
Senyap, tak ada suara sedikitpun yang terdengar seorang gadis cantik yang masih mengenakan gaun pengantinnya yang dia kenakan siang tadi masih membalut tubuh rampinnya.
Tap! Tap! Tap!
Derap langkah seseorang tak mengusik gadis cantik ini dia masih saja meringkuk. Inn yang mendapati Ara masih mengenakan pakaian yang sama hanya menggeleng tak percaya.
Inn kemudian menepuk-nepuk pipi Ara agar dia tersadar.
"Ara bangun," panggil Inn pelan tepat di telinga gadis cantik itu yang baru beberapa jam lalu sah menjadi istirnya.
"Ara gak mau, aku mau pulang aku takut di sini." Ara mengigau. Namun, tetap tak membuka mata indahnya.
Inn yang mendengar penuturan Ara dalam tidurnya sedikit tertegun. Apa gadis ini tertekan? Inn berpikir keras, tapi dia tak dapat menemukan jawaban yang pas atas apa yang ia sedang pikirkan. Inn kemudian berusaha membangunkan Ara kembali, karena waktu salat Magrib hampir tiba.
"Ara, Sayang kamu gak mau salat Magrib?" tanya Inn lembut tepat di telinga Ara yang membuat gadis cantik itu tiba-tiba bangun mungkin dia terusik.
"Ha? Astagfirullah jam berapa sekarang?" tanyanya bingung.
"Jam enam, kamu buruan mandi terus kita salat berjamaah," jawab Inn santai.
Ara yang mendengar jawaban Inn terdiam sejenak. 'Apakah ini sungguhan? Apakah aku benar-benar telah sah menjadi istir pria es itu? Apa tadi dia mengajakku salat berjamaah?' Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Ara kemudian ia tersadar jika dia masih melamun maka ia akan telat.
Ara memasuki kamar mandi tak lupa membawa baju ganti. Ara memejamkan matanya saat ia akan membuka rest gaunnya dan itu sangat sulit sekeras apapun ia mencoba restnya tak akan pernah terbuka.
Dengan pasrah gadis itu kembali keluar kamar mandi kemudian matanya menangkap seluet sang suami yang sedang bermain ponsel dengan piyama putih melekat di tubuh atletisnya mungkin saja dia telah siap dan tinggal menunggu Ara.
"Inn," panggilnya.
Inn yang mendengar namanya dipanggil lantas menoleh dari layar ponselnya ke sumber suara. Dia tampak mengerutkan alisnya bingung. 'Kenapa gadis itu belum mandi?' tanyanya dalam hati.
"Aku boleh minta bantuanmu?" tanya Ara pelan sembari menunduk dan menatap ubin lantai.
Tanpa menjawab lantas Inn beranjak dari kasur tempatnya duduk--menghampiri sang istri yang berdiri di balik daun pintu.
"Ada apa?" tanya datar.
Ara memutar bola matanya sejenak ketika mendengar pertanyaan Inn yang sangat tidak bersahabat. Seandainya ini tidak darurat dia mana mau meminta bantuan pria es ini.
"Bantu aku buka restnya, sang sulit untuk dibuka," jawab Ara pda akhirnya sembari berbalik memunggungi Inn.
__ADS_1
"Baiklah," ucapnya kemudian mendorong tubuh Ara perlahan memasuki kamar mandi.
Ara yang baru pertama kali satu ruangan dengan pria merasa risi. Namun, ia tahan karena mereka telah sah menjadi suami istri. Walaupun, ini termasuk pernikahan dini, tapi Ara harus menjalaninya bukannya jika jodohmu sudah datang maka janganlah kamu menolaknya? Ara meyakinkan dalam hati apa yang telah ia yakini.
"Ra, lepasin dulu hijabmu," pinta Inn karena dia kesusahan membukanya akibat terhalang hijab Ara yang membungkus kepalanya.
"Sekarang?" tanya Ara ragu. Inn hanya mengangguk sebagai jawaban tatapannya masih saja datar dan tenang seakan tak terusik dengan kerisian Ara. Gadis ini menggigit bibir bagian dalamnya kemudian memejamkan mata dan mengehela napas dalam ia mulai membuka satu persatu pentul yang tersemat di kepalanya.
