Merried With Prince

Merried With Prince
part 12 Dia ibu suri?


__ADS_3

.


Inn memerintahkan anak buahnya untuk mencari Ara. Namun, tak kunjung ada kabar gembira yang datang. Inn menggeram frustasi.


"Dasar gadis bodoh! Di mana kamu, ha?!" Inn berbicara pada dirinya sendiri.


Sedangkan sosok yang membuat Inn uring-uringan masih tertidur pulas.


Hoam! Ara menguap, perlahan dan pasti mata indahnya terbuka. Manik sekelam malam itu kembali menatap dunia. Ara langsung saja membulatkan matanya dan bangun dari tempatnya tertidur.



"Astaghfirullah, ini udah masuk Ashar, bisa-bisanya aku tidur di sini." Ara merutuki dirinya sendiri karena hampir saja telat untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim.


Ara berdiri dan merapikan gamisnya yang sedikit kusut serta membersihkannya dari rumput yang menempel.


Ara berjalan mengikuti jalan setapak di kebun bunga tersebut. Dia melihat ada seorang wanita tua yang sedang merawat tanamannya. Ara bingung kenapa nenek tua dipekerjakan di tengah terik matahari seperti ini. Mereka seperti tidak punya hati saja. Pikir Ara sedikit kesal kemudian menghampiri nenek tua yang sedang asik merawat tanaman bunganya.


"Nek," panggil Ara lembut. Dia langsung tersenyum manis saat si nenek tua menoleh dan juga membalas senyumannya.


"Nenek ngapain di sini? Kenapa Nenek kerja seperti ini? Seharusnya Nenek tuh istirahat di kamar bukannya malah kerja! Tega banget mereka, percuma saja kerajaan besar kalau gak punya hati kek gini," ujar Ara panjang lebar yang membuat si nenek tua tersenyum mendengar kekesalan Ara.


"Haha!" Tawanya yang membuat Ara bingung.


"Pekerjaan seperti ini memang layak untuk wanita tua seperti nenek ini, Sayang. Mereka tidak memaksa nenek untuk melakukan ini," tutur nenek dengan senyum geli terparti di wajah keriputnya yang masih terlihat mudah.


"Tapi 'kan tetap saja Nek. Hm, kalau gitu Ara bantu ya Nek," kata Ara akhirnya


"Memang kamu bisa Nak? Oh ya, sedang apa kamu di sini?" tanya nenek berturut-turut.


"Bisa, tapi ajarin ya Nek, hehe. Ara habis foto bunga-bunga di sini," jawab Ara tersenyum tiga jari.


"Oh, pasti hasilnya bagus 'kan?" tanya nenek memastikan.


"Iya dong, siapa dulu kalau bukan istrinya Suho," ujar Ara bangga tidak lupa dia sematkan nama sang suami halu diucapannya.


"Kamu sudah menikah, Sayang?" tanya nenek bingung. Karena Ara dan Inn baru minggu depan menikah. Kenapa Ara sudah punya suami yang jelas-jelas namanya bukan Inn. Tentu nenek merasa bingung.


'Waduh, gimana mau jawabanya itu 'kan cuman suami halu, harapan yang tidak pernah akan tercapai.' Ara meratap dalam hati.


"Iya dong Nek, masa Ara bohong. Kalau nanti Ara udah jadi dokter sungguhan Ara mau ke tempat suami Ara Nek," jawab Ara sekaligus curhat kepada nenek.


"Oh, ya?" Nenek rasa-rasanya ingin tertawa karena mengetahui Ara sedang menghayal.


"Apakah sebentar lagi Ara akan lulus?" tanya nenek berusaha tidak tertawa. Karena dia tahu Ara adalah seorang calon dokter dan perkataannya yang telah mempunyai suami tentu tidaklah benar.


"Iya Nek, Ara udah semester enam bentar lagi masuk semester tujuh," jawab Ara tersenyum manis sembari melakukan pekerjaan yang seperti nenek lakukan.


