Merried With Prince

Merried With Prince
part 10 kepergian Ara


__ADS_3

Seorang gadis cantik yang menggunakan pakaian santai tampak menelisik setiap jengkal dari sebuah ruangan. Gadis itu menatap sendu setiap pernak-pernik atau pun barang yang terdapat di ruangan tersebut.


Ara menelisik dan merekam semua apa yang telah dia lihat ke dapam memori kecilnya.


Tes!


Tak terasa liquit bening lolos dari balik mata indahnya, gadis itu seakan enggan untuk pergi dari ruangan tersebut yang tak bukan adalah kamarnya sendiri.


Ceklek!


Ara tidak berbalik atau melakukan suatu gerakan untuk melihat siapa yang membuka pintu tersebut. Karena Ara tahu pasti itu bundanya.


Yasmin yang baru saja datang tersenyum lembut menatap sang putri yang masih senantiasa berdiri tepat di tengah ruangan besar tersebut. Dia tahu perasaan putrinya, tapi dia tidak ingin terlihat rapuh yang membuat Ara semakin sedih.


Yasmin beralih menatap sebuah gaun berwarna biru langit warna kesukaan sang putri, gaun itu masih rapi tidak ada tanda-tanda pernah disentuh oleh empunya. Lagi-lagi Yasmin hanya tersenyum dan menghampiri putrinya.


"Ara Sayang," tegur Yasmin lembut. Namun, tidak ada sahutan yang terdengar dari gadis yang masih sibuk meneliti setiap jengkal kamarnya.


Lagi-lagi Yasmin hanya tersenyum maklum. "Ara gak baik loh dipanggil sama orang tua kamu gak jawab." Suara Yasmin mengalun merdu di telingah Ayara. Dia menoleh dan Yasmin kaget ternyata putrinya menangis dalam diam.


"Bun, boleh tidak Ara enggak pergi? Ara tetap mau sama Bunda." Ara tidak membalas ucapan dari sang Bunda dia malah bertanya dengan pandagan sendu ke arah Yasmin yang juga menatapnya sendu.


"Ara ke mari, Sayang," pinta Yasmin lembut, menyuruh snag putri untuk mendekatinya yang sedang duduk di tepi kasur king size Ara.


"Kalau Ara gak mau pergi, kita bisa batalin ini semua, asal Ara bahagia Ayah sama Bunda dukung Ara," kata Yasmin lembut. Dia tidak masalah dapat hinaan dari masyarakat yang terpenting putrinya bahagia tidak tertekan.


* * *


Suasana yang tercipta di luar rumah megah kediaman Priatmaja sang bising. Banyaj pencari berita yang datang untuk melihat calon putri mahkota yang akan segera diboyong ke Thailand.


Mereka tak bisa mengambil gambar rumah tersebut lantaran penjagaan yang sangat ketat kediaman Priatmaja. Mobil mewah di luar kediaman itu sudah terparkir apik, serta beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu mobil serta ada dua pelayan juga yang menjaga, sepertinya mereka adalah pelayan yang diutus untuk menjemput Ayara.

__ADS_1


Pintu gerbang terbuka, seakan ada angin sejuk yang mengantarkan seorang Ayara Putri Priatmaja gadis baik dan lugu akan pergi meninggalkan keluarga serta kediamannya yang telah dia tempati selama dua puluh tahun.


Didampingi oleh orang tua Ayara berjalan anggun dengan pandagan sendu, seakan enggan untuk pergi.


Cekrek! cekrek!


"Wah, itu Putri Ayara."


"Putri, lihat ke sini."


"Wow, Putri Ayara sangat cantik."


Suara para wartawan saling bersahutan melontarkan kata-kata pujian kepada Ayara. Namun, gadis itu tidak terlalu menanggapinya.


Dia melihat satu persatu orang yang sangat berjasa serta sangat sayang kepadanya.


Rei menatap sendu sang kakak, tidak ada lagi yang bisa dia jahili setiap hari jika mereka sedang kumpul keluarga.


"Kak ...." Rei tidak melanjutkan perkataannya dan langsung memeluk sang kakak.


"Kamu hati-hati, Sayang," pesan Rama kakek Ayara.


"Pasti Kek, nanti Ayara mau bersikap bar-bar di sana supaya Ayara cepetan pulang," bisik Ayara tepat di telinga tuan Rama. Namun, bisikannya mampu di dengar oleh mereka dan mengundang tawa mereka kembali.


Wartawan yang melihat adegan langkah itu takjub karena sangat jarang mereka melihat tuan Rama, Wisnu dan Aditya tertawa lepas seperti sekarang.


