Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
Musibah yang Kian Mengeratkan Hubungan Kita


__ADS_3

Cairan hangat muncrat di wajah Lita. Jantung Lita seolah loncat dari tempatnya. Wanita cantik itu gemetaran hebat di tengah napasnya yang memburu. Nyaris semua sendi dalam tubuhnya terasa ngilu.


“Gilaa kamu!” suara Lian terdengar sangat lantang sekaligus emosional.


Masalahnya, Lita merasa semuanya baik-baik saja. Hanya tenggorokannya saja yang seolah dicekik selain detak jantungnya yang benar-benar kacau.


“Kana ... Kana, kamu baik-baik saja, kan?” suara Lian terdengar mendekat bersama langkah buru-buru yang turut menyertai. Detik itu juga Lita tersentak, buru-buru membuka mata hingga pandangannya dipenuhi tangan kiri Arkana yang tidak menggandengnya. Tangan itu mengepal dan berlumuran darah tepat di depan mata kanan Lita. Sebagian darahnya masih kerap menetes ke wajah Lita disertai aroma anyir yang akhirnya menyeruak.


“K-kana ....” Lita meraih tangan kiri Arkana yang masih bertahan di depan mata kanannya. Demi melindunginya, suaminya itu nekat menahan bahkan menggenggam pecahan gelas yang sebelumnya melesat nyaris mengenai mata kanan Lita.


“Aku beneran enggak akan maafin kamu, Lyn!” tegas Arkana di tengah napasnya yang memburu dan tatapan tajamnya lurus kepada Lilyn. Di depan sana, Lilyn yang sempat histeris menuntut semuanya mengakui dirinya korban yang paling menderita, sudah langsung bungkam.


***


“Kalau orang tua kamu sampai tahu, aku harus jawab apa?” Lita bertutur lirih cenderung takut.


“Bilang saja aku digigit semut,” sergah Arkana lirih kemudian menggunakan tangan kanannya untuk merengkuh tubuh Lita.


Karena darah yang keluar dari telapak tangan kirinya terlalu banyak, tubuh Arkana sampai lemas dan Arkana sampai diinfus.


Lita yang meringkuk di ranjang rawat Arkana, mereka memakai selimut yang sama, berangsur mendekap tubuh Arkana menggunakan kedua tangannya. Malam ini, mereka yang seharusnya sudah menikmati indahnya bulan madu di Lombok, malah harus bermalam di rumah sakit. Mereka bahkan harus berpisah dengan Mahesa, membiarkan balita itu di rumah bersama Xin. Dari semua ketidaksingkronan kenyataan dengan rencana yang menimpa mereka, ada satu hal yang membuat mereka merasa lega. Arkana mengirim Lilyn ke Komnas Perempuan, dan di sana Lilyn akan mendapatkan bimbingan khusus.


“Hon ...?” lirih Arkana.


“Hmm ...?” Lita menengadah dan membuatnya menghadap Arkana. Sementara kini, ia membiarkan Arkana mencium bibirnya. Ia sengaja membalasnya, dan kembali membiarkan suaminya itu mengunci keningnya dengan ciuman dalam. Lita yakin, dalam diamnya, Arkana merasa sangat lega telah berhasil melindungi Lita tanpa peduli tangan kirinya sampai terluka parah. Malah, Lita takut, kasus om Fean sampai menimpa Arkana. Karena kalau tidak salah, salah satu tangan om Fean sampai mati rasa gara-gara luka parah. Kalau tidak salah karena luka tembakan. Sementara bagi Lita, luka Arkana tidak begitu berbeda dengan luka om Fean.


“Besok aku mau pulang,” lirih Arkana sambil mengelus-elus kepala Lita yang ubun-ubunnya ia tahan menggunakan dagu.


“Ikut arahan dokter saja. Kalau memang belum boleh dan harus cek rontgen dulu, ya tunggu,” sergah Lita serius.


“Lukanya hanya di telapak tanganku!” lirih Arkana meyakinkan.


“Hanya di telapak tangan kamu, kepalamu. Itu saja bikin kamu kehabisan darah, dan ... tunggu saja kalau biusnya habis pasti kamu jejeritan. Sekarang saja masih kaku belum bisa digerakin, kan?” omel Lita masih berucap lirih juga.


“Kan efek diperban makanya susah gerak,” rengek Arkana meyakinkan.


