Merried With Prince

Merried With Prince
Part 13 hari menyebalkan


__ADS_3

Huft! Ara menghela napas kasar karena hari-hari menyebalkannya telah dimulai. Bagaimana tidak berbagai tumpukan buku tersusun apik di depan mata indahnya. Buku itu membahas silsilah kerajaan serta tata cara menjadi putri yang baik.


"Hoh, Astaga aku sangat mengantuk," tutur Ara sembari berusaha membuat matanya tetap terjaga.


"Bukannya Anda telah tidur sebanyak tiga kali seharian ini Putri? Kenapa Anda masih mengantuk?" tanya Khun Ratte bingung.


"Apakah aku harus menghapal semua ini?" tanya Ara dengan wajah memelas ke arah Khun Ratte tanpa mengindahkan pertanyaannya.


"Jika Anda mengetahui segala isi dari buku itu, maka Anda tidak perlu membacanya Putri," jawab Khun Ratte sopan.


"Eum, sepertinya aku tahu dengan silsilah ini. Jadi, aku tidak perlu membacanya 'kan," jelas Ara dengan senyuman.


"Kalau begitu coba Anda bacakan apa saja isi dari buku itu," pinta Khun Ratte balas tersenyum.


'Duh, gemesnya. Aku gak tahulah 'kan aku bukan bagian dari kerajaan ini,' batin Ara frustasi.


"Hehe, aku akan membacanya," ujarnya dengan senyuman kecil terparti di wajahnya berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan saat ini. Dan Ara kembali membuka buku tebal tersebut.


Sementara itu, para pelayannya hanya tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan dari sang putri. Suara alunan biola mengalun merdu di telinga Ara yang membuatnya penasaran.


"Pangeran sedang memainkan biola, sudah sangat lama dia tidak memainkannya," tutur Ema yang menjawab rasa penasaran Ara. Tanpa dicegah Ara beranjak dan mencari asal suara indah itu.


Ara sampai pada balkon yang menampilkan pemandangan yang sangat sangat indah, sepanjang mata memandang hanya ada hamparan hijau yang menghiasi.


Tap! Ara berhenti, di depannya Inn berdiri menjulang dengan menghadap ke hamparan rumput hijau. Badan tegapnya memakai stelan kemeja berwarna abu-abu dipadukan dengan jas berwarna crem.


"Permainanmu membuat telingaku sakit," ujar Ara bohong sembari berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


Inn berbalik, tatapan datar yang menjadi khas dari seorang pangeran Inn memasuki pandangan Ara.


"Oh, kalau begitu jangan dengarkan," tutur Inn datar.


"Ya sudah, makanya jangan bermain." Ara berucap setelahnya berbalik meninggalkan Inn yang mematung di tempat. Ujung hijab Ara bergoyang seiring sang bayu membelainya.


"Ternyata dia sangat membenciku," tutur Inn pada dirinya sendiri.


Dert! Dert!


Getaran pada ponselnya membuat Inn mengalihkan pandangannya dari tempat Ara menghilang.


Nama sang kekasih terpampang di layar ponselnya. Inn mengulas senyum kecil lalu dia mengangkatnya bercakap-cakap dengan sang kekasih yang sedang sibuk mempersiapkan Olimpiade panahan yang akan dia ikuti.

__ADS_1


Sama seperti hari-hari biasanya, hari menyebalkan Ara belum juga berakhir.


"Kenapa kalian memberiku obat tidur, hm?" tanya Ara sembari kepalanya dia tegakkan agar tidak tertidur di meja. Sebenarnya Ara sangat bisa menghapalnya, tapi dia ingin bermalas-malasan agar semuanya tidak berhasil dan dia dapat pulang ke rumahnya lagi.


"Obat apa maksudnya Putri?" tanya Khun Ratte bingung.


"Ini, ini, dan ini," tunjuk Ara pada semua tumpukan buku di depannya.


Para pelayan Ara hanya tersenyum maklum menanggapi ucapan putrinya.


Tap!


Inn berhenti melangkah dan memperhatikan Ara yang sedang menguap yang tidak menyentuh bukunya sedikitpun.


"Jika kamu seperti itu, kapan kamu bisa menghapalnya, yebbong," tutur Inn datar sebelum berlalu.


Ara yang mendengarnya langsung saja membuka mata. Dia langsung saja melayangkan tatapan garang di tempat kepergian Inn.


"Pangeran gila, lo gak tahu aja gimana susahnya hapal, nih buku. Dan seenak hati lo ngatain gue cewek ****!" teriak Ara tidak terima menggunakan bahasa Indonesia serta logat khas seorang Ara. Ara sudah menaikkan lengan gamisnya seperti sedang ingin berkelahi.


