Meraih Asa

Meraih Asa
Kabar Duka


__ADS_3

“aaaaa sakit, Mbak” teriak Rara dari dalam kamar, aku menghampiri Rara yang sudah terbaring lemas memegang perutnya yang sakit.


“Ra, kamu kuat jalan ke Rumah Sakit?,” Tanyaku khawatir


“Mbak, uang dari mana kita?,” tanya Faris


“sssst, sudah itu bukan urusan Kamu, bantu Mbak bawa Rara,” tegasku



Kami menunggu di depan UGD, menunggu dalam keadaan cemas, sudah sangat lama Rara di dalam tapi dokter belum juga keluar. Rasa takut menghampiriku, takut kehilangan orang-orang yang ku sayang. Tidak! Allah tolong jangan ambil adik ku. Tak lama dokter pun datang dan memintaku untuk ke ruangannya.


“Kita harus memeriksanya lebih lanjut, Bu,” ucap dokter tersebut


“Pemeriksaan lebih lanjut bagaimana? Adik Saya tidak apa-apa kan?” Suaraku meninggi, jujur dalam hati ada rasa takut, takut kehilangan orang yang ku sayang.


“Ya, kita harus melakukan amnanesis, lalu USG, cek darah dan radiologi. Nanti kita akan tahu, apakah ususnya meradang, merah atau mekar,” Jelas dokter tersebut


“usus? Maksud dokter adik Saya terkena radang usus?” tanya ku tak yakin. Dokter itu mengangguk


“Biaya nya berapa, Dok?,” tanyaku kemudian


“Sekitar 8.000.000,” Ucapnya


“8.000.000?,” Aku kembali bertanya


“Ya, dan ini harus segera ditangani, jika tidak kondisi adik anda akan semakin memburuk, untuk pembayaran silakan selesaikan ke bagian administrasi,” ucapnya


“baik, terima kasih” Aku berjalan keluar, menyusuri koridor rumah sakit, tanpa sengaja Aku melihat seorang pria yang usianya sekitar 45 tahun sedang menggandeng seorang perempuan cantik.


“Ayah” panggilku


Orang itu berbalik dan terlihat kaget saat melihat ku. Ya, dia ayah ku, ayah yang telah meninggalkan ibu dan kami anak-anak nya. Ah, ayah yang pergi hanya karna ayah lebih memilih perempuan disampingnya. Ayah menyeret tangan ku menjauh dari perempuan itu.


“Jangan panggil Saya Ayah di depan khalayak ramai!” ucapnya penuh penekanan


“Apa yang kamu butuhkan, bilang saja, nanti Saya akan kasih,” ucapnya kemudian


“Rara sakit, dia perlu dioprasi,” ucapku dengan bibir bergetar menahan tangis

__ADS_1


“Saya akan membiayai, tapi tidak bisa sekarang karna saya sedang buru-buru dan jangan pernah muncul lagi dihadapan Saya,” ucapnya dan pergi meninggalkan ku


Aku menangis, sesakit ini kah rasa nya di tolak oleh ayah sendiri? Sesakit inikah? Luka yang hampir kering kini kembali basah. Aku menekan dadaku yang terasa sesak. Sakit! Aku membencinya, membenci orang yang sudah menelantarkan kami. Membenci orang yang sudah membuat ibu menderita.


“Mbak, Mbak tidak apa-apa?” Faris menghampiri dan memelukku


Aku menangis dalam pelukan Faris, fikiranku membawaku untuk bernostalgia, dimana kami masih baik-baik saja sebelum tragedi itu terjadi.


“Sakit, Ris,” ucapku parau


“Mbak, maaf Faris belum bisa bantu apa-apa,” ucap Faris


“Mbak, Mbak” mataku terpejam sempat ku dengar Faris meneriakkan namaku sebelum mataku terpejam dengan sempurna.



Mataku mengerjap pelan, aku melihat Faris menatap kosong ke arah depan. Tatapan yang sama saat ibu pergi meninggalkan kami.


“Ris, apa yang terjadi?,” ucapku menghampiri


“Mbak, Rara pergi,” jawabnya


“Kenapa ikut pergi, Ra? Mbak… Mbak” Aku tak sanggup melanjutkan ucapan ku.