Ara tak berani menatap wajah Inn dia hanya fokus membuka peniti serta pentul yang tersemat di hijabnya. Sesekali pula Inn membantu melepaskan jarum pentul yang tak dapat diraih oleh tangan Ara.
Akhirnya lapisan pertama jilbab Ara terlepas, kain putih bersih itu ia letakkan di meja tempat beralatan mandi berada. Sebenarnya Ara ragu, tapi ia harus melakukannya agar waktu tak terlewat. Dia akhirnya membuka lapisan terkahir hijabnya dan terjuntailah rambut panjang hitam legam sebatas pinggang yang membuat Inn tertegun melihatnya. Mungkin karena ini pertama kali dia melihat Ara tanpa kain penutup di kepalanya.
"Baiklah, aku akan bantu membukanya, karena nanti waktunya akan berlalu," tutur Inn saat tersadar dari lamunannya.
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban terlalu gugup rasanya hanya sekedar untuk berusuara. Akhirnya rest itupun dapat terbuka yang mempertontonkan bagian tubuh belakang Ara. Tentunya hanya Inn yang melihat.
"Ok, selesai. Aku akan keluar," ujar Inn kemudian keluar dari kamar mandi meninggalkan Ara dengan perasaan legah luar biasa.
Ara bernapas legah kemudian memulai rutinitasnya tidak terlalu terburu-buru ataupun lambat. Sementara itu, Inn masih setia menunggu Ara selessi mandi. Ini adalah yang pertama bagi keduanya. Pertama kali hidup dalam satu atap yang sama berusaha untuk saling memahami antara satu sama lain yang mungkin saja akan sedikit sulit untuk kedepannya. Apa lagi Ara adalah orang asing, asing akan segalanya. Namun, siapa yang mengetahui takdir bukan? Hanya Allah saja yang mengetahuinya jadi manusia hanya mampu mendoakan yang terbaik.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah bidadari tak bersayap yang mengenakan hijab berwarna putih yang membuatnya tampak bercahaya diterpa sinar matahari.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Inn pelan. Ara hanya mengangguk singkat. Inn bangkit dari duduknya menaruh ponsel yang ia maini kemudian menggelar sajadah tak lupa peci berwarna hitam tersemat di kepalanya. Begitupula dengan Ara ia menggelar sajadah seraya memakai mukenanya. Ini yang pertama baginya. Pertama kali menjadi seorang makmum dari seorang pria berpengaruh di tempatnya sekarang ini.
Ara terhanyut kala mendengar lantunan ayat suci yang Inn kumandang dengan merdu meski dia tidak terlalu fasih dalam menggunakan bahasa Indonesia. Namun, saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an begitu fasih dan merdu. Ara sampai mentitikkan air mata ketika mendengar bacaan Qur'an yang suaminya lantunkan. Hatinya tergugu, mendegarnya, nikmat tuhanmu yang mana lagi yang ingin kamu dustakan? Makna ayat Al-Qur'an yang sangat Ara paham membuatnya makin menitikkan air mata dalam salatnya. Walaupun, ia tak mengeluarkan isakan, tapi air mata itu tak berhenti mengalir.
Dia selama ini selalu menolak apa yang telah Allah aturkan untuknya. Dia lupa bahwa jodoh ada di tangan Sang Pencipta.
Dia lupa tentang sabda Rasulullah;
“Siapa yang menyukai fitrahku hedaknya ia bersunah dengan sunahku, dan termasuk sunahku adalah menikah.” (HR. Abu Ya’la – Husain Salim Asad)
Seharusnya dia bersyukur karena telah menjalankan apa yang telah Rasulullah Sunnahkan bukan menetanngnya. Bukannya takdir setiap manusia telah di tulis 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Kenapa dia masih ragu. Ara sangat merasa bersalah entah karena apa itu, mungkin karena dia menyia-nyiakan nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan kepada mereka.
"Assalamualaikum warohamtullah ...."
"Assalamualaikum warohamtullah ...."
