Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
14 : Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua mata sendu Lita yang menjadi menatapnya dengan gugup, Arkana mengipratkan jasnya kemudian menutupkannya pada kepala Lita. Kemudian, dalam gerakan cepat tapi elegan, ia merapatkan jarak tubuh dan juga wajah mereka. Dalam hitungan detik ia berhasil mengunci bibir Lita dengan ciuman mesra. Tentu saja Lita tidak membalas karena yang ada, wanita itu malah bengong. Karenanya, Arkana menyudahi ciumannya kemudian menatap wajah Lita.


“Jangan marah-marah. Enggak marah saja hobi kamu motong jatah aku, apalagi kalau kamu marah? Andaipun kamu nyuruh aku tidur di luar, kalau aku diculik wanita lain, bagaimana?” lirih Arkana yang bertutur tepat di atas wajah Lita yang memang tetap tidak lebih tinggi darinya meski istrinya itu memakai heels tinggi nan runcing yang bila melayang di kepalanya bisa membuat kepalanya bolong.


Lita mengerutkan bibirnya, baru kali ini ia bermanja kepada Arkana.


“Aku sayang banget ke kamu. Aku ingin, kita seperti pasangan langgeng lainnya meski langgeng versi kita akan dihiasi banyak tragedi perang semacam piring terbang. Aku mau kita jadi keluarga bahagia bagaimanapun keadaan kita. Kalaupun kamu mau cari yang lebih baik dari aku, bisa aku pastikan enggak ada yang lebih baik dari aku buat kamu. Kalaupun kamu ngarep punya suami om-om seperti om Fean, orang baik seperti om Fean yang good looking, tapi setia sudah punah, Ta. Paling banter ya semacam tuan Yudi. Mapan tapi suka jajan.” Arkana masih bertutur lirih, berusaha mengobrol dari hati ke hati dengan Lita.


“Tumben manis?” lirih Lita masih melirik Arkana sarat rasa curiga. Padahal, diperlakukan seperti sekarang oleh Arkana sudah sangat membuatnya deg-degan.


“Aku kan memang selalu manis ke kamu. Kamu saja yang nyadarnya selalu telat, makanya pasang alarm biar terbiasa. Taruh nama aku di hati kamu buat jadi alarm. Kamu bahkan lupa aku nyaris mati gara-gara mengikuti travelingmu ke Yogyakarta!”


Mendengar itu, Lita refleks menelan ludahnya. “Pas itu pun aku yang rawat kamu, jadi kamu juga jangan lupa, bahwa bagaimanapun keadaan kamu aku tetap peduli kepadamu. Jadi, seandainya kamu masih berani oleng dari aku apalagi sampai memilih si lembut lulusan bookingan sebagai sampingan, … MATI KAMU!”


Arkana menahan tawanya. “Kamu beneran cemburu ke Dinda apa siapa tadi?”


“Tolong yah, Kana, … ini beneran enggak lucu! Bahkan kamu tahu, alasanku selalu membuat sengsara kemudian mati tragis karakter pelakor di tulisanku karena aku benci banget ke pelakor?”


“Ta, … seleraku tinggi, kamu. Kamu setinggi ini dan enggak sembarang laki-laki bisa deketin kamu. Bahkan alasanku sampai melamarmu secara misterius karena aku yakin, andai aku jujur, kamu pasti akan langsung menolakku!” Kendati demikian, di matanya, Lita masih belum bisa percaya kepadanya.


“Aku enggak mungkin membatalkan kerja samaku dengan tuan Yudi karena melalui dia, aku akan membangun cabang Luxury Hotel di Singapura. Tolong dengar aku, … sekalipun bisnis selalu jadi prioritas, kami tetap segalanya karena alasanku bekerja keras begini juga buat kamu. Buat kita. Oke?”


Lita mengangguk-angguk menurut.


“Thank you!” Arkana tersenyum manis. Ia kembali mengerucutkan bibirnya, bermaksud agat Lita memberinya ciuman. Seperti yang ia harapkan, istrinya itu langsung menghadiahinya kecupan walau Lita melakukannya dengan kutang ikhlas sekaligus malu-malu. “Manis banget. Kemajuan banget. Mensnya sudah beres, kan?”

__ADS_1


Lita langsung menghela napas dalam. “Baru juga kemarin, mustahil mendadak beres.”


