Musuh, Tapi Menikah

Musuh, Tapi Menikah
18 : Terjebak dan Terperangkap


__ADS_3

PUAS! Tak ada kata lain yang mewakili perasaan seorang Lucas selain kata tersebut. Memandangi Arkana yang hanya kebingungan sekaligus terjebak di antara asap rokok maupun wine yang wajib pemuda itu tenggak, baginya memang menjadi kemenangan tersendiri. Arkana terlihat jelas tidak bisa mundur dan pemuda tampan itu wajib bertahan sekaligus melanjutkan apa yang sudah dimulai.


“Baiklah, … malam ini aku yang traktir!” ucap Lucas pongah.


Keenam teman Lucas yang ada di sana dan masing-masing ditemani wanita muda berpakaian seksi, langsung menghujani Lucas dengan kalimat pujian. Suasana meja bar kebersamaan mereka menjadi ramai dan menjadikan Lucas sebagai big bos mereka. Bahkan, saking bahagia dan terbuai dengan kemenangannya, Lucas membiarkan seorang wanita berpakaian seksi dan menggerai rambut panjangnya, memeluknya. Tak mau rugi, Lucas sengaja balas mendekap si wanita yang kiranya sebaya Lita dan sialnya mendadak membuat Lucas melihatnya sebagai Lita.


*Semoga setelah ini, aku benar-benar bisa memiliki Lita. Sekarang enggak apa-apa, sama yang sedikit mirip dulu. Yang penting setelah ini, bakalan ada yang ketuk palu*, batin Lucas sambil sesekali menenggak wine di gelasnya. Sampai detik ini, Lucas masih membiarkan si wanita yang menjadi duduk di sebelahnya, bermanja ria bahkan sesekali mencumbunya. Di tengah gelak tawa yang berpadu dengan musik super kencang dan menjadi nuansa berisik di sana, Lucas masih aktif memperhatikan Arkana dan kiranya terpaut sekitar sepuluh meter dari keberadaannya.


“Tuan Yudi, ini sudah sangat lama. Sudah nyaris pukul setengah sebelas.” Arkana mengingatkan dan mulai menatap marah tuan Yudi.


“Bahkan kamu belum mabuk. Ternyata di balik wajah bayi kamu, kamu peminum yang hebat!” ucap tuan Yudi antara memuji tapi juga mencela. Ia masih kerap tertawa dan baru saja kembali menenggak wine yang dituangkan secara khusus oleh Dinda.


 Arkana menenggak tuntas sisa wine di gelasnya. Ia menyeringai menahan rasa sepet, terlepas dari tenggorokannya yang sudah terasa panas seperti terbakar akibat kandungan alkohol yang ia konsumsi dan jumlahkan tidak sedikit. Bahkan jika ditotal, ia sudah nyaris meminum dua botol dan semua botolnya ada di meja. Di sana sudah ada lima botol wine yang kosong, sedangkan dua di antaranya, ia yang menghabiskan.


“Saya ke sini bukan untuk mabuk karena alasan saya ke sini untuk mengurus kerja sama kita. Istri saya sudah menunggu di rumah.” Arkana masih berucap tenang sambil menatap tuan Yudi penuh peringatan. Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya.


“Hah …? Ternyata kamu sudah menikah?” Tuan Hong dan tak lain rekan tuan Yudi yang turut bergabung, benar-benar tidak bisa berhenti tertawa. Rasanya terlalu membahagiakan ketika ia menghina orang dan orang itu hanya diam layaknya apa yang ia lakukan kepada Arkana sekarang. “Pernikahan bisnis, apa memang karena saling cinta? Atau malah pernikahan karena kecelakaan cinta semalam? Hahaha ….” Terbahak, ia menatap sang rekan, mengajak pria itu untuk bergabung tertawa bersamanya.


“Istri Tuan Arkana memang sangat cantik. Benar-benar cantik! Mirip artis. Mirip boneka hidup juga. Tuan Arkana sangat beruntung karena istrinya yang cantik itu juga sangat cerdas! Kemarin kami sempat bertemu, jadi saya bisa berkomentar begini!” sergah tuan Yudi yang kembali tertawa kemudian menenggak wine-nya.


