Merried With Prince

Merried With Prince
part 9 [Juan]


__ADS_3

"Ara, Riri," ujarnya.


"Yah, kamunya enggak kaget," kata si pelaku yang mengagetkan Juan. Mereka adalah Ara dan Riri.


"Iya, nih, Juan kok kamu baru kelihatan di kampus kita, ke mana aja?" tanya Riri penasaran.


"Aku ada, cuman lagi ada problem dikit, jadi aku tidak masuk kampus," jawab Juan sembari mengumbar senyuman manis semanis gula.


"Oh, Juan, di depan sana enggak ada pencari berita 'kan?" tanya Ara sembari menatap waspada sekitarnya.


"Enggak ada, yuk aku temani sampai kelas supaya pencari berita itu tidak menganggumu," tawar Juan masih tersenyum manis.


"Iya, Ra, ayo, sekalian kita jalan-jalan sama Juan, kebetulan udah agak lama juga kita enggak ketemu sama dia," tutur Riri penuh semangat.


"Ok, let's go," kata Ara tak kalah semangat.


Juan juga adalah bagian dari kerajaan Buthin, sebenarnya yang putra mahkota adalah Juan, tapi dia tersingkir dari posisinya saat ayahnya putra mahkota sebelumnya wafat dan digantikan oleh raja yang sekarang ini yang tak bukan adalah paman Juan ayah dari Inn.


Juan masih mempunyai seorang ibu yang sangat dia sayangi yaitu lady Krissana yang berambisi ingin merebut poisis Inn dan memberikannya kepada Juan putranya.


"Hahaha," tawa mereka pecah saat Juan melontarkan gurauan lucu.


"Astagfirullah, perutku sakit, haha, tapi kalau Baekkie yang di posisi itu pasti sangat lucu," ujar Ara sembari tidak berhenti untuk tertawa yang membuat sebagian mahasiswa heran melihatnya. Namun, mereka agak segan untuk menegur Ara atau pun mengejeknya lagi seperti sebelumnya karena Ara adalah calon putri mahkota dari kerajaan Buthin.


"Yah, ujung-ujungnya pasti nyangkut pautin sama Baekhyun, emang ya kalau udah bucin parah pasti segalanya disangkut pautin." Riri memutar bola matanya jengah melihat tingkah Ara.


"Dih, si kutil, kamu aja juga suka kek gitu 'kan apalagi kalau udah bahas EXO and suami kamu Sehun 'kan, ngaku aja kamu," ujar Ara tidak terima karena bukan dia saja yang suka bucin, Riri pun begitu.


"Oh, jelas, siapa si yang nggak mau bahas idolanya, hadeh kapan ya Sehun datang lamar aku, aku udah gak tahan, nih." Pada akhirnya sifat asli Riri keluar jika telah membahas idolanya. Sedangkan Juan dia hanya tersenyum maklum, karena dia tahu kedua sahabatnya ini sangat bucin dengan salah satu Boy Band ternama Korea itu. Entah bagaimana mereka bisa berteman, Juan saja tidak tahu dan lupa kapan mereka bertemu.


Tap!


Mereka berhenti, tidak lebih tepatnya Ara yang berhenti melangkah yang membuat Juan beserta Riri heran.


"Kenapa Ra?" tanya Juan heran yang mewakili Riri untuk berbicara.


"Tuh, di depan ada perompak eh reporter maksudnya," kata Ara sembari bersembunyi di balik punggu Juan.


Riri dan Juan menatap ke depan dan benar apa yang Ara katakan mereka berkumpul di depan sana.


"Kamu sembunyi aja di belakang aku," titah Juan sembari masih berdiri di tempatnya. Juan menatap ke depan bagaimana bisa dia membawa Ara tanpa ketahuan.


Sedangkan Ara tidak mendegarkan perkataan Juan. Karena panik, dia malah berlari yang mengundang perhatian para pencari berita itu yang sedang berdiri di depan kelasnya.


"Aduh, Ara, kok enggak denger apa yang Juan perintahin, sih," tutur Riri sembari menggeleng begitu pun dengan Juan. Jadi, mereka memilih untuk mengejar Ara takut Ara kenapa-napa.


Di sini Ara sekarang dia tidak tahu harus lari ke mana lagi. Sedangkan para pencari berita itu masih saja mengejarnya.


