
Hari ini adalah hari pernikahan Kyara. Aula resepsi pernikahan telah ramai diisi oleh tamu penting. Setelah, tadi pagi Inn melakukan ijab qobul--menghalalkan Kyara sah menjadi makmumnya.
Aula itu didekor dengan nuansa gold-red yang makin membuatnya tambah megah dah berkelas. Persiapan telah selesai. Raja, permaisuri serta ibu suri telah siap di aula istana menunggu pengantin tiba.
Tap! Tapk! Tap!
Derap langkah para pelayan pribadi Ara membuatnya menoleh sekilas. Ara tersenyum saat melihat pantulannya di cermin. Dia seakan tidak percaya bahwa ia telah melepaskan masa lajangnya sekarang. Dia bukan Ara yang bisa melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Namun, sekarang semuanya sudah ada aturan yang harus dia taati sebagai seorang putri mahkota.
"Putri Anda sangat cantik," puji Khun Ratte sembari tersenyum hangat ke arah putrinya.
"Terima kasih, Ara tidak menyangka Ara bisa secantik ini ketika sudah didandani," puji Ara pada dirinya sendiri.
"Putri sudah waktunya," tutur Khun Ratte lagi. Ara hanya mengangguk sebagai jawaban dan mulai berjalan keluar.
Sedan di lain tempat di waktu yang sama. Inn tampak menatap layar ponselnya. Dia seperti menunggu panggilan dari seseorang.
Dert! Dert! Dert!
Ponsel Inn bergetar panggilan dari sang kekasih. Inn hanya menatapnya sebelum menggeser icon hijau pada layar ponselnya. Akan tetapi, Inn tak membuka suara sehingga hanya suara sang kekasih yang terdengar.
"Inn, mengenai lamaranmu itu ... ah, sudahlah semuanya telah berlalu. Aku harap kau bahagia."
Tut! Tut! Tut!
Panggilan itu berakhir dan Inn baru akan menelpon sang kekasih. Akan tetapi, kehadiran khun purred menghentikan niatnya.
"Pangeran, sudah saatnya," tutur khun Purred sembari menunduk 45 derajat.
"Hn." Inn meletakkan ponselnya dan melangkah terlebih dahulu yang diikuti oleh khun purred.
Hari ini Aditya, Yasmin dan Reinan juga datang. Yang lainnya tak dapat ikut karena kondisi yang tak memungkinkan jadi mereka hanya menitipkan doa saja.
Saat ini Inn dan para orang penting telah berada di aula istana menunggu sang mempelai wanita datang.
Krik!
Derit pintu ketika dibuka mengalihkan perhatian semua orang menuju ke pintu aula. Di sana seorang gadis cantik berdiri--mengenakan gaun pengantin, buket bunga terdapat di dalam pelukan lengannya.
Inn terpaku lebih tepatnya terpana saat menyaksikan sang istri begitu cantik saat mengenakan gaun pengantin.
Pengiring pengantin mengiringi langkah Ara. Juntaian gaunnya yang bergesekan dengan lantai berkarpet merah itu dipegang oleh ketiga pelayannya agar dia tak kesusahan berjalan. Tepat di tengah-tengah aula Ara berhenti. Karena ia melihat sang ayah datang menghampirinya dengan senyum hangat terparti di bibir sang ayah.
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa. Ratu masa depanku," ujar Aditya menyemangati sang putri.
Ara hampir menumpahkan air matanya. Di barisan tamu sang ibu dan juga adik berdiri dan menatapnya penuh rindu.
Dengan langkah pasti Ara berjalan beriringan dengan sang ayah. Namun, karena gaunnya yang panjang Ara hampir saja terjatuh. Untung saja sang ayah ada dan dapat menolongnya dari rasa malu yang mungkin akan terjadi jika Aditya tak segera menahannya.
Saat sampai di altar di mana Inn serta anggota utama kerajaan berada Aditya menyerahkan tangan putrinya ke tangan Inn yang menandakan bahwa tanggung jawab Ara sekarang telah berpindah tangan ke tangan Inn seutuhnya.
Kepala pelayan yang mengawasi jalannya resepsi mengambil buket bunga di tagan Ara. Kemudian raja Thada membacakan dekrit kerajaan bahwa Ara telah resmi menjadi putri mahkota kerajaan Buthin. Ara dipasangi matel kerajaan di pundaknya. Inn sedari tadi hanya menatap Ara dengan intens entah kenapa menurutnya Ara sangatlah cantik.
Setelah itu, ibu suri mengambil cincin yang akan mengikat mereka seumur hidup. Cincin berwarna black silver itu tersemat di jari manis keduanya. Pertanda mereka akan menempuh hidup baru.
Prok! Prok! Prok!
Tepukan dari para tamu menggema di alua tersebut. Sorotan camera serta blis camera menyoroti pasangan pengantin itu.
Senyuman terparti di bibir mungil Ara, entah kenapa dia sangat senang dan juga terharu. Akan tetapi, dia sedikit bersedih karena harapan untuk menikah dengan suami halunya tak akan pernah tercapai. Jika, memikirkan hal tersebut rasanya Ara ingin menjerit frustasi dan tampah sadar ia mencengkram lengan Inn yang membuat si empu mengaduh kesakitan.
