
H-30 menjelang Ujian Nasional, membuat kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku sibuk dengan belajar mempersiapkan segala keperluan untuk ujian nasional, begitu pun dengan Faris.
“Mbak,.. Mbak” Faris berlari kearahku
“Ada apa, Ris?” tanyaku
“Kita rugi banyak, Mbak, Faris sudah coba ngitung beberapa kali, hasilnya tetap sama” ucapnya panic
“kok bisa?” tanyaku tak percaya
“konsumen membatalkan pesanan tadi pagi sedangkan kue sudah di buat, jadi kita harus menutupi kue ini, Mbak” tuturnya
Aku terduduk lemas, karna kesibukan yang kami jalani membuat kami lalai dalam berbisnis. Aku menghela napas pelan, kadang aku merasa lelah dan ingin berlari jauh tapi aku juga tak mampu menghindari atas takdir yang sudah tertulis,
“Mbak, maaf,” ucapnya
“Sudahlah, Ris, bukan salah Kamu, memang Mbak yang salah, terlalu santai dan sudah merasa puas,” ucapku pelan
Aku berjalan memasuki kamar, rasanya lelah sekali hari ini, ku tatap photo yang mengingatkan ku akan sosok Ibu, Ia yang tak pernah mengeluh dan selalu sabar mengahadapi setiap masalah.
“Cukup, cukuplah terpuruk untuk hari ini saja. Segeralah bangkit, kamu yang tangguh harus kembali. Dunia ini terlalu menyakitkan jika kamu terlalu lama membungkuk. Kuatkan kembali punggung dan bahumu. Maaf, bukan Ibu tak sayang tapi semesta takkan peduli kamu terpuruk. Jika bukan langkahkan kakimu yang berjalan, maka siapa yang akan membawa sampai tujuan?.
Aku terbangun. Mimpi tadi membawa ku kembali pada ingatan, dimana semua nya masih memburu bersama hijaunya lapangan. Tanpa hitam menggoreskan hilangnya putih kanvas, menarik luka dan tawa.
“Engkau adalah satu-satunya agen untuk perubahan dirimu sendiri” Faris menghampiriku yang sedang termangu bisu
__ADS_1
“Guru Faris pernah mengatakan itu kepada Faris, Mbak, saat Faris terpuruk di masa lalu” tuturnya lagi
“sebentar lagi azan, Mbak, Faris pamit ke masjid” Faris pergi meninggalkan ku dalam kamar seorang diri
Aku menatap photo yang kupegang. Menatap Ibu dengan senyuman, pandanganku mengabur, ku biar kan air mataku mengalir. Aku terlarut dalam lantunan azan, dalam rindu yang tak bisa kulukiskan .
“aku merindukanmu, Bu” rintih batinku pilu
Aku bergegas mengambil wudu, ku hamparkan sajadah, bersujud memohon ampun pada yang maha kuasa, mencurahkan apa yang selama ini ku pendam. Aku keluar dalam curhatku, akankah didengar seperti suara khaulah? Wanita yang didengar keluhannya dari langit ketujuh. Ku katubkan bibir dan lisanku, kubenamkan dalam zikir di qolbu dalam hamparan sajadah terselip doa agar rintih ku terdengar di langit.
Aku kembali memulai semuanya dari awal. Uang tabunganku yang tersisa ku pakai untuk modal membuat kue, aku berusaha untuk membagi waktuku, untuk belajar dan untuk usaha. Usaha ini aku kelola berdua dengan Faris, kami sudah mengambil tanggung jawab, maka yang kami lakukan adalah komitmen, bukan satu atau beberapa alasan.
H-7 aku lebih sibuk dari biasanya, mengisi soal-soal yang di perkirakan masuk dalam soal ujian Nasional. Terkadang aku yang harus mengalah, terkadang juga Faris yang harus mengalah. Kami harus bisa saling mengerti, bekerja sama dengan baik serta komitmen dengan rencana kami.
Ujian Nasional semakin dekat, aku dan Faris sama-sama egois, tidak ada yang ingin mengalah untuk berjualan dan packing untuk mengirim kue-kue yang sudah ku buat.
“masih banyak soal yang belum Mbak kerjakan, kamu kan sudah selesai Try Out nya kemarin” ujarku
“ck, pokoknya aku gk mau, Mbak itu cuma ikut paket, jadi jangan terlalu serius belajar, nanti juga lulus” ujarnya sinis
Faris pergi meninggalkan ku. lagi, aku harus mengalah. Aku pun sama memiliki impian, apa salahnya jika aku hanya sekolah paket, toh yang terpenting niat dan keinginan. Air mataku mengalir tanpa diperintah, hatiku merasakan sakit dengan ucapan Faris. Tapi aku tetap tersenyum, mencoba menutupi rasa sakit ini. Dengan gemetar Aku membereskan semua pesanan, mempackingnya dan segera ku kirim. Logika ku bertitah untuk berhenti berpura-pura, hati menyeret paksa agar terlihat kuat. Kenyataaan menampar diri tak setegar yang terlihat. Aku menangis kepada masa untuk berhenti menyiksaku.
Pagi yang cerah, matahari bersinar sangat terang, namun tanah masih menyisakan basah sisa hujan, bahkan semilir angin masih senantiasa membawa sisa gerimis basahi bumi. Layaknya aku menyapa dunia dengan senyum terindah, menyapa dunia dengan topeng berbalut bahagia.
Aku segera bersiap-siap untuk melaksanakan ujian Nasional, aku berangkat tanpa berbicara dengan Faris, aku menempuh perjalanan dengan menaiki angkutan umum. PKBM ku menginduk ke salah satu sekolah menengah kejurusan yang berada di Jakarta. Aku datang pagi saat sekolah masih sepi, aku duduk di di koridor sekolah, ku keluar kan buku yang berada di tas, untuk belajar lagi sebelum ujian di mulai.
__ADS_1
Kini aku dan teman-teman sedang berada di kelas, menghadapi soal-soal ujian. Aku terlalu fokus hingga teman menanggilku pun Aku tak menoleh.
“25 menit lagi” ucap salah satu pengawas
Aku panik. Materi-materi yang telah kupelajari hilang seketika. Aku tak dapat mengingatnya. Berulang kali aku memukul-mukul kepalaku dengan pensil tapi aku juga masih tak mengingatnya. Hingga suara salah satu pengawas mengagetkkanku
“waktu habis” ucap salah satu pengawas
Aku mengehela nafas pelan, ku kumpulkan kertas ujian ku, kemudian keluar dan kembali belajar untuk mengikuti ujian selanjutnya.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, satu minggu sudah Aku mengikuti ujian nasional. Kini Aku bisa bernafas dengan lega.
Kini Aku berada di taman, menatap senja dengan senyuman bahagia. Seseorang menghampiriku memberikan ku minuman yang kusuka.
“maaf” ucapnya
“Maaf, Mbak” tuturnya lagi
Aku masih saja terdiam
“Maaf, Faris terlalu egois”
“Mbak yang salah, Ris, sudah lah, sudah berlalu, Mbak pun sudah selesai ujian, minggu besok kamu kan ujian?” tanyaku mengalihkan
“iya, Mbak” ucap nya
__ADS_1
Kami berbincang dengan asik, melupakan kejadian saat itu. Kini Aku yang memegang alih usaha kue ini, ku biarkan Faris fokus untuk belajar dan melaksanakan ujian Nasional dengan baik agar ia bisa masuk ke sekolah yang ia inginkan.