"Semoga cepat lulus ya, Sayang." Ara mengaminkan dalam hati. "Sebaiknya kita kembali, tentu kamu belum sholat 'kan?" tanya nenek yang diangguki oleh Ara.


"Iya Nek, aduh Ara lupa udah telat banget, nih," ujar Ara sembari menepuk jidatnya yang rata.


Mereka akhirnya bangkit dari tempat tersebut, membawa semua peralatan serta bunga yang sempat nenek petik. Sepanjang perjalanan mereka tidak ada habisnya tertawa karena lelucon yang dibuat oleh Ara.


Tepat di depan sana, permaisuri dan juga pangeran Inn kaget. Ternyata Ara bersama sang nenek ibu suri kerajaan Buthin.

__ADS_1


"Hehe, Nenek tidak menyangka kamu ternyata sangat lucu, Sayang," ujar nenek sembari tertawa-tawa kecil. Sedangkan Ara hanya senyam-senyum menanggapi perkataan nenek.


"Astaga, Ara ternyata kamu di sini." Teguran dari seseorang membuat keduanya menghentikan langkah. Ara tentu saja kaget karena melihat permaisuri serta Inn berdiri tidak jauh dari tempatnya berhenti.


"Jangan salahkan Nenek, dia tadi hanya menemani Ara," ujar Ara cepat saat Inn ingin menarik nenek tua dari balik punggung Ara karena dia telah menyembunyikan nenek di balik punggungnya.


Inn mengernyit bingung. "Siapa yang mau menyalahkannya, Nenek ke mari," tutur Inn sembari ingin menarik sang nenek dari kungkungan Ara.


"Jangan menyentuhnya! Kamu pasti ingin menyuruhnya bekerja bukan?! Dasar tidak punya hati, kasihan dia kenapa kalian memperlakukan seorang nenek tua seperti ini, menyuruhnya untuk berkebun!" sentak Ara yang makin membuat Inn bingung sedangkan permaisuri hanya menggeleng melihat tingkah ibu mertuanya serta calon menantunya.


"Dia Ibu Suri, Putri," kata permaisuri yang membuat Ara bingung.


"M-m--maksudnya?" tanya Ara bingung.


"Hehe, sudahlah Nak, mereka tidak ingin menyakiti nenek," jelas nenek sembari berpindah dari balik punggung Ara.


"Bukannya Inn sudah bilang tidak usah mengerjakannya Nek," tutur Inn sembari menggeleng.


"Hehe, sebentar lagi kerajaan ini akan berubah lebih berwarna," ucap nenek yang ternyata ibu suri kerajaan Buthin dengan kekehan kecil.


Permaisuri Raswadekha membawa sang ibu mertua ke dalam. Meninggalkan Inn dan juga Ara.


"Dia itu Ibu Suri, dasar bodoh! Biar seperti itu kamu tidak tahu," bantak Inn yang membuat Ara kaget.


"Santai aja dong, gak usah ngegas, aku 'kan baru di sini belum cukup dua puluh empat jam, lho! Jadi mana aku tahu jika nenek tadi adalah ibu suri, kenapa kamu malah bentak-bentak aku. Aku juga gak berharap kok jadi bagian dari keluargamu," ujar Ara panjang lebar. Seumur-umur baru kali ini dia dibentak.


"Kalau kamu gak suka aku di sini ya bilang dong, gak usah bersikap seperti ini padaku. Aku tahu kamu ingin menikah dengannya bukan? Maka menikahlah, besok juga aku mau pulang ke tanah air. Setelah sholat ashar aku bakalan telpon bunda sama ayah, puas kamu!" lanjut Ara dengan pandangan dingin ke arah Inn.


Inn dibuat kaget karena perkataan Ara. Bukan begitu maksudnya, tapi Ara menganggap perkataannya serius.


Shit! "Aku kenapa seperti ini." Inn mengacak rambutnya frustasi. Dia langsung menyusul Ara.