Dinda begitu menikmati kebersamaan di sana karena dengan kata lain, Lita tengah menjadi bahan tertawaan. Ia tersenyum puas kepada Arkana yang sampai detik ini tak sedikit pun meliriknya.


“Nah kenapa istrinya masih menunggu di rumah? Kurang sajen apa gimana? Kenapa juga enggak dibawa ke sini biar kami juga bisa menikmatinya! Hahaha ….” tuan Hong kembali berkomentar.


“TUTUP MULUTMU JIKA KAMU TIDAK INGIN MATI SIA-SIA DETIK INI JUGA!” Murka Arkana dan sontak membuat Dinda terperanjat.


Arkana sampai bangun dari duduknya terlebih biar bagaimanapun, sedari tadi ia sudah bersabar. Ia bahkan sudah berbohong sekaligus mengorbankan hubungannya dan Lita demi bisa mendapatkan proyek kerja samanya.

__ADS_1


Semuanya mendadak diam menatap serius Arkana. Tuan Yudi dan tuan Hong, refleks saling menoleh hingga mereka berakhir bertatapan. Namun setelah itu, mereka kompak terbahak dan mengatai Arkana telah mabuk hingga pemuda itu berani memarahi sekaligus membentak lantang tuan Hong.


“Anak muda ini benar-benar lucu! Dia sudah mabuk! Ayo, kita hubungi istrinya biar dia ke sini dan tak hanya menunggu di rumah!” ucap tuan Hong bersemangat.


“Setuju-setuju!” sergah tuan Yudi tak kalah bersemangat terlebih ia memang sangat ingin menikmati sekaligus memiliki Lita sesuai rencananya dengan Dinda. Baru membayangkan saja sudah sangat bahagia, apalagi kalau terealisasi! Batinnya tak sabar sekaligus gemas. “Ayo kita bersenang-senang dengan istrinya!”


“Tuan Yudi, ANDA CARI MATI!” Arkana makin murka. Ia merasa dipermainkan bahkan ditipu mentah-mentah.


“Tidak perlu menghubungi saya karena saya sudah ada di sini.” Suara datar nan lantang layaknya seseorang yang sedang membaca dakwaan kejahatan, terdengar marah dan baru saja hadir, langsung mengusik kebersamaan di sana.


Sepasang sepatu boots hitam memiliki heel runcing dan bagian depannya lancip, langsung menyita perhatian. Kaki jenjang berkulit putih bersih dan teramat mulus terlebih pahanya, langsung membuat kedua tua bangka di sana melongo nyaris menitikkan air liur.


Buru-buru Arkana meraih asal map kerja samanya dari meja untuk menutup paha berkaki jenjang yang sudah langsung ia kenali sebagai milik istrinya. Iya, mengenakan jaket kulit hitam dipadukan dengan mini dress bermotif floral perpaduan warna merah dan hitam, istrinya itu terlihat sangat feminin. Saking cantik dan menawannya, tuan Hong sampai menyebut Lita sebagai kembaran Jennie Black Pink! Namun, Arkana sangat penasaran kenapa Lita sampai ada di sana.


“Sudah kubilang, dia mirip artis dan sangat menawan! Mirip boneka hidup, kan?” tuan Yudi berkomentar tapi ia juga melakukannya dengan berkata lantang.


Ucapan tuan Hong dan juga tuan Yudi yang menyamakannya dengan member girl band asal negeri Ginseng maupun boneka hidup, membuat Lita mengakhiri lirikan sengitnya kepada sang suami. Arkana terlihat sangat tak rela melihatnya berpenampilan sememukau sekarang. Pria itu sampai menutupi sebagian pahanya yang tidak tertutup, menggunakan map. Kini bahkan Arkana bersimpuh, melepas kemeja putihnya dan membuat pria itu hanya memakai kaus lengan pendek ketat yang masih berwarna putih. Kemudian, Arkana langsung memakaikan kemejanya itu kepada pinggang Lita, mengaitkan setiap kancing, dan terakhir mengikat kedua lengan kemejanya di pinggang Lita yang kelewat ramping. Arkana melakukan semuanya dengan cekatan saking tidak relanya paha istrinya menjadi tontonan. Meski selama itu juga, Lita tak hanya membiarkannya. Sebab sekadar meliriknya saja tidak Lita lakukan. Wanita itu mengabaikannya dan Arkana sadar, Lita sudah langsung menghukumnya.


