Merried With Prince

Merried With Prince
part 16 Tradisi


__ADS_3

"Hoam, Bunda di mana? Asal Bunda tahu Ara semalam mimpi dengan Pangeran songong itu Bunda ternyata hanya mimpi," ujar Ara yang masih setengah sadar selimut tebal menutup kepalanya dia masih saja menguap belum menyadari situasinya.


"Putri Anda mau ke mana?" tanya pelayan pribadi Ara sembari menghalanginya.


Ara yang dipanggil putri tentu saja langsung mematung. Jadi, itu bukan mimpi? Ara kemudian hendak berbalik lagi jujur dia malu keluar dari kamar dengan penampilan berantakan seperti ini model hijabnya tak berbentuk lagi bajunya kusut selimut tebal membungkus tubuh rampinnya. Sebelum Ara masuk kembali ke kamarnya dia berpapasan dengan Inn.


"Hei, kamu kok bisa keluar dari sana?" tanya Ara tiba-tiba karena perasaan semalam mereka tidur bersama dan berpelukan. Oh, lupakan bagian berpelukan.


Inn memutar bola matanya malas kemudian mengingat kejadian semalam di mana pada pukul dua belas malam Ara mulai bertingkah aneh dia berbicara sembarangan yang tidak dipahami oleh Inn.


"Ah, kenapa aku harus menikah dengan Pangeran gila itu. Pupus sudah harapanku untuk menikah dengan pacar haluku." Ara mengigau yang membuat Inn terjaga. Ara juga menendang Inn agar dia pindah dari tempatnya tidur.


"Hei, kau pindah dari tempatku tidur. Ck, menyusahkan saja," tuturnya dengan mata setengah terpejam. Inn yang sudah nyunsep di lantai hanya mendengus sebal. Apa ini asli gadis polos dan bar-bar itu jika dia tidur, maka dia semakin bar-bar dan apa tadi pangeran gila? Hm, Inn tidak habis pikir padahal dia lebih tampan dari pacar halu istirnya itu.


Ara yang mendengar cerita Inn langsung saja menutup wajahnya dan langsung berlari dair hadapan Inn. Dia sangat malu, penyakit selalu kambuh jika ada orang baru yang tidur bersamanya dan itu terjadi lagi tadi malam.


Untung saja Ara tidak berbuat lebih nekat sewaktu ia tidur. Karena terkadang ia meninju orang yang tidur di dekatnya dan Reynan pernah mengalami hal tersebut karena dia iseng tidur bersama sang kakak tidak di sangka Rey jadi samsak tinju Ara. Gadis yang terlihat lemah dan polos di luar ternyata seorang gadis tangguh dan juga bar-bar>


***


Hari ini Ara akan menjalani tradisi aroma lady di mana ia akan mengoleskan parfum yang pernah ia buat ke tubuh Inn di mana mereka berada di wadah yang sama dengan keadaan tidak mengenakan sehelai benang pun. Ara tidak habis pikir kenapa ada tradisi seperti itu di kerajaan ini dan dia harus melakukannya. Bukan dia yang untung, tapi Inn yang untung kepadanya.


"Apakah aku harus melakukan ini?" tanya Ara dengan pandangan memelas ke arah khun Ratte. Dia telah mengenakan pakaian mandi karena ia akan melakukan tradisi itu.

__ADS_1


Sedangkan di dalam sana Inn menunggu tidak sabar. Dia hanya menatap jengah ke arah Ara yang masih berusaha kabur dari tradisi ini. Kepribadian gadis itu ternyata banyak dia bisa menjadi lembut, bar-bar, keras kepala dan penurut. Inn tidak habis pikir ketika mengetahui fakta ini dengan mempelajari tingkah Ara selama ini dan gadis itu sangat sensitif jika menyangkut sang idola yang membuat Inn tak tahan untuk tidak memutar bola mata malas.


"Iya, Putri Anda harus," jawab khun Ratte sembari berusaha menyeret Ara ke arah pemandian bunga itu di mana Inn telah berada di dalam sebuah wadah.


"Fighting Putri," ujar khun Ratte menyemangati sembari berkedip nakal.


Sekarang tersisa Inn dan Ara di ruangan itu. Ara masih enggan menatap ke arah Inn pria itu tampak bertelanjang dada karena yang nampak hanya dadanya saja selebihnya terkubur di balik taburan bunga mawar dan air.


"Kemarilah dan selesaikan ini segera," pinta Inn tidak sabar sembari menatap Ara datar.


"Kalau begitu tutup matamu," pinta Ara pada Inn. Inn hanya memutar bola matanya tapi tetap menuruti kemauan Ara. Karena di rasa Inn telah menutup matanya Ara mulai membuka pengait bajunya.


