
Arkana mengemudikan mobilnya sendiri. Lita duduk di sebelahnya, dan sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, meski kedua tangan Lita sibuk mencengkeram ujung blazer hitam yang dikenakan.
Di mata Arkana, Lita tipikal yang sangat pandai menyimpan perasaan. Wanita itu sangat pandai menyimpan luka sekaligus kekacauan, tapi sekali tak bisa menahan, Lita bisa langsung sangat emosional atau malah pingsan layaknya beberapa saat lalu.
“Hon, ....” Arkana memanggil Lita dengan sangat lembut. Ia menoleh, menatap Lita penuh kasih. Wanitanya itu menatapnya dengan mata bergetar layaknya kedua tangan yang masih sibuk mencengkeram ujung blazer. Terlalu banyak kekhawatiran bahkan ketakutan dari kenyataan Lita yang sekarang meski wanita itu masih berusaha untuk tenang.
“Papah pasti baik-baik saja,” lanjut Arkana masih lirih.
Suara lirih Arkana seketika menyelinap, merengkuh hati Lita yang memang sedang tidak baik-baik saja. Hati Lita menjadi terenyuh, dan kali ini, wanita itu membiarkan air matanya berlinang membasahi pipi.
“Percaya padaku, papah baik-baik saja. Aku ada buat kamu. Kamu punya aku. Kamu bisa ngandelin aku. Aku sudah suruh orang buat cek keadaan papah, dan andai perawatan di sana kurang, kita bawa ke Singapura,” lirih Arkana. Tangan kirinya sudah menggenggam kedua tangan Lita yang masih berada di pangkuan wanita itu.
“Semalam papah WA, ... Papah bilang, papah kangen aku. Papah bilang, ... papah bangga punya anak seperti aku.” Lita tersedu-sedu mengatakannya. Membahas sang papah sungguh membuatnya gagal menjadi wanita kuat.
“Bukan hanya papah, aku bahkan semua yang kenal kamu, ... kami sangat bangga punya kamu!” sergah Arkana meyakinkan.
Berbeda dari biasanya, bahkan ketika mereka sedang di titik teromantis sekalipun, kali ini Arkana benar-benar lembut. Bertutur pun seolah benar-benar dari hati. Lita sampai hanyut, terbuai dengan perlakuan manis suaminya. Ia mendekap lengan kiri Arkana, kemudian menyandarkan kepala maupun wajahnya pada bahu suaminya itu.
Sebelumnya aku selalu bertanya dalam hatiku, romantis itu seperti apa? Apakah itu kejutan dengan semua yang serba mewah dan membuat dunia menyaksikannya? Atau, perlakuan manis semacam ciuman manis yang membuat semua mata iri melihatnya? Aku memang sempat berpikir seperti itu, tapi pernikahanku dan Arkana membuatku menemukan makna romantis lainnya. Sebab, pasangan yang selalu siaga di saat kita berada di titik nadir, ... itu sungguh keromantisan yang hakiki seperti yang tengah aku dapatkan dari Arkana di pernikahan kami, batin Lita.
“Kamu harus yakin, papah baik-baik saja. Papah sudah menjalani pengobatan terbaik,” lirih Arkana meyakinkan, masih berucap lirih sementara tangan kirinya, mengelus penuh sayang kedua tangan Lita yang ia genggam.
“Aku takut, Kana. Aku beneran takut banget karena sebelumnya, papah belum pernah begini. Papah enggak ada riwayat jantung. Sementara semalam, papah mendadak WA dan kami sampai ngobrol lewat telepon cukup lama. Dan aku ... aku takut itu firasat,” lirih Lita masih terisak pilu.
Jujur, Arkana juga menaruh kekhawatiran tersendiri terhadap keadaan papahnya Lita. Sebab tadi, dalam mengabarinya, mamahnya Lita sampai membentaknya, seolah wanita itu sangat marah kepadanya. Namun, Arkana sengaja tidak mengabarkannya kepada Lita. Ia tak mau membuat Lita semakin terbebani.
Setelah melakukan segala sesuatunya dengan buru-buru dan suasana pun sudah makin gelap, akhirnya mereka sampai di depan ruang ICU khusus pasien jantung keberadaan papah Lita dirawat seperti yang mereka ketahu dari informasi yang nyonya Ashanty berikan kepada mereka. Di depan sana, nyonya Ashanty selaku mamah Lita, tak terjaga seorang diri. Ia ditemani Lian kakak Lita.
“Mah, Kak ... papah gimana? Sudah ada kemajuan apa belum? Apa kita bawa ke Singapura saja?” sergah Lita yang kembali menitikkan air mata.