 “Kalau tidak salah dengar, tadi Tuan menyebut istri yang di rumah kurang sajen. Apakah karena istri Anda makhluk gaib, hingga Anda betah dengan wanita yang,” ucap Lita yang sengaja menahan ucapannya sambil melirik sinis wanita di sebelah tuan Hong dan berakhir pada Dinda yang langsung melempem serta hanya berani menatapnya melalui lirikan takut.


Lita yang masih bersedekap berangsur mengembuskan napas panjang melalui mulut. “Kalian tahu, kenapa wanita yang menjual dirinya selalu terlihat cantik dan menyikapi kalian dengan manis? Tentu saja itu yang harus mereka lakukan karena mereka memang menjual diri. Tidak hanya kepada kalian, tapi semuanya! Asal kalian memberinya bayaran setimpal, mereka pasti akan membuat hidup kalian seperti di Surga. Bayangkan jika mereka juga harus sampai seperti istri kalian. Mengurus pekerjaan rumah, mengatur keuangan keluarga. Wajib serba bisa menjadi IRT yang jadwal kerjanya seumur hidup tapi enggak pernah beres dan malahan sering dipandang sepele. Begitu, kan? Jangankan oleh orang lain yang langsung akan bilang ih, hanya IRT? Enggak kerja dong? Oleh kalian yang suaminya dan sebelumnya bersumpah akan membahagiakannya, setia dan menjadikannya tulang rusuk malah ceritanya jadi lain lagi.” Ia bertutur lirih tapi menusuk. Menatap wajah-wajah di sana kecuali wajah Arkana. Lita terlalu muak untuk melakukannya meski ia memang menyayangi Arkana. Lita merasa wajib menghukum suaminya agar pria itu tak mengulangi kesalahannya. Kerja dan usaha boleh, tapi jangan tollol.


“Kenapa seorang istri terlalu banyak menuntut dan sering kurang memuaskan kalian? NGACA!” lanjut Lita sambil mendelik kepada tuan Hong dan juga tuan Yudi yang langsung terkesiap menatapnya.


“Kebanyakan suami tanpa sadar malah melemparkan semua tanggung jawab rumah tangga termasuk keluarga kepada istri. BAYANGKAN, setelah mengurus semuanya, bahkan mengurus suami yang banyak maunya, bukannya dihargai dan dimanjakan, kalian malah mengkhianatinya dan bahkan memilih memanjakan wanita yang sudah pasti terbiasa melayani banyak laki-laki. Saya doakan, istri kalian mendapatkan laki-laki yang jauh lebih muda dan juga sukses, dan pastinya tidak seperti kalian!” Lita kembali mendelik dan kali ini juga sampai melakukannya kepada Arkana. Ia menatap Arkana dengan tatapan marah.


“Jangan melanjutkan kerja sama ini jika kamu tidak ingin mati. Belum apa-apa saja kamu sudah dicekoki dengan banyak alkohol dan juga rokok. Mungkin sebentar lagi kamu juga dicekoki yang lain. Semacam obat, atau malah wanita murrahan yang selalu jadi sarang penyakit kelamin! Bahkan sebagai istrimu, saya juga pasti terancam karena tadi saja ada mulut samppah yang mengatakan ingin bersenang-senang dengan saya!” Lita mengakhiri ucapannya dengan melirik sinis tuan Yudi. “Saya pastikan, Anda akan menyesal karena terus menghalangi kerja sama ini!” tegas Lita. Ia mundur pelan kemudian menarik tangan kanannya dan menunjukkan kartu nama di sana.

__ADS_1


“Begini-begini, saya wartawan. Saya bagian dari pers dan saya memiliki banyak jaringan. Hanya butuh hitungan menit, saya bisa mencari informasi kalian kemudian menyebarkan semuanya khususnya kepada istri dan juga anak-anak kalian. Belum lagi jika orang-orang penting juga sampai tahu. Saya tidak bermaksud mengancam, saya hanya sedang mengingatkan. Jangan pernah main-main dengan saya, khususnya kamu.” Yang Lita