
Berjalan mengendap-endap, suasana masih remang di tengah senyap yang menyelimuti ketika Arkana yang tidak tahan memilih keluar dari kamar mandi. Arkana tak ubahnya maling yang menjadikan Lita sebagai target, bahkan walau mereka ada di kamar pribadi kediaman sendiri. Di ranjang luas mereka, istrinya masih tidur bersama Mahesa. Lita tampak sangat lelap di bawah selimut yang menyelimuti. Lita terlihat sangat nyaman, benar-benar menikmati. Wajah polos Lita terlihat seperti bayi dan kenyataan tersebut seolah menambah cobaan hidup yang harus Arkana lalui. Sambil melepas piama lengan panjang warna biru gelap yang dikenakan, Arkana menyibak selimut sebelah Lita, kemudian langsung menutupi tubuhnya, tapi ulah tersebut sukses membangunkan Lita. Istrinya itu menatapnya dengan jengkel, seolah akan langsung memarahinya kemudian memberinya hukuman yang lebih keji. Beruntung, semua itu hanya mimpi karena kini Arkana terbangun dan masih di kamar mandi. Ia masih terbaring di sebelah wastafel beralas selimut dan bantal dengan rasa berat yang menguasai kepalanya.
Arkana menghela napas dalam-dalam, mencoba meredam kekacauan dan juga pening yang membuat kepalanya terasa sangat berat sekaligus sakit. Kedua tangan yang sempat membasuh wajah, kini sibuk memijat kepala.
“*Morning my Dear*, … aku rasa, kamu sangat menikmati tidurmu. Berarti next time, di sini wajib dikasih kasur lantai, ya?” ucap Lita baru beres menggosok giginya kemudian berangsur kumur.
Suara Lita yang terdengar lembut sekaligus manja, sukses menghentikan dunia seorang Arkana. Tak percaya sekalipun jantungnya juga seolah langsung loncat hanya karena suara lembut nan manja tadi, Arkana langsung membuka kedua matanya. Benar saja, di depan wastafel sebelahnya meringkuk tak ubahnya pengungsi yang terdampar, sang istri yang masih memakai *lingire* super seksi tengah berdiri.
Buru-buru Arkana merangkak kemudian mendekap kedua lutut Lita. “Ampun, Hon … ampun. Maaf, please, sudahi hukumannya.”
“*Ampun, maaf, sudahi hukumannya*, bagaimana? Bukankah kamu menikmatinya?” Lita menahan tawanya sambil menatap Arkana. Suaminya itu tampak sangat ketakutan, sangat menyesal, benar-benar memohon, sekaligus tunduk kepadanya dan tentu saja, kenyataan tersebut membuatnya tidak bisa untuk tidak tertawa. Ia meraih handuk wajah yang tersampir di pinggir wastafel kemudian menggunakannya untuk mengeringkan wajah dengan gerakan elegan. Sementara di bawah sana, Arkana sudah mulai berani mengabsen kaki dan juga pahanya, dengan ciuman basah sekaligus dalam. Ciuman yang menorehkan sensasi hangat, membuat tubuh Lita bak tersengat aliran listrik kala suaminya itu melakukannya.
*Sudah alohuma balas dendam kalau kayak gini keadaannya*, batin Lita yang sampai saat ini memilih menutupi wajahnya menggunakan handuk wajah. Namun, ia masih kerap tersenyum bahkan menahan tawa jika mengingat apa yang terjadi pada Arkana maupun dirinya. Hukuman yang ia berikan tampaknya jauh lebih membuat suaminya itu jera bahkan takut, ketimbang ia marah-marah emosional kemudian mengusir Arkana tanpa bekal bahkan sekadar selembar uang.
“*Please be mine, Hon* ….”
Mendengar rintih Arkana yang teramat mengemis kepadanya, juga kenyataan suaminya itu yang mendekap pahanya sangat erat di tengah kesibukan bibirnya yang berbakat mengabsen menorehkan sekaligus meninggalkan jejak cinta, semua kenyataan tersebut membuat seorang Lita menjadi makin sibuk menahan senyumnya.
Jujur, Lita sudah tidak marah karena ia tidak ingin menghabiskan dunianya untuk hal yang hanya membuat emosinya berantakan. Buktinya, saat di masa lalu tunangan yang harusnya menikahinya malah mendadak memutuskannya lewat pesan WA karena pria itu ternyata telah tidur dengan sahabat yang awalnya dikenalkan kepada Lita sebagai keluarga sendiri tapi malah sampai hamil, Lita memilih tenang sekaligus ikhlas. Malahan, saat itu justru Arkana yang tidak terima. Arkana mati-matian melindungi Lita yang bagi Arkana hanya sok tegar. Terlebih untuk kasus sekarang, Arkana yang sudah jauh lebih memahaminya, langsung menjalani hukumannya dengan sungguh-sungguh.
