Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
16 : Persiapan Malam Pertama


__ADS_3

“Apa?” Arkana menatap serius Lita yang tampak sangat bingung sesaat setelah selesai menerima telepon dari pengacara Mahesa.


“Pengacara Mahesa bilang, istrinya ingin mengadopsi Mahesa karena mereka belum juga punya keturunan. Mereka bilang, mereka menyayangi Mahesa—”


“Menyayangi tidak harus mengambil alih Hesa. Sayang ke Hesa apa sayang warisannya?” sinis Arkana yang meraih segelas air putihnya, meminumnya. Kemudian, ia menempelkan gelas yang isinya langsung ia tandaskan itu pada kening Lita yang sampai cukup ia dorong. Istrinya itu refleks terpejam menerima perlakuan kekesalan sekaligus jailnya. “Jangan menanggapi semuanya dengan hati lebih-lebih perasaan. Kadang, kita juga wajib jadi orang jahat biar mereka segan bahkan takut.”


Lita berangsur mengambil gelas Arkana kemudian memegangnya menggunakan kedua tangannya meski di tangan kanannya juga masih ada ponsel. Ia menunduk lemah tapi tangan kanan Arkana yang masih berlumur saus kepiting lada hitam, menuntunnya untuk bersandar pada bahu pemuda itu.


“Hidup kita dikelilingi lingkaran dakjal karena tahta, warisan, dan juga tampang kita,” lanjut Arkana yang kemudian menyuapi Lita. Ia masih makan dengan tangan kosong karena baginya, makan kepiting lada hitam jauh lebih nikmat jika langsung menggunakan kedua tangan.


Lita yang masih menyimak, berangsur membuka mulutnya dan siap melahap suapan dari Arkana. Namun, Arkana mengambil alih suapannya yang sudah menyentuh bibir Lita. Pemuda itu malah melahapnya sendiri. Lita terdiam kesal dan buru-buru menjaga jarak dari Arkana. Terlebih yang makin membuat Lita kesal, Arkana juga sampai tersenyum penuh kemenangan setelah melihat kekesalannya.


“Kamis sampai Minggu, kita bisa jalan-jalan ke Jogja,” ucap Arkana masih cengar-cengir.


“Bodo, ah!” sinis Lita yang memilih sibuk dengan ponsel.


“Kamu mau!” balas Arkana yang sudah langsung kesal dan sengaja memaksa.


“Aku enggak bilang begitu!” Lita masih marah.


“Aku yakin kamu malu. Bahkan alasanmu kesal karena kamu memang mau.” Arkana juga masih dengan keyakinannya dan memang suka memaksa.


“Lita—” tagih Arkana karena istrinya masih mendiamkannya. “Kamu yang minta enggak boleh sibuk sendiri kalau bukan buat yang penting banget. Selera makanku langsung hilang gara-gara kamu sibuk sendiri.”


Nyatanya, level marah Lita tetap bisa awet meski sang suami mengaku kehilangan selera makan. Lita terlanjur kesal meski ia sadar, suaminya memang masih kekanak-kanakan. Terlebih pada kenyataannya, Arkana memang hanya dipaksa untuk secepatnya dewasa karena kenyataan pemuda itu yang memiliki tanggung jawab besar


“Lita—”


“Iya, ih … kamu yah, kalau sudah bawel lebih parah dari nenek-nenek!”


“Sini yang dekat!” Meski masih berucap lirih sekaligus malas, kali ini Arkana sungguh marah. Di hadapannya, Lita masih menjaga jarak dan menatapnya sambil menghela napas dalam.


“Sini, tadi saja kamu lagi nyuapin aku. Cuci tangan, terus makan bareng lagi.” Arkana kembali memaksa dan memang sudah menjadi jurus andalannya. “Hari ini aku pulang malam dan setelah dari sini, kita LDR lagi. WA pun pasti serba singkat.”


Lita merasa tak habis pikir. Kenapa suaminya malah lebih bawel padahal harusnya dirinya yang begitu? Meski masih dongkol dengan sikap Arkana yang nyatanya sibuk bercanda berlebihan kepadanya, Lita berangsur menarik kursinya, kemudian merapatkannya ke kursi Arkana. Mereka kembali duduk bersebelahan dan Arkana langsung menempel kepadanya.


“Kalau pengacara Hesa macam-macam, kamu langsung hubungi pengacara keluargaku.” Kali ini Arkana kembali berusaha menyuapi Lita, tapi istrinya itu menolak. “Aku mau nyuapin kamu.”

__ADS_1


“Enggak usah, aku mau makan sendiri saja.” Lita melahap makanan di piringnya dengan nikmat.


“Dosa lho kamu menolak perhatian suami. Ini ibarat bagian dari nafkah batin!” omel Arkana, tapi Lita justru menertawakannya.


“Apaan sih, Kana. Sampai bawa-bawa nafkah batin. Enggak jelas banget kamu ya!”


“A—” Arkana masih sibuk berusaha.