"Ya Allah, capek banget, tuh orang pah robot yak, kok enggak ada capek-capeknya," cibir Ara sembari menyeka keringat di dahinya. Mungkin kerudungnya sedikit basa karena keringat.


Ara kembali berlari saat melihat pencari berita itu terlihat kembali. Sampai di perempatan lorong Ara terpekik karena seseorang langsung menariknya.


"Akh!" pekik Ara kaget. Namun, itu belum seberapa karena yang menariknya langsung memeluk tubuh rampingnya. Ara ingin protes, tapi tidak jadih saat mendegar langkah para pencari berita itu jadi dia diam saja dia melirik sedikit salah satu reporter singgah dan menatap mereka. Namun, kembali pergi karena mengira kami sebagai sepasang kekasih.


"Eum, lepasin," titah Ara karena seseorang yang memeluknya tak kunjung untuk melepaskan pelukan mereka.


Saat pelukannya telah lepas Ara tentu saja kaget melihat siapa yang telah menyelamatkannya.


"Kau ...?" Ara menatap penolongnya yang seorang pria itu dengan tatapan tajam. Ara berbalik dan hendak pergi. Namun, kembali dia ditarik dan disembunyikan di balik tubuh pria tersebut. Ternyata masih ada satu reporter yang ketinggalan saat mengejar Ara.


"Nah, mereka sudah pergi," kata suara itu kelewat datar. Siapa lagi yang memiliki suara super datar serta wajah tembok kecuali Inn, entah dari mana dia kenapa bisa muncul di lorong tersebut. Ara tidak mau memikirkannya.


"Terimakasih," ujar Ara berterimakasih.


"No, kenapa kamu berterimakasih seperti itu?" tanya Inn sembari menahan langkah Ara yang hendak pergi.

__ADS_1


"Terus maumu apa?" tanya Ara sebal, menjawab pertanyaan Inn dengan pertanyaan jua.


"Cium!" titah Inn dengan seringaiannya. Sebenarnya dia hanya ingin mengoda Ara, dia tidak sungguhan mengatakan hal demikian. Dia sangat suka melihat wajah sebal Ara, karena menurut Inn itu sangat menggemaskan.


"Dalam mimpimu, wek! Ciuman pertamaku hanya untuk My Husband ...." Ara menjeda sejenak menunggu reaksi dari Inn. Karena jika tebakannya benar, pasti Inn mengira bahwa itu dirinya.


"Berarti itu aku, cepat lakukan.” Benar tebakan Ara, pasti Inn mengira itu dirinya. Inn sudah merapatkan pipinya ke bibir Ara, Ara diam saja dan tanpa sepengetahuan Inn Ara menyeringai kejam, entah apa yang dia pikirkan.


Bugh!


Ternyata Ara memberikan bogeman mentah kepada Inn dan menggeser tubuhnya agar jauh dari jangkauan Inn. Inn hanya meringis karena mendapatkan bogeman mentah dari calon istrinya sendiri. Belum pernah ada sebelumnya yang berani menyakiti Inn, apa lagi dia seorang pangeran, pengawasannya begitu ketat dan hari ini calon istrinya memberinya pelajaran yang berharga.


"Bukan kau bodoh, tapi Baekhyun, Byun Baekhyun lebih tepatnya, makanya jangan mimpi. Wek," ejek Ara sembari melangkah pergi.


Astaga! Inn rasanya ingin tertawa saja. Kenapa istrinya ralat calon istrinya begitu berharap dapat menikah dengan idolanya sendiri, padahal jelas dia lebih tampan dari idola istrinya itu. Sepertinya Inn juga harus bersaing dengan idola calon istrinya untuk mendapa hati Ara seutuhnya. Setelah mengetahui cerita dari Reinan adik Ara. Inn jadi banyak tahu mengenai gadis lugu ini.


Gadis yang sangat baik dan juga penyayang, itulah Ara. Walaupun kadar kebucinannya terhadap Boy Grub besutan SM Entertaiment itu sangat tinggi, tapi Inn sangat menyukainya. Sejak kapan kata suka itu muncul? Entahlah, mungkin karena Inn mulai terbiasa dengan keberadaan Ara.


