Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
22 : Ada yang Tidak Beres


__ADS_3

Bertabur senyuman, Arkana mendekati Lita yang tengah fokus di tengah tempat tidur dengan sederet pekerjaan kantor. Arkana membawa sebuah laptop yang layarnya ia biarkan menyal. Pemuda itu mengangsurkan gawai berwarna silvernya kepada sang istri yang juga tengah fokus mengetik di laptop.


“Apa? Bentar aku mau siapin materi sebelum rapat lewat *zoom*,” ucap Lita tanpa sedikit pun melirik layar laptop sang suami maupun pemiliknya.


“Lihat bentar, *please*.” Arkana memohon.


“Kamu jangan kasih aku foto terlebih video aneh-aneh ih.”


“Honey, aku hanya minta waktu kamu setengah menit buat lihat ini,” lirih Arkana yang sampai membingkai wajah sang istri menggunakan kedua tangannya. Ia menuntun sang istri untuk melihat ke arah layar laptop yang sudah sampai ia letakan di hadapan Lita. Namun, sepertinya Lita telanjur curiga kepadanya. Istrinya itu benar-benar tidak mau melihat layar laptopnya dan malah menatapnya penuh peringatan.


“Jangan memaksaku buat lihat yang aneh-aneh.” Lita berucap lirih dan memang memberi Arkana peringatan keras.


“Memangnya sebobrok itu aku di mata kamu?” keluh Arkana yang juga menjadi tertawa.


“Sehari saja kamu sampai minta jatah enam kali! Kurang apa coba kenyataan itu buat bukti?” balas Lita tapi Arkana malah menertawakannya dan kali ini kembali menuntunnya untuk menatap layar laptop. Namun, kali ini suaminya itu melakukannya dengan lembut. Malahan, Arkana sampai naik ke ranjang kemudian duduk di sebelahnya.


“Kalau beneran adegan macam-macam, aku pites lho kamu!” ucap Lita telanjur curiga dan Arkana tetap menertawakannya.


“Ta-da … sweet banget, kan? Resort hotel versi beach hotel, cocok banget buat honeymoon. Ini di Lombok. Sebelum ke Jogja, mending besok kita langsung ke sini.” Karena telanjur terbawa suasana, Arkana juga sampai mendekap mesra Lita.


Yang Arkana maksud dan coba ditunjukkan kepada Lita merupakan hotel resort yang terletak di tepi pantai. Kamar dengan view pantai sangat indah dan bertabur fasilitas mewah. Tak hanya tempat tidur yang luas, tapi juga beberapa tempat untuk bersantai, bak rendam yang luas, juga kolam renang yang semuanya menghadap pantai. Sweet, persis seperti yang Arkana katakan. Lebih sweet lagi karena suaminya itu juga sampai mengeluarkan dua tiket penerbangan lengkap dengan proposal penginapan di hotel yang tengah mereka tonton liputan video promosinya.


Lita tersenyum girang menatap sang suami. Pipinya sampai menjadi hangat dan ia yakin karena di sana sudah berubah menjadi merah merona.


“Kalau setelah ini, kamu menganggap si kodok ijo itu lebih baik, aku beneran marah!” ucap Arkana masih lirih, tapi kali ini ia serius.


Lita tersipu dan berangsur menggunakan kedua tangannya untuk merengkuh kedua sisi wajah Arkana, kemudian menghadiahi suaminya itu ciuman bibir yang sangat lembut.


Arkana menatap Lita dengan senyuman penuh cinta sekaligus penuh rasa terima kasih. Ia balas membingkai wajah Lita seperti apa yang wanita itu lakukan, meski kini, kedua tangan Lita menjadi mengalung di tengkuknya.


“Aku juga sudah menyediakan alat tempur buat honeymoon kita.”


“Ihh, Arkana ... sudah aku duga. Otakmu beneran enggak bisa jauh-jauh dari itu!” omel Lita sampai histeris tapi Arkana malah tertawa.


“Pengantin baru, bulan madu, ya pasti masih seputar itu-itu saja, kan?” ucap Arkana di sela tawanya.


Lita menggeleng geli. Merasa tak habis pikir, tapi pada kenyataannya sang suami memang sealim itu. “Aku beneran masih enggak sangka, wajahmu sekalem ini, tapi otak kamu—”

__ADS_1


“Alim banget?” sergah Arkana sengaja memotong ucapan Lita.


