
Bersama Lita, Arkana mengantar tuan Yudi hingga pintu masuk utama restoran. Lita masih mengumbar senyum dan membiarkan Arkana merangkul mesra pinggangnya. Kemudian mereka melepas kepergian mobil Alphard yang membawa tuan Yudi sekaligus Dinda, dan baru saja sampai melayangkan klakson kepada mereka.
“Sebelum aku bicara panjang lebar, … apa yang akan kamu katakan?” Lita memang masih tersenyum, tapi baru saja, ia mulai menghakimi Arkan. Senyum di wajahnya perlahan hilang digantikan keseriusan.
“*I love you*!” lirih Arkana tulus kemudian mengecup mesra kening Lita.
Lita mengulas senyum dan baru saja mundur, sementara tangan kanannya berusaha mendorong dada Arkana, tapi suaminya itu tak mau jauh-jauh apalagi pergi darinya. “Kana, Dinda menyukai kamu. Ada obsesi di cara dia menatap kamu dan aku melihatnya!” tegasnya sesaat setelah ia yakin, mobil yang mereka lepas kepergiannya, benar-benar pergi dan tak ada di sekitar sana lagi. Namun Lita yakin, alasan Arkana membisikan kata-kata cinta dan sampai mencium mesra keningnya karena pria itu memang tulus melakukannya.
“Aku tahu, dan aku enggak peduli!” lirih Arkana masih menyikapi dengan tenang. Tatapan terlebih pikirannya masih hanya fokus pada Lita.
“Cara dia menatapmu sangat mengerikan, Kana. Dia bisa selembut itu dan diam-diam ingin menikmati kamu. Lihat aku sampai merinding!” Lita yang masih bertutur Lirih sekaligus cepat, mengulurkan kedua tangannya dan menunjukkan di sana, bulu kuduknya kompak berdiri.
“Ta, orang sekelas mereka banyak. Enggak hanya di dunia bisnis karena di pinggir jalan juga banyak!” Arkana yang masih bertutur lirih pun membiarkan suara baritonnya tertahan di tenggorokan demi meyakinkan Lita.
Tatapan Lita makin dipenuhi keseriusan. “Hati-hati berurusan dengan orang seperti mereka. Lingkungan kita sangat berpengaruh dengan setiap keputusan yang kita ambil, Kana. Mulai sekarang, apa pun, kamu harus cerita ke aku bila perlu, aku juga ikut dengan proyek ini! Cukup temanku yang jadi ODGJ gara-gara suaminya direbut *wanita lembut* lulusan *bookingan* … aku kalengin kamu kalau berani macam-macam!” tegasnya yang kemudian memilih meninggalkan Arkana.
“Jangan hanya diam, cepat ikut aku!” omel Lita yang kali ini sampai agak berteriak karena ia sudah ada di area dalam, padahal Arkana saja sudah langsung menyusul. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh pintu kaca di sana. Karena itu juga, Arkana menatap sang istri dengan sangat dingin.
“Andai kamu enggak lagi datang bulan, sudah kubawa kamu ke kamar!” sinis Arkana yang kemudian kembali mendekap mesra pinggang Lita. Ia tahu, Lita tak hanya khawatir. Karena Lita juga takut kehilangannya.
Lita langsung tak berkomentar, gadis itu hanya cemberut sambil sesekali melirik sebal sang suami yang membimbingnya ke ruang kerjanya.
__ADS_1
*Wah, hawa-hawanya bakalan ada yang ke kantor agama buat urus akta perpisahan*, batin Lucas bersemangat. Dari depan pintu dapur, ia memergoki kebersamaan Arkana dan Lita yang terlihat tidak baik-baik saja. Wajah Arkana terlihat sangat serius, sedangkan wajah Lita terlihat menahan kekesalan mendalam.
“Eh, suami Bu Lita ternyata Mas Kana, lho!”
“Ah, masa? Kamu tahu dari mana?”
“Ya ampun masa iya kamu enggak tahu? Mereka kan masuk surat kabar. Hampir semua berita bisnis *online* juga bahas mereka dan beberapa di antaranya sampai pakai foto mereka buat sampul!”
“Wah … ini sih calon penghasil *bibit unggul*!”
Namun obrolan dua pramusaji barusan dan baru saja masuk ke dapur melewati Lucas, sukses mematahkan hati Lucas. *Penghasil bibit unggul bagaimana? Kalaupun sama aku juga pasti jadi penghasil bibit langka! Nanti bakalan lahir spesies-spesies yang bikin gemes*! Batinnya.
“Kamu kenapa?” Suara Arkana mendadak berubah menjadi tenor hanya karena pemuda itu memergoki Lucas yang langsung ia hakimi. Lucas sampai terkejut terlebih jarak mereka lebih dari sepuluh meter, sementara Arkana pun nyaris masuk ke lorong sebelah. Lucas tak menyangka Arkana sampai memperhatikannya.
