Mbak terjatuh kan di sana” Faris menatapku sejenak, tak lama matanya kembali melihat ke ayunan tempat kami bermain
“Haha iya, dulu Ibu masih hamil Rara kan ya?” aku tertawa tapi mataku mengeluarkan air mata
“eh, besok nya Ibu melahirkan” Ucap Faris sambil tersenyum miris
Lagi, kami kembali terdiam, bernostalgia membuat hatiku merasakan sakit, ingin sekali kulupakan tapi itu terlalu indah, ingin sekali ku kenang, tapi itu juga terlalu sakit.
“Mbak, tahu? Dulu Ayah sering bilang, ‘jadilah laki-laki yang tangguh, Ris, kelak kau akan melindungi Kakak dan Adikmu’, dulu , ayah juga sering bilang ‘Ris, Kamu itu laki-laki satu-satunya di keluarga ini, tugasmu menjaga Ibu, Mbak, dan Rara’” ucap nya dengan bibir bergetar menahan tangis
“Faris kira… Faris kira itu hanya untaian kata biasa, tapi ternyata…” Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya
__ADS_1
Aku mengusap punggung Faris pelan, dan memeluknya. “Berterima kasihlah pada Ayah, Ris” ucapku melepaskan pelukan
“Terima kasih?” tanyanya
“Iya, terima kasih” ucapku tersenyum
Faris terdiam namun tak lama ia tersenyum “terima kasih, Ayah,” ucapnya
“Terima kasih karna sudah memberikan pelajaran yang begitu berharga,” tutur nya kemudian
“Ya, dan terima kasih karna kau sudah menjadi pahlawan dengan menunjukkan bahwa Aku bisa berdiri dengan kaki ku sendiri,” Ucapku
“meski sedikit kenangan penuh senyum dan warna yang berputar dalam memoriku, Aku tetap menyangimu meski diiringi rasa benci” ucap ku dan Faris, sambil tertawa lepas.
Tak kami pedulikan tatapan orang-orang di sekitar, yang terpenting kami bisa tertawa lepas. Ah, sudah jarang sekali kami seperti ini, tertawa tanpa beban.
“Eh, Ris, Mbak baru sadar,” ucapku
“Kenapa, Mbak?” ucap nya tanpa beban
“Kamu kok gk sekolah, Ris?!” teriakku
Dia hanya tersenyum tanpa dosa, membuatku menjadi geram. Aku mencubitnya dengan sangat keras.
“Aaaaa sakit, Mbak, iya iya ampun” Teriaknya sambil berusaha melepaskan diri dan menghindar. Namun tak lama ia kembali tertawa.
“Maaf, Mbak, Faris gk akan mengulangi lagi” ucap nya sambil menunjukkan jari kelingking ke arahku, aku tak menggubrisnya hingga ia menghela nafas pelan.
“huuft, Mbak juga, kenapa di sini? Seharusnya kan ini jam kerja Mbak” tuturnya kemudian
“Suka-suka dong, Ribet aja Kamu,” sahut ku kesal
“Sabar, Ris, mungkin Mbak mu sedang PMS,” ucap nya sambil mengelus dada
“Eh, sembarang aja,” sahutku geram
__ADS_1
Aku kembali mencubitnya namun ia berhasil berlari, aku mengejarnya sambil memarahinya, sedangkan Faris hanya tertawa dan meledekku. Kami berlarian sambil sesekali tertawa di taman ini, membuat kami menjadi pusat perhatian.