
Assalamualaikum malam manteman next lagi ada yg nungguin tidak? Acc admin
#MerriedWithPrince
#FiksiRemaja
#Chapter6
#BertemuDenganCamer
.
Pagi yang cerah dan indah, malam yang dingin berlalu sangat cepat seperti berlomba dengan sesuatu.
Di sebuah rumah megah yang tadinya damai berubah menjadi bising karena para pencari berita berdiri di depan rumah megah itu dan untung banyak keamanan yang berjaga di rumah megah tersebut sehingga para pencari berita tidak bisa masuk dan mengorek berita lebih dalam.
Bagaimana tidak pagi ini stasiun televisi menayangkan berita tentang pernikahan Pangeran Inn dari kerjaan Buthin yang bersanding langsung dengan putri pemilik perusahaan terbesar Indonesia yang menggemparkan semua orang. Banyak yang iri dengan keluarga bahagia itu, karena mendapatkan keberuntungan yang sangat luar biasa.
Di dalam rumah megah itu telah berkumpul anggota keluarga dari pihak Aditya dan juga Yasmin karena berita putri sulung mereka yang ingin menikah dengan seorang Pangeran yang membuat mereka shot bukan main. Bahkan Ziah yang ada di Jerman langsung pulang ke Indonesia untuk mendapatkan informasi sebenarnya.
"Jadi, Yas, kok bisa Ara berjodoh dengan Pangeran Inn?" tanya seorang wanita cantik membuka suara untuk yang pertama kali.
"Ini janji dari Ibu Suri dari kerajaan Buthin waktu aku selamatin nyawanya dia berterima kasih dengan cara menjodohkan cucunya dengan Ara, aku tentu saja menolak, tapi dia sangat bersikeras. Jadi, ia seperti yang kau tahu sekarang ini," jawab Yasmin seraya menatap sepupu cantiknya itu.
"Wow, tapi kudengar Ara sudah berpacaran dengan calon suaminya deluan tanpa dia ketahui identitasnya dan sebenarnya itu cuman bohong supaya Ara tidak menikah dengannya," ujar Ziah dengan senyuman geli tercetak di bibirnya dia tidak bisa membayangkan wajah konyol Ara saat tahu siapa pacar bohongannya itu.
"Haha, iya begitula dan saat dia tahu dia bilang Inn adalah orang nyasar dari hutan," ungkap Yasmin terkeke geli.
"Sudahlah, yang terpenting putri kita berada di tangan orang yang tepat, apa lagi Inn adalah sosok yang penuh tanggung jawab," sela Aditya mengeluarkan pendapatnya.
"Iya, yang penting Ara tidak tertekan," ucap Rama yang juga mengeluarkan suaranya.
Mereka hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa semua akan baik-baik saja.
Sedangkan orang yang dibicarakan sedang bersembunyi dari pencari berita yang sedang berada di depan kampusnya.
"Aduh! Wartawan sialan kenapa harus muncul di sini, sih," dumel Ara sebal karena dia tidak bisa leluasa bergerak.
Dia belum bertemu dengan para sahabatnya karena jika mereka sudah bertemu pasti Ara akan jadi bulan-bulanan mereka. Memikirkannya saja sudah membuat Ara bergidik ngeri.
Puk! Seseorang menepuk punggung Ara yang membuatnya menegang. Karena tempatnya bersembunyi adalah gedung kesenian di mana gedung itu terbilang angker.
"Tolong, Mbak Kunti, jangan ganggu Ara ya, Ara cuman numpang ngumpet, kok," ucap Ara tanpa melihat siapa yang menepuk punggungnya.
Orang yang menepuk punggung Ara hanya mendengus sebal. Kenapa gadis di depannya ini sangat konyol.
"Aku bukan hantu," kata suara itu kelewat datar yang langsung membuat Ara berbalik, karena yang menepuk punggungnya bukanlah mbak Kunti.
__ADS_1
"Kamu ...?"
Ara tidak menyangka jika keberadaannya ditemukan oleh Inn dengan sangat cepat.
'Percuma saja ngumpet dari tadi, toh ni curut udah nemuin aja lokasiku,' cibir Ara dalam hati.
"Kamu ... bersembunyi dari mereka?" tanya pria yang menepuk punggung Ara yang tak bukan adalah pangeran tampan kita.