* * *


Ck! Ara berdecak tidak suka. "Kenapa juga terima perjodohan ini kalau dianya udah suka sama seseorang," dumel Ara sebal. Jika kalian berpikir Ara akan menangis setelah dibentak? Jawabannya tidak! Dia bukan tipe wanita yang ingin menumpahkan air matanya dengan masalah seperti itu.


Ara baru saja selesai sholat ashar dan dia membereskan mukenanya. Tentu Ara melepas hijab jika ingin sholat, jadi sekarang kita dapat melihat rambut panjang sampai pinggang berwarna hitam legam.


Ceklek! Tiba-tiba seseorang membuka pintu yang membuat Ara kaget dan langsung menarik apa pun di dekatnya untuk dijadikan penutup kepala. Bagaimana jika itu laki-laki? Bisa bahaya 'kan? Pikir Ara.


"Stop, di sana!" pekik Ara menghentikan seseorang untuk melangkah lebih jauh.


"Kenapa?" tanya orang itu yang tak bukan adalah Inn dia mengikuti Ara sampai kamarnya.


"Aku belum mengenakan hijab," jawab Ara.


"Kenapa?" tanya Inn lagi bingung. Bukannya mereka sudah mau menikah. Jadi, tidak masalah 'kan kalau dia melihat bagaimana istri ralat calon istrinya jika tidak mengenakan hijab.


"Dasar bodoh! Kau ini bodoh atau apa sih? Ya, jelas gak bolehlah kita bukan mahrom. Kita belum sah nikah. Jadi, gak boleh liat Ara gak pakai hijab entar dosa," jawab Ara sembari mengatai Inn bodoh. Jika saja perkataan Ara di dengar oleh orang lain pasti dia akan dihukum karena mengatai keluarga kerajaan.


'Perduli setan, kalau orang lain denger aku tadi ngatain Inn bodoh.' Ara berbicara dalam hati.


"Oh, baiklah aku akan mengatakan kepada Permaisuri Ibu untuk mempercepat pernikahan kita," goda Inn dengan senyuman kecil tergambar di bibir seksinya.


"Idih, siapa yang mau nikah sama kamu, besok aku mau pulang titik, gak ada sambel ataupun tomatnya," cibir Ara sembari mempercepat gerakannya memakai hijab.

__ADS_1


"Jangan mimpi bisa pergi dari sini, melangkah satu langkah kamu dari kamar ini besok siap-siap aku akan melanggar aturan kerajaan dan langsung menjadikanmu milikku, persetan dengan pernikahan minggu depan, cam 'kan itu," ancam Inn dengan aura yang sangat suram. Sepertinya dia tidak main-main dengan perkataannya. Setelah mengatakan hal demikian Inn keluar dari kamar Ara meninggalkan gadis itu yang menatapnya dengan pandangan bodoh.


"Astaghfirullah, jagalah Ara ya Allah. Amit-amit dah aku gak jadi pergi kalau kek gini, kayaknya dia marah deh, tapi kenapa marah? Seharusnya dia senang bukan? Dengan aku pergi dia bisa melamar pacarnya itu." Ara bermonolog sendiri sembari bergidik ngeri. Untuk kamarnya telah dia pasangi CCTV jika Inn ingin melakukan yang iya-iya padanya. Maka dia dengan muda mengancam Inn.


* * *


"Hehe!" Tawa ibu suri belum juga redah. Dia menatap Ara beserta Inn. Sedangkan Ara hanya mampu menunduk malu.


"Kerajaan ini tidak lama lagi akan berubah," tuturnya diselingi kekehan kecil.


Sedangkan raja hanya tersenyum menanggapi perkataan sang ibu. Lain halnya dengan permaisuri dia menatap mereka dengan pandangan tegasnya.


"Maaf 'kan saya Yang Mulia saya tidak tahu," ujar Ara takut-takut.


"Pelayan, berikan daftar tugas Putri," pinta permaisuri kepada pelayan pribadi Ara.


