
Lita tidak menjaga jarak terlebih sampai meledak-ledak kepada Arkana. Wanita itu tetap diam dan hanya sesekali bersuara ketika apa yang terjadi khususnya kerja sama yang dijalani, tak sesuai rencana. Boleh dibilang, Lita jauh lebih teliti dari Arkana yang cenderung diam. Mungkin karena sudah kodratnya wanita yang juga merangkap sebagai seorang istri untuk banyak bicara, hingga Lita jauh lebih aktif mengoreksi sekaligus memastikan. Selain itu, tak hanya tuan Yudi yang mengakui Lita cerdas, tapi juga Lucas. Iya, Lucas, pria blasteran yang diam-dian tengah menanti kehancuran hubungan pasangan beda usia di hadapannya. Akankah akan ada *ketuk palu* jika kenyataannya tetap baik-baik saja?
“Terima kasih banyak untuk waktu dan kerja samanya, tuan Yudi.” Lita mengulurkan tangan kanannya, menjabat hormat tuan Yudi. Di sebelahnya, ia dapati Arkana sudah langsung ketar-ketir hanya karena ia tengah menjabat tangan laki-laki lain bahkan tua bangka penyuka daun muda seperti rekan bisnis mereka. Lain halnya dengan Lucas yang masih anteng, tapi Lita yakin, selain sedang berpikir keras, pria itu juga tengah menunggu sesuatu yang dinanti terjadi.
“Maaf jika ada yang masih membuat Anda kurang berkenan,” sergah tuan Yudi sungguh-sungguh.
Lita mengangguk-angguk. “Ada sumber istimewa yang memberi saya info bahwa Tuan Yudi memiliki anak-anak yang mulai beranjak remaja. Jangan sampai hubungan Anda dan Dinda di ketahui mereka karena luka yang mereka rasa, tidak akan bisa mereka lupakan selama-lamanya.”
Tuan Yudi langsung kebingungan. Ia mengernyit khawatir kemudian mengamati sekitar.
“Dunia ini bukan milik Anda atau sekadar dihuni oleh Anda dengan Dinda maupun wanita lain yang tengah Anda cintai, Tuan. Terlalu banyak CCTV untuk orang penting sekelas Anda. Bahkan bisa jadi, wanita yang Anda kencani yang mengabarkannya. Buktinya, meski Dinda cenderung diam dan selalu memasang wajah manis, kenyataannya dia lebih mengharapkan bahkan mungkin terobsesi kepada suami saya ketimbang Anda. Tampaknya Anda juga sampai dimanfaatkan olehnya agar Anda membantunya mengikat suami saya.” Lita masih santai sekalipun ia berbicara panjang lebar. Di hadapannya, tuan Yudi yang tampak kebingungan, berangsur mengakhiri jabatan tangan mereka.
“Tidak ada kebahagiaan tulus yang mampu dibeli terlebih yang berkaitan dengan masa depan sekelas kebahagiaan anak-anak, Tuan. Masa lalu boleh saja tidak baik-baik saja bahkan tidak suci, tapi masa setelahnya masih sangat bisa untuk diperbaiki. Belum terlambat jika Tuan ingin memperbaikinya. Jangan lupa, walau mungkin istri Ada telah membuat Tuan kesal, walau dia telah melakukan kesalahan, paling tidak Anda harus ingat, istri Anda telah menemani Anda dari nol. Dan tentunya, dia tetap setia menjalankan perannya sebagai seorang istri yang jadwal tugasnya tidak akan habis walau istri Anda menghabiskan seumur hidupnya.” Setelah berucap demikian, Lita sengaja pamit, tapi yang dipamiti malah menunduk dan menitikkan air mata.
Bersama Arkana, Lita yang pinggang ke bawah terlilit kemeja putih Arkana langsung mencuri perhatian akibat penampilannya yang menjadi sangat berbeda. Sampai detik ini, Lita masih membiarkan Arkana menggandeng sebelah tangannya sangat erat dan ia pun membalasnya tak kalah erat, membuat ruas jemari tangan mereka mengisi satu sama lain.
Meninggalkan keramaian penuh entakan musik super kencang berhias aroma alkohol dan juga asap rokok yang sudah membuatnya pusing sekaligus mual, Lita justru merasa nelangsa. Ia memandangi punggung Arkana dan juga gandengan tangan mereka.
