Merried With Prince

Merried With Prince
Part 8 Berita yang Mengejutkan


__ADS_3

Seorang gadis cantik bertubuh semampai bak model papan atas baru saja berlatih panahan. Ya, dia adalah Mennie atlet panahan pertama yang mewakili Buthin di Olimpiade Internasional.


Gadis itu berjalan ke tempat di mana ia meletakkan ponsel-nya. Namun, ketika ia membukannya langsung saja berita hangat yang menggemparkan seluruh dunia itu terputar di layar ponsel-nya. Matanya seketika membelalak seakan tidak percaya akan apa yang ia lihat.


"Ha ... ha." Dia tidak tahu harus berkata apa, lidah seketika terasa keluh, tanganya bergetar air mata menggenang di peluk matanya. Seperti ada bongkaha es yang menghantam dadanya. Sangat sakit.


"Hari ini kita merilis berita baru mengenai siapa calon Putri Mahkota itu, dan kita telah mengetahuinya setelah pihak kerajaan menyebarkan foto seorang gadis cantik mengenakan hijab yang akan bersading mendampingi Pangeran kita hingga tua." Reporter wanita itu menjelaskan dengan wajah tersenyum ceria.


"Iya, Anda benar sekali. Dan kudengar dia adalah putri sulung dari keluarga Priatmaja yang merajai dunia bisnis itu bukan? Entah bagaimana mereka bisa berjodoh. Namun, hal ini banyak menuai pro dan kontra dari kalangan masyarakat mungkin mereka heran kenapa kandidat yang terpilih bukan bangsa ini Thailand sendiri melainkan dari luar negara kita, tapi bagaimana pun kerajaan telah memutuskan maka itu yang terbaik," timpal si reporter pria.


"Iya, be--"


Brak! Mennie melemparkan ponsel-nya ke lantai hingga tak terbentuk lagi. Dia menatap benci ke arah ponsel tersebut seakan dia sedang melihat Ayara di sana.


"Brengsek kau Inn, kenapa kau tidak menungguku, argkh," jerik Mennie dengan berderai air mata.


Sementara itu, Ayara sudah kembali ke kediaman Priatmaja dan pastinya itu hanya sebentar karena dalam kurung waktu tiga hari Ara sudah akan diboyong ke kerajaan Buthin untuk diajarkan menjadi seorang putri yang baik sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.


"Bunda, Ayah, Rei, Ara come back, kalian di mana?" teriak Ara sembari mencari-cari keberadaan orang tuanya.


"Hust, Ara suaranya dikontrol, Sayang," tegur Yasmin yang baru aja saja datang dari arah dapur.


"Hehe, maaf Bun, Ara lupa," ujar Ara kikuk.


Yasmin hanya tersenyum maklum melihat tingkah Ara yang masih saja kekanak-kanakan.


"Bun, Ara siap-siap dulu ya soalnya ada jadwal kuliah jam 10 nanti," ujar Ara sembari melepas pelukannya.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Yasmin tersenyum menatap kepergian sang putri lalu berubah sendu saat Ara telah hilang dari pandagannya.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja," lirihnya sebelum berlalu.


* * *


"Astagfirullah, gimana caranya mau ke kampus kalau tuh para curut masih aja ada di depan rumah," kesal Ara saat menyadari masih ada wartawan yang menunggu di depan rumahnya dia kira mereka sudah pergi ternya belum.


"Aha, aku punya ide," ujar Ara seketika sembari menjentikkan jarinya.


Ara memakai penutup kepala berupa selendang mungil berwarna softpink, setelah menelpon Riri untuk menjeputnya di depan kompleks Ara berjalan sebiasa mungkin melewati para wartawan itu yang tidak menganggap dirinya sebagai putri sulung dari keluarga Priatmaja, karena Ara menutupi wajah dan kepalanya menggunakan kain selendang tersebut.


"Akhirnya lepas juga," kata Ara bernapas legah saat dia telah lepas dari para pencari berita tersebut.


"Ra?" panggil Riri.