“Chef Lucas, tolong buatkan kami *lemon tea* dingin lalu antar ke ruang kerja saya,” ucap Lita dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin tanpa sisa perdebatan sebelumnya.
“Siap, Madam! Laksanakan!” Tak ubahnya anggota keamanan, Lucas tak segan bermain mata kepada Lita.
Tentu, kenyataan tersebut makin menguji emosi Arkana. “Kenapa kamu memanggil istri saya *Madam*?” todongnya. Riak wajah Lucas langsung menjadi kebingungan.
“Di mata saya, nyonya Lita tak hanya sangat indah, tapi juga sangat mulia. Karena itu juga saya memanggilnya *Madam*, Pak!” jelas Lucas masih dengan gaya cool andalannya.
__ADS_1
*Astaga si Lucas. Kamu tuh enggak tahu, meski kadang Arkana mirip bayi dengan baby face-nya, Arkana tetap jauh lebih kejam dari malaikat pencabut nyawa*! Batin Lita, tapi ia tetap ingin Arkana memberi Lucas pelajaran agar chef tampan itu berhenti menggodanya.
“Panggil dia *Istrinya Arkana* atau *nyonya Arkana* karena itu jauh lebih manis ketimbang kamu memanggilnya *Madam* yang kesannya malah sedang memanggil *nenek-nenek*. Kamu kalau sekolah, kepalanya dititipin di tukang parkir, ya, makanya semacam itu saja enggak ngerti?” Arkana sengaja kejam kepada Lucas. Di depan sana, pria blasteran yang mirip bule itu langsung bungkam bersama wajahnya yang seketika pias.
Lita sampai menahan napas karena takut, sampai ada adu jotos atau malah Lucas yang mendadak memilih resign dari sana. *Nah, hati-hati saja. Meski bibir Kana sangat seksi, kalau dia sudah marah, yang keluar bukan madu, tapi cabe setann*! Batin Lita.
Arkana berangsur menghela napas dalam, mengeratkan rangkulannya terhadap pinggang sang istri kemudian menatap lekat-lekat kedua mata biru Lucas. “Begini, Chef. Saya tahu, bahwa di luar sana banyak wanita yang suka dipuji bahkan dirayu. Istri saya pun begitu meski dia memiliki pengecualian karena istri saya paling anti dipuji terlebih dirayu oleh laki-laki lain, selain keluarga dan suaminya. Yang ada dia merasa direndahkan jika ada laki-laki lain yang terus memujinya secara berlebihan.”
Alih-alih marah, Lucas malah tersenyum elegan kemudian mengangguk. “Siap, Pak!”
*Pengin diulek apa gimana sih nih orang*! Kesal Arkana dalam hatinya. Serius, ia merasa Lucas bisa menjadi ancamannya jika pria itu terus menerus ada di dekat Lita.
“Kana, ayo masuk.” Lita berusaha menyudahi kebersamaan. Ia menatap dalam kedua mata Arkana penuh arti.
Arkana yang tak mau memiliki urusan lebih dengan Lucas langsung mengikuti. Namun seperti yang ia curigai, mata biru Lucas sungguh kurang ajar. Lucas kepergok tengah mengamati kaki jenjang Lita hingga bokongg menggemaskan milik istrinya itu. Tak terima, Arkana bergerak cepat membentangkan jas di tangan kanannya untuk menutupi pinggang hingga kaki Lita.
Keposesifan Arkana kepada Lita, justru membuat seorang Lucas makin tertantang. Lucas menahan tawanya kemudian mengusap asal wajahnya menggunakan tangan kanan sebelum akhirnya bersedekap. “Ditutup begitu, aku malah pengin nabrak. Memangnya dia pikir, apa bedanya aku sama banteng? Kami masih saudara, Arkana!” Lucas tersenyum geli. Ia tak hanya merasa geli dengan ulah Arkana yang baginya kekanak-kanakan, tetapi ia juga merasa geli pada tekadnya yang tetap akan mengejar Lita meski wanita itu sudah bersuami. “Okelah, siap bikin *lemon tea* rasa pelet biar Lita klepek-klepek ke aku!” Lucas makin bersemangat. Karena makin ditolak bahkan dihina, ia malah makin tertantang.
Sesampainya di sofa panjang yang ada di ruang kerjanya, Lita menatap aneh ulah Arkana. Suaminya itu terkesan tengah mencoba menutupi pinggang hingga pahanya. Dan kini, Arkana menjadi menatapnya dengan tatapan dalam.
“Iya, besok aku akan lebih selektif memilih pakaian,” ucap Lita menyesal.
__ADS_1
“Jangan marah lagi, ya?” lirih Arkana tulus.
“Hah?” Hati Lita langsung diselimuti rasa hangat. Berbunga-bunga di sana, seolah ada taman yang dipenuhi bunga warna-warni tengah bermekaran. Lita bahkan tak berani menatap mata tajam Arkana yang kali ini benar-benar sendu menatapnya dengan tatapan dalam karena jika sudah begitu, rasa benci yang membuncah akan digantikan dengan candu.