Sambil menahan senyumnya, Lita mengangguk-angguk, melirik sang suami penuh arti. “Saking alimnya kamu, aku sampai enggak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.”


“Alhamdullilah ...!” sergah Arkana bersemangat tapi Lita malah terbahak menertawakannya.


“Eh, Hon ... bentar, dong,” ucap Arkana yang kemudian membimbing Lita untuk berbaring. Istrinya itu kebingungan menatapnya.


“Bentar apa sih? Eh, Arkana, firasat aku jadi mendadak enggak enak, ya! Ini aku bentar lagi mau rapat dan materinya belum beres, wooi!” uring Lita yang sampai membanting Arkana ke kasur. Suaminya itu tertawa lemas dan benar-benar pasrah ketika ia menjadikannya sebagai sandaran duduk.


“Hon, ... kamu mirip yang kemarin viral. Tapi, masa iya aku yang dibanting?” keluh Arkana yang masih tertawa lemas.


“Salah siapa kamu jailnya enggak ketulungan. Udah kamu ke Hesa saja, sana. Kasihan dia main sendiri lagi karena kita sibuk terus.” Lita kembali fokus dengan ketikannya, sesaat setelah menyisihkan laptop Arkana maupun tiket pesawat dan juga penginapan mereka.


“Ini kamu sudah mau rapat?” tanya Arkana yang mencoba duduk.


“Iya ...,” balas Lita asal dan sengaja geser, tak lagi bersandar pada Arkana karena suaminya itu berusaha duduk.


“Ya sudah, aku ke Hesa. Sekalian mau siapin beberapa keperluan buat besok kita honeymoon,” pamit Arkana yang sampai mengakhiri kebersamaan mereka dengan ciuman dalam penuh sayang dan ia layangkan di pipi kanan Lita.


“Malas, ah. Aku mau ajak Hesa makan gorengan kasih banyak sambal, terus sekalian minum minyak biar radang parah!” balas Arkana sengaja menggoda sang istri. Ia melakukannya sambil melenggang pergi dan melirik Lita penuh arti.


“Ya sudah, laksanakan saja. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti malam, kamu tidur di kamar mandi lagi!” balas Lita tak mau kalah.


Mati kutu, Arkana langsung berseru, “Hesa, ayo kita makan buah, nanti mamah marah!”


Setelah suasana menjadi sangat sepi dan yakin sang suami tak ada di sana lagi, Lita langsung mengarahkan lirikannya pada keberadaan pintu yang dibiarkan tertutup tanpa dikunci.


Kana, ya ... dia beneran lagi mode anak-anak. Kalau sudah begitu, manjanya lebih parah dari Hesa, batin Lita yang kemudian tersenyum geli. Namun ketika lirikannya berhenti pada laptop Arkana, senyum indah dipenuhi kebahagiaan tulus, langsung menguasai wajah cantiknya yang kali ini dihiasi rias tipis, meski ia kali ini ia juga sampai memakai lipstik merah cerah karena Arkana yang meminta.


***


Sore menjelang petang, Arkana masih menjaga Hesa. Mereka tengah bermain di teras depan rumah. Lantai di sana sudah dipenuhi lego yang sedang mereka lakukan sambil menunggu Lita selesai kerja. Selain mereka berdua, di sana juga ada Xin yang masih mengawasi.


“Xin, tolong potongkan buah lagi untuk Lita. Takutnya dia lapar. Air putih juga bawakan yang gede, yang satu setengah liter buat dia,” ucap Arkana yang meski tampangnya cuek, akan menjadi sangat perhatian bahkan romantis jika itu untuk Lita.


Xin langsung tersenyum kikuk kemudian pamit untuk melaksanakan titah sang bos.

__ADS_1


“Hesa malam ini Hesa mau makan apa? Nanti kita ke rumah mamahnya Papah, ya. Kita makan di sana.” Arkana duduk sila di hadapan Mahesa.


“Ke rumah om Fean saja, biar ketemu baby F!” ucap Mahesa menawar.


