Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
24 : Sisi Lain Arkana


__ADS_3

Tidak. Arkana tidak meminta bantuan sang mamah. Obrolan antara Arkana dan Azura merupakan obrolan biasa antara anak dan ibu yang saling bertukar kabar karena rindu. Selain menanyakan kabar Arkana, dari seberang Azura juga sampai menanyakan Lita dan Mahesa. Azura berharap Arkana membawa Lita dan Mahesa untuk menginap di kediamannya. Paling mencolok, Arkana yang terkenal dingin sekaligus arogan, sangatlah lembut dan juga pengertian kepada Azura.


Bingung. Raut wajah Lian dan juga nyonya Ashanty menorehkan ketidakmengertian mereka terhadap keputusan Arkana yang malah tidak mengabarkan apa yang terjadi. Arkana sungguh mengakhiri obrolan dan menyimpan ponselnya di saku celana levis panjang warna biru gelap yang menyempurnakan penampilannya.


“Saya tidak bisa mengabarkan sembarangan kabar kepada keluarga saya karena saya tidak mau sesuatu yang fatal menimpa mereka. Cukup papah Lita saja yang mengalaminya, tidak dengan yang lain terlebih keluarga saya.” Arkana berucap penuh ketenangan, sama halnya dengan tatapannya kepada nyonya Ashanty dan juga Lian. “Namun bisa saya pastikan, saya bukan ayah dari janin yang Lilyn kandung. Karena jangankan menyentuh, meliriknya saja tidak pernah saya lakukan jika bukan karena tidak sengaja.”


Kana ..., batin Lita. Kenyataan Arkana yang mendadak menyikapi keadaan dengan sangat tenang dan tampak sangat elegan, sukses membuat hati bahkan kehidupannya diselimuti rasa hangat.


“Tolong jangan menyelesaikan ini dengan emosi karena nama baik sekaligus hubungan baik keluarga kita sedang dipertaruhkan.” Arkana menatap Lian dan nyonya Ashanty penuh pengertian.


“Di lingkungan kita tinggal, hamil di luar pernikahan ibarat aib untuk sebagian besar orang. Jangan sampai, hanya karena emosi sesaat, tanpa berpikir dengan jernih, kalian malah membuat keadaan lebih fatal. Bukan hanya Lilyn yang akan malu, tapi semuanya termasuk kita dan calon bayinya. Buktinya papah Lita, papah Lita sudah menjadi korban dari kehamilan Lilyn.” Sampai di titik ini, Arkana masih tenang.


Lian yang sudah sampai menghela napas kasar termasuk juga nyonya Ashanty, mau tak mau harus menahannya.


“Tanpa bermaksud membanding-bandingkan terlebih menghina,” lanjut Arkana. “Lilyn bukan Lita yang bisa bersikap dewasa. Dia masih terlalu labil bahkan picik karena kalian terlalu lembek kepadanya.”


Arkana menghela napas karena biar bagaimanapun, bersikap tenang layaknya sekarang, benar-benar bukan dirinya. Namun demi Lita sekaligus masa depan hubungan mereka sekeluarga, ia harus melakukan yang terbaik. Kini ia tengah menjalankan perannya sebagai suami baik terlebih Lita tetap bersamanya sekalipun dunia menganggapnya bersalah. Lita sungguh tetap bisa bersikap adil walau dunia menganggap Arkana menjijikkan.


“Dari awal kalian sudah tahu apa yang terjadi. Dari awal yang saya kejar tetap Lita, tapi yang dikejar tidak pernah peka, selain Lilyn yang terus saja mengejar saya meski saya sudah berulang kali memberinya peringatan.”


“Saat ijab kabul dan resepsi kami pun, Lilyn justru kabur dan sampai mengancam Lita agar meninggalkan saya.”


Kana tahu itu, padahal aku enggak cerita, batin Lita.


“Sekali lagi saya tegaskan, saya berani bersumpah demi apa pun, ... itu bukan anak saya. Andai kalian menganggap saya berbohong, tidak masalah. Namun saya juga perlu bukti. Di mana kejadian itu terjadi, wajib ada bukti terlebih sekarang sudah serba canggih. Kalaupun Lilyn berdalih dia korban dan bahkan trauma, masa iya. Yakin dia tidak mau membuat janinnya hidup berdampingan dengan ayah kandungnya?” lanjut Arkana.


“Bayangkan andai saya langsung mengabarkan ini kepada orang tua saya ... mereka pasti tidak terima, dan bukan Lilyn yang akan dikorbankan, tapi Lita. Karena andai keluarga saya tetap sayang bahkan bisa jadi makin menyayangi Lita, Lita akan merasa sangat bersalah dengan ulah Lilyn yang sampai tega memfitnah saya!” Arkana mengangguk-angguk tegas, menatap kedua pasang mata di hadapannya penuh pengertian. Kemudian tangan kirinya merangkul pinggang Lita dan detik itu juga, tangan kiri Lita menggenggam tangan kirinya, sangat erat. Arkana sampai terenyuh karena kesetiaan Lita yang begitu tulus kepadanya. Terlepas dari itu, ia juga menjadi bersyukur ada di posisi sulit sekarang. Sebab meski Lita selalu tegas dan cenderung galak kepadanya, nyatanya cinta Lita kepadanya tak kalah besar dari cinta seorang ibu kepada anaknya.

