
Bookkk!
Tubuh Lita sampai menghantam meja di hadapannya hanya karena pukulan gemas yang suaminya lakukan di bokongnya menggunakan kedua tangan. Baru datang menghampirinya di dapur, Arkana sudah langsung berulah. Benar-benat menyebalkan, umpat Lita dalam hati.
Di lain sisi, Arkana tetap tersenyum semringah, memasang wajah tak berdosa, seolah semuanya baik-baik saja sekalipun ulahnya yang masih menahan bahkan memijat gemas pantat sang istri, membuat wanitanya itu memasang wajah marah dan baru saja sampai meliriknya dengan lirikan sangar. Andai lirikan sampai menimbulkan efek, pasti dari kedua mata Lita sudah mengeluarkan garpu dan pisau yang otomatis bekerja sama mencongkel kedua mata Arkana. Beruntung, kenyataan tersebut hanya ada di layar kaca tak sampai ada di kehidupan nyata.
“Hon, serius banget, sih? Suami datang kok dicuekin.” Arkana mendekap gemas tubuh Lita.
“Kamu sengaja bikin aku jantungan biar aku cepat mati, ya?” omel Lita masih melirik sinis Arkana.
“Heh? Kok kamu ngomong gitu? Ditinggal bentar sama kamu aja aku udah kelabakan, apalagi kalau sampai lebih.”
“Terus, tadi apa? Pantatku sampai panas kamu gituin ih! Kucing garong emang kamu!”
“Itu tanda sayang lha Honey-ku!”
“Jangan dibiasain, takutnya aku lagi enggak fokus dan akhirnya bablas.”
Arkana tersenyum tak berdosa menatap sang istri yang masih menatapnya dengan kemarahan. Wanita yang kini memakai kaus oblong kedodoran warna kuning dipadukan dengan celana hot pans warna senada itu menjadikan hidungnya sebagai pelampiasan. Lita mencubit hidung Arkana antara kesal tapi juga gemas.
“Hon, cubitnya pakai bibir dong, biar mesra dikit,” rengek Arkana meringis kesakitan.
“Nanti, cubitan nanti beneran pakai bibir. Bibir tang panas biar makin mesra!” cibir Lita yang langsung membuat Arkana tertawa. Namun kemudian, Lita menginjak asal kaki Arkana karena suaminya itu malah meraba-raba perutnya.
“Kana, kamu bukan tunanetra yang harus serba meraba!” lirih Lita mengingatkan.
Lita menahan geli dan juga rasa tidak nyaman karena ulah sang suami.
“Honey, cintaku ke kamu kan buta, jadi wajar kalau aku juga suka serba meraba!” ucap Arkana.
Kini tak hanya Arkana yang tertawa karena Lita pun sampai tersedak ludahnya sendiri. Lita membiarkan Arkana yang masih ada di belakangnya, kembali mendekapnya mesra dan sampai mencium gemas pipi kanannya.
“Lain kali jangan bilang begitu lagi, geli aku. Aku lebih suka kamu diem daripada kamu rayu-rayu begitu,” ucap Lita sengaja protes.
“Kenapa gitu?” balas Arkana bingung. Ia bahkan sampai berpikir keras.
“Enggak cocok My Dear, … bukan kamu banget!” tegas Lita yang memang malah geli, meski harusnya ia senang jika seorang Arkana sampai merayunya.
“Sepertinya aku memang enggak bakat rayu-rayu gitu sih,” ucap Arkana yang akhirnya sadar diri.
__ADS_1
“Ya iya, mulut kamu kan sudah ditakdirin buat pedes. Otak kamu apa-apa maunya serba ngamuk. Mesum, pula!”
“Eh, aku enggak seburuk itu!” keluh Arkana dan lagi-lagi sibuk meraba. Perut ke atas milik Lita menjadi sasarannya.
“Kana, malu ih kalau ada yang lihat. Xin sama Hesa ada di rumah. Terus, kita juga punya Mbak! Kamu ya.”
“Ya sudah ayo ke kamar. Papah saja sampai tanya kapan kita honey moon, eh ini masih di dapur!”
“Kamu sama papah enggak sedekat itu. Mana mungkin kalian bahas yang lain selain pekerjaan. Kamu kan memang kaku banget bahkan ke keluarga kamu sendiri, Dear.”
“S-sumpah lha, Hon. Tadi papah tanya pas kami meeting via zoom.”
“Ya aku bilang, … besok mau mampir ke Jogja dulu, jalan ke yang dekat-dekat dulu karena memang masih sama-sama sibuk.”
Mendengar Arkana yang sudah kembali berucap biasa, tenang, tak ada lagi emosi termasuk rayuan, kenyataan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Lita.
