Merried With Prince

Merried With Prince
BaB 1 [Introduce & First Meet]


__ADS_3

Selamat membaca ya😊. Cerita ini terinspirasi dari film kesukaan saya "Princes Hours" Author cuman pinjam karakter pangerannta serta tempatnya saja. Memang ada kesamaan, tapi ini versi author. Terimkasih🙏


.


.


.


.


.


 


Ayara Putri Priatmaja seorang gadis cantik nan imut. Gadis yang kerap disapa Ara oleh keluarganya. Gadis yang saat ini berusia 20 tahun dan saat ini Ayara berkuliah disalah satu Universitas terkenal yang ada di Indonesia. Siapa sih yang enggak kenal sama anak konglongmerat sekaligus anak pemilik rumah sakit terbesar Indonesia itu. Iya, Ayara adalah putri dari Aditya Wisnu Priatmaja dan juga Yasmin Putri Prayoga. Walaupun demikian Ara tidak pernah sombong dan membeda-bedakan status sosial seseorang menurutnya semua orang itu sama karena dia tidak pernah diajarkan untuk membeda-bedakan status sosial dalam bergaul.


 


Ayara saat ini sudah memasuki semester 6 di bangku perkuliahan jurusan kedokteran mengikuti jejak sang Bunda yang berarti sebentar lagi ia akan segera wisudah. Ayara juga mempunyai satu adik laki-laki yang nyebelinnya minta digampar Reinan Bagaskara Priatmaja nama adik terlaknaknya itu. Mereka selalu saja bertengkar dan masalahnya hanya sepele yang membuat orang tua mereka geleng kepala melihat tingkah putra-putrinya, tapi hal itulah yang membuat rumah Aditya dipenuhi kehangatan akibat ulah dan tingkah konyol mereka. Seperti saat ini, Ayara ngomel-ngomel enggak jelas akibat ulah adiknya itu yang membuat sang Bunda bertanya-tanya.


"Kenapa, Kak? Kok misu-misu enggak jelas?" tanya Yasmin saat melihat sang putri menggerutu tidak jelas.


"Rei tuh Bun, nyebelinnya udah tingkat dewa, masa dia hapus semua foto-foto Ayara," dumel Ara dengan wajah ditekut lucu.


"Bun, foto banci kek gitu dia koleksi jadi apa salahnya sih aku hapus," sahut seorang pria tampan tiba-tiba yang sangat mirip dengan Aditya. Iya, dia adalah Reinan walaupun di rumah dia sangat hangat terhadap keluarganya, tapi jika dengan orang yang tidak dikenal dia akan berubah menjadi sosok yang dingin kayak Bapaknya.


"Apa lo bilang, mereka tuh menli enggak banci, lo aja tuh yang sewot sama urusan orang," sanggah Ara marah karena idolanya disebut banci.


'Untung Bunda masih di sini, kalau enggak udah gue gampar nih anak dari tadi.' Ara kembali berucap, tapi dalam hati sembari menatap Rei tajam, yang ditatap malah hanya menampilkan wajah tanpa dosanya.


'Hahaha, ****** lo enggak berani 'kan kalau ada Bunda, wekk.' Ara rasanya ingin sekali menoyor kepala Reinan yang sok ganteng.


"Kenape lo liat gue kek gitu, gue tahu gue ganteng, tapi enggak usah natap kek gitu juga kali," ucap Reinan Pd.


Hoek!


Sedangkan Yasmin hanya tersenyum melihat tingkah konyol putra-putrinya yang masih suka bertengkar. Dia sudah tidak heran lagi karena hal seperti ini sudah biasa ia lihat. Untung Aditya masih ada di kamar belum turun kalau Aditya ada mereka enggak bakal berani. Jika, mengingat hal itu Yasmin tersenyum kecil karena putra-putrinya sangat takut kepada ayahnya sendiri.


Pletak!


"Awhhhhh, kepala cakep gue, woi ini difitrahin loh, pake hilikopter," keluh Reinan seraya meringis mengusap jidatnya yang dapat gamparan sayang dari sang Kakak. Ayara dan Reinan beda 3 tahun, Reinan saat ini berusia 17 tahun kelas 12 SMA yang berarti sebentar lagi dia juga akan segera lulus dan memasuki jenjang perkuliahan.


"****! Mana ada kepala lo difitrahin pake helikopter," ucap Ara ketus.


"Suka-suka gue dong, wekk," ungkap Reinan sembari menjulurkan lidahnya ke arah Ayara.


