Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
25 : Tega


__ADS_3

Kesunyian masih menyelimuti kebersamaan di tengah rasa dingin yang makin lama makin menusuk. Bahkan meski di sana tak ada mesin pendingin, kenyataan waktu yang sudah dini hari, memang membuat suhu udara makin dingin.


Baik Arkana maupun Lita masih duduk tak bersemangat di bangku tunggu yang ada di depan ruang rawat Lilyn. Keduanya masih terjaga, dan pandangan mereka sama-sama kosong ke depan.


“Aku benci kalau harus duduk begini,” sergah Arkana memecah keheningan. Ia beranjak berdiri dengan kasar, tapi ia gagal dan malah kembali duduk dengan terbanting. “Sssttt!”


“Kana ...?” Lita segera memastikan. Ia agak jongkok dan tak lagi berdiri. Setelah ia amati, suaminya terlihat menahan sakit di kedua kakinya. “Kaki kamu kenapa?” Lita memastikan kaki Arkana.


“Kesemutan ih, sakit banget. Kan aku bilang, aku benci lama-lama duduk di bangku tunggu yang pendek.” Arkana meringis kesakitan dan dipegang kakinya oleh Lita pun malah jadi menjerit karena makin sakit.


“Kana, jangan bikin aku takut.” Lita mulai panik. Baru ia sadari, kaki suaminya memang panjang karena tinggi Arkana saja sekitar seratus delapan puluh senti. Pantas Arkana sangat tersiksa jika harus lama-lama menekuk kaki. Terlebih, mereka sudah di sana hampir empat jam.


Arkana mengulurkan tangan kirinya, sementara tangan kanan berpegangan erat pada bangku besi di sana. “Hon, pegangin dong. Bantu turun.”


Mendengar Arkana yang sampai merengek, Lita memang tidak tega. Namun, kenyataan itu terasa lucu untuknya dan ia tidak bisa untuk tidak tertawa hingga ia buru-buru menahannya.


“Jangan di lantai, di lantai dingin, Kana. Di bangku saja.” Lita menahan kuat-kuat tangan kiri Arkana.


“Sama saja bohong. Pasti cuma sampai lutut yang kena,” sergah Arkana.


Lita menatap bangku tunggu mereka terjaga. Benar, yang ada Arkana akan makin tersiksa andai suaminya itu duduk di sana. “Bentar ...,” ucapnya yang melepas tangan kiri Arkana. Ia buru-buru melepas jas milik Arkana yang memang empat jam lalu pria itu kenakan kepadanya. Lita menggelar jas tersebut untuk alas Arkana duduk.


“Ayo!” lirih Lita yang sudah meraih, menggenggam erat tangan kiri Arkana.


Namun, ulah Lita membuat Arkana kehilangan semangat. “Udah enggak sakit lagi,” ucapnya dingin.


“Hah? Kok bisa?” Lita menatap heran Arkana yang memungut jasnya kemudian memakaikannya kepadanya. Namun jika ia amati, kedua kaki Arkana masih belum baik-baik saja.


“Jangan dilepas, nanti kamu kedinginan,” lirih Arkana. Dalam keadaan tetap duduk, tangan kanannya menarik pelan tangan kiri Lita, menuntunnya untuk duduk di sebelahnya. Ia mendekap istrinya itu sangat erat.


Lita terdiam sedih. Keadaan kini membuatnya merasa sangat bersalah karena biar bagaimana pun, bukan hanya nama baik, tetapi juga harga diri Arkana yang diinjak-injak oleh Lilyn. Belum lagi, Arkana bertekad untuk tetap menghadapinya sendiri tanpa mengabarkannya kepada keluarganya. Memang keputusan Arkana bisa mengamankan hubungan mereka, tetapi kenyataan tersebut juga akan membuat Arkana menahan banyak luka dan itu berupa tudingan sekaligus fitnah kejam.


“Kana, kita pulang saja, yuk? Kirim Xin saja untuk jaga-jaga di sini. Lagi pula, papahku juga masih butuh waktu buat istirahat. Kita belum bisa menemuinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena itu bisa berbahaya untuknya,” lirih Lita di tengah tatapannya yang kosong. Namun perlahan, ia menatap kedua tangan Arkana yang mendekap perutnya. Dan ia juga menyandar pada dada maupun pangkuan Arkana.