Lian dan nyonya Ashanty tak langsung menjawab dan malah menjadikan Arkana sebagai pusat perhatian. Keduanya menatap Arkana dengan tatapan sulit diartikan cenderung karena tidak nyaman. Kenyataan yang jujur saja makin membuat kecurigaan Arkana makin menajam.
__ADS_1
“Mah ...?” lirih Lita yang juga merasa ada yang tidak beres dengan cara kakak dan mamahnya menatap Arkana. Ketika memastikan Arkana, suaminya itu juga seolah menyadari tengah dihakimi.
“Enggak apa-apa, Mah. Katakan saja.” Arkana menyikapi nyonya Ashanty dengan sangat tenang.
Plaaak!
Tamparan panas dari tangan kanan nyonya Ashanty, menghantam pipi kiri Arkana yang seketika terempas ke arah tamparan. Arkana terdiam membisu membiarkan semua itu terjadi. Malahan, Lita yang tak terima dan meminta penjelasan kepada mamahnya.
“Ta, diem!” tegas Lian menatap sang adik penuh peringatan.
“Apaan sih? Ya sudah, sekarang jelasin, ini sebenarnya ada apa?” tolak Lita.
Fokus tatapan Arkana masih tertuju pada wajah Lian maupun nyonya Ashanty, silih berganti. Di hadapannya, mamah mertuanya itu tampak sangat ingin mencekiknya hidup-hidup detik itu juga.
“Bagaimana mungkin kamu menikahi Lita, sedangkan Lilyn saja sedang hamil anak kamu, ARKANA! Suami saya jantungan gara-gara ulah kamu!” nyonya Ashanty meraung-raung, nyaris mencakar wajah Arkana andai Lita tidak menyeret Arkana dari hadapannya.
“Aku enggak percaya, Mah! Aku enggak percaya ini, DAN AKU ENGGAK TERIMA!” tegas Lita.
“Mana Lilyn? Biarkan dia menjelaskan semuanya!” tegas Lita.
“Lilyn beneran hamil, dan tadi kami sudah sampai USG!” tegas Lian.
“Namun bukan berarti itu anak suami aku, Kak Lian!” sergah Lita makin tidak terima.
“Lilyn ngaku itu anak suamimu!” Lian tak mau kalah.
“HALU! Kita sama-sama tahu Lilyn sangat terobsesi kepada suamiku, tapi selama itu, dia tetap jalan sama pacar-pacarnya!” Lita masih melawan.
Lian tidak bisa berkata-kata saking kesalnya, selain ia yang tak mungkin menampar Lita karena biar bagaimanapun Lita adiknya. Karenanya, ia menyingkirkan tangan kanan Arkana yang sempat menahannya ketika ia nyaris menampar Lita.
“Jangan lupa, Lilyn adik kamu. Dia korban, korban bajiingan ini!” tegas Lian sambil menatap Arkana dengan tatapan jijjik.
__ADS_1
Lita menggeleng tegas. “Aku tetap enggak percaya terlebih aku tahu bagaimana Lilyn kepada suamiku, Kak. Buktinya, kemarin dia sampai mengusir kami!” Lita mendekap erat lengan kiri Arkana menggunakan kedua tangannya. Sungguh luar biasa cobaan hubungan sekaligus rumah tangga mereka. Belum genap satu minggu mereka menikah, tapi cobaan yang mendera benar-benar dahsyat.
“Kalau kamu tahu adik kamu, harusnya kamu juga bisa memahami alasan Lilyn sampai mengusir kalian karena Lilyn sangat kecewa kepada Arkana, Ta!” tegas nyonya Ashanty menatap marah Lita.
Lita mengangguk-angguk. “Oke, ... oke, Mah. Kita buktikan saja. Kita buktikan, siapa yang benar. Andai suamiku terbukti, aku akan terima semua risikonya meski aku yakin berjuta persen, itu bukan anak suamiku. Namun andai Lilyn juga sampai terbukti bohong, ... aku mau kasus ini sampai ke meja polisi karena ini bukan satu dua kali Lilyn rusuh ke hubunganku dan suamiku. Biar ada efek jera dan biar dia bisa jauh lebih menghargai!” Lita mengakhiri ucapannya dengan mengembuskan napas dalam karena apa yang terjadi benar-benar membuatnya emosional. Darahnya serasa dididihkan sedangkan jantungnya terus berdegup kencang. Tak habis pikir mereka akan ada di situasi layaknya kini. Paling tak habis pikir lagi, Lilyn berani merusak hubungan baik keluarga mereka dan keluarga Arkana. Karena bisa Lita pastikan, andai keluarga Arkana tahu, mereka pasti tidak terima.