"Lo ...." Ucapan Ara berhenti ketika suara yang sangat mereka sayangi terdengar.


"Udah, kalian ini berantem terus, tuh Ayah liatin kalian," tegur Yasmin melembut yang menghentikan perdebatan unfaedah mereka.


Mereka menoleh dengan kaku ke arah tatapan Yasmin. Di depan mereka Aditya sudah berdiri dengan stylan kantornya.

__ADS_1


"Hhhh, Ayah, udah mau berangkat, Yah?" tanya Ara kikuk. ******!


Aditya tersenyum dan langsung duduk di kursi kepala keluarga. "Iya, Sayang," jawab Aditya singkat. Yasmin mengambilkan sarapan untuk Aditya sementara itu Ayara dan juga Reinan mengambil sendiri sarapan mereka. Jika, mereka nyuruh Bunda untuk ngambilin makan pasti dicegah sama Ayah Aditya, dia bilang kalau mereka sudah besar dan saatnya dia yang dimanja oleh Bunda. Teori dari mana itu?.


Setelah sarapan mereka pun berangkat. Reinan yang berangkat menggunakan motor sport sedangkan Ayara membawa mobil sendiri menuju kampusnya.


* * *


Ara saat ini telah memasuki area kampus dan memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir mahasiswa.


'Call Me Baby, Call Me Baby.' Lagu salah satu artis kpop yang sangat Ara sukai kini terdengar dan membuatnya menghentikan langkah menuju kelasnya.


"Hello Ri?"


'Lo di mana bebz?'


"Gue udah ada di kampus, tinggal mau otw kelas, kenapa emangnya?" tanya balik Ara.


'Enggak papa, gue kira lo masih molor, hhhh,' terdengar gelak tawa Riri di seberang sana.


"Sembarangan, gue matiin dulu ya, gue mau otw ni," ucap Ara dan langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Riri.


"Pasti Riri lagi ngedumel enggak jelas, hahah," ujar Ara terkekeh. Dan benar saja Riri mendumel nggak jelas di kelas.


Saat Ara hendak melangkah dia tidak lihat ada seseorang yang berjalan berlawanan arah darinya.


Bruk!


"Awh, duh istrinya Baekkie, selingkuhannya Oppa suho kejedot lantai, apa kata dunia ya, lord," keluh Ara asal saat terjatuh ke lantai. Namun, orang yang menabraknya tidak berusaha untuk menolongnya atau apalah.


Ara melihat siapa yang menabraknya dan di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan kacamata berlensa tebal bertengker manis di hidung bangirnya. Pria itu memiliki warnah kulit putih walaupun penampilannya sedikit nerd khas orang cupu. Namun, auranya begitu berkharisma.


"Hei, lo punya mata enggak sih? Lo enggak lihat ada artis lewat? Enggak pake nolongin lagi buruan lo minta maaf," amuk Ara memarahi si penabrak dan menyuruhnya untuk meminta maaf padanya.


"Hmm," jawab pria itu kemudian berlalu.


Ara dibuat melongo dengan wajah lucuh dia tidak percaya ada pria yang lebih dingin dari sang Ayah. Pria itu berlalu dari hadapan Ara tanpa ada niatan untuk meminta maaf.


"Dasar cowok songong, awas aja ya kalau kita ketemu gue buat lo jadi daging giling dan lemparing lo ke Kutub Utara biar dimakan sama Hiu," ujar Ara kesal dan berlalu dari tempatnnya tadi terjatuh dengan perasaan kesal.


Brak!


Ara mendobrak pintu tanpa rasa bersalah yang membuat semua siswa di kelas terkejut karena ulahnya. Ara hanya nyegir tiga jari seraya meminta maaf sama teman sevakultasnya.


"Eih, si princess santai aja, enggak usah ngedobrak juga kali, kita-kita pada terkejot nih," sahut salah satu teman Ara 'Arga'.


"Ck, si kutil kuda diem lo, enggak usah ngebacod," jawab Ara dan berlalu ke tempatnya duduk yang sudah ada Riri di sana.


"Serah lo deh, emes," ucap Arga menghela nafas dan kembali fokus sama buku yang ia pegang.


Walaupun Ara tidak ada feminim-feminimnya dalam bertingkah, tapi dia juga tahu adab di mana dia harus bersikap bar-bar. Menurut mereka nakal boleh, tapi harus nakal yang berkelas. Begitupun prinsip teman sekelasnya mereka sangat kompak walaupun kadang rada somplak semua.