Lita langsung meliriknya tajam sambil menggeleng tak habis pikir. “Tunggu saja sebentar lagi. Bius kamu habis, pasti kamu nangis!”


Tegang, penjelasan Lita sampai membuat seorang Arkana deg-degan. “Jangan nakut-nakutin, dong. Mana mungkin jadi sakit kan aku pakai pengobatan termahal.”

__ADS_1


Lita mencebik. “Yang namanya pengobatan ya sama saja, ada proses kita merasakan sakit. Pengobatan patah hati saja gitu, kan? Tetap ada proses kita merasakan sakit?”


“Enggak tuh, aku enggak pernah patah hati. Ya maaf-maaf saja, aku enggak tahu gimana proses apalagi rasanya,” sergah Arkana sengaja pongah. Ia bahkan sengaja memalingkan tatapannya dari Lita.


“Kalau kamu sudah gini beneran nyebelin banget. Banget ... banget, banget!” lirihnya. Saking geregetannya, ia sengaja mencubit hidung Arkana.


“Enggak mempan!” ucap Arkana masih meledek Lita. Ia masih membiarkan Lita mencubit hidungnya dan ia memilih bernapas melalui mulut.


“Tunggu sebentar lagi!” tegas Lita lirih.


“Tapi, ini saja aku sudah pusing, Hon,” lirih Arkana.


“Lho ... pengobatan mahal masa iya, pusing? Tadi kata kamu, pengobatan berharga mahal enggak ada proses sakitnya?” Lita tersenyum meledek sambil bersedekap. Senyum yang makin lepas karena makin lama, wajah Arkana dihiasi ekspresi tersiksa. Menandakan suaminya itu memang tidak baik-baik saja.


“H-hon ....”


Arkana benar-benar merengek dan Lita hanya menahan senyum gelinya. Segera Lita kembali menipiskan jarak mereka. Lita mendekap tubuh Arkana menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya memijat kening dan juga kepala Arkana.


“Kok bisa sakit, ya? Ini obatnya enggak berfungsi apa memang kurang mahal?” keluh Arkana.


“Kana, masa iya kamu mikirnya sesempit itu? Nilai ujian kamu selalu sepuluh bahkan A+ meski kamu juga kuliah di luar negeri. Bahkan karena itu juga, oma Aeny sayang banget ke kamu. Masa iya, proses kerja obat saja kamu enggak tahu?” cibir Lita sambil menekan-nekan telunjuk tangan kanannya di kening Arkana.


“Oh, berarti kamu berharap lebih baik aku pergi, begitu?” kesal Lita sengaja menarik diri, menjaga jarak dari Arkana.


“Eh ....” Arkana langsung panik. Susah payah ia membuka matanya di tengah rasa pusing yang makin lama makin menyiksa. “Jangan berpikir begitu. Tokong jangan pernah pergi apalagi meninggalkanku.” Karena kedua matanya tidak bisa diajak toleransi saking pusingnya, ia menggunakan tangan kirinya meraba-raba ke arah Lita guna meraih sekaligus mendapatkan istrinya itu.


Lita terdiam sedih kemudian mendekap Arkana. “Enggak ... aku enggak mungkin pergi terlebih meninggalkan kamu. Sampai kapan pun. Iya, sampai kapan pun aku enggak akan pergi apalagi ketika kamu sedang ada di titik nadir. Bahkan meski kamu mengusirku, aku beneran akan tetap bersama kamu.”


Kedua mata Arkana yang terpejam, makin terpejam menahan kesakitan. Tak ada lagi suara terlebih sampai berisik pongah seperti sebelumnya. Malahan, dari kedua sudut mata pria itu sampai dihiasi cairan bening yang mengalir. Seperti dugaan Lita, Arkana sungguh menangis. Sedangkan tangan kiri yang terluka juga tampak tak berdaya di sisi tubuh kiri Arkana.


“Aku panggil dokter dulu yah, buat cek keadaan kamu,” sergah Lita ketar-ketir melihat keadaan Arkana.


“Iya ... cepat. Bilang ke dia ... dia enggak mikir atau memang otaknya bermasalah, bisa-bisanya kasih aku obat yang bikin sakit seperti ini!” lirih Arkana yang berucap saja sampai gemetaran.


Meski kasihan, ulah Arkana yang masih saja menyalahkan orang lain dan itu dokter yang menangani atas rasa sakitnya yang tampaknya memang sangat luar biasa, tetap saja membuat Lita menertawakannya. Namun demi menjaga perasaan Arkana, Lita sengaja menahan tawanya.


