
5
Menipu Tapi Tertipu
Di sini mereka sekarang, di sebuah ruangan yang serbah putih. Ruangan itu adalah ruang UKS. Ternyata Inn membawa Ara menuju ke ruang UKS karena pergelangan tangan dan kaki Ara lecet akibat ulah Maya. Sedangkan yang lain pergi entah ke mana meninggalkan pasangan pura-pura itu yang nantinya akan menjadi pasangan yang nyata.
"Kak Inn, kenapa ngakuin Ara sebagai calon istri? Padahal 'kan kita cuman pacar pura-pura?" tanya Ara saat Inn telah selesai mengobati pergelangan tangannya. Namun, tidak ada sahutan yang terdengar dari bibir Inn dia hanya menatap Ara datar dari balik kacamata tebalnya.
Karena tidak mendapat sahutan Ara diam saja dan bangun dari tempatnya duduk. Baru dia mengambil satu langkah ponsel di tangannya berdering.
"Assalamu'alaikum, Bun, ada apa?" tanya Ara menjawab telepon tanpa menghiraukan Inn yang senantiasa menatapnya
.
[Wa'alaikumsalam, Sayang. Utusannya sudah tiba cepat kamu ke sini.]
"What! Bunda enggak bohong astagfirullah, Ara ke sana sekarang, assalamu'alaikum, Bunda," ujar Ara sembari mematikan sambungan dengan raut wajah terkejut yang tidak luput dari pandangan Inn.
'Utusan, sialan! Kenapa dia sangat cepat datang.' Ara mendumel dalam hati seraya menatap handphonenya.
"Kak Inn, kita ke rumah sekarang, ya. Soalnya tuh orang udah datang," kata Ara tiba-tiba yang membuat Inn mengkerutkan alisnya.
"Udah, enggak usah bengong, ayok cepetan!" Ara menarik Inn tanpa sadar karena sangking buru-burunnya.
'Mereka telah tiba rupanya! Hmm, apa yang akan gadis ini katakan jika yang akan menjadi suaminya adalah gue dendiri?' Oh, astaga Inn rasa-rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Ara bodoh atau terlalu polos?.
__ADS_1
Mereka menaiki mobil Ara menuju ke kediaman Priatmaja. Tentu saja yang menyetir Inn. Tidak ada yang membuka suara. Ara yang biasanya sangat cerewet kini bungkam bagaikan ada lem 'tak kasat mata yang menyumpal bibirnya.
'Semoga saja dengan melihatku udah punya pacar mereka enggak ngebet mau lamar untuk si Rusa Kutub! Amit-amit dah, jadi istrinya Pangeran Ice itu, bisa-bisa jadi daging giling di istananya,' dumel Ara dalam hati berharap usahanya berhasil dia akan sangat berterima kasih dengan temannya yang sedang menyetir itu. Karena, sudah mau ikut andil dalam urusannya yang menyangkut masa depannya.
15 menit kemudian mereka telah sampai di rumah megah itu. Rumah yang sangat besar dan hanya dihuni oleh beberapa orang saja.
Di garasi rumah telah terparkir mobil hitam metalik dan di depannya terdapat mendera kecil berwarna ungu serta terdapat gambar bunga bersulam emas yang artinya itu kendaraan milik kerajaan Buthin.
"Kak Inn kenal dengan mobil itu?" tanya Ara saat melihat Inn menatap mobil itu sejenak.
"Kamu lupa, jika aku berasal dari Thailand. Jelas aku tahu," jawab Inn datar.
"Oh, gitu, yaudah yuk masuk," ajak Ara seraya kembali menarik tangan Inn untuk masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum, Bunda, Ayah," salam Ara dengan wajah dihiasi senyuman lembut dan langsung saja menarik perhatian mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak.
Ara menghampiri bundanya dan duduk di tengah-tengah mereka berdua. Baru saja Ara ingin memperkenalkan Inn sebagai kekasihnya. Pria tua itu berdiri dan membungkuk hormat.