Inn mengucap salam pertanda ia telah melaksanakan kewajiban dan melanjutkan dengan berzikir setelahnya barulah ia berdoa. Berdoa untuk rumah tangganya untuk kedepannya. Akan bagaimana itu, semua ia serahkan kepada Rab-Nya.
__ADS_1
Setelah berdoa Inn berbalik dan menjulurkan tangannya dan diraih oleh Ara--di saat itulah Inn seperti membacakan sesuatu tepat di ubun-ubun sang istri Ara tak bergerak karena ia tahu akan hal ini. Setelahnya, Inn mencium singkat kepala Ara yang masih terbungkus mukena.
"Terima kasih," ucapnya.
Ara berhenti sejenak untuk membuka mukenanya dan menatap Inn yang juga menatapnya.
"Sama-sama," balasnya. Walaupun, ia tak tahu kenapa Inn berterima kasih.
Setelah mereka menuntaskan semua kewajiban mereka sebagai umat beragama. Jam telah menunjukkan pukul delapan kurang tiga puluh menit. Inn yang melihat jam telah menunjukkan angka demikian lantas berucap,
"Sebaiknya kita tidur, besok masih ada tradisi kerajaan ini yang harus kamu lakukan," tutur Inn sembari mulai berbaring di tempat tidur dengan nyaman. Ara mengikuti Inn tidur di samping pria itu dengan memungguninya.
Inn menatap punggung Ara dalam sebelum berucap, " Maaf atas segalanya, aku akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu yang dapat kamu andalkan ketika memperoleh kesulitan," ungkap Inn yang masih senantiasa menatap punggung Ara. Perlahan Ara berbalik dan mata mereka beradu tatap.
"Bismillah, semoga apa yang kamu katakan dapat terlaksana," imbuh Ara sembari tersenyum kecil ia kemudian melepaskan hijabnya dan menaruhnya. Dia tak ragu lagi memperlihatkan rambutnya kepada Inn yang memang sudah sah untuknya. Setelahnya Ada kembali berbaring memungguni Inn walau bagaimanapun ini yang pertama baginya.
"Apa aku boleh memelukmu?" Terdengar suara Inn meminta izin untuk memeluk Ara. Ara tertegun, apakah masih ada pria di luar sana yang sama seperti Inn yang akan meminta izin ketika ingin melakukan sesuatu.
"Boleh, silahkan," jawab Ara mempersilahkan.
Tanpa ragu Inn menarik Ara ke dalam pelukannya. Ara dapat merasakan deru napas hangat Inn menyentuh kulit kepalanya. Inn memeluk Ara dengan lembut benar-benar memperlakukannya dengan hati-hati.
"Ara apa kamu tahu?" Inn membuka suara ternyata dia belum terlelap. Ara hanya diam menunggu apa yang akan Inn akan katakan selanjutnya.
Dalam Al-Qur'an menjelaskan bahwa, "Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (QS. An Nur:26)
"Dan aku percaya akan hal itu. Kenapa karena kamu adalah buktinya, pelengkap hidup ini.
Ternyata kamu adalah tulang rusuk ini. Bidadari yang dikirim Allah kepada pria yang banyak kekurangan ini."
Ara tergugu mendengar penuturan Inn. Matanya berkaca-kaca ternyata Inn tidak sejahat seperti apa yang ia dengar. Dan sekarang semuanya telah terbukti.
"Bukannya wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya,” (HR. Al Bukhari)
"Lalu kamu memilihku karena apa dari empat perkara itu?" tanya Ara penasaran. Dia menunggu jawaban dari sang suam belum ia ketahui.
"Kamu tahu semuanya telah diatur dan semuanya telah terjadi berarti kita ditakdirkan untuk bersama tanpa harus memilih di antara empat perkara itu,", jawab Inn tenang sembari menatap wajah istrinya yang juga sedang menatapnya.
"Tidurlah mungkin besok adalah hari yang melelahkan bagimu." Bak sihir Ara langsung menutup matanya dan tertidur kata-kata Inn bagaikan obat untuknya. Inn menatap wajah polos istrinya. Senyuman tak pernah terparkir di wajah In, mungkin saja suatu hari nanti Ara dapat merubah segalanya. Semoga.
__ADS_1
bersambung... jangan lupa tinggalin jejak ya. makasih ❤️