*Ke depannya, kita akan menua bersama. Semoga, kita terlebih aku, tetap bisa waras agar bisa menjaga hubungan kita terlebih jika sudah ada anak-anak dalam hubungan kita. Karena pada kenyataannya, usiamu bahkan usia kita yang masih terlampau muda, membuat kita cenderung bersikap kurang hati-hati termasuk itu ketika kita mengambil keputusan*, batin Lita merasa nelangsa. Tak terbayang andai ia tidak datang. Bisa jadi, Arkana sudah dijebak habis-habisan dan tentunya tidak ada keputusan lain selain tetap bertahan sekaligus memperbaiki keadaan karena ia tak mungkin makin egois dengan membiarkan Arkana berjuang sendiri.
Kini, Lita baru saja mendekap erat Arkana ketika suaminya itu melakukannya lebih dulu karena di depan pintu masuk penuh oleh pengunjung dan kebanyakan sudah mabuk.
*Mendadak aku merasa, ini terlalu romantis. Apa yang tengah kita lewati terlalu romantis, Kana. Caramu selalu posesif dan berusaha menjadikanku sebagai satu-satunya milikmu, membuatku merasa sangat spesial karena pada kenyataannya, kamu suamiku*, batin Lita.
Yang membuat Arkana kesal, ternyata Lucas masih menjadi satelitnya dan Lita meski mereka sudah memasuki area parkir yang ada di halaman bar.
“Madam enggak mau ketuk palu?” sergah Lucas sengaja mempercepat langkahnya demi segera sampai di depan Lita.
“Ketuk palu kepalamu!” omel Arkana masih saja membawa Lita pergi dari sana.
“Eh Bapak Negara, … jangan lupa, kita sedang di luar jam kerja, jadi status kita sama.”
“Tentu saja tetap beda. Saya suami Lita dan sampai kamu panggil Bapak Negara, kamu pengabdi sesat yang kerjanya menghuni bar!”
Setelah menyimak obrolan kedua pria di hadapannya, Lita memfokuskan tatapannya kepada Lucas. “Sudah malam, lebih baik kamu juga pulang. Besok masih harus kerja, kan?”
“Bilang ke dia, lebih baik dia nikah daripada sibuk urus istri orang!” sinis Arkana.
“Istrimu semangatku! Dari dulu!” sergah Lucas.
Arkana terbelalak dan refleks maju akan menabok mulut Lucas yang selalu tidak tahu aturan dan dengan entengnya menggoda Lita. Sayang, Lita menahannya dan malah mengucapkan terima kasih kepada Lucas.
“Tanpa dia, pasti kamu sudah diperkaos oleh Dinda. Ingat itu. Kerja sama enggak dapat, diperkaos iya!” lirih Lita berusaha memberi Arkana pengertian. Namun kenyataan itu tampaknya membuat seorang Lucas makin besar kepala. Lucas sampai bersiul sambil mengelus tengil susunan kepalanya, kemudian merapikan kemeja biru mudanya yang penuh segel bibir gincu merah dan tentu saja itu bukan milik Lita. Di mata Lita, Lucas sungguh wajib memiliki tanggung jawab lebih agar pria yang kiranya tujuh tahun lebih muda darinya itu memiliki kesibukan abadi.
__ADS_1
“Saranku, capat-cepat menikah agar kamu punya kesibukan dan kamu enggak menghabiskan waktu kamu di tempat hiburan seperti sekarang. Jangan sampai, kamu malah harus menikahi wanita malam, atau malah waria yang belum sepenuhnya matang!” ucap Lita, dan kali ini, Arkana menahan tawanya karenanya.
“Aku masih setia menunggu Madam. ” Lucas masih santai.
Lita menghela napas panjang kemudian menggeleng. “Pikirkan lagi. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari seperti Tuan Yudi. Kami pulang dulu. Sekali lagi, terima kasih banyak.”
Perpisahan itu akhirnya terjadi. Lita membiarkan Arkana membimbingnya masuk mobil Arkana karena tadi ia memang datang menggunakan taksi. Mereka meninggalkan Lucas yang sampai melepas kepergian mereka hingga gapura bar. Pria itu masih santai seolah memang tidak memiliki tanggung jawab khusus, seolah hidup membujang menjadi satu-satunya kenikmatan sekaligus kebebasan tiada batas.
