
"Jangan pernah menilai seseorang hanya dari luarnya saja."
[Ayara Putri Priatmaja]
* * *
Senyuman tergambar jelas di bibir gadis ini. Walaupun ini kedua kalinya dia menapakkan kakinya di kerajaan Buthin. Namun, rasa takjub itu masih ada.
Semilir angin menerbangkan ujung jilbab gadis cantik ini. Dia menatap sekeliling tidak percaya bahwa dia akan menjadi bagian dari kerajaan Buthin.
"Putri, mari saya antar ke kamar Anda." Suara kepala pelayan membangunkan Ara dari rasa takjubnya.
Ara hanya tersenyum dan mengangguk mantap. Sangat polos seakan dia adalah gadis yang tidak tahu apa-apa mengenai sekitar dan dunia luar.
Ara kembali dibuat takjub dengan desain kamar yang akan dia tempati. Kamar bernuansa blue-white menjadi background kamar tersebut. Mulai dari tempat tidur sampai warna dindingnya.
"Wow, ini warna kesukaan Ara," ujar Ara senang sembari menatap satu persatu pelayanan pribadinya yang juga ikut tersenyum senang.
Ara berjalan menuju jendela yang tertutupi horden. Dia dibuat takjub lagi dengan pemandangan luar kamarnya yang terdapat danau buatan.
"Wah, kalau seperti ini Ara betah tinggal di sini." Ara berucap sembari menatap pelayanan yang masih setia menungguinya.
"Eum, aku mau istirahat. Kalian boleh tinggalkan aku sendiri di sini, tenang aku gak akan kabur kok," ujar Ara sembari menguap sedikit.
"Baiklah Putri, kami akan undur diri," kata kepala pelayan itu yang Ara tahu bernama Khun Ratte serta dua asistennya bernama Ema dan Yuyun. Mereka keluar dan meninggalkan Ara sendiri di kamar yang begitu luas.
__ADS_1
"Saatnya beraksi," tuturnya. Ara kemudian mengambil benda kecil dari dalam tasnya kemudian dia menempatkan benda tersebut di tempat yang susah ditemukan mata.
Fyu! Ara menghela napas lega karena dia telah berhasil memasang kamera CCTV di kamarnya yang terhubung langsung ke smartphone Ara.
"Sekarang tinggal distel." Ara mengutak-atik smartphone-nya dengan pandangan serius. "Siap!" pekiknya senang karena hal yang ingin dia lakukan telah selesai. Dia tidak mau mengambil resiko. Jika suatu saat nanti terjadi problema di antara
keluarga kerajaan ini dan tidak menutup kemungkinan dia juga akan terseret. Jadi, dia mengantisipasinya mulai dari sekarang.
"Sekarang kita tinggal jalan-jalan dan mengambil potret kerajaan ini buat kenang-kenangan." Ara bermonolog pada dirinya sendiri. Kemudian dia mengambil kamera kecil dari dalam tasnya dan dia gantungkan ke leher.
"Siap. Saatnya menjelajah."
Ara saat ini tengah berada di padang bunga. Sudah banyak objek yang ditangkap oleh kamera cangihnya. Dia sangat senang karena bisa memandang bunga-bunga yang begitu harum.
Ara membaringkan dirinya di tanah yang beralaskan rumput yang begitu hijau dan bersih. Sembari memejamkan mata dan membiarkan sang bayu membelai mesra kulitnya. Tanpa sadar Ara tertidur pulas karena belaian sang bayu sangat memamubukan. Ya, begitulah Ara dia adalah tipe wanita yang sangat cepat terlelap di mana pun dia berada.
Tok! Tok! Tok!
"Putri, Permaisuri memanggil Anda." Khun Ratte mengetuk pintu Ara. Namun, tidak ada sahutan.
Tok! Tok! Tok!
"Putri, apa Anda tertidur?" tanyanya lagi dari luar.
Khun Ratte mengetuk kembali pintu kamar Ara. Namun, lagi-lagi tidak mendapatkan sahutan. Mereka berspekulasi bahwa Ara tertidur. Jadi, tidak menjawab.
__ADS_1
"Kita buka saja pintunya. Mungkin Putri sedang tertidur dan ini sudah sangat lama," usul Ema dengan wajah sedikit khawatir.
Mereka mengangguk dan membuka pintu kamar Ara.
"Putri, Anda dipanggil oleh Yang Mulia," ujar Khun Ratte tepat di depan tempat tidur Ara. Namun, kembali tidak ada sahutan. Mereka curiga jadi Khun Ratte memerintahkan asistennya untuk mencari Ara.
Ternyata Ara tidak ada di tempat tidur seperti pemikiran mereka. Ara tidak ada juga di kamar mandi ataupun di balkon kamar.
"Putri tidak ada," ucap keduanya serempak.
"Hm, kita harus melapor. Jika seperti ini," tutur Khun Ratte yang diangguki oleh keduanya.
Tepat di ruang tamu. Tempat yang digunakan keluarga kerajaan bercengkrama di sana terdapat Raja, Ratu serta Pangeran yang sedang berbincang. Namun, percakapan mereka harus terhenti karena kedatangan pelayan pribadi Ara.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Putri?" tanya Inn to the point.
"Putri menghilang Yang Mulia," jawab Khun Ratte gugup.
"Apa?!" Inn berucap lantang sembari berdiri. Begitupun dengan Raja dan Ratu.
"Apakah kamu sudah mencari di kamar Putri?" tanya ratu Raswadekha.
"Sudah Yang Mulia, tapi Putri tidak ada di tempat," jawab Khun Ratte hati-hati.
"Aku akan mencarinya," kata Inn dan beranjak pergi setelah memberi salam kepada ayah dan ibunya.
__ADS_1
Sedangkan orang dicari sedang terlelap di antara berbagai jenis tanaman bunga yang sulit bagi seseorang untuk melihat ataupun menemukannya.
bersambung....