Padahal harusnya beberapa jam lagi, mereka menjalani penerbangan ke Lombok untuk bulan madu. Namun ternyata, kejadian tak terduga membuat mereka membatalkannya. Parahnya, sepertinya mereka juga harus melupakannya. Sungguh, Lita merasa sangat sedih. Ia sampai menitikkan air mata kemudian menunduk dalam.


“Kita di sini saja. Sekarang kita tidur,” lirih Arkana tak bersemangat seiring kedua matanya yang terpejam dan ia menyandarkan dagunya pada kepala Lita.


Lita meringis menahan berat bahkan pegal. Karena bukannya romantis, terjebak di posisi sekarang malah membuatnya kesakitan. Kepalanya benar-benar pegal dan ia sengaja menyudahinya. Tangan kirinya meraih, menepuk-nepuk pelan pipi kiri Arkana.


“Kana bangun ....”


“Kenapa?”


“Berat ....”


“Hah?” Arkana segera memastikan dan otomatis membuatnya menyudahi ulahnya. Lita yang sempat meringis menatapnya, memasang wajah tak berdosa. Namun kemudian, istrinya itu juga menyapa bibirnya dengan kecupan mesra, sebelum akhirnya buru-buru merebahkan kepalnya di pangkuannya.

__ADS_1


Arkana mendesah berat. “Hon ... yang di bawah bangun!”


“Ihhh, Kana. Situasi seperti ini, kamu masih saja mesum!”


“Kok mesum, sih? Dia kan tahu kamu istriku!” lirih Arkana berat. Namun, bukannya kembali membalas terlebih menanyakan solusi untuk keadaan kini, Lita malah minggat. Wanita itu menatapnya sebal dari jarak dua meter.


“Kamu yang mulai ... ayo tanggung jawab!” rengek Arkana.


“Tuman, ih!” kesal Lita dan Arkana tertawa miris sambil memegangi pangkal perutnya selaku alasan mereka melakukan tawar-menawar.


“Bentar yuk, ke kamar mandi.” Arkana benar-benar memohon. Wajahnya sudah langsung memelas.


“Bentar versi kamu kan sampai enam ronde!” cibir Lita.


Arkana tertawa pasrah seiring tubuhnya yang merosot terduduk ke lantai. “Hon, please!”


“Bisa-bisanya, enggak paham situasi banget! Tuman memang kalian!” omel Lita masih lirih. Suaminya itu makin sibuk menahan tawa dan sesekali mendesah berat, menahan hasrat yang sengaja belum ia sanggupi.


“Please, ... kamu minta apa, nanti aku kasih.” Arkana masih memohon.


Lita mencebik sebal. “Apaan dikiranya aku anak kecil. Yang butuh kan kamu!” Tak ada lagi duka karena ulah Lilyn. Kini, mereka sungguh hanya tengah diruwetkan oleh hasrat Arkana yang bagi Lita tuman tidak kenal situasi.


Arkana tersenyum pasrah dan menatap wajah Lita terbilang sangat lama.


“Tahan ih, nanti saja kalau sudah di rumah,” pinta Lita. Ia mulai panik, jantungnya berdetak lebih kencang lantaran Arkana yang sempoyongan berangsur bangun.


“Berarti harus dipaksa kalau gini caranya. Dan sekarang, aku enggak mau sebentar. Aku mau lebih, berarti lebih dari enam ronde!” ucap Arkana terdengar mengancam bahkan di telinganya sendiri. Namun, kenyataan Lita yang langsung panik kabur sambil mengomel lirih kepadanya, membuatnya tidak bisa untuk tidak tertawa.


“Arkanaa ....”


“Ya sudah, mau di mobil apa ke hotel saja. Jangan minta aku buat nunggu lebih lama. Lagian kamu yang mulai, kamu wajib tanggung jawab.”


“Tadi kan aku cuma nyium kamu. Nyium suami sendiri apa salahnya?” Lita tetap tidak mau disalahkan, terlepas dari ia yang buru-buru masuk ke lift. Meski kenyataan Arkana yang segera menyusul dan mereka benar-benar berdua, refleks membuatnya menjerit karena panik.