Sepanjang perjalanan, Lita dan Arkana kompak diam, meski setiap usaha Arkana menggenggam tangan Lita, terus Lita tepis.
“Ta …?”
“Kerja dan usaha boleh, tapi jangan tol-lol!”
Arkana langsung diam dan tak lagi menatap sang istri dengan memohon. Malahan, ia merasa bersyukur karena datangnya Lita memang telah melindunginya.
“Andai papah mamah kamu tahu, apalagi oma kamu, mereka pasti enggak sudi dengan proyek ini. Proyek ini bikin harga diri kamu diinjak-injak. Mereka bahkan berencana untuk memakaiku untuk bersenang-senang! Gila saja kamu bisa berurusan dengan mereka!”
Arkana yang hanya diam berangsur menepikan laju mobilnya. Kebetulan, di seberang sana merupakan SPBU yang masih agak ramai pengantri untuk mengisi bahan bakar. Arkana menatap Lita dengan tatapan dalam penuh sesal. Ia menyesali keputusannya telah membuat Lita menjadi bahan gurauan bahkan nyaris menjadi bahan pelecehan tuan Yudi dan tuan Hong. Kini, ia nyaris merengkuh tubuh Lita, tapi istrinya itu langsung berteriak tidak mau disentuh.
“Jangan menyentuhku. Mulai malam ini dan selama satu minggu ke depan, kamu tidak boleh menyentuhku. Itu hukuman untuk kamu!”
Kedua mata Arkana terbelalak, menatap tak percaya pemberi titahnya. “Kenapa kamu enggak sekalian minta aku buat tidur di luar rumah?”
“Enak aja. Kalau seperti itu, yang ada kamu kabur atau malah dibawa kabur!” sinis Lita. Ia masih sebal dengan Arkana yang tega membohonginya. Karenanya, ia sengaja memunggunginya. Melihat pemandangan di luar jauh lebih membuatnya tertarik daripada menatap sang suami sekalipun suaminya itu memang sangat tampan. Buktinya, Dinda saja langsung kesemsem dan melakukan segala cara untuk menuntaskan hasratnya dalam memiliki Arkana meski sampai detik ini, Lita masih berhasil mematahkannya.
“Sayang ….”
“Sayang, *please* ih. Jawab.”
“Seminggu.” Meski akhirnya menjawab, Lita tetap cuek. Ia bahkan tetap memunggungi Arkana.
“Jangan seminggu. Kamu boleh minta yang lain buat menghukum aku,” tawar Arkana yang kemudian menyalakan mesin mobilnya dan kembali melanjutkan kemudinya. “Boleh ditawar, kan?”
“Oh, tidak bisa.”
“Katakan saja syaratnya. Aku pasti penuhi.”
“Enggak ada syarat karena hukuman yang aku berikan sudah sangat tepat. Satu minggu tidur di kamar mandi, dan selama itu aku akan memakai *lingere* super seksi. Memangnya ada hukuman yang lebih keji selain melarang kamu menyentuhku saat aku pakai pakaian seksi?” sinis Lita.
Arkana langsung kicep. “Kita jadi ke Jogja, kan?”
“Nanti aku tanya Lucas, dia bisa enggak!”
__ADS_1
“Ngapain kamu bawa-bawa kodok ijo itu?!”
“Ya karena kamu paling takut kalau aku sama dia. Lagian andai dia diarahkan dengan benar, dia juga bisa jadi laki-laki baik.”
“Dikiranya sinetron hidayah atau malah azab, bisa secepat itu mengubah orang.” Arkana melirik sinis sang istri yang seketika langsung menatap sekaligus menghadapnya dan ia yakini karena wanitanya itu tersinggung oleh kata-katanya.
“Kamu meragukan kemampuanku? Kamu enggak percaya aku bisa mengubah Lucas buat jadi laki-laki baik? Butuh bukti?” tegas Lita menantang.
“Eh, jangan … jangan. Apaan, sih. Enggak … enggak. Sampai mati pun, aku enggak rela kamu sama pria lain apalagi dia.”
“Ya sudah, kamu diem kalau memang enggak mau aku jadi singa betina yang hobi ngamuk!”