"Enggak, aku lagi main petak umpet sama Mbak Kunti, kamu mau apa, ha?!" jawab Ara ngelantur seraya memelotoki Inn dengan kedua mata bulatnya.
Inn lagi-lagi mendengus dengan ucapan Ara yang sangat konyol itu. Dan dia pikir hanya dengan menatapnya dengan mata yang indah itu membuatnya takut? Malah Inn ingin mencubit pipi Ara yang gembil.
Pletak!
Sebagai gantinya Inn menjitak kepala Ara dengan keras supaya otaknya encer dan pikiran konyol pergi dari otak kecilnya itu.
"Awh, sakit bodoh, apa kamu mau membunuhku? Awas ya kalau malam pertama akan aku bunuh kau," ancam Ara menatap tajam Inn untuk kesekian kalinya. Jika tatapan bisa membunuh maka Inn sudah mati berkali-kali.
"Oh, malam pertama, ya?" Inn menjeda perkataannya, "malah, aku yang akan memakanmu," lanjut Inn dengan seringai yang aneh seraya menatap Ara penuh apresiasi. Dia saja belum memikirkan tentang malam pertama kenapa calon istrinya ini malah berpikiran ke sana.
Glek! Ara menelan ludahnya susah paya. Kenapa juga mulutnya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Jelas, bukan dia yang akan membunuh Inn, tapi Inn yang akan memakannya.
'Alama! Bunda, help me,' jerit batin Ara. Namun, satu yang tidak Ara sadari jika posisi mereka saat ini sedikit err ... ambigu.
"Yak! Mau apa kau! Sana jau-jauh," ucap Ara tersadar dengan panik mendorong tubuh Inn.
"Sebaiknya kamu ikut denganku, kita temui Permaisuri Ibu," ujar Inn menarik tangan Ara yang masih berusaha menetralkan detak jantungnya.
* * *
Di sinilah mereka sekarang, Ara tidak menyangka jika Kerajaan Inn mempunyai fasilitas yang bergensi. Bagaimana tidak, jet yang dia tumpangi sekarang adalah milik dari kerajaan tersebut, karena lambang kerajaan yang menjadi ciri khas jet pribadi itu.
"Astaghfirullah, aku enggak nyangka kamu punya jet pribadi," kata Ara seakan masih tidak percaya.
"Hmm, ini milik kerajaan dan itu hak keluarga kerajaan untuk menggunakan fasilitas ini," ucap Inn menjawab dengan mata tertutup. Kacamata baca yang tadi ia kenakan saat di lingkungan kampus telah lenyap tak berbekas.
"Ohhh," ujar Ara takjub. Kekesalan yang menderanya kini hilan bersamaan datangnya kegembiraan itu.
Hanya 1 jam lamanya yang mereka butuhkan untuk sampai dan sekarang sebuah mobil mewah menjemput mereka di bandara.
Hampran hijau yang begitu luas menjadi objek penglihatan Ara saat mulai memasuki area istana ini. Banyak sekali tanaman bunga-bunga yang indah dan terawat. Harum semerbak bau bunga menggelitik penciuman Ara yang membuatnya kagum bukan main.
"Daebak, ini istana yang sebenarnya," ujar Ara masih terkagum.
Inn hanya diam tidak mengeluarkan suara apa pun dari tadi seakan Ara tidak ada di sisinya.
Mereka pun sampai di depan pintu masuk ke
__ADS_1
dalam istana. Dan Inn langsung saja keluar tanpa membukakan pintu untuk Ara, tapi Ara tidak ambil pusing. Tujuannya ke sini hanya untuk menemui calon mertuanya.
Para pelayan yang menjaga di depan pintu untuk menyambut kedatangan mereka, tersenyum ramah ke arah gadis cantik itu.
Ara tersenyum membalas keramahan para pelayan itu. Setelahnya, Ara digiring masuk untuk menemui seseorang. Sedangkan Inn? Entahlah di mana dia sekarang.
Di sini Ara sekarang, di bawa tatapan seorang wanita yang masih cantik di usianya yang sudah tidak terlalu mudah lagi.
Ara tidak tahu harus menyapa seperti apa, apakah dia harus memberi salam ala putri kerajaan seperti yang ia suka nonton di film kerajaan? Jadi, Ara hanya menangkupkan
kedua tangannya sebagai salam sopan ala orang Thailand.