Atau jangan-jangan, Lilyn sengaja menghancurkan hubungan kami dengan keluarga Arkana agar keluarga Arkana juga membenciku? Pikir Lita yang kemudian mendekap tubuh Arkana di tengah tatapannya yang kosong.
Lian yang kesal, menghampiri Lita. Ia menatap Lita dengan tatapan sangat tajam penuh kemarahan. Saat itu juga tangan Arkana merengkuh kepala Lita kemudian melipir pelan, menghindari Lian.
“Cinta boleh, tapi jangan goblokk! Jangan mentang-mentang kamu cinta banget dan kalian baru nikah, kamu takut jadi janda demi keadilan untuk adik kamu!” tegas Lian.
“Kita buktikan saja, Kak Lian. Enggak usah pakai emosi. Buktikan, ... aku enggak akan lari dari tanggung jawab, kok. Herannya, bagaimana bisa aku membuat Lilyn hamil jika sekadar meliriknya saja, aku enggak pernah dan memang karena ENGGAK SUDI?” Arkana angkat suara, tak terima jika sang istri terus diolok-olok oleh keluarganya.
Kini, tatapan Lian tertuju kepada Arkana. Sosok yang sudah langsung ia benci semenjak Lilyn menangis-nangis minta ampun karena terbukti hamil di luar pernikahan sementara penyebab adiknya itu hamil malah laki-laki yang belum lama ini menikahi Lita.
“Aku ingin mengurus ini secepatnya, jadi kalian enggak usah khawatir. Lebih cepat lebih baik,” lanjut Arkana masih tenang dan kali ini menggunakan kedua tangannya untuk mendekap Lita, meski tatapannya masih fokus pada Lian maupun nyonya Ashanty.
Baik Lita terlebih Arkana sebagai terdakwa, sadar, keadaan mereka benar-benar pelik. Rumah tangga dan hubungan baik keluarga mereka terancam. Kedua hal berharga dalam hidup mereka benar-benar terancam akibat keadaan sekarang. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba mereka sudah langsung disambar petir sebelum akhirnya mendadak diterjang badai. Kendati demikian, mereka yakin bisa bertahan. Mereka yakin masih bisa bersama-sama menjalani bahtera rumah tangga yang baru saja mereka bina.
“Panggil orang tua kamu sekarang juga. Kita selesaikan ini sekarang juga,” tuntut Lian.
“Kakak yakin itu akan menjadi keputusan terbaik, bukan malah bikin kita makin malu?” sergah Lita. Ia menatap sang kakak penuh kepastian. Kedua mata Lian sempat bergetar dan tampak ada keraguan, tapi kenyataan tersebut hanya bertahan sementara karena Lian langsung menatapnya penuh kemarahan.
Lita menghela napas sangat dalam, mengisi sebanyak penuh stok udara dalam tubuhnya yang memang langsung terkuras akibat kehamilan Lilyn, dan menjadikan Arkana suaminya, sebagai terdakwanya. “Baiklah.” Ia mengangguk-angguk pasrah karena memang tidak ada keputusan lain, daripada masalah malah makin berlarut-larut.
Meski tak tega, dan benar-benar merasa berat, Lita yang sudah kembali menatap Arkana berkata, “Kana, hubungi orang tua kamu.” Ia bertutur sangat lirih kemudian mengalihkan tatapannya kepada kedua orang di hadapannya. Lian dan nyonya Ashanty, ia menanyakan keberadaan Lilyn kepada keduanya. Karena jika sampai sudah USG disaksikan langsung oleh Lian dan juga nyonya Ashanty, bahkan papah mereka sudah langsung ditangani oleh pihak medis, dengan kata lain, Lilyn juga ada di sana. Harusnya.
Tega banget kamu ke aku, Lyn. Kamu sudah mempertaruhkan nama baik keluarga kita, rumah tanggaku, dan juga hubungan baik keluarga kita dengan keluarga Arkana. Begini yang kamu namakan cinta? Kamu tega menjadikan Arkana sebagai kambing hitam bahkan kakak dan mamah kita sudah langsung menganggapnya sebagai bajjingan? batin Lita yang masih sangat merasa tak habis pikir. Andai ia bisa, ia sungguh ingin mengamuk melampiaskan semua kekesalan sekaligus kekecewaannya kepada Lilyn.
Bisa-bisanya Lilyn hamil di luar pernikahan. Bisa-bisanya Lilyn malah membuat drama dan menjadikan nama baik sekaligus hubungan mereka sebagai taruhannya! Lita sungguh ingin menjerit terlebih kini, Arkana sudah langsung menelepon Azura sang mamah.
__ADS_1