Arkana menertawakan balasan sang putra angkat. “Hesa, ... Hesa panggil om Fean, jangan om. Hesa panggilnya kakek, karena gitu-gitu, om Fean harusnya jadi kakek Hesa karena Hesa anak Papah sama mamah Lita.” Terlebih biar bagaimanapun, meski Fean merupakan suami dari Dara kakaknya, usia Fean tetap tiga bulan lebih tua dari Danian papah Arkana dan Dara.


“Coba sekarang Papah mau dengar, ... Hesa panggil ke om Fean, jadi apa?” tanya Arkana masih tersenyum ceria.


“Kakek!” balas Mahesa tak kalah ceria dan sukses membuat Arkana menahan tawa.


Bisa langsung dikempesin kepalaku kalau Lita sama kak Dara tahu! Batinnya makin sulit mengakhiri tawanya.


“KANA ...!” Teriakan Lita barusan langsung membuat Arkana berubah menjadi mode serius.


Arkana berdeham, mencoba bersikap sebiasa mungkin dan jika perlu cool. Terdengar suara langkah cepat dan itu lari yang mendekat. Iya, itu Lita. Lita berlari sangat kencang kemudian mendekapnya sangat erat. Anehnya, istrinya itu juga sampai terisak dan langsung membuat Arkana khawatir.


“Kana ...,” isak Lita terdengar sangat menyakitkan terlebih untuk Arkana


Arkana langsung gelisah dan mencoba menatap sekaligus meminta kejelasan dari Lita. “Katakan pelan-pelan. Kamu kenapa?” Arkana sampai membingkai erat kedua sisi wajah Lita, menatapnya penuh keseriusan karena ia sudah nyaris marah dan sangat ingin tahu penyebab Lita sesedih sekarang padahal sebelumnya, semuanya baik-baik saja.


“Kana, papahku kritis. Papah kena serangan jantung. Barusan mamah telepon dan minta kita buat segera datang ke rumah sakit!” isak Lita. Hatinya remuk redam seiring pandangannya yang menjadi buyar dan perlahan gelap.


“Hon, ... Hon, tenang, Hon.” Arkana merengkuh tubuh Lita kemudian membopongnya dan membawanya masuk karena istrinya itu sampai pingsan.


“Xin, tolong jaga Hesa. Aku dan Lita akan ke rumah sakit karena papahnya Lita kritis!” sergah Arkana ketika Xin datang sementara Mahesa yang mengkhawatirkan Lita sudah sampai menangis.


Suasana mendadak kacau karena kabar kritisnya papah Lita tak hanya membuat Lita pingsan, tapi juga membuat Mahesa rewel. Mahesa tak hentinya menangis, mengkhawatirkan Lita. Parahnya, telepon yang Arkana lakukan kepada mamah Lita demi memastikan kejadian yang sebenarnya, tak kunjung mendapat balasan. Ketiga telepon suara yang Arkana lakukan kepada sang mamah mertua tak kunjung mendapat balasan. Beruntung ketika ia menggunakan ponsel Lita untuk menghubungi nomor ponsel mamah Lita, telepon tersebut mendapat jawaban.


“Hallo, Mah? Mah, Lita bilang, papah kritis? Papah dirawat di mana, Mah? Aku sama Lita mau langsung ke sana,” seegah Arkana tanpa mengabarkan keadaan Lita. Meski di sofa ruang keluarga mereka yang ada di lantai bawah, Lita masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Arkana memaklumi kenapa Lita bisa seterpukul sekarang sebab daripada dengan pihak keluarga lainnya bahkan daripada dengan sang mamah, Lita memang terbilang sangat dekat dengan papahnya.


“Papah dirawat di rumah sakit ... cepat ke sini. Ada yang harus kita selesaikan!”


Balasan ketus sekaligus marah dari seberang langsung membuat Arkana bingung. Kok firasatku jadi enggak enak, ya? batin Arkana yang makin tidak baik-baik saja karena tanpa pamit bahkan sekadar basa-basi, sambungan telepon mereka langsung diputus oleh mamahnya Lita.


“Pasti ada yang enggak beres ini. Namun kenapa?” pikir Arkana yang kemudian buru-buru mencoba menyadarkan Lita. Ia meletakan ponselnya di meja, kemudian menepuk-nepuk pelan pipi Lita yang juga ia panggil lirih.


“Hon, ... Hon, bangun, Hon.”

__ADS_1


__ADS_2