__ADS_1


“Lilyn ... dia trauma.” Lian menunduk dalam bersama kesedihan yang pria itu rasakan.


“Trauma apa syok karena dua enggak berharap hamil? Harusnya kita lebih memperhatikannya,” ucap Lita.


“Tanpa lupa untuk tetap tegas kepadanya.” Arkana sengaja memotong ucapan Lita. Kini, semua mata langsung meliriknya termasuk kedua mata Mita.


Arkana kembali menatap wajah-wajah di sana. “Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada apa yang menimpa seseorang. Ibaratnya, faktor lingkungan khususnya keluarga akan selalu menjadi cerminan dari seseorang. Buktinya, kak Dara yang pernah hamil di luar pernikahan tidak asal menyalahkan laki-laki lain sekalipun saat itu, Billy yang harusnya bertanggung jawab justru minggat. Kak Dara konsisten mempertanggung jawabkan perbuatannya. Malahan, kak Dara berniat menjadi orang tua tunggal andai om Fean tidak memaksanya menjalani pernikahan demi kebaikan bersama.” Setelah sempat menjeda ucapannya, Arkana berkata, “Beda kepala memang beda pemikiran bahkan meski orang kembar sekalipun. Namun faktor lingkungan beneran enggak bisa bohong. Nyatanya, ... Mamah Shanty sampai tega meminta Lita untuk tidak terus-menerus menonjol menjadi wanita karier yang sukses hanya untuk menjaga perasaan Lilyn. Ini maksudnya orang tua bahkan mamah, macam apa?”


Nyonya Ashanty langsung memelotot syok dan berakhir menggeragap tanpa berani menatap Arkana maupun Lita.


Di sebelah nyonya Ashanty, Lian langsung kebingungan karena jujur, ia memang baru tahu itu. Mamahnya sungguh pilih kasih? “Masa Mamah sampai begitu?” ujarnya yang kemudian langsung memastikannya kepada Lita melalui tatapan karena sang mamah sibuk menunduk.


“Xin merupakan asisten pribadi Lita yang saya tugaskan khusus untuk menjaga Lita karena saat awal hubungan Lita dan Justin, keselamatan Lita benar-benar terancam. Otomatis meski saya tidak selalu bersama Lita selama dua puluh empat jam, dan Lita pun tidak sampai mengadu, tentu saya tetap tahu,” lanjut Arkana.


Suasana yang awalnya dikuasai ketegangan sekaligus luapan emosi, menjadi dihiasi kegelisahan dan juga kegamangan hati dari seorang Lian maupun nyonya Ashanty. Sedangkan di hadapan mereka, Lita dan Arkana menjadi penonton baik meski Lita hanya melakukannya melalui lirikan. Lita masih tidak menyangka, Arkana yang masih ia anggap bocah dan tetap ia anggap sebagai adiknya, bisa sangat dewasa tanpa meledak-ledak terlebih mengamuk seperti yang sudah biasa suaminya itu lakukan.


“Kami ingin bertemu Lilyn,” pinta Arkana masih tenang. Padahal alasannya tenang, bukan hanya karena demi menjaga perasaan Lita, tetapi karena ia juga terlanjut muak berurusan dengan Lilyn.


Menelan ludah, Lian selaku anak tertua dalam keluarga Lita berusaha menyikapi keadaan dengan jauh lebih tenang. Karena seperti yang Arkana katakan, hamil di luar pernikahan ibarat aib. Apa kabar jika apa yang Lilyn sampaikan juga hanya fitnah? Tak hanya Lita yang dikorbankan, tapi mereka sekeluarga selain Lilyn yang bisa jadi dituntut oleh Danian sekeluarga.


Lian membimbing Lita dan Arkana untuk menuju ruang rawat Lilyn. Seperti yang Lita yakini, Lilyn sungguh sudah sampai dirawat di rumah sakit kebersamaan mereka. Sementara tadi, nyonya Ashanty yang tetap bungkam, sengaja mereka tinggal terjaga untuk papahnya Lita.


Lilyn dirawat di salah satu ruang VIP yang keberadaannya ada di lantai atas ruang operasi papah Lita menjalani penanganan.


Ketika mereka sampai dan Lian yang membukakan pintu, Lilyn yang berbaring dan sampai berlinang air mata, tampak sangat tak bersemangat sekaligus pucat khas orang sakit. Lilyn langsung kebingungan sekaligus terkejut ketika mendapati kedatangan ketiga orang di hadapannya.