“Tapi tolong kurangi hukumannya dong, Ta.” Arkana memohon.
“Kalau kamu enggak mau, ya sudah turun dari mobil!”
“Lho, kok kamu malah minta aku turun dari mobil? Ini kan mobil aku.”
“Oh, jadi gitu. Kamu mulai perhitungan ke aku. Terus, ngapain kamu bilang alasan kamu kerja termasuk kerja sama dengan tua bangkanya Dinda, buat aku dan keluarga kita? Modus banget ya kamu.”
“Eh, Sayang … sumpah demi apa pun, aku enggak tertarik ke Dinda dan semacamnya. Bahkan meski Dinda wanita baik-baik selevel sama kita, aku cintanya cuma sama kamu.” Arkana meledak-ledak, sangat emosional hanya untuk meyakinkan sang istri.
“Pret!” balas Lita yang dengan santainya memunggungi Arkana.
“Pret?” lirih Arkana menirukan jawaban Lita. “Kamu enggak percaya aku beneran hanya cinta ke kamu?!”
“Kana udah ah, ini kepalaku mual dan perutku pusing. Kamu tahu kan, aku anti asap rokok sama aroma alkohol.” Lita menatap tak habis pikir Arkana.
“Kepalamu pusing, perut kamu mual. Itu yang benar,” ucap Arkana sabar dan berusaha merayu Lita. Tangan kirinya berusaha merengkuh kepala Lita, memijatnya penuh sayang, tapi itu hanya bertahan sebentar karena tangan kanan Lita malah memukulnya.
“Kamu juga bau asap rokok sama alkohol. Kuat banget malah aromanya. Tadi kamu sampai ngerokok, ya?” omel Lita, suaminya itu langsung panik.
Arkana menggeleng dan sesekali menatap Lita karena biar bagaimanapun, ia harus fokus pada kemudinya. “Enggak. Aku enggak merokok dan memang enggak bisa. Kalau minum, iya. Aku ngaku karena aku memang bisa. Tapi kalau rokok, aku memang enggak bisa.”
“Iiih!” lirih Lita geram dan memukul penuh tenaga lengan kiri sang suami.
“Ya ampun ….” Arkana langsung kicep dan memilih diam karena ia yakin, sekadar ia bersuara saja membuat Lita makin kesal kepadanya.
Dan hukuman Arkana pun benar-benar dimulai ketika Lita yang sampai keramas malam-malam sungguh memakai lingire super transparan, tapi istrinya itu masih menjadi singa betina yang hobi memarahinya. Padahal dari gelagatnya yang sengaja tebar pesona, Arkana sadar istrinya sengaja menggoda dan berulang kali melempar umpan kepadanya. Kendati demikian, Arkana tetap tidak bisa untuk tidak tergoda. Kedua matanya terus sibuk mengamati penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Saking menggodanya penampilan Lita sekarang, baru melihat kaki Lita yang tak beralas saja, sudah sibuk membuatnya menelan ludah atau malah menahan napas.
“Enggak usah lihat-lihat. Udah kamu mandi terus tidurnya di kamar mandi juga. Wajib lho karena itu hukuman. Bentar, aku ambilin bantal sama guling sekalian tikar biar kamu camping di kamar mandi!” sinis Lita sambil melenggang santai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dan tentu saja sambil tebar pesona agar Arkana makin tergoda.
“Masa iya aku harus merkaos istriku sendiri, Ta!” raung Arkana. Ia hendak menyusul, tapi istrinya itu buru-buru mengunci pintu kamar mandinya dari luar.
__ADS_1
“Jatah kamu tidur di kamar mandi, sampai satu minggu ke depan!” tegas Lita pura-pura galak, padahal di balik pintu, ia sudah susah payah menahan tawanya.
“Ta, tolong didiskon ih, hukumannya. Hukumanmu beneran bikin aku tersiksa. Sini kamu masuk deh biar percaya punyaku jadi tegang terus ...,” mohon Arkana lirih. Pemuda itu pasrah dan benar-benar tak bersemangat. Arkana bersandar lemas pada pintu kamar mandi. Padahal di balik pintu kamar mandi, Lita yang memakai lingire hitam, sampai jingkrak-jingkrak girang.