“Hon, … jawab. Langsung aku *unboxing*, lho kalau kamu enggak jawab juga!” rengek Arkana yang kali ini sengaja mengancam. Tangan kirinya sudah masuk menjelajahi paha Lita dan menarik tali \*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\* hitam yang Lita pakai sekalipun tatapan Arkana masih menatap dalam kedua mata Lita. Istrinya itu masih menunduk dan perlahan membungkuk meniadakan jarak wajah mereka.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Arkana sengaja mendongak, membiarkan kedua tangan Lita membingkai wajahnya. Istrinya itu memijat-mijat keningnya, mencoba meredam rasa pening di sana.
“Yang pusing bukan hanya yang itu, tapi juga yang bawah, Hon,” keluh Arkana sambil terpejam pasrah. “Rasanya beneran enggak enak banget.
__ADS_1
Tanpa dijelaskan, Lita tahu apa yang Arkana rasakan. Namun, ia masih ingin menjaili Arkana, sengaja membuat suaminya itu makin terangsang atau malah kesal karena ciuman yang ia lakukan tidak ia tuntaskan.
“Hooooon!” rintih Arkana sampai gemetaran. Antara tak sabar dan memang karena sudah sangat terangsang.
Lita tersenyum puas dan sebisa mungkin menahan tawanya. Ia membiarkan tubuhnya diangkat oleh Arkana yang mendudukkannya di sebelah wastafel. Tatapan mereka bertemu, tatapan yang benar-benar intens sekaligus ingin memiliki. Lita kembali membingkai wajah Arkana menggunakan kedua tangannya dan kali ini ia belai mesra. Suaminya itu terpejam sambil berusaha memburu sekaligus menciumi jemarinya. Lita tersenyum bahagia melihat kenyataan tersebut diisusul ciuman penuh gairah yang ia lakukan dan langsung dibalas dengan liar oleh Arkana. Sempat syok, Lita menahan napas, mendengar deru napas dan juga detak jantungnya yang menjadi sangat cepat sekaligus kencang—benar-benar tak lagi sinkron. Suaminya memang semesum itu. Langsung menyerangnya ke titik tersensitifnya. Arkana seolah sudah sangat hafal bagaimana caranya menyenangkan wanita. Sentuhan bergairah, juga ciuman hangat dari bibir berisi milik Arkana yang menjadi terasa sangat lembab, kedua kenyataan tersebut mengabsen sekujur tubuh Lita yang mana selain seolah tidak akan melepaskannya, Arkana juga seolah tidak akan pernah mengakhirinya sebelum pria itu benar-benar puas.
Semuanya Arkana singkirkan terlebih yang menghalangi hasratnya. Tak hanya *lingire* dan juga bikini hitam milik Lita, tapi juga barang-barang yang awalnya tersusun rapi di sekitar wastafel. Semuanya terkapar di lantai dan sebagiannya Lita yakini rusak. Padahal untuk menyusun itu semua dan merupakan produk perawatannya maupun Arkana, Lita sampai menghabiskan waktu lama.
Arkana melepas tuntas pakaiannya, benar-benar tak ada yang tersisa seperti apa yang pemuda itu lakukan pada Lita. Lita sampai sengaja terpejam, menepisnya karena memang benar-benar belum terbiasa. Masalahnya, apakah Arkana akan *melakukannya* di wastafel? Membiarkan Lita terlentang di sana dengan posisi yang benar-benar tidak nyaman meski setiap sentuhan dan juga ciuman yang Arkana lakukan selalu membuat Lita bak diterbangkan ke awan.
Arkana meraih kedua kaki jenjang Lita, kemudian meletakan di pundaknya. Kewanitaan istrinya yang berada di pangkal paha masih menjadi tujuan sekaligus bagian favoritnya. Meski selama pemuda itu menjelajahi bagian di sana dengan ciuman, kedua tangannya juga akan aktif meremas gunungan kembar di dada sang istri yang benar-benar kenyal.
“Kana, … punggungku sakit!” lirih Lita di tengah \*\*\*\*\*\*\* yang tetap saja keluar sekalipun ia telah menahannya susah payah.
“Biarkan aku egois sebentar lagi!” sergah Arkana masih membiarkan kepalanya diapit kedua paha Lita.
“Kana … sebentar lagi Hesa pasti bangun.” Kali ini, Lita sengaja mengingatkan karena di kamar, mereka memang tidak hanya berdua. Ada Mahesa yang sangat bergantung kepada mereka.
Dengan sigap, Arkana mengunci pintu kamar mandi dan keberadaannya menang ada di belakangnya. Ia kembali menghampiri Lita yang sudah terlihat lemas. tubuh Lita ia dapati agak gemetar tapi itu membuatnya makin bahagia. Kemudian ia sengaja membopongnya, memboyongnya ke atas selimut yang sempat menjadi saksi betapa ia tersiksa karena tidak diizinkan menyentuh istrinya sendiri.
“Aku egois?” tanya Arkana sambil tersenyum semringah menatap wajah Lita yang tak hanya basah oleh keringat karena wajah itu sudah sangat merah. Bukannya menjawab, Lita malah lebih memilih menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.
