
“Kalau Om bisa bikin Arkana teler, aku janji bakalan kasih keperawananku ke Om! Dan kita, … kita bisa main sepuas Om! Beronde-ronde tanpa pelindung sampai lusa pun enggak apa-apa asal syarat tadi terpenuhi!” lirih Dinda sembari menatap tegang tuan Yudi yang menatapnya serius. Pria di hadapannya masih mencengkeram erat kedua sisi wajahnya di tengah napas mereka yang masih sama-sama memburu. Mereka bahkan bisa merasakan hangat napas satu sama lain, saking dekatnya jarak tubuh sekaligus wajah mereka.
Dinda berangsur menunduk menghindari tatapan tuan Yudi karena pria itu tampak akan menerkamnya setelah ia menolak percintaan panas yang pria itu minta. Mereka tengah ada di salah satu toilet yang ada di club malam dan tuan Yudi Dinda untuk melakukannya. Namun setelah mendengar persyaratan yang baru saja Dinda ajukan, tuan Yudi juga menjadi terlihat mencurigainya.
“Kenapa harus Arkana? Kau menyukainya? Kau tahu, aku sangat cemburu jika itu benar-benar terjadi!” tuan Yudi marah, tapi ia masih mengatur volume suaranya karena mereka ada di toilet wanita. Sudah kesal karena gadis muda yang ia kencani masih saja menolak hubungan intiim yang ia minta, kini malah sampai ada Arkana sebagai alasannya. Padahal ia sudah siap perang. Tuan Yudi sudah duduk di kloset memangku Dinda dan sebelumnya pun ia sudah bercumbu mesra dengan gadis muda cantik berwajah polos itu. Bra hitam milik Dinda sudah terkapar di dekat kaki kanannya dan itu tadi tuan Yudi yang melakukannya dengan gerakan bringas tak sabar. Penampilan Dinda kali ini, dengan gunung kembar yang menyembul keluar dari v neck gaun merah tipis yang membuat gadis itu terlihat sangat seksi, benar-benar menantang libidonya.
Berdebar kencang jantung Dinda mendapat pertanyaan barusan. Namun ia tersentak dengan gerakan cepat dari kedua tangan tuan Yudi yang sudah melewati pahanya kemudian masuk ke gaun bagian sana, berusaha menarik \*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\*\*\*\*.
“Aku dendam ke Lita, Om! Aku mau balas dia lewat Arkana!” sergahnya lirih tapi sangat tegas.
Tuan Yudi tercengang dan menatap tak mengerti Dinda. Apa yang membuat daun mudanya itu dendam kepada Lita padahal saat mereka bertemu di restoran Lita, semuanya tampak baik-baik saja?
“Om mau tidak? Kalau Om mau, Om juga bisa pakai Lita, lho. Om suka juga, kan, ke dia? Minta saja ke Arkana. Tekan Arkana biar dia mau! Tekan mereka dengan kerja sama Om!” rayu Dinda dan membuat pikiran tuan Yudi langsung berkelana merancang rencana emas.
“Arkana pasti sudah datang karena kata Om, kalian janjian sebelum pukul sembilan malam,” ucap Dinda seiring kedua tangannya yang sibuk meraba leher, turun ke dada, kemudian berakhir di pangkal perut tuan Yudi dan sukses membuat pria itu terangsang. Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir berisi milik Dinda yang kali ini dipoles lipstik merah bata dan menorehkan kesan seksi meski wajahnya masih terlihat di bawah umur. Ia merasa menang karena ulahnya sukses membuat pria gempal di hadapannya merem melek sibuk mendesah. Dinda yakin, pria yang lebih cocok menjadi suaminya itu akan tunduk dan juga mau mengikuti permainannya.
Sementara itu di cermin depan wastafel kamar mandinya, Lita tengah mengaplikasikan gincu merah menyala di bibirnya hingga kesan seksi menegaskan rias wajahnya. Rias wajah sudah beres, dan kecantikannya tak hanya terlihat seksi, tapi juga fresh. Lita menyugar ke belakang rambut panjangnya yang tergerai. Ia mencari gaya rambut yang pas guna menyempurnakan penampilannya.
Kaki jenjang nan mulus milik Lita terlihat sangat menggoda terlebih ketika wanita itu menaikan pengamatannya hingga paha dan pinggulnya. Lita menjadi merasa geli melihat penampilannya sendiri karena memakai lingire super transparan dan untuk pertama kalinya ia lakukan, membuatnya terlihat nakal. Lita sibuk merem melek dan mengintip penampilannya sendiri sambil menahan senyumannya di depan cermin wastafel kamar mandinya. Ia terlalu gugup jika membuat orang lain bahkan Arkana, melihatnya dalam keadaan seperti sekarang. Bikini hitam yang ia pakai menjadi satu-satunya bagian yang menutup tuntas aset super berharganya. Bagi Lita, memakai lingire super transparan hitam layaknya sekarang ibarat kedai makanan yang tetap buka di bulan puasa dan sengaja menutupnya menggunakan tirai. Keadaan yang tetap menggoda sekaligus menggoyahkan iman. Terlebih untuk Arkana yang dari selepas ijab kabul saja sudah menjadi kutcing garong di setiap pemuda itu melihat Lita nganggur.