Jenazah Rara dibawa ke rumah dan langsung di makamkan di dekat makam ibu. Lagi, aku kehilangan orang yang ku sayang. Aku tidak akan pernah lagi mendengar suara manjanya, tidak ada lagi yang membangunkanku tengah malam saat dia merengek karna tidak bisa tidur. Ah, Aku pasti akan sangat merindukannya. Faris berdiam di kamar, entah apa yang di pikirkannya aku tak tahu. Aku tak kuat berada di rumah, tak kuat melihat Faris diam membisu. Aku berlari dan menuju taman, duduk di sana hingga larut malam.


“Mbak, bantu Ibu sini,” ucap Ibu


“Mbak, di panggil Ibu,” ucap Rara dengan suara manja


“Iya, Mbak dengar,” sahutku


“Mbak, nanti kalo kita ada uang kita jalan-jalan ya, Mbak, Rara, sama Ibu,”ucap nya dengan riang


“Mas, kok gk diajak?,” ucap Faris


“Enggak, Mas soalnya usil, Rara gk suka” ucapnya meledek


Semua kenangan yang di otakku terputar jelas dalam ingatan, bernostalgia membuat tenggorokanku tercekat, pandanganku mengabur karna air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Mendadak kakiku seperti jelly, Aku tak lagi mampu menopang tubuhku. Aku tidur kan diriku di atas rumput-rumput hijau.

__ADS_1


“Aku ingin seperti bintang, ia tak pernah sendiri” Tangan bebasku bergerak abstrak seperti sedang meraih bintang


“Ayah, nanti kita jalan-jalan ya,” ucapku


“iya, nanti jika Ayah libur ya, Mbak,” jawab ayah


“Mas juga Mau ikut, Ayah,” ucap Faris


“hmm nanti kita semua jalan-jalan,” jawab ayah


Aku kembali bernostalgia, membuat hatiku kembali merasakan sakit, Aku banyak belajar dari Ayah, Ayah adalah tempat bagiku bercerita, tempat ku berkeluh kesah, tapi itu dulu, jauh saat ayah belum mengenal perempuan itu. Tak terasa air mataku kembali berjatuhan. Jika waktu bisa di ulang, Aku ingin mengulangnya, waktu dimana semua baik-baik saja. Saat keluarga ku bersuka ria, menikmati indah nya keluarga kecil yang bahagia. Aku merindukannya keluarga ku yang dulu, merindukan hangatnya sebuah kekeluargaan.


“Mengapa semua begitu menyakitkan? Aku selalu mengatakan sakit tanpa seorang pun tahu, Aku tidak pernah memberitahu dimana luka nya, hati ku hancur, Aku selalu berusaha baik-baik saja, meski sebenarnya Aku merasakan hal yang sangat menyakitkan,” monologku


“Aku selalu bertanya, mengapa? Mengapa Allah, Kau ciptakan aku dengan beribu masalah dan kemalangan?,” Monologku, lagi


Suara petir menyambar, hujan turun dengan deras namun aku masih enggan beranjak dari sini. Aku menangis di temani hujan, dan angin yang berhembus dengan lembut.


“aaaaa, semesta mengapa kau masih saja terdiam?!,” teriak ku


Aku kembali menangis histeris, mengeluarkan kesedihan dan kekecewaan yang selama ini kupendam. Aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak.


“Mengapa ini begitu menyakitkan?”


“ini sangat menyakitkan, Tuhan”


“Mengapa Kau ambil Rara , Tuhan”


“tak cukupkah Kau telah mengambil Ibu dan Ayahku?”


“Aku lelah, izin kan ku pergi membawa luka ini”


Aku terus meracau, tak ada yang mengerti dengan perasaan ku saat ini. Orang-Orang di sekelilingku hanya menatapku dengan tatapan iba. Aku tak membutuhkan tatapan itu! Aku membutuhkan keluarga ku!


“Faris masih disini, Mbak,” ucap Faris yang tiba-tiba datang memelukku


“Faris, gk mau kehilangan orang yang Faris sayang, Mbak gk sendiri, masih ada Faris disini” tuturnya lagi, Aku melihat Faris menitikkan air mata, mata yang memancarkan luka dan harapan. Faris memelukku erat, begitu pun dengan ku, aku membalas pelukan Faris dan menangis dalam pelukan, bersama hujan yang membawa rasa sakit itu pergi.


**terima kasih sudah mau membaca, jangan lupa share dan vote ya

__ADS_1


salam sayang dari author


sketsa qolbu**


__ADS_2