Tampaklah kaki mulus Ara yang tentu saja tak mampu dilihat oleh Inn. Untung saja Ara masih memakai handuk sebatas dada sehingga dia tidak benar-benar telanjang. Jujur, dia malu sangat malu, tapi kenapa dia harus malu? Bukannya mereka telah sah?


Ara mulai merendam tubuhnya dan Inn masih menutup mata. Ara mulai membuka penutup parfum yang ia bawa kemudian mulai mengoleskannya ke permukaan dada bidang Inn. Jarinya yang lentik membawa sensasi lain bagi tubuh Inn walau Ara tak sengaja melakukannya. Namun, Inn tetap diam sampai ia membuka mata dan menangkap kedua tangan Ara yang membuat Ara tersentak.


Inn perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Namun, Ara mencoba memundurkan wajahnya sembari menutup mata tak lama Inn melepaskan cengkramannya dan mengambil handuk yang tersedia di dekat wadah tersebut. Kakinya putih mulus tanpa bulu yang membuat Ara takjub betap putihnya Inn. Maklum, karena ia adalah orang luar berbeda dengannya yang memiliki kulit putih, tapi tidak seperti Inn yang memiliki kulit seputih susu yang kadang membuatnya minder.


"Kamu kepedean, kamu kira aku akan menciummu, tidak akan," ujar Inn datar kemudian berlalu dari hadapan Ara yang terdiam.


Baru semalam Ara berpikir bahwa Inn adalah pria yang baik sekarang ia merubah persepsinya itu. Inn adalah pria dengan kepribadian ganda dia harus hati-hati untung saja ia belum memberikan mahkotanya seandainya sudah ... ah, pasti ia akan gila. Tak lama datanglah ketiga pelayan Ara yang langsung membantunya bangkit dari wadah itu dan bersiap untuk sarapan pagi.


***

__ADS_1


Di sini Ara sekarang duduk di dekat Inn dikelilingi oleh beberapa anggota kerajaan hidupnya benar-benar berubah.


"Apakah tradisi aroma Lady itu berhasil?" tanya ibu suri sembari tersenyum.


"Iya, Nenek," jawab Inn sembari tersenyum kecil.


"Coba, Nenek cium aroma apa yang Putri buat untukmu," ujar ibu suri mencium aroma Inn dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Kenapa Nenek belum pernah mencium aroma ini?" tanya ibu suri sembari bertanya kepada keduanya sedangkan Ara hanya menunduk dan tersenyum tanpa dosa ke arah Inn.


"Ini buatan Putri jadi Pangeran ini sangat menyukainya," jawab Inn tegas dengan bahasa yang formal.


Mereka tahu aroma itu, aroma itu persis seperti aroma minyak tinju. Akan tetapi, Inn senang akan hal itu jadi mereka diam saja.


"Putri apa tidurmu nyenyak?" tanya permaisuri angkat bicat.


"Iya, Yang Mulia tidur Putri ini tidur nyenyak," jawab Ara dengan intonasi suara yang anggun dia tidak menyebut dirinya sebagai hamba ini karena seakan-akan dia menyembah selain Tuhan-Nya dan dia tahu akan hal itu jadi dia mengkamuflase kata-katanya agar dapat diterima dan tidak menyinggung pihak lain.


"Syukurlah, Pangeran Inn ajaklah Putri jalan-jalan jika kamu punya waktu, karena sebentar lagi kalian akan kembali berkuliah," pinta permaisuri sembari tersenyum anggun yang diangguki oleh yang lainnya. Sedangkan Inn dan Ara hanya saling pandang setelahnya kembali membuang muka.


Sepertinya masih sangat sulit bagi keduanya untuk saling menerima. Akan tetapi, jika mereka mulai terbiasa maka semuanya akan baik-baik saja. Bukannya terkadang kebiasaan dapat mendatangkan perasaan asing bagi yang tidak saling mengenal ketika mereka bertemu mereka akan akan saling mengenal dengan baik. Karena terbiasa dengan kebiasaannya, tingkahnya semua ya ada pada dirinya dan cepat atau lambat semuanya akan dipertemukan lagi di titik di mana mereka akan saling mengerti dan memahami satu sama lain. Karena sangat banyak yang ingin menghancurkan keduanya baik dari kalangan masyarakat, bahkan beberapa anggota keluarga ingin mereka hancur. Sanggupkah mereka?


bersambung.... hargai karya author ya, Jan lupa tekan tanda bintannya serta vote author ya gak maksa kok. Maksihh 😘🤗

__ADS_1


__ADS_2