“Kapan aku hamilin kamu? Memangnya enggak ada laki-laki lain selain aku? Kamu sadar, kamu enggak akan laku, makanya kamu tega melukai kakak kamu?” nada suara Arkana memang masih lirih, tapi kali ini benar-benar menusuk. “Aku suami kakak kamu, dan dari dulu aku sudah berulang kali menegaskan, aku enggak tertarik ke kamu!”

__ADS_1


“Kalau aku suka bahkan sekadar tertarik ke kamu, aku enggak mungkin terus nolak bahkan sibuk marah-marah ke kamu! Aku juga enggak mungkin melamar kakak kamu dengan status orang lain. Aku enggak mungkin menjadi tunangan rahasia Lita selama lima tahun dan selama itu juga aku nyaris gila karena menahan keinginanku menjadi pasangan Lita!” tegas Arkana.


“Jahat banget kamu Kak Kana!” isak Lilyn yang juga terdengar berat sekaligus bergetar.


“Yang jahat itu kamu!” sergah Arkana. “Setelah kemarin kamu tiba-tiba usir kami dari rumah, sekarang kamu memanfaatkan kehamilanmu untuk mengikatku? Andai aku enggak lihat kamu sebagai adik Lita, sudah aku phites kamu!” lanjut Arkana.


“Jangan terlalu berdrama kamu, Kak. Kamu yang minta dan kamu juga yang janji buat tanggung jawab.” Lilyn meraung-raung.


“Lyn!” tegas Lita.


“Di mana? Kita melakukannya di mana? Di hotel mana? Penginapan, rumah, vila, mobil, apa di mana? Jam berapa, dan hari apa? Apa buktinya? Tolong disebutkan dan jangan sampai kamu malah bilang kejadiannya di mimpi, tapi kamu melakukannya dengan laki-laki lain. Iya kalau hanya satu laki-laki, kalau lebih? Kamu bahkan hobi dugem! Dikiranya aku enggak tahu!” sergah Arkana.


“Ehhm ... Lyn—” ucap Lian sengaja berdeham, bersedekap, sekaligus mencoba menengahi kebersamaan kini.


Kedua tangan Lilyn mencengkeram selimut di sekitarnya. Ia yang duduk selonjor memilih bungkam sekaligus menunduk dalam. Ia sadar, ketiga orang di sana bahkan bisa jadi sebentar lagi lebih, akan menghakiminya.


“Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku benar-benar ingin sendiri. Di posisi ini aku korban, tapi karena aku sendiri dan kalian banyak, belum lagi aku memliki masa lalu kelam, aku pasti akan kalah jika harus melawan kalian!” Lilyn masih menunduk sedih.


“Papah nyaris meninggal dan sampai sekarang masih harus berjuang, Lyn. Kamu beneran berniat jadi pembunuh atau memang kamu berbakat jadi pembunuh?” Lita benar-benar geregetan. Ia tetap melangkah mendekati Lilyn sekalipun Arkana sempat menahannya.


“Siapa ayah dari janin itu! Tega kamu bikin malu keluarga!” sergah Lita. Saking bingungnya bagaimana mengarahkan Lilyn, ia sampai menangis. Ia sungguh merasa frustrasi kenapa Lilyn memiliki watak sangat berbeda dari keluarga mereka terlebih sejauh ini, Lian terlebih dirinya selaku kakak Lilyn, selalu menjadi contoh yang baik.


“Ini anak kak Kana!” tegas Lilyn masih berlinang air mata. Ia menatap Lita penuh ketegasan dan bahkan menantang, meski yang ada, wanita itu malah memberinya tamparan panas.


“Jangan bikin malu diri kamu lebih ini. Katakan kepadaku, itu anak siapa?!” tegas Lita kali ini benar-benar marah. “Efek kami terlalu memanjakan kamu, kamu malah jadi salah arah begini!” lirih Lita geregetan. “Kamu sudah dewasa, tolong jangan seperti anak kecil terus. Kasihan papah kita!”


Meski Lita sudah sampai meraung-raung dan selimut putih yang menyelimuti Lilyn juga sampai menjadi korban dan beberapa kali menghantam kepala Lilyn, yang dihakimi malah tak gentar dan tetap mengatai Lita jahat.

__ADS_1


Arkana mendekat, merengkuh tubuh Lita dan membawanya pergi dari sana. Ia tak mau istrinya benar-benar gila karena andai Lita bertahan lebih lama di sana, kenyataan fatal pasti akan terjadi. Terlebih bukannya menyadari keadaannya yang salah, Lilyn yang sepertinya terobsesi memiliki Kana, juga kenyataan Lilyn yang telanjur iri kepada Lita, justru terus bersikap seolah dirinya korban dan Arkana merupakan bajingan andal yang tega merenggut kesuciannya tapi malah pura-pura amnesia.


__ADS_2