Jelas, cinta tidak selamanya dari mata turun ke hati. Adakalanya cinta dapat hadir, karena terbiasa, terbiasa dengan keberadaanya, terbiasa dengan tingkah lakunya serta hal sekecil apa pun tentangnya jika kita terbiasa, maka itu akan sangat sulit dihilangkan.


* * *


"Em, terimakasih." Seorang wanita setengah baya berbicara di telpon. Dia adalah lady Krissana ibu dari Juan. Wanita itu berjalan ke arah Sofa di mana seorang pemuda tampan duduk.


"Kita akan segera kembali, Sayang," katanya sembari mengelus pucuk kepala pria itu yang tak lain adalah Juan. Juan sempat mengerutkan kening.


"Apakaha harus?" tanyanya.


"Iya, Inn akan segera menikah," jawabnya.


"Kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Juan lagi.


"Mungkin terjadi sesuatu di istana, jadi kita harus mempersiapkan segala," jawab Lady Krissana sembari tersenyum misterius. Ambisisnya ingin menyingkirkan Inn dari posisinya begitu bulat.


"Baiklah, tapi Juan tetap kuliah di sini 'kan? Karena Inn juga kuliah di kampus Juan," tutur Juan yang membuat Lady Krissana menatapnya.


'Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada kalian.'


* * *


"Ara, kamu enggak apa-apa?" tanya Riri menghela napas legah saat mendapatkan Ara telah kembali dari aksi berlarinya.


"Seperti yang kalian lihat," jawabnya santai.


"Sebaiknya kita ke kelas, ayo," ajak Juan sembari menarik tangan keduanya.


Inn mungkin tidak mengetahui jika sepupunya itu berada di kelas yang sama dengannya dan juga Ayara.


Di sini mereka sekarang di kelas yang sudah dihuni oleh beberapa mahasiswa.


Juan langsung saja menarik Ayara untuk duduk di dekatnya. Persetan jika Inn melihatnya dan dia akan marah.


"Eh, Ra kamu tinggal berapa hari di sini?" tanya Riri tiba-tiba. Juan juga mengarahkan pandagannya kepada Ara menunggu jawaban dari gadis berhijab itu.


"Sisa dua hari," jawab Ara lesuh.


"Enggak usah lesuh, nanti aku kunjungi kamu," tutur Juan sembari menatap Ara lembut.


"Cius? Tapi gimana kamu bisa masuk, bukannya hanya anggota kerajaan yang bisa?" tanya Ara penasaran begitu pun dengan Riri. Mereka belum tahu identitas Juan yang sebenarnya.


"Aku 'kan Suho si rich man," kelakar Juan yang mengundang tawa keduanya.


"Holkay mah bebas," celetuk Riri sembari memutar bola matanya. Namun, dia tetap tersenyum.


"Iya, bener. Aku tunggu ya, sapa tahu nanti aku bosan di sana kamu harus datang temenin main, ok," ucap Ara sembari tersenyum manis ke arah Juan. Tanpa menyadari di ambang pintu sana seorang menatapnya tajam, dia cukup terkejut mendapati Juan juga ada di kampus yang sama dengan Ayara apalagi mereka terlihat sangat akrab.

__ADS_1


Inn melangkah dengan wajah super datarnya. Sebagian mahasiswa di kelas itu bergidik ngeri saat merasakan aura Inn yang sangat dingin.


"Ekhem, bisa Anda pinda dari dekat calon istri saya," kata Inn sembari menekan kata calon istri di akhir kalimatnya.


Mereka yang sedang bercengkrama riah harus terhenti karena teguran dari seseorang.


"Inn, Pangeran Inn, Kak Inn," ujar mereka serempak.


"Oh, maaf. Aku hanya numpang duduk sebentar di sini," tutur Juan dengan senyuman manis tak pernah luntur dari bibirnya. Sebenarnya ada rasa tidak suka yang muncul pada diri Inn. Namun, dia tekan rasa itu.


"Em."


Inn menaruh tasnya di dekat tempat duduk Ara dan kembali berdiri tegak. Inn memasukkan tangannya di saku celana bahan yang dia pakai.


"Juan, bisa kita bicara sebentar, sudah lama aku tidak melihatmu," tutur Inn sembari tersenyum tipis.


"Baiklah, ayo," balas Juan sembari mengikuti Inn yang sudah lebih dulu ke luar.