“Jangan ditutupi, … aku suka banget lihat wajah kamu kalau sedang begitu karena memang kamu tambah cantik banget.” Karena Lita tetap menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, Arkana sengaja mengakhirinya melalui ciuman. Ia menciumi kemari tangan Lita, menuntunnya untuk membiarkannya menatap wajah cantiknya dan baginya beribu kali lipat lebih cantik jika wajah itu merah sekaligus basah oleh peluh keringat.
“Kana, aku malu …,” lirih Lita yang terdengar merintih.
__ADS_1
Arkana menahan tawanya, merasa menang karena posisi mereka yang sekarang. Mungkin semalam dan benar-benar menyiksanya, ialah yang kalah. Namun kini, tampaknya keadaan sudah berbalik. Lita benar-benar terlihat pasrah dan seolah menerima semua perlakuannya.
“Aku mulai …,” bisik Arkana yang masih menahan tawanya. Arkana merasa sangat bahagia karena jika diungkapkan, dirinya tengah merasakan kenikmatan surga dunia.
*Hah? MULAI? Dia bilang mulai, terus yang dari tadi dan aku rasa nyaris satu jam, itu apa*? Batin Lita benar-benar syok. “Kalau sekarang baru mau mulai, yang dari tadi apa?” sergahnya yang tak lagi menutupi wajahnya. Arkana masih mengungkungnya. Tubuh bidang milik suaminya langsung memenuhi pandangannya yang mana buih keringat dari sana juga sampai jatuh membasahi tubuhnya.
“Pemanasan. Masa iya aku bilang *icip-icip*, yang ada kamu langsung pukul aku. Nah kan nah, aa! Langsung kena.” Arkana tetap tertawa bahagia walah pukulan kedua tangan Lita sungguh menimpa wajahnya. Namun setelah itu, ia kembali fokus sekaligus serius. Ia sungguh memulai, melakukan inti dari hubungan yang sedari kemarin malam telah membuat miliknya menegang. Tak peduli meski Lita merintih kesakitan, Arkana tetap melanjutkan dan meredam Lita dengan ciuman bibir yang ia lakukan. Mungkin karena kini menjadi pertama kali, Lita yang biasanya bar-bar refleks kesakitan dan berulang kali menahan napas layaknya sekarang tanpa kembali menahannya seperti beberapa saat lalu. Padahal, Arkana pun mengalami hal serupa karena *miliknya* juga sakit bahkan sangat sakit. Meski tentu saja itu jauh lebih baik daripada ia terus menahannya.
Hah! Arkana menjadi kerap mendesah, meluapkan puncak kenikmatan yang tengah dirasakan. “Ini luar biasa …,” ucapnya pada Lita. Di bawahnya, istrinya itu terlihat tak kalah lega. Lita bahkan terkesan melupakan rasa sakit yang sempat membuat wanita itu merintih kesakitan dan bahkan menangis, memintanya untuk berhenti.
Detik berikutnya, tatapan mereka bertemu. Napas mereka memburu, Arkana memberikan senyum terbaiknya kepada sang istri yang tak lagi menangis terlebih marah-marah kepadanya. Ia kembali menyapa bibir Lita dengan ciuman. Ciuman yang teramat lembut karena baru ia sadari, bibir itu juga terluka. Bengkak dan ada sedikit darah segar yang tentu saja karenanya.
“Maaf banget, ya? Ini sakit banget?” lirih Arkana sambil meraba bibir sang istri dengan sangat hati-hati.
“Menurutmu?” semprot Lita dan langsung dibalas dengan senyum tak berdosa oleh Arkana. “Aku sampai enggak mengenali kamu. Ini suamiku, atau demit yang kesurupan siluman buas, kok buas begini ...!”
Arkana terkikik geli menutupi sebagian wajahnya menggunakan tangan kanan.
“Weekend besok ke Jogja?” lanjut Arkana yang kali ini sudah kembali serius.
Lita mengangguk-angguk. “Namun sepertinya hari ini aku enggak bisa pergi kerja. Tubuhku sakit semua ... mau ngomong apalagi teriak, juga jadi enggak bisa.”
Arkana menahan tawanya. Ia merengkuh kepala Lita, membelainya penuh sayang kemudian mendekapnya dan menguncinya dengan ciuman dalam. “Ya sudah, hari ini kamu istirahat total. Hari ini rencananya aku juga enggak pergi.”
Lita buru-buru menengadah, mengeluarkan kepalanya dari dekapan Arkana. “Kamu bilang, seharian ini aku fokus istirahat? Memangnya menurut kamu, istirahat macam apa yang bisa aku lakukan kalau kamu juga ada di dekatku?” omelnya.
__ADS_1
Setelah sempat terdiam kebingungan, Arkana tak hanya tersenyum karena pria itu juga sampai terbahak. “Ibaratnya kita masih masa-masa bulan madu kan, Hon?”
Lita hanya mendengkus, melirik sebal sang suami yang tetap saja tidak mau kalah apalagi rugi.