Khun Ratte memberikan daftar tugas kepada Ara map tebal berwarna hitam keunguan. Di daftar tersebut telah tersusun rapi apa saja yang perlu Ara pelajari selama satu minggu ke depan.


"Kapan jadwal pelatihan Putri di mulai?" tanyanya.


"Besok Yang Mulia," jawab Khun Ratte lagi.


"Anda harus mempelajarinya dengan baik Putri. Agar kedepannya Anda sudah bisa menyesuaikan diri," tutur permaisuri lagi.


"Baik Yang Mulia," jawab Ara sembari menunduk membaca daftar tugasnya satu minggu ke depan.


"Kalau begitu kami izin undur diri Yang Mulia, ayo Putri," ujar Inn sembari membungkuk hormat. Kemudian menarik Ara pergi.


"Permisi Yang Mulia," tutur Ara cepat. Karena tangannya telah ditarik paksa oleh Inn.


Di sini mereka sekarang, Inn membawa Ara kembali ke kamarnya.


"Ih, lepasin. Kau ini kenapa, sih?!" geram Ara kepada Inn.


"Bersikaplah layaknya seorang Putri! Kau akan mendampingiku sampai tua, jadi kau juga harus terlihat sempurna. Awas saja jika kau ingin kabur ingat ancamanku," peringat Inn kembali sembari menatap Ara datar.


"Dasar! Denger ya Pangeran Inn yang gak ada tampan-tampannya, tuh mulut kalau bicara dikontrol. Sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Allah. Jadi, jangan pernah berharap kesempurnaan dariku, jika kamu mengharapkannya. Oh, aku tentu saja akan mundur. Jujur ya, sebenarnya aku tuh gak mau nikah sama kamu, karena apa? Aku gak bisa ketemu sama biasku lagi kayak tahun-tahun sebelumnya yang bisa lihat mereka dari jauh." Huft! Ara menarik napas sebelum melanjutkan sedangkan Inn menjadi pendengar setia. "Tetapi, karena semuanya udah terlanjur aku mau menerimanya. Jadi, jangan berpikir kalau aku menerima perjodohan ini karena mengharapkan popularitas. Semoga Allah memaafkan Ara, jika hanya popularitas Ara bisa mendapatkannya dengan mudah karena walaupun tanpa Ara jelaskan kamu pasti sudah tahu, makanya jangan pernah mrmbentakku atau mengataiku bodoh, bukannya dalam Al-Qur'an telah dijelaskan bahwa suami tidak boleh berkata kasar kepada istrinya? Seharusnya Kak Inn belajar itu dong, supaya Ara bisa bersikap yang baik, tapi Ara tidak bisa sempurna seperti yang Kak Inn tuntut pada diri Ara." Ara berbicara panjang kali lebar sepanjang jalan tol yang membuat Inn bungkam satu kali.


"Tapi, kita 'kan belum jadi suami istri," ujar Inn sedikit gelih.


"Ya-- ya, tapi 'kan kita mau nikah gimana, sih!" kesal Ara karena Inn malah menggodanya.


"Ya, maaf!" Kata maaf itu akhirnya keluar dari bibir Inn.


"Nah, gitu dong, sekarang Kak Inn keluar nanti Kak Inn melakukan yang iya-iya kepada Ara dan Ara gak mau itu terjadi sebelum kita sah," tutur Ara sembari menatap Inn dengan pandangan sulit terbaca.


'Belum cukup satu jam dia berkata bijak, tapi sikap aslinya kembali lagi.' "Oh, berarti kita dapat melakukan yang iya-iya setelah menikah dong. Gak sabar nih, nunggu minggu depan," goda Inn dengan alis dinaik turunkan.


"Idih, dasar omes pasti mikirin hal yang iya-iya," cibir Ara sembari menatap Inn sinis.


"Slow calon permaisuri masa depan," ucap Inn menahan senyum dan bergegas keluar dari kamar Ara sebelum dia dapat hadia yang manis dari gadis petakilan itu.


"Kekurangan makan micin ya? Dasar!" teriak Ara yang membuat Inn terbahak-bahak.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2