Semua mahasiswa heran melihat Inn dan juga Juan yang terlihat akrab. Apa mereka punya hubungan kekerabatan? Pikir mereka semua.


"Kayaknya Juan sama Inn ada problem, deh," pikir Riri.


"Hust, mana mungkin. Juan 'kan mahasiswa yang baik di kampus kita," tutur Ara yang mengundang keditan bahu dari Riri.


"Bye the way, Umin Oppa kapan pulang ya, kok jadi kangen," guman Ara lebih kepada dirinya sendiri sembari menatap layar ponselnya yang menampilnya potret seorang perwira angkatan darat.


"Udah enggak lama lagi Ra, tunggu aja. Kita pasti bisa," tutur Riri yang dibalas anggukan oleh Ara.


Huft! Ara menghela napas sembari menaruh kembali ponselnya di tasnya.


"Kenapa Ra?" tanya Riri saat menyadari sahabatnya itu tampak frustrasi.


"Hm, kalau aku nikah sama Inn batal pergi ke Korenya, nanti My Husband enggak mau ketemu kalau Ara udah nikah, Ri," tutur Ara yang mendapatkan putaran mata jengah dari Riri.


"Hadirin aja fan meetnya, mereka juga enggak bakal tahu kalau kamu udah nikah, terus minta tanda tangan mereka ya plus jangan lupa foto, ok," jelas Riri bersemangat.


"Semoga aja bisa, soalnya yang aku denger setelah kita jadi wanita dari Buthin kita udah enggak bisa ketemu sama keluarga apa lagi keluar, itu dilarang aturannya pun ketat banget. Gimana nih, kok aku nyesel ya terima perjodohan ini," ujar Ara sembari menelungkupkan kepalanya di antara lipatan sikunya.


"Minta izin aja sama Inn, masa biar gitu enggak bisa sih?" tanya Riri mengkerutkan alis.


"Itu udah tradisi turun-temurun Ri, kalau aku batalin perjodohan ini apa masih sempat ya," kata Ara sembari menegakkan tubuhnya.


"Ketika kamu sudah bersedia, berarti tidak ada kata mundur lagi. Kamu telah masuk di dalam kehidupanku. Jadi, jangan berpikir untuk pergi," sarkas seseorang yang langsung membuat Ara diam membatu.


'Hadeuh, ******! Pasti mau ceramah lagi, nih,' batin Ara.


"A--haha, enggak kok, siapa yang mau mundur yang ada aku bakal nyesel kalau mundur," ujar Ara sembari tersenyum tiga jari kepada Inn.


“Jangan pernah mengatakan ingin berhenti atau pergi.’’ Inn berucao dengan nada tegas seakan perkataannya tidak boleh dibantah yang hanya diangguki oleh Ara.


"Ah, bye the way, juan mana?" tanya Riri mencairkan suasana yang sempat tegang.


"Dia ada urursan mendadak," jawab Inn sangat datar.


‘Sepertinya dia marah deh. Ah, bodohlah, terserah dia aku enggak mau ambil pusing,’ ujar Ara dalam hati sembari melirik Inn sekilas yang sedang focus pada ponselnya dan dia sempat melihat nama Mennie di layar ponsel Inn sepertinya mereka sedang berbalas pesan. Salahkan Ara yang mengetahui bahasa Negara Inn. Ara tidak peduli lagi, sepertinya perempuan itu adalah kekasinya dilihat dari bagaimana cara mereka berbalas pesan. Bodoh, jangan dipikirin Ra, pernikahan kamu ini hanya status belaka. Pikir Ara sembari menata ke depan tanpa memperdulikan Riri yang sempat menatapnya aneh.


Riri hanya menanggapi jawaban Inn sebagai jawaban. Dia sempat heran kenapa Ara menatap Inn dengan pandagan yang menyiratkan kekesalan. Entahlah, Riri juga tidak mau memikirkannya.


* * *


"Bun, boleh tidak Ara enggak pergi? Ara tetap mau sama Bunda."


Seorang gadis memakai hijab dark blue senada dengan gamis yang ia kenakan menatap wanita setengah baya itu sendu yang juga menatapnya sendu.


bersambung....

__ADS_1


kelik bintang dan like komen y Zhyeyeng. ❤️😘


__ADS_2