“Mereka sejahat itu!” lirih Lilyn seiring kedua tangannya yang mengepal kencang di sisi tubuh. Demi mengintip kebersamaan Lita dan Arkana, ia sampai keluar dari ruang rawatnya karena kedua sejoli itu tak lagi duduk di bangku tunggu. Arkana sudah masuk ke dalam lift menyusul Lita. Namun baru saja, Lita mendadak keluar dari lift dengan agak lompat sekaligus lari. Dan baru saja, Arkana yang tampangnya mirip orang mabuk, lagi-lagi menyusul Lita. Pemuda itu tak hanya menjadi satelit, tapi juga terlihat jelas selalu ingin menempel kepada Lita.


“Ya Tuhan ... suamiku kesurupan!” lirih Lita. Ia terengah-engah, kewalahan melarikan diri dari Arkana. Dan baru ia sadari, di belakangnya merupakan tembok dan untuk kali ini, ia sungguh tidak bisa kabur lagi dari Arkana yang sudah dikuasai hasrat.


Arkana menahan kedua tangan Lita, mencengkeramnya sangat erat, kemudian mengangkatnya tinggi, menahannya menggunakan tangan kanan tak jauh dari kepala Lita. Sementara tangan kirinya yang bebas, berangsur menahan dagu Lita. Seperti yang Lita anggapkan kepadanya, jika libidonya telanjur naik dan biasanya karena ia melihat Lita berpakaian seksi atau malah wanita itu sampai melakukan sentuhan berlebihan kepadanya, Arkana memang bisa lebih parah dari orang kesurupan.


“Jangan lakukan di sini. Takut dilihat orang, ada CCTV juga. Kita ke hotel, atau pulang saja,” lirih Lita benar-benar memohon. Di hadapannya, raut wajah Arkana yang sudah sangat berbeda dan memang karena dikuasai hasrat, segera menggeleng. Pria itu menyambar bibirnya dengan ciuman yang terlewat buas hingga tubuhnya seolah berulang kali di sengat aliran arus listrik.


“Kana, aku mohon jangan di sini. Kalau gini caranya, mending kita ke mobil. Kita lakukan di mobil!” lirih Lita masih memohon. Wajah Arkana yang sudah basah oleh keringat, masih ada persis di hadapannya. Pemuda itu tengah menjeda ciumannya. Napas Arkana memburu, dan hidung mancungnya masih menempel di hidungnya.


Lilyn tak kuasa melanjutkan pengamatannya terhadap kebersamaan Arkana dan Lita. Tangis yang ia tahan tak hanya membuat air matanya berlinang, tapi juga tubuh agak berisinya yang sampai terguncang pelan. Kedua sejoli itu terlalu mesra, khususnya Arkana yang selalu ingin menempel sekaligus memiliki Lita. Dan baru saja, kedua sejoli itu buru-buru masuk ke dalam lift. Kali ini Arkana yang memimpin langkah, menggandeng tangan kiri Lita sangat erat sedangkan tangan yang bebas merengkuh punggung Lita. Tak ada lagi adegan kejar-kejaran karena Lita yang sibuk melarikan diri dan terlihat sangat panik. Keduanya sungguh pergi dan tentu saja untuk menuntaskan keinginan Arkana yang sampai Lita sebut tuman.


Lilyn memilih pergi, masuk ke dalam ruang rawatnya sambil terseok menenteng botol infusnya tanpa bisa menyudahi air mata dan juga kesedihannya. Sakit.

__ADS_1


***


Pyaaar ...!


“Lyn!”


“Biarkan aku mati, Kak Lian! Biarkan aku mati karena enggak ada satu pun yang peduli kepadaku!” Lilyn histeris.


“K-kamu!” Lian tak bisa berkata-kata. “Cukup Lyn, jangan bikin Kakak tambah pusing!”


“Aku juga enggak mau begini, Kak!” Berderai air mata, Lilyn masih memegang erat gelas yang ujungnya sudah ia pecahkan. Ia siap menggunakan pecahan gelas tersebut untuk mengakhiri hidupnya andai ia tak mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Sekarang mau kamu apa?!” Lian makin emosi. Pria berambut bergelombang pendek rapi itu mengacak asal kepalanya karena merasa frustrasi.