"Iya, kenapa Ri?" tanya Ara kembali masih menutup matanya.


"Biasa aja kali, Ri. Aku aja sebenarnya enggak mau nerimah perjodohan ini, tapi karena mereka udah rilis deluan beritanya kepaksa deh aku terima," tutur Ara sedikit jengkel dengan pihak kerajaan yang langsung saja merilis ke media tentang pernikahannya dengan Inn.


Sebenarnya bukan pihak kerajaan yang terlebih dahulu merilis dan menyebarkan berita tersebut. Mereka masih menunggu keputusan dari Inn, tapi seseorang terlebih dahulu membeberkannya ke media yang membuat pihak kerajaan heran. Akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena beritanya telah diketahui oleh public.


"Aku heran deh sama kamu Ra, di saat cewek di luar sana bermimpi mau nikah sama Pengeran Inn dan kamu malah mau menolaknya," terang Riri tidak habis pikir atas apa yang sahabat cantiknya itu katakan.


"Itu mereka Ri, bukan aku, aku enggak gila harta atau popularitas jika menyangkut masalah uang Ayah enggak pernah enggak mencukupi kebutuhan kami," jelas Ara sembari menatap ke depan.


"Iya, kamu bener Ra," ucap Riri membenarkan jika masalah uang Ara tidak pernah kekurangan. Akan tetapi, dia sangat menjaga perasaan kedua orangtuanya.

__ADS_1


* * *


Mobil lamborgini terparkir tepat di depan kampus Ara. Seketika semua orang berkumpul di depan gerbang kampus.


Bisik-bisik mulai terdengar mereka berpikir siapa pemilik mobil mewah ini yang tidak parkir di tempat parkir mahasiswa malah langsung parkir tepat di depan pintu masuk gedung kampus mereka.


Pintu terbuka, keluarlah seorang pria tampan yang tak lain adalah Inn tidak ada lagi kacamata tebal yang ada hanyalah sosok tampan yang begitu berkharisma.


"Uwow, di--dia Pangeran Inn yang beritannya rilis kemarin. Aku tidak menyangka bisa melihatnya di kampus kita!" jerit salah satu mahasiswa yang langsung mengenali Inn. Dua bodyguard berdiri di belakang Inn.


"Astaga, jadi pria nerd dari vakultas kedokteran itu adalah Pangenran Inn? Omg! Kemarin aku telah menghinanya," kata salah satu dari mereka lagi yang membuat nyali mereka ciut karena sering menghina Inn yang ternyata seorang Pangeran.


Inn masih senantiasa berdiri di tempatnya menelisik satu persatu dari wajah mahasiswa yang beridiri di depannya. Tidak ada dia di sana akhirnya Inn melangkah menaiki undakan tangga kecil. Dan di saat itu pula Sean, Wildam dan juga Andrew datang menghampiri kedua bodyguard Inn ingin menghalangi mereka. Namun, di tahan oleh Inn.


"Weh, udah buka penyamaran nih katanya," ujar Andrew langsung merangkul bahu Inn yang membuat siswa yang melihat hal tersebut hanya bisa menatap iri.


"Iya, begitulah, soalnya beritanya udah rilis jadi apasalahnya aku buka sekarang," jawab Inn dengan senyuman tipis yang membuat para masiswi menjerit hebo ketika melihatnya dan langsung diabadikan di dalam jepretan kamera mereka.


"Sebaiknya kita bergegas ke dalam, di sini terlalu bising," usul Sean kepada teman-temannya yang dibalas anggukan.


Sementara itu, seorang pria tampan yang bername tag Juan tersenyum menatap kepergian Inn dengan teman-temannya.


Dor!


"Astaga!" kagetnya sat seseorang menepuk pundaknya secara tiba-tiba.


Huft! Juan menghela napas sembari berbalik untuk melihat siapa yang sedang mengusilinya jika tebakannya benar pasti itu Ara.

__ADS_1


"Ara, Riri," ujarnya.


bersambung.....


__ADS_2