“Ya siapa tahu keajaiban, Tuhan sengaja bikin buat hadiah pengantin baru.” Arkana berangsur mendekap mesra pinggul Lita.


Lita langsung tersipu dan berangsur mendekap pinggang Arkana. Pantes Dara sampai enggak doyan makan dan berat badannya pun menyusut drastis, … ternya rasanya senano-nano ini, khawatir suami diambil wanita lain, batinnya.


“Kita mau bulan madu ke mana? Ke yang dekat saja dulu karena aku masih ada proyek.” Arkana masih bertutur lirih. Berusaha romantis.


Dalam dekapan Arkana, Lita yang sampai membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami langsung tersipu.


“Harusnya dua hari lagi mensnya, beres, kan?” lanjut Arkana.


“Harusnya, … kalau enggak diperpanjang.”


Arkana langsung sewot hanya karena balasan Lita barusan. Ia sampai merenggangkan dekapannya untuk bisa menatap kedua mata Lita. “Itu mens, bukan kontraktor yang seenaknya memperpanjang waktu tayang, Ta!”


Arkana langsung merenung serius. “Nginepnya di penginapan dulu juga?”


Lita langsung sibuk mengangguk bersama senyumnya yang membuatnya terlihat makin ceria. Namun, Arkana memberikan ekspresi bertolak belakang.


“Kana?”


“Penginapannya ganti, ya? Hotel bintang saja?” tawar Arkana.


“Yang dulu saja, di sana kan sweet, banyak kenanga kita juga.”

__ADS_1


“Punggungku remek kalau harus tidur du kasur sekeras itu.” Arkana masih sibuk menawar.


“Urusan itu gampang. Kita bisa request khusus, atau kalau enggak, aku bisa … aku bisa pijatin kamu!” Lita pun masih sibuk menawar.


Senyum cerah terbit di wajah Arkana. “Akhirnya yang aku tunggu keluar juga. Pijitin, jangan lupa itu wajib kamu lakukan kepadaku!” Arkana tersenyum manis, membingkai gemas wajah Lita menggunakan kedua tangannya.


Lita yang untuk pertama kalinya menjadi tersipu gara-gara Arkana berkata, “Pijitnya pakai pisau?”


Meski jengkel, Arkana tetap tersenyum. “Ya enggak apa-apa. Pakai beling apa malah gergaji, bebas asal kamu yang lakuin!”


Lita menertawakan balasan pasrah Arkana. Tawa kecil yang membuat Arkana malah menatapnya dengan senyuman ingin memiliki. Lita yang merasa nyaman sekaligus mulai menerima Arkana sebagai suaminya, berangsur berjinjit. Kedua tanyannya membingkai wajah Arkana disusul ia yang mengunci bibir berisi milik suaminya dengan ciuman penuh hasrat dan sampai membuat Arkana mendekapnya sangat erat seolah pria itu tak akan pernah melepaskannya.


Lucas yang membawa nampan berisi dua gelas lemon tea dan asal masuk ruang kerja Lita, langsung syok karena melihat kebersamaan Lita dan Arkana yang malah sangat romantis bahkan bergairah. Ia menepis pemandangan di hadapannya dan memilih mundur sesaat setelah Arkana sampai membopong Lita kemudian merebahkannya pada sofa panjang yang ada di sebelah keduanya.


Bukankah tadi mereka terlihat seperti sedang bertengkar? Kenapa mendadak selengket itu? pikir Lucas yang sampai kembali ke dapur dan membuat pekerja di sana menatapnya heran. Kenapa lemon tea yang awalnya Lucas bawa dengan sangat bersemangat bahkan pria blasteran itu sampai sibuk bersiul, kembali dengan keadaan tetap penuh dan seolah sama sekali belum disentuh?


“Akhirnya aku akan bulan madu!” lirih Arkana benar-benar kegirangan.


Lita hanya menggeleng tak habis pikir tanpa mau menatap sang suami secara terang-terangan. Sebab melihat Arkana yang segirang sekaligus ceria sekarang, membuat pemuda itu tak hanya menggemaskan. Karena Arkana juga menjadi mirip bayi.


Novel Azura - Danian - Fean (Orang tua Arkana ) : Sekretarisku, Istriku.


Novel Dara - Fean, dan juga awal mula hubungan Arkana dan Lita : Istri Bar-Barku.


Novel Lilyn : Menikah Kontrak Dengan HOT DUDA

__ADS_1


(Info ada di instagramku)


__ADS_2