“Bikin apa, sih? Katanya mau fokus rehat? Kok malah sibuk di dapur? Urusan makannya pesan dulu apa minta Mbak buat masak. Masak yang ringan saja, mi apa telur. Aku oke kok, asal jatah dari kamu tetap lancar! Aku mau makan kamu aja!” ucap Arkana yang seketika mendekap erat Lita kemudian membenamkan wajahnya di leher sang istri.
“Dari kita bangun, kita udah ngelakuin itu dua kali dan ini baru mau pukul dua belas siang, lho, Kana.” Meski merasa geli dengan ulah Arkana yang masih saja menguwel-uwelnya tak ubahnya memperlakukan boneka yang membuat suaminya itu sangat gemas, Lita tetap memasang wajah tegas sekaligus galak.
“Kalau bisa karena hari ini kita off kerja, seenggaknya kita lakuin enam kali—” Arkana belum selesai berbicara tapi Lita sudah mencubit keras perutnya menggunakan tangan kanan.
“Dikiranya apaan. Makan saja enggak semua orang melakukannya sebanyak tiga kali. Nah kamu, minta jatah sampai enam kali. Ini saja masih perih banget, dan takutnya malah enggak baik buat kesehatan kita termasuk hubungan **** kita. Kamu yah!” lirih Lita yang kembali mencubit perut Arkana dan kini ia melakukannya secara berentet. Tak peduli meski Arkana sibuk menghindar sambil meminta ampun dan sampai meninggalkannya.
“Kana, asli di situ sakit. Kamu jangan pegang-pegang di sekitar situ dulu. Kamu ya, bilangnya aku suruh istirahat, tapi yang ada kamu malah bikin aku kerja rodi!” protes Lita sekalipun ia tetap mengikuti tuntunan Arkana untuk duduk.
“Honey, kamu hebat banget bisa bikin dimsum aneka bentuk begitu. Aku baru tahu kamu bisa bikin begitu. Kok kelihatannya gampang banget gitu.” Arkana terperangah, terpesona pada kemampuan istrinya. Ia yang awalnya baru mengeluarkan ponsel dari saku celana kolor hitamnya, memili meletakannya di meja.
“Tambah cinta kan kamu ke aku? Makanya cintamu ke aku jangan cinta buta, melek!” sinis Lita, tapi kali ini, Arkana hanya diam dan tampaknya suaminya itu benar-benar terpesona kepadanya.
“Bentuknya lucu-lucu. Kamu ngerjainnya juga rapi banget. Terus isiannya, kamu juga bikin sendiri?” tanya Arkana.
“Ya iya, ini kan produk baru di restoran sama toko roti. Jadi sebelum ada di sana, aku bikin secara pribadi dulu. Lihat pasar yang lagi rame kan wajib pinter atur strategi. Bentuk sama rasa wajib menarik karena sekarang konsumen sama pembeli makin pinter. Ada harga, ada rasa.”
Arkana mengernyit heran. “Ini menarik sih. Terus, kenapa produknya sampai disamakan? Antara yang di restoran sama toko roti?”
“Karena yang pegang masih satu orang, Lita. Maksud, kan?” sergah Lita.
Arkana langsung tersipu dan merengkuh wajah sang istri dengan hati-hati kemudian mengecup pipinya lembut penuh sayang.
__ADS_1
“Kamu pasti juga belum tahu kalau aku punya produk minuman juga, kan?” lanjut Lita membiarkan Arkana memeluknya dari samping. Kali ini suaminya itu tak lagi jail apalagi memaksa. Mereka sungguh sedang ada di mode romantis.
“Ya enggak, kamu kan belum cerita. Kamu baru bilang kali ini.”
“Gimana aku mau cerita ke kamu, kalau lihat kamu atau dengar suara kamu saja rasanya pengin ngamuk? Kejailan kamu selama ini bikin aku pengin cincang kamu buat isian dimsum, tahu! Terlebih aku pikir pas kabur dari pernikahan, aku beneran bisa bebas. Eh malah ujung-ujungnya yang aku hindari malah kamu! Berasa nyerahin diri banget!”
Arkana terbahak, merasa sangat puas sekaligus menang di setiap ia ingat agenda kaburnya Lita di hari pernikahan mereka. Arkana yakin, niatnya Lita benar-benar ingin kabur. Namun istrinya itu malah meminta tolong kepada orang yang harusnya ditinggal kabur dan itu dirinya. Niat hati kabur dan mendapatkan kebebasan, Lita tidak tahu bahwa Arkana yang menolong justru memasukkannya ke dalam kandang!