“Enggak kebayang kalau Arkana lihat, tuh anak matanya pasti langsung lompat!” Lita tertawa geli dan sengaja ia tahan, tapi tangan kanannya yang sampai dihiasi kuteks merah layaknya warna gincu di bibirnya, tak sengaja menyenggol gelas kumur di sebelahnya. Gelas tersebut jatuh dan berakhir remuk di lantai. Kenyataan tersebut juga membuat Lita takut. Lita merasa, itu bertanda kurang baik terlebih jantung dan hatinya sudah langsung dipilin rasa perih. Sakit, dan ia langsung teringat Arkana yang tak kunjung sampai dan juga belum mengabarinya.
“K-kana!” Lita sudah berlari, tapi kembali dan merapikan cepat gelas kumurnya. Telunjuk tangan kanannya langsung terluka, tertusuk pecahan gelas kumur karena ia melakukannya terlalu buru-buru.
Kana, semoga kamu baik-baik saja. Dan semoga firasat ini bukan firasat kurang baik seorang istri untuk suaminya! Doa Lita dalam hatinya.
Setelah membuang pecahan gelas kumur ke tempat sampah kecil yang ada di bawah wastafel, Lita buru-buru masuk ke kamar tanpa memedulikan luka di telunjuk tangan kanannya. Luka itu terus mengeluarlan darah segar dan sampai membuat kinono merah yang Lita ambil dari gantungan lemari terkena. Lita sengaja memakai kimono lengan pendek tersebut karena biar bagaimanapun, di rumah ia tak hanya bersama Arkana. Ada Mahesa, Xin, dan juga seorang ART yang bekerja di rumahnya.
Setelah selesai memakai kimononya, Lita buru-buru mengambil ponselnya dari bantal sebelah Mahesa tertidur pulas. Ia langsung melakukan panggilan video kepada Arkana demi memastikan apa yang tengah suaminya itu lakukan. Lita ingin mengetahui di mana pertemuan kerja sama yang Arkana lakukan, bila perlu malah menjadi bagian di dalamnya. Lita telanjur parno karena boleh dibilang, ia memang memiliki insting yang sangat kuat dan akan menjadi tidak tenang jika belum memastikannya secara langsung.
__ADS_1
Di club malam, Arkana yang sudah duduk menunggu seorang diri di salah satu tempat duduk dengan penerangan temaram, langsung ketar-ketir dengan panggilan video Lita. Arkana hanya memandangi layar ponsel yang dihiasi foto Mahesa karena Lita memang menjadikan foto bocah itu sebagai profilnya.
Satu, dua, dan di panggilan ke tiga, Arkana belum juga menjawab telepon video dari Lita. Arkana merasa sangat bersalah, tapi andai istrinya itu tahu ia melakukannpertemuan di club malam, dan itu berurusan dengan tuan Yudi, pasti Lita akan langsung memarahinya. Wanita itu pasti akan langsung menjelma menjadi singa yang sangat buas dan tak segan menerkamnya.
Si Resek : Aku masih rapat. Bentar lagi aku pulang.
Lita Sayang : Aku mau lihat.
Si Resek : Lihat apa?
Lita Sayang : Kamu di mana?
Lita Sayang : Kamu rapat di mana?
Arkana menahan napasnya. Meski lima terakhir ia sukses mengelabuhi Lita dengan menjadi tunangan misteriusnya, kini ia merasa sangat berat, merasa sangat bersalah jika harus mengulang kebohongannya karena biar bagaimanapun, ia akan bertemu Dinda juga. Lihat saja dari seberang sana, Dinda kembali menjadi selir tuan Yudi. Dinda yang kali ini memakai gaun mini warna merah menyala, terlihat jauh lebih menggoda dari ketika wanita itu mengunjungi restoran Lita. Gaun yang menempel di tubuh ramping Dinda tersebu nyaris hanya menutupi sebagian paha Dinda. Bisa langsung mengamuk Lita andai istrinya itu tahu di sana ada Dinda meski Arkana bersumpah akan selalu menjaga jarak bahkan sekadar melirik pun tidak.
Lita Sayang : Kana, jawab jangan hanya dibaca!
Si Resek : Sebentar lagi aku pulang.
**Lita Sayang** : Jangankan sebentar lagi, sekarang juga aku akan pergi dari rumah jika kamu kucing-kucingan begini!
**Si Resek** : *Sayang, aku beneran enggak bisa terima telepon video. Rapatnya sedang dimulai*.
Dilema. Arkana makin ketar-ketir. Tuan Yudi dan Dinda sudah ada di hadapannya, tapi ia masih duduk menunduk fokus pada layar ponselnya. Sedangkan dari seberangnya, di meja bar, Lucas yang sedang menikmati wine di gelas berukuran sedang berkaki panjangnya, tersenyum puas menatap ke arah Arkana kemudian berganti pada ponselnya. Di layar ponselnya itu dihiasi ruang obrolan WA-nya dengan Lita.