"Ra, jangan kuat-kuat," bisik Inn kepada Ara tepat di telinga.
"Ck, apa kamu tidak perna disentuh? Lemah sekali," cibir Ara.
"Sekarang, saatnya pengantin baru kita berjalan ke luar aula dan menyambut para masyarakat kerajaan Buthin," tutur raja Thada sembari tersenyum.
Ara dan Inn juga ikut tersenyum dan mulai berjalan beriringan menuju ke pintu aula untuk menyambut para masyarakat kerajaan Buthin.
Setelah itu, kini mereka sedang duduk di hadapan raja serta permaisuri dan ibu suri, seperti halnya pengantin kebanyakan setelah menikah mereka akan diberikan nasehat-nasehat dalam berumah tangga.
"Kalian harus cepat-cepat memberikan kami cucu kerajaan," kata ibu suri sembari tersenyum kecil.
Keduanya hanya mengangguk kikuk.
"Pangeran, Putri. Sekarang kalian telah menempuh hidup baru jadilah panutan bagi kerajaan Buthin. Selalu jadi Pangeran dan Putri yang bermartabat serta disenangi oleh masyarakat Buthin," nasehat Yang Mulia raja Thada.
"Berbahagialah, Pangeran, Putri," nasehat permaisuri sembari tersenyum lembut ke arah keduanya.
"Baik, Yang Mulia, kami akan mendengar nasehat dari kalian," ujar keduanya serempak.
***
Di sini Ara dan Inn sekarang. Mereka berada di kamar Inn tempat mereka nantinya akan melaksanakan malam pertama. Ara menatap horor tempat tidur bersprai putih di sudut ruangan kemudian menatap Inn yang asik membaca di sofa. Sedangkan ia? Ia sekarang meringkuk di pintu. Suasana hening masih tercipta sampai seseorang datang mengetuk. Ara buru-buru membukakan pintu untuk si pengetuk dan ternyata orang tua dan adiknyalah yang datang.
__ADS_1
"Yang Mulia." Mereka menyapa Inn sopan.
"Ma, Yah, tidak usah terlalu formal, bagaimana kabar kalian?" tanya Inn ramah sembari mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Kami baik, terima kasih Pangeran," jawab Yasmin sembari mengusap tangan menantunya.
"Ya, Ma, kalau begitu kalian berbicaralah, saya ingin ke kamar mandi," balas Inn kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Ara masih melongo karena Inn berubah saat di depan orang tuanya. 'Asatagafirullah, apa dia mempunyai pribadi ganda?' tanya Ara tidak habis pikir dalam hati.
Setelah tersadar Ara langsung saja menangis.
"Ma, Yah, Ara gak mau di sini. Ajak Ara pulang ke Indonesia. Dia, dia itu jahat Ma, tidak seperti yang ada di depan kalian," tutur Ara memohon.
"Tapi Kak, Kakak tahu sendiri. Kakak baru saja menikah beberapa jam yang lalu dan Kakak tiba-tiba akan pulang. Apakah itu tidak memberikan wajah kepada kerajaan Buthin. Pasti mereka tersinggung dan akan membahayakan kita dan negara kita. Kenapa karena perwakilan negara kita juga ada di sini, Kakak cinta tanah air 'kan. Maka jangan lakukan hal bodoh," sela Reynan yang berbaring di tempat tidur pengantin.
"Hm, iya juga sih, Rey. Ha, baiklah Ara tidak jadi pulang," balas Ara sembari menggeleng perlahan.
"Kalau begitu kami keluar dulu ya, Sayang. Ingat jadilah istri yang baik, ok, Rey, ayo jangan ganggu Kakakmu lagi," imbuh Yasmin sembari mengusap wajah putri kecilnya. Dan memanggil sang anak bungsu untuk ikut keluar bersamanya.
Dia tak ingin menangis di depan Ara. Karena dia tahu, putrinya itu juga akan ikut menangis.
"Ok, Mom's," balas Reynan sembari mengikuti sang Bunda.
Setelahnya tersisa Aditya dan Yasmin.
"Ayah." Pecah sudah, Ara tak bisa lagi menahannya.
Dia ingin mengadu dan menangis sejadi-jadinya. Di pelukan sang ayah.
"Shut! Ara anak kuat, Ara anak baik, Ara anaknya Ayah," tutur Aditya menenangkan sang putri kecil.
"Yah, apa Ara bisa bertahan?" tanya Ara sembari menunduk.
"Ara pasti bisa. Semangat Ara anak yang kuat," timpal Aditya sembari menampilkan senyuman tulus.
"Hm, Ara pasti bisa," imbuh Ara sembari kembali memeluk sang ayah untuk terakhir kalinya.
"Kalau begitu Ayah keluar dulu ya, ingat apa yang Bundamu pesankan. Jadilah gadis kecil yang penurut ok," pesan Aditya sebelum benar-benar berlalu mengisahkan Ada dengan hampa.
Next or stop?
__ADS_1