Satu fakta yang kalian tidak tahu dari seorang Ayara. Dia memegang sabut hitam di berbagai tingkat bela diri. Reinan saja kalah dari Ayara.


"Huft! Astaghfirullahalazim, maafin Ara lain kali Ara gak gitu lagi, Ara mau fokus belajar supaya gak dikatain gadis bodoh lagi sama tuh Pangeran songong," ucap Ara meminta maaf. Walaupun nada kebencian itu masih kentara di perkataannya.


"Itu baru Putri kami," sorak ketikaganya. "Oh ya, Putri, apa arti dari yang Putri ucapkan tadi?" tanya Yuyun penasaran.


"Hihi, Yuyun kepo ya?" Bukan menjawab Ara malah balik bertanya.


"Kepo apa Putri?" Kali ini Ema yang bertanya mewakili ketiganya.


"Kepo itu ingin tahu urusan orang lain," jawab Ara santai yang membuat ketiganya bungkam.


Hari terus berganti, Ara sudah mulai bisa menguasai isi dari buku laknat tersebut dan setiap hari pula Inn selalu melihat perkembangan belajar Ara.


Mulai dari belajar berdansa, memakai heels berukuran lima centimeter dengan penambahan buku tebal di atas kepala Ara saat dia berjalan. Mengontrol agar dia berjalan dengan kepala tegak tidak menunduk lagi.


Walaupun Ara jarang mengenakan heels, tapi dia dapat menggunakannya walaupun tidak terlalu lancar terkadang dia keseleo dan buku di atas kepalanya terjatuh. Perjuangkan yang sangat panjang yang harus dilalui Ayara. Sampai menelpon keluarganya pun tidak bisa.


"Uh, akhirnya," ujar Ara senang saat buku terakhir yang dia baca telah selesai.


Prok! Prok! Prok!

__ADS_1


Para pelayan Ara bertepuk tangan atas keberhasilan Ara.


"Selamat Putri," ujar Ema.


"Iya," kata Ara dan langsung menjatuhkan kepalanya pada meja belajar.


* * *


Hari ini Ara tampil cantik dengan menggunakan gamis berwarna biru pudar senada dengan hijab yang dia kenakan.


Ara memasuki sebuah ruangan yang berisi berbagai wewangian bunga, bisa dibilang tempat meracik parfum.


"Woah, harumnya," tutur Ara sembari menghirup habis wangi bunga yang terdapat pada tabung kaca.


"Putri!"


Prank!


"Astaghfirullah!"


"Astaga, Anda tidak apa Putri? Maaf saya mengangetkan Anda," ujar Khun Ratte sembari menghampiri Ara begitu juga dengan kedua asistennya juga ikut menghampiri Ara.


"Aku tidak apa, aku hanya kaget, tapi ini pecah? Apa tidak apa? Pasti harganya mahal," tutur Ara penuh sesal.


Khun Ratte menarik napas legah. " Tidak masalah Putri, keselamatan Anda nomor satu," jelasnya sembari tersenyum simpul. " Nah, sekarang Anda tidak perlu memikirkan hal ini, Anda sekarang harus membuat parfum dengan aroma Anda Putri," lanjut Khun Ratte yang diangguki kedua asistennya.


"Ha? Aroma Ara?" tanya Ara dengan pandangan horor. Dia mencium tubuhnya dan bergidik ngeri.


"Bukan aroma tubuh Putri, tapi aroma yang diciptakan oleh Anda. Aroma itu nantinya akan dipakai Pangeran sampai kapan pun," ucap Khun Ratte menjelaskan.


"Oh." Ara berohriah pertanda dia paham. Ara kemudian tersenyum wangi apa yang harus dia buat untuk pangeran sombong itu.


* * *


Di sebuah ruangan yang bernuansa blue-white seorang gadis sedang didandani sedemikian rupa.


Gadis itu adalah Ayara Putri Priatmaja. Hari ini adalah hari membahagiakan bagi semua orang tidak baginya. Senyuman palsu senantia terparti di bibir mungil Ara.


Wajahnya dipoles make-up natural yang membuat Ara makin terlihat cantik dan menawan secara bersamaan. Bibirnya dibubuhi lipstik berwarna peach blossom. Bulu matanya yang lentik hanya ditambah maskara saja. Kalung dengan liontin batu ruby tersemak di lehernya dan sentuhan terakhir kepala Ayara dipasangi tiara yang membuat Ayara terlihat menjadi putri sesungguhnya.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2