“Jujur kalau ingat itu, aku beneran bingung, sedih, kacau. Soalnya setahuku setelah aku nikah, harusnya kamu sama Lilyn, kan. Namun ya, ... ya sudahlah, adanya gini. Enggak mungkin juga aku tukar tambah suami. Tapi kalau ingat kejadian Dinda kemarin, rasanya aku pengin mites kamu!” Lita tengah berkeluh kesah. Matanya basah menatap Arkana khususnya kedua mata tajam pemuda itu yang kini menatapnya dengan sangat teduh.
“Maaf ...,” lirih Arkana yang terdengar sangat manis untuk Lita. “Buat kemarin, aku beneran minta maaf, ya?” lanjut Arkana yang kali ini merengkuh tengkuk Lita.
Kebersamaan yang awalnya dimulai dengan penuh rasa kesal, kemudian hadir juga gelak tawa dan bahkan keromantisan, kini mendadak dihiasi rasa haru penuh keseriusan.
“Kana, kamu tahu aku. Sejauh ini aku selalu sendiri, dan hadirnya Hesa seolah jadi pelipur lara atau malah pelarian. Kamu tahu, kan? Aku selalu disalahkan di setiap aku bisa jadi lebih baik. Lilyn selalu protes kenapa aku selalu selalu sukses dan puncaknya, kenapa aku malah sama kamu dan itu bikin orang tuaku makin bingung buat memihak. Makanya, daripada aku bikin hubungan keluargaku makin ruwet, aku lebih nyaman tinggal di toko bareng Hesa dan Xin. Jadi sekarang kamu juga tahu, kan? Aku hanya punya kamu. Aku hanya punya rumah tangga kita, kita dan pernikahan kita, itu beneran yang paling berharga buat aku. Kamu paham kan, maksud aku apa?”
Arkana yang hanya diam dan menyimak penuh keseriusan, mengangguk-angguk hingga butiran bening berjatuhan nyaris bersamaan membasahi pipinya. Iya, Arkana menangis.
“Hal semacam kemarin tolong jangan diulangi. Karena aku bukan orang yang akan meminta orang lain untuk memilihku bahkan sekalipun orang itu suamiku. Sendiri saja aku bisa, kenapa aku harus menggenggam luka? Kenapa aku harus mempertahankan yang memang enggak mau untuk dipertahankan?”
Arkana yang kembali mengangguk-angguk, berangsur mendekap Lita menggunakan kedua tangannya. Lita yang awalnya diam, berangsur membalas dekapan Arkana meski di tangan kanannya masih dihiasi dua sumpit stainles.
“Aku akan makin belajar. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik,” ucap Arkana.
“Mulai sekarang tolong belajar kontrol emosi sama ego kamu. Kalau bisa kalau kamu sudah tahu orangnya seperti apa, dan andai kamu tahu orang itu bisa kasih kamu efek buruk, ya sudah lepas saja. Atau seenggaknya, kamu bahas ke aku. Aku pasti bantu, dan tolong juga, ... tolong jangan jadi laki-laki yang merasa harga dirinya diinjak bahkan dirampas hanya karena kamu punya istri mandiri yang bisa saja, bisa lebih baik ke kamu.” Lita buru-buru mengakhiri dekapan mereka. Menggunakan kedua tangannya, ia juga buru-buru membingkai wajah Arkana. “Kita harus saling dukung, berdampingan, tanpa ada anggapan aku di depan atau kamu di belakang. Kita berdampingan karena kita sama-sama penting.”
Arkana mengangguk-angguk paham kemudian mengecup bibir Lita dengan ciuman dalam.
“Ya sudah, siapkan panci kukus buat kukus semua ini biar cepat matang karena aku memang kelaparan dikerja rodi terus sama kamu.” Kali ini Lita mengomel.
“Ih, aku mana tahu kukus-mengukus, Hon.”
“Ambil panci kukusnya di lemari atas, dicuci dulu pakai sabun di wastafel bilas sampai bersih, isi air, taruh di atas kompor, terus kompornya dinyalain!” Lita memberi arahan secara detail dan Arkana langsung patuh.
“Kana?” panggil Lita merasa sungkan tapi juga ingin tertawa karena seorang Arkana sungguh tunduk kepadanya.
“Kenapa, Hon?” balas Arkana yang tengah mencuci panci dan sampai menoleh kepada Lita.
“Kamu jangan cerita-cerita ke keluarga kamu kalau aku galak dan sampai suruh-suruh kamu, ya?” rengek Lita.
__ADS_1
“Kita kan diwajibkan buat selalu jujur, kan?” Arkana menahan tawanya.
“Arkana, aku beneran enggak enak ke keluarga kamu!” Lita makin merengek, tapi Arkana malah menertawakannya.