“Aku mau Arkana tanggung jawab atau setidaknya mengakui anak ini!”


“Memangnya itu beneran anak Arkana? Kapan kalian melakukannya karena sejauh ini, Arkana memang selalu jadi satelitnya Lita!” Sergah Lian sengaja memotong ucapan Lilyn.


“Meski dia selalu jadi satelit Lita, bukan berarti dia enggak ada waktu buat yang lain termasuk buat aku!” sergah Lilyn tak mau kalah.


“Ya ampun, Lyn ... kepala Kakak makin pusing. Kepala Kakak berasa pecah. Papah masih di ICU, dan anak kakak juga ikut sakit gara-gara dari kemarin Kakak tinggal. Kamu tolong jangan gini, dong!” Lian yang geregetan kepada Lilyn, nyaris mencengkeram kedua lengan Lilyn.


“Aku mau Arkana mengakui anak ini, Kak! Hanya itu syukur-syukur dia mau menikahiku!” Lilyn makin histeris.


“Kamu masih saja bilang begitu, bikinnya sama siapa, yang tanggung jawab siapa!” lantang Arkana yang baru saja datang bersama Lita.


“Kamu jangan munafik, Arkana! Ini anak kamu!” Lilyn tak mau kalah, sengaja berusaha membuat orang percaya dirinya yang benar.


“Terserah kamu karena aku enggak mau ikutan gila seperti kamu!” sergah Arkana masih bertutur lantang. “Sudah, dilanjutin. Mau mati, kan? Jangan cuma di nadi, itu ke leher apa ke perut biar proses matinya lebih cepet!” lantangnya lagi.


Lilyn langsung kebingungan karena meski niat Arkana hanya menggertak, Arkana juga pasti membutuhkan bukti. Arkana, bahkan semuanya, akan makin tidak percaya kepadanya andai ia tidak jadi menggunakan pecahan gelas di tangan kanannya untuk mengakhiri hidup layaknya rencana awal.


Gemetaran Lilyn mengarahkan pecahan gelasnya ke pergelangan kiri. Ia takut, ... takut luka yang akan ia torehkan makin membuatnya kesakitan. Namun jika ia tidak melakukannya, semua orang akan makin meremehkannya. Ayo tahan, ayo cegah! Batinnya sangat berharap. Namun meski pecahan gelas sudah menempel di pergelangan tangan kirinya, tak ada satu orang pun yang melakukannya. Semuanya kompak diam, kompak menjadi penonton.


“Arkanaaa, aku akan mati bersama anak kita!” tegas Lilyn mengancam.


“Iya, ... semoga dilancarkan,” balas Arkana enteng dan langsung membuat Lilyn kesal.


Tatapan Lilyn teralih kepada Lita. Kakak perempuannya itu selalu mengalah dan paling anti melihatnya terluka. Namun kini, Lita cuek dan tampak tak sabar melihatnya menghabisi dirinya sendiri.


“Tega kamu Kak. Tega kamu bahagia di atas penderitaanku hanya karena Arkana lebih memilihmu!” tegas Lilyn.


Lita memang tak menjawab, tapi wanita itu mengangguk-angguk tanpa menyudahi gandengan tangannya dengan Arkana.


Menghela napas dalam, Lilyn yang makin deg-degan, akhirnya menyayat pergelangan tangan kirinya menggunakan pecahan gelasnya. Ia menjerit kesakitan, menangis meraung-raung, tapi semua orang di hadapannya sungguh hanya menjadi penonton. Sempat yakin itu hanya mimpi, tapi nyatanya itu memang kenyataan.


“Kenapa kalian tidak ada yang menolong aku?!” jerit Lilyn yang kemudian melemparkan pecahan gelasnya ke mata kanan Lita.

__ADS_1


“Lilyn!” lantang Lian refleks.


Lemparan yang melesat cepat itu sungguh sudah ada di pelupuk mata Lita. Lita memang ingin menghindar, tapi tubuhnya benar-benar kaku. Jangankan menghindar, bergerak saja, ia mendadak tak bisa.


__ADS_2