Dokter dan perawat yang langsung datang, juga langsung memeriksa keadaan Arkana. Namun sebelum itu, Arkana sudah meminta Lita untuk membantunya menyeka air matanya. Dan sepanjang itu, Arkana tetap memejamkan kedua matanya dan hanya sesekali membukanya dan itu pun hanya sedikit karena selain pusing, rasa sakit di tangan kiri Arkana juga sudah menyebar menguasai seluruh tubuh.


“Sayang, kamu mau aku telepon mamah kamu biar mamah kamu ke sini?” tawar Lita setelah dokter dan perawat yang menangani Arkana, pergi.

__ADS_1


“Ngapain telepon mamah aku?” sewot Arkana masih kesakitan. Karena kesakitan yang ia rasakan sungguh harus tetap ia rasakan karena memang bagian dari proses pengobatan.


“Dari tadi kamu nangis lho, My Dear.” Suara Lita turun drastis. Ia membingkai wajah Arkana, kemudian mengelus kening Arkana penuh sayang.


“Kata siapa aku nangis?” tepis Arkana. Padahal kini saja, ia kembali menangis.


Lita tak tega, membuatnya refleks mendekap kepala Arkana.


“Jangan mengabarkan keadaanku kepada keluargaku khususnya Mamah,” ucap Arkana benar-benar lemah.


“Sampai kapan pun aku enggak akan lupa saat-saat kita seperti ini. Dari awal kita selalu beresin semuanya sendiri, dan aku beneran enggak sangka, kamu begini.” Lita terisak nelangsa dan menggunakan jemari tangan kirinya untuk menyekanya.


“Dikiranya aku akan serba minta bantuan ke orang tuaku, begitu? Kalau gitu caranya, yang ada kamu langsung menalak aku!” sergah Arkana pasrah.


Lita makin terisak nelangsa kemudian membenamkan wajahnya di sebelah wajah Arkana.


“Hon ... jangan nangis, ih.”


“Kana ... kamu merhatiin enggak, dari awal kita menikah sudah langsung sibuk kena musibah?” isak Lita merasa sangat nelangsa karena musibah yang terus menimpa hubungan mereka.


“Ya ... tapi musibahnya bikin kita tambah dekat. Musibah-musibah itu jadi alasan kita buat selalu sama-sama,” ucap Arkana.


Lita mengangguk-angguk meski tanpa melakukannya, Arkana tak mungkin melihatnya karena pria itu tetap terpejam menahan sakit. Namun, tangan kanan Arkana yang merangkul punggungnya, kerap mencengkeram di sana. Lita menatap miris kenyataan tersebut.


Benar kata kamu, ... semua cobaan yang sibuk melukai kita, justru menjadi alasan kita untuk terus bersama, batin Lita sambil menatap wajah Arkana dengan tatapan yang begitu teduh. Tatapan khas bersyukur sekalipun luka telah sangat melukainya. Sebab melihat Arkana yang seperti sekarang dan itu karena Arkana melindunginya, justru membuat Lita sangat tersiksa.


“Cepat sembuh yah, Kana ...,” lirih Lita yang kemudian mengecup punggung hidung Arkana. Suaminya itu mengangguk-angguk, menegaskan pria itu belum tidur meski kedua mata terus terpejam.


“Aku pasti cepat sembuh, ... buat kamu.”


“Iya ... wajib. Kamu wajib cepat sembuh karena aku cuma punya kamu!” isak Lita yang menangis sambil meringkuk di dada Arkana.


Arkana mengangguk-angguk sementara tangan kanannya yang masih ada di punggung Lita, menjadi kerap mengelus di sana.


Jauh di lubuk hatinya, Lita dan Arkana optimis, mereka akan menjadi pasangan romantis, mereka akan memiliki pernikahan romantis meski status musuh dalam diri mereka tak akan pernah benar-benar padam. Mereka sungguh akan tetap bersama-sama, walau badai rumah tangga terus berusaha menerjang, menggoyahkan, bahkan menghancurkan hubungan mereka.


***


Kisah mereka masih panjang. Yang penasaran bisa cek instagram aku di @rositi92. Judulnya : Musuh, Tapi Menikah (Suami Mesummku)

__ADS_1


__ADS_2