"Sawadekha," ujar Ara kikuk dan ditanggapi anggukan oleh wanita itu yang tak lain adalah permaisuri kerjaaan Buthin dari di nasti ke-IX masa pemerintahan yang mulai raja Thafa. Permaisuri masih senantiasa menyesap tehnya dengan anggun.
Permaisuri itu, meletakkan cangkir tehnya dengan anggun dan mengisyaratkan para pelayan untuk undur diri. Karena, sepertinya dia ingin mengatakan hal yang serius dengan Ayara. Sepeninggal para pelayan wanita itu menatap Ara tanpa emosi yang membuat Ara bagaikan di neraka.
'Ya Allah, Ara mau balik ke tanah air, Bunda Ara mau pulang!' jerit gadis itu dalam hati. Namun, ketidaknyamanan tidak ia tunjukkan di permukaan.
"Apakah kamu menerima pernikahan ini?" tanya wanita cantik itu seraya menatap Ara
intens.
"Sebenarnya, Ara masih ragu, lagi pula Ara masih kuliah dan Ara harus fokus sama kuliah Ara. Jika, saja pernikahan ini tidak terjadi Ara pasti lagi ada di rumah bersama Bunda. Akan tetapi, jika Ara nolak pasti Ayah sama Bunda malu, karena berita ini telah tersebar dan telah diketahui oleh publik. Jadi, Ara terima saja, bukan karena Inn adalah seorang pangeran. Karena, menurut Ara semua manusia di dunia itu fitrahnya sama di mata Allah. Jadi, Ara mau terima perjodohan ini." Ara menjelaskan dengan raut wajah yang sangat serius. Sifat kekanak-kanakannya sudah tidak terlihat lagi yang ada hanya sosok wanita dewasa yang mirip dengan sang bunda.
Wanita itu tersenyum mendegar jawaban Ara. Dia sangat puas atas pilihan ibu mertuanya. Walaupun, gadis itu masih sangat mudah tapi dia lebih baik dari dia.
"Baiklah, semuanya telah kamu putuskan. Jadi, tidak ada lagi kata menyesal, tolong kamu bahagiakan Inn, dia memang terlihat dingin dan tak tersentuh di luat. Akan tetapi, dia adalah sosok yang paling rapuh coba mengerti dia dan pahami semua tindakan yang dia lakukan maka kamu akan mengetahui segalanya," petuah permaisuri Raswadekha lagi dengan tatapan tegas khas seorang permaisuri sebuah negara.
"Eum." Ara mengangguk sebagai jawaban dan mulai memperhatikan sekitar.
"Apakah Inn ... maksudku Pangeran Inn tidak ada di sini? Ke mana dia?" tanya Ara sesopan mungkin.
"Sepertinya dia bertemu dengan Ayahnya, kalau begitu kamu boleh istirahat," jawab permaisuri cantik itu. Setelahnya, dia pun berlalu dari hadapan Ara.
Huft! Ara menghela nafas legah. Beberapa saat lalu dia hampir pingsan karena ditatap sedemikian intensnya oleh ibu Inn.
"Wahh, jika Riri hari ini mendegar ucapanku yang sangat bijaksana, pasti dia akan mengacungkan jempol untukku." Bangga Ara pada dirinya. Kemudian, dia melirik pemandangan dari atas loten untuk melihat bunga-bunga dan padang yang terhampar bagaikan ombat.
"Wahh, bagus banget nih buat selfie," ucap Ara dan mengeluarkan ponsel cantiknya yang berlebel apel sisah di belakangnya.
Ara melihat pelayan yang senantiasa menungguinya. Dia juga mengajaknya untuk selfie bareng. Bagi Ara status itu hanyalah sebuah nama, pada dasarnya semua manusia itu sama di mata Allah baik dia kaya, miskin dan bahkan dari status sosial paling rendah kita tidak ada hak untuk membeda-bedakan dalam bergaul.
Seperti itulah pikiran Ayara yang selalu sang bunda tercinta ajarkan padanya sedari kecil. Namun, tidak terlalu merendah artinya jika ada yang menindasmu dan itu sudah tidak bisa ditolelir lagi maka disitulah kamu bisa membalasnya, tapi jika mereka baik padamu maka balas kebaikan mereka dengan kebaikan yang lebih. Ternyata ajaran Yasmin tidak pernah salah ke pada putri sulungnya yang telah tumbuh dewasa itu.
.
.
__ADS_1
Next and krisannya ya.