Lita mendengkus pasrah dan perlahan mencoba menurut. Ia membuka mulutnya, siap menerima suapan dari Arkana. Meski di suapan kali ini, suaminya itu juga kembali mempermainkannya.


“Kamu jail terus, nanti aku minta Lucas buat suapin aku beneran, lho!” ancam Lita kesal.


Arkana langsung tersedak dan terbatuk-batuk hanya karena mendengar nama *play boy* cap kodok ijo itu disebut. Padahal awalnya Arkana tengah melahap dan sangat menikmati makanan di dalam mulutnya, selain Arkana yang juga menikmati kejailannya telah sukses membuat Lita marah. Namun, suasana hati dan selera makannya langsung memburuk hanya gara-gara nama Lucas disebut dan itu oleh Lita.


“Kamu bahas-bahas dia.”


“Ya makanya kamu harus tahu kondisi!” omel Lita yang berangsur mengurus Arkana. Ia membantu pemuda itu minum, kemudian menyuapinya layaknya ketika ia mengurus Mahesa. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Arkana langsung anteng dan cenderung menurut meski pemuda itu terlihat *ngambek*.


“Kamu tahu kan, aku sayang banget ke kamu?” ucap Arkana lirih yang kemudian menatap Lita. Istrinya itu menatapnya dengan agak canggung, tapi perlahan tatapannya berubah menjadi tatapan yang sangat dalam.


“Iya,” ucap Lita. Ia masih ingat ketika Arkana dengan cepat mengambil sikap setelah Lilyn mengusir mereka dan membuat orang tua Lita serba salah dalam memilih.


Lita masih ingat, kemarin malam Arkana berkata, “Kamu sama Hesa tanggung jawabku. Jadi apa pun yang terjadi, kalian tetap sama aku dan aku jamin kalian tetap akan bahagia meski ada sedikit susahnya.”


Mengingat itu, Lita menjadi terenyuh. Matanya terasa panas dan perlahan basah. Membuat pandangannya pada Arkana menjadi buram. “Tetap begitu, … tolong jangan pernah lelah mencintaiku. Juga–”


Arkana masih terpaku menatap Lita khususnya kedua matanya. Ia sampai lupa di dalam mulutnya masih ada makanan yang harus dikunyah.


“Aku hanya meminta kesetiaan kamu. Karena jika memang kamu sudah enggak mencintaiku, kamu cukup mengatakannya. Aku janji, aku enggak akan menghalangi kamu mendapatkan kebahagiaan dari wanita lain asal kamu melepasku lebih dulu.” Air mata Lita jatuh membasahi pipi, sementara bibirnya menjadi terkunci rapat seiring ia yang menunduk.


Bergegas Arkana mengunyah makanan dalam mulutnya kemudian menelannya buru-buru karena di detik berikutnya, bibirnya langsung menyambar bibir Lita.


*Membayangkan perpisahan, kok rasanya sesedih ini, ya? Hubunganku dan keluargaku sudah enggak baik. Dan andai aku kehilangan Arkana, rasanya kok berat dan sesakit ini*? Batin Lita. Ia membalas ciuman Arkana seiring kedua tangannya yang mendekap tengkuk Arkana. Lita melakukan semuanya dengan hati-hati tanpa membuat jemarinya mengenai Arkana, terlebih pakaian Arkana karena kali ini, suaminya itu memakai kemeja lengan panjang warna putih. Warna yang ia ketahu menjadi warna kesukaan Arkana.


“Enggak akan. Malahan aku yang takut kamu berpaling dariku, gara-gara aku bukan om-om!” ucap Arkana setelah ciuman mereka usai. Wajahnya masih ada tepat di depan wajah Lita. Hidung mereka saja sampai menempel.


“Enggak, ih!” kesal Lita sambil menepis tatapan Arkana. “Aku kan setia dan tanggung jawab ke hubunganku. Tapi tolong, kamu jangan jail kebangetan!” kali ini ia mengomel. Di hadapannya, Arkana langsung tertawa kecil kemudian mencium gemas sebelah pipinya.

__ADS_1


Lita kembali mengeratkan dekapannya terhadap tengkuk Arkana, ia merasa sangat bahagia, ketakutan sekaligus luka sebelumnya sempat padam. Meski kehadiran Dara yang sangat tiba-tiba membuat mereka kebingungan.


“Oo ….” Dara terbengong-bengong kebingungan. Ia bahkan jauh lebih bingung dari kedua sejoli yang ia pergoki sedang bermesraan dan terlihat sangat menggemaskan. Ia yang awalnya canggung menjadi tersenyum lepas.


“Itu Mommy di dalam ada Aunty Lita sama Uncle Kana—” Baru saja dan terdengar sangat lembut sekaligus tertata merupakan suara Fean.