"Pangeran, kenapa Anda bisa berada di rumah calon mertua Anda?" tanya pria tua itu heran setelah membungkuk dan memberi salam.
"Wait? Kenapa Anda membungkuk hormat kepada pacar saya? Dia bukan Pangeran, Anda mungkin salah orang cuman nama mereka yang sama!" Sergah Ara cepat saat pria tua itu yang ternyata adalah utusan kerjaan dari Thailand membungkuk hormat di hadapan Inn.
"Maaf, Nona, saya tidak mungkin salah, mereka adalah orang sama," jawab pria tua itu membenarkan ucapannya.
__ADS_1
"No, no! Anda pasti salah orang, mana ada seorang Pangeran pergi kuliah di negara kami. Tentu, mereka punya sekolah khusus bangsawan, bukan?" tanya Ara tidak terima atas argumen pria tua itu. Sedangkan Inn, hanya memilih diam.
"Iya, yang Nona Ayara katakan memang benar, tetapi, saya tidak bohong, jika Anda tidak percaya Anda bisa tanya sendiri ke pada Pangeran Inn," jawab pria tua itu seraya tersenyum simpul.
Sementara itu, Aditya dan Yasmin hanya diam tidak tahu harus berucap apa. Kenapa anak mereka bisa berpacaran dengan
Pangeran Inn yang sebelumnya dia sangat menolak hal itu. "Kak Inn, yang dikatakan pria tua ini salah 'kan?" tanya Ara beralih menatap Inn yang hanya terdiam seakan apa yang terjadi bukan urusannya.
"Iya." Singkat padat dan jelas. Jawaban Inn sukses membuat Ara menghela nafas lega. Namun, jawaban Inn selanjutnya membuat Ara cengo karena terkejut.
"Iya, benar saya memang Pangeran Inn yang akan menjadi suamimu kelak," lanjut Inn dengan wajah datarnya tidak pernah memunculkan ekspresi yang berarti. Iya, seperti itulah Inn jika berhadapan dengan orang yang ia baru kenal pasti selalu serius.
Ara berdiri dan menatap Inn seksama.
"Hahaha!" Tawa Ara pecah yang membuat Inn serta orang tua Ara bingung. "Kak Inn enggak lucu kalau ngelawak enggak usah nakutin deh, Kak Inn pandai banget ektingnya perlu dikasih jempol nih, wajah Kak Inn menyakinkan banget, tapi itu enggak bener 'kan?" tanya Ara dengan wajah berkerut lucu seakan perkataan Inn barusan adalah lelucon.
"Saya tidak berhong!" sentak Inn dan langsung membuka kaca mata tebalnya dan terungkaplah wajah tampan tanpa celah itu yang sama seperti Ara lihat ketika mereka tidak sengaja bertemu di mall dengan acara tabrakan.
Ara mundur selangkah. Seakan orang di hadapannya adalah hantu Thailand, Eh!
Inn hanya tersenyum miring melihat perubahan ekpresi Ara yang berubah menjadi pucat pasih.
"Tidak! Bunda, Ayah, Ara bohong tadi kalau dia pacarnya Ara dia bukan pacarnya Ara dia tuh orang nyasar dari hutan yang ikut mobil Ara tadi, karena Ara kasihan jadi Ara ajak kr sini drh, percaya sama Ara Bun, Yah," cerocos Ara tidak terimah dan langsung meminta pertolongan dari kedua orang tuanya yang tersenyum maklum ketika mengetahui kejadian sebenarnya.
Jika Reinan ada di tempat itu. Pasti Ara sudah jadi bulan-bulanan Reinan karena mengaku punya pacar. Eh, ternyata pacarnya calon suaminya sendiri. Niat nipu padahal dia yang ketipu senjata makan tuan.
__ADS_1