__ADS_1


"Ra, entar balik kampus temanin gue ke mall yuk," sahut Riri saat Ara sudah duduk di dekatnya.


"Mau apa?" tanya Ara sok polos.


"Enggak usah masang wajah kek gitu deh, jijik gue jadinya, lo lupa ya, Album terbaru Exo udah rilis, lo enggak mau beli?" tanya Riri.


"Serius lo, ok kita otw balik dari kampus, lo bareng gue aja ya perginya," jawab Ara.


"Ok, bebz," jawab Riri.


"Eh, ni dosen mana yak, kok enggak masuk-masuk?" tanya Ara ketika menyadari dosen mereka belum masuk.


"Enggak tahu juga, mungkin lagi ada urusan, tapi belum ada pemberitahuan," jawab Riri yang asik bermain ponsel apa lagi jika tidak mengecek berita tentang idola mereka.


"Hufft, bosan gue kalau kek gini," ucap Ara sembari menelungkupkan kepalanya di dalam kedua lipatan tangannya di atas meja. Dan dalam hitungan detik Ara terjun kealam mimpi. Ara memang tipe cewek yang bisa tidur di mana saja biarpun suasana ribut kek pasar Ara masih tetap bisa tertidur dengan nyenyak. Riri yang menyadari jika sahabatnya itu telah tertidur hanya membiarkannya saja.


Di dalam mimpinya Ara bertemu dengan seorang pria. Namun, ia tidak bisa melihat bagaimana wajahnya hanya pria berperawakan tinggi dengan kulit putih yang dapat ia lihat.


Pria itu memakai tiara di kepalannya yang menandakan bahwa ia seorang pangeran. Dan pria itu senantiasa menatapnya walaupun Ara tidak bisa melihat ekspresinya, tapi dia yakin pria itu menatapnya yang membuat Ara ketakutan dan terbangun dari tidurnya.


"Astaghfirullah," ujar Ara beristighfar saat terbangun dari mimpinya. 'Ih, serem banget mimpi gue masa gue ditatap sama cowok yang enggak punya wajah sih?' gumam Ara dalam hati.


"Kenapa lo Ra?" tanya Riri khawatir saat melihat wajah pucat sahabatnya itu.


"Gue enggak papa RI," jawab Ara sekenanya.


"Gue tidurnya berapa lama?" tanya Ara lagi.


"Eum, sekitar 15 menit," jawab Riri saat melihat jam di pergelangan tangannya.


Suasana kelas masih ricuh kayak pasar lokal, tapi berubah hening saat seorang pria setengah baya masuk kelas mereka. Iyap, yang di depan mereka saat ini adalah si dosen killer menurut mereka semua, tapi tidak bagi Ara menurutnya dosennya itu baik, tapi dia hanya terlalu tegas dan disiplin.


"Anak-anak, kalian kedatangan teman baru, dia pindahan dari Universitas yang ada di Thailand," ucap dosen killer saat mendapat perhatian dari seluruh kelas.


"Jauh amat, siswa pertukaran kah, Pak?" tanya Arga.


"Iya, kamu benar dia adalah siswa pertukaran dari Thailand, kamu masuk ke sini!" jawab dosen killer dan menyuruh seseorang untuk masuk.


Masuklah seorang pria berperawakan tinggi. Namun, berpenampilan nerd dengan kacamata tebal bertengker manis di hidungnya walaupun tidak ada gaya rambut klimiks seperti kebanyakan nerd.


Semua siswa memandangnya dengan tatapan aneh bin ejekan. Menurut mereka ini wajib jadi ajang keusilan mereka. Namun, satu yang menarik dari pria itu, dia memiliki mata tajam dan tidak memiliki ekspresi walaupun sedikit tersamarkan dari balik kacamata tebalnya.


'Lah, diakan yang gue tabrak tadi, awas ya lo,' ujar Ara dalam hati sembari menatap siswa pindahan itu tajam. Siswa baru itu juga menatap Ara dari balik kacamatanya. Tanpa mereka semua sadari peria itu tersenyum setipis kertas.


"Silahkan perkenalkan nama Anda," pinta si dosen killer.


"Inn." hanya tiga huruf yang keluar dari bibir tipisnya yang membuat semua orang cengo akibat sikapnya yang sangat dingin.


.


.

__ADS_1


.


Enjoy reading my trory😉


__ADS_2