"Ara harus patuh sama perkataan suami Ara nanti, gak boleh bersikap kekanak-kanakan lagi," petua Yasmin yang menyela tawa mereka. Suasana yang seharunya haru malah menjadi suasana komedi.


"Ya, Bundaku sayang," kata Ara sembari memeluk sang bunda yang membuat Ara menangis tertahan. Sangat berat rasanya ketika kita ingin meninggalkan orang terkasih.


"Putri, sudah waktunya," tegur kepala pelayan wanita yang tadi membantu persiapan Ayara.

__ADS_1


Mereka hanya mengangguk. Ayara langsung memeluk Aditya enggan tuk pergi.


Aditya hanya tersenyum sembari mengusap bahu sang putri.


"Ara gadis baik dan juga berani, ingat tidak waktu pertemuan kita pertama kali di Singapura waktu Ara masih sangat kecil, Ara dengan berani mendatangi orang yang Ara belum kenal, karena Ara yakin sama hati Ara bahwa itu Ayah. Jika Ara sudah yakin dengannya maka hilangkan semua keraguan itu, Ar paham 'kan," jelas Aditya panjang kali lebar. Kalimat terpanjang yang terdengar lagi dari bibir Aditya yang biasanya hanya berkata beberapa pata kata.


Ara mengangguk. "Paham Yah, makasih nasehatnya," ujar Ara kembali tersenyum ceriah.


"Dah, Rei, Nek, Kakek Ara yang tampan, Ayah, Bunda, Ara pergi, ya," kata Ara bersemangat. Perkataan Aditya tadi adalah penyemangat bagi Ara dia tidak perlu takut akan hal yang belum pasti.


"Hati-hati, Sayang," balas mereka pyang menjadi salam perpisahan untuk Ara dan keluarganya.


Mobil mewah yang ditumpangi Ara sudah tidak terlihat lagi dipandangan mereka yang membuat mereka kembali ke dalam kediaman Priatmaja.


Sementara itu, Ara duduk terdiam di dalam mobil yang akan mengantarkannya ke bandara. Dia memutar kembali memori percakapannya dengan sang Bunda beberapa jam yang lalu.


"Kalau Ara gak mau pergi, kita bisa batalin ini semua, asal Ara bahagia Ayah sama Bunda dukung Ara," kata Yasmin lembut.


Ara menatap sang bunda dengan berderai air mata, dia tahu bunda dan ayahnya bahkan keluarga besarnya akan memutuskan hal ini sekarang juga jika membuatnya bersedih atau resah. Akan tetapi, dia juga berpikir pasti keluarganya akan dihujat habis-habisan karena hal ini.


"Sayang, wanita menikah itu adalah hal yang lumrah sudah fitranya memang, jika kamu tidak menikah pada kesempatan ini. Pasti di waktu lain kamu akan menikah dan akan meninggalkan kami sama seperti saat ini." Yasmin menjelaskan dengan nada tenang dan lembut agar putrinya tidak merasa terpojokkan.


"Ya, Bun, Ara paham. Ara gak akan ngomong kayak tadi lagi. Lebih baik Ara nikah sekarang aja dari pada nanti Ara nikah sama orang yang gak bener, bukannya takdir gak ada yang tahu arau Ara besok akan mati dan gak akan nikah, jadi Ara akan melakukannya dengan baik dan tidak mengecewakan Ayah dan Bunda, Ara janji," ucap Ara kepada sang Bunda yang membuat Yasmin tersenyum dan memeluk tubuh rapuh sang putri.


"Anak pintar."


* * *


Ara memejamkan mata saat ini, menuggu dia akan sampai tempat di mana semua akan berubah dan tidak akan sama lagi. Apakah di sana nantinya akan ada perebutan kekuasaan atau saling membunuh, atau lebih parahnya pangeran mempunyai banyak istri. Pikir Ara yang membuatnya merinding sendiri. Dia sudah berjanji tidak boleh ada yang memiliki apa yang sudah jadi miliknya dia tidak mau berbagi atau pun dibagi.


Apa lagi dia mendengar Inn punya seorang kekasih yang sekarang tengah latihan untuk mengikuti Olimpiade Internasional mewakili Buthin.

__ADS_1


"Dia pikir bisa macam-macam dengan Ayara belum tahu dia siapa aku sebenarnya. Bukan aku yang telah terperangkap, tapi kalian dasar orang-orang bodoh!" Seringai Ara tercetak jelas di bibirnya tidak ada lagi pandagan sendu yang ada hanya tatapan membunuh. Seakan ada dendam dan amarah yang tersembunyi pada diri gadis ini.


bersambung....


__ADS_2