**Lucas** : *Lapor Madam, Bapak Negara terciduk dugem tanpa Madam. Bukti sesuai foto, ya. I love you*!
Lita terduduk lemas dan merosot dari pinggir tempat tidur. Ia berakhir di lantai menatap sakit foto kiriman Lucas. Dalam foto bernuansa temaram tersebut, ia mengenali sosok yang di foto dari samping, merupakan Arkana. Fatalnya, suaminya yang terus berkelak itu malah tengah duduk bersebelahan dengan Dinda! Dinda yang dada dan pahanya tampak berkilau karena tidak tertutup mengingat pakaian wanita itu terlalu minim, duduk di sofa yang sama dengan Arkana dan tuan Yudi. Dinda duduk di tengah tapi jaraknya dengan tuan Yudi maupun Arkana nyaris tak berjarak.
__ADS_1
Jantung Lita berdegup sangat kencang dan langsung pegal melihatnya. Tubuhnya gemetaran hebat, kebas sekaligus panas. Dan baru saja, air matanya lolos menjatuhi layar kaca ponselnya.
Lita Sayang : Aku tahu kamu bohong! Aku enggak mau maksa kamu. Aku juga sudah enggak mau kamu pilih. Aku enggak mau makan uang haraam!
Jantung Arkana langsung berhenti berdetak hanya karena membaca pesan WA terbaru dari Lita tersebut.
“Sudah … kita senang-senang dulu. Kita habiskan satu botol dulu, baru kita lanjut bahas kerja samanya.” Tuan Yudi sampai menyita ponsel Arkana seiring ia yang melirik penuh kode Dinda.
Dinda sendiri langsung menuangkan satu botol wine ke tiga gelas yang ada di sana karena ia juga turut minum, bukan hanya Arkana dan tuan Yudi.
“Tuan Yudi, tolong kembalikan ponsel saya.” Arkana yang sudah merasa sangat risi, beranjak dan berdiri. Ia memutari meja bundar di sana dan memilih duduk di sebelah tuan Yudi.
“Kalau kamu mau, kamu bisa ajak istri kamu ke sini biar kita senang-senang bersama. Ah benar, memang harus begitu biar adil, bukan hanya kita yang bersenang-senang,” ucap tuan Yudi yang terus mengumbar senyuman, seolah ia merupakan orang paling bahagia di muka bumi ini.
Tak beda dengan Lucas yang menyeringai kemudian tersenyum bahagia melihat tampang ngenes Arkana, Dinda yang masih bermain cantik juga mengalami hal sama. Dinda merasa puas karena tuan Yudi mau mengikuti arahannya.
“Sebentar, wah … ini kontak ponsel istri kamu, kan? Sebentar, saya telepon,” ucap tuan Yudi yang tak segan menghubungi Lita melalui telepon video. Kebetulan, layar ponsel Arkana masih dihiasi ruang obrolan WA Arkana dan Lita.
“Tuan Yudi, jangan!” sergah Arkana yang merebut paksa ponselnya dari tuan Yudi. Pria itu langsung terbahak kemudian meraih segelas wine dan meminumnya. Mata bringas pria gempal itu terus mengawasinya dan Arkana paham itu.
“Ajak istrimu,” ucap tuan Yudi sambil mendesah getir sesaat selesai menenggak wine-nya.
Arkana menyimpan asal ponselnya ke saku sisi sebelah kanannya. “Istri saya anti asap rokok lebih-lebih alkohol. Dia wanita bersih dan memang bukan wanita sembarangan!” ucap Arkana yang kemudian mendesah kesal. Jujur, ia sengaja menyindir kedua manusia di hadapannya yang mana kata-katanya barusan juga sukses menampar tuan Yudi terlebih Dinda.
Dinda langsung menunduk dan tanpa wanita muda itu sadari, dirinya membuang pandangan secara sinis sebelum akhirnya tatapannya bertemu dengan tuan Yudi.
“Ayo kita mulai kerja samanya,” ucap Arkana yang kemudian mengeluarkan satu buah map dari tas kerja yang ia simpan di sebelahnya dan masih di sofa ia duduk.
“Kenapa kamu sangat buru-buru?” lanjut tuan Yudi yang kembali menenggak wine-nya.
__ADS_1
Seorang pria sebaya tuan Yudi dan juga merangkul mesra wanita muda sebaya Dinda, datang menjadi bagian dari mereka. Pria tersebut teman baik tuan Yudi, dan berdalih ingin turut terlibat dalam kerja sama mereka. Suasana menjadi heboh karena pria tersebut terus berbicara dengan suara lantang dan tak hentinya tertawa. Arkana paham pria tersebut sudah dalam pengaruh alkohol.