*Mampuss*! Baik Lita maupun Arkana kompak mengumpat dalam hati. Hati-hati mereka memisahkan diri dan bersikap sebiasa mungkin pada pasangan di hadapannya. Nyatanya, memilih restoran Fean sebagai tempat mereka makan terbilang kurang aman. Karena faktor kekerabatan, Fean dan keluarga kecilnya bisa saja hadir secara tiba-tiba layaknya sekarang. Tak mungkin juga mereka marah terlebih Fean sekeluarga malah menyambut salah tingkah mereka dengan senyum tak berdosa.


“Sudah enggak usah bingung apalagi malu. Sudah nikah juga, ngapain masih canggung? Andaipun kalian belum nikah, langsung aku nikahin!” tegur Fean yang kemudian juga berkata, “Malahan kami curiga kalau kalian sampai jarak berarti ada yang enggak beres.” Bersama Dara sang istri, ia menertawakan pengantin baru di hadapan mereka.


Fean menenangkan sang putra yang tengah ia gendong sambil ia timang, kemudian pergi dari sana untuk mencari Mahesa yang sedang main di luar bersama Xin.


“Kalian lagi santai? Jam segini ada di sini padahal kalian juga ada restoran sendiri?” tanya Dara yang kemudian menarik kursi di hadapan mereka.


Arkana dan Lita langsung memberikan alasan meski Lita sempat keceplosan perihal Arkana yang tidak menyukai Lucas.


Malam harinya, Arkana menepikan laju mobilnya di depan sebuah bar. Ia mematikan mesin mobilnya dengan perasaan berat dan memang tidak bersemangat. Demi mendapat kunci emas membangun hotel di Singapura, ia harus mengikuti semua jadwal yang diatur oleh tuan Yudi. Termasuk itu tempat pertemuan mereka yang sampai di bar dan sebelumnya belum pernah lakukan.


Sebuah pesan WA di ponselnya membuat Arkana yang awalnya mengamati suasana luar dan penuh lalu lalang pengunjung, menjadi terusik. Ternyata dari Lita dan itu langsung membuatnya penasaran sekaligus tidak sabar untuk memastikannya.


Lita Sayang : Kana, mens aku ternyata sudah beres, lho. Aku sampai kaget tadi.


Arkana langsung memelotot tak percaya seiring senyumnya yang langsung mengembang. Saking tidak percayanya, ia sampai mengucek kedua matanya menggunakan jemari tangan kiri yang tidak memegang ponsel. Dan karena pesan di ponselnya masih dihiasi pesan sama, ia mencoba mematahkannya dengan mencubit pipi kirinya. Sakit, dan pesan tersebut sungguh nyata!


“*Yes*!” pekik Arkana kegirangan. Ia sampai nyaris guling-guling di tempat duduknya. Mendadak ia ingat, ia belum mengganti kontak nama nomor ponsel Lita di ponselnya. Segera ia menggantinya, hingga kontak yang menjadi berubah nama tersebut kembali mengiriminya pesan.


Istriku Sayang : Kana, kamu pulangnya masih lama? Sudah mau pukul sembilan malam ini. Enggak boleh pulang lewat pukul sebelas, ya. Awas kamu, aku pasung kalau berani pulang malam-malam.


Membaca itu, Arkana menatap penuh cinta layar ponselnya seolah ia tengah menatap wajah Lita secara langsung.


“Adem banget rasanya. Ya sudahlah, ayo semangat. Semangat cari dolar buat masa depan cemerlang! Sudah dapat kabar baik juga dari istri!” batin Arkana yang menjadi senyum-senyum sendiri. Ia berangsur mengetik pesan balasan untuk Lita.


Di rumah, Lita tengah sibuk memilih koleksi lingirenya yang hampir menyita sebagian salah satu koper di kamarnya. Ada berbagai warna meski dominan warna hitam, merah *maroon*, merah permen, dan juga biru tua.


“Aku pakai yang mana, ya?” lirih Lita yang kemudian refleks menoleh ke tempat tidurnya. Tak seperti biasa, Mahesa juga sampai tidur lebih awal, seolah bocah itu tahu orang tuanya akan menjalani *malam pertama* yang tertunda. Memikirkan itu, Lita refleks tersenyum. Ponsel di di hadapannya dan itu di dalam koper, baru saha berdering dan layarnya menyala. Itu balasan dari Arkana, selain layar ponselnya yang memang masih dihiasi obrolan pesan WA mereka.


Si Resek : Harusnya enggak sampai pukul sepuluh aku sudah pulang. Sebentar lagi kamu pasti pulang. Kamu mau dibeliin apa? Kita perlu beli apa enggak sih karena biar bagaimana pun, malam ini akan menjadi malam pertama kita?

__ADS_1


Tak beda dengan Arkana, Lita juga langsung kegirangan. Kedua kakinya menjadi tidak mau diam selain ia yang menjadi sibuk menahan teriakan sekaligus tawanya. Padahal di bar, sudah ada Dinda yang mengawasi Arkana meski wanita muda itu duduk di sebelah tuan Yudi. Terlepas dari itu, Lita juga tidak tahu jika Arkana tengah menjalani pertemuan dengan tuan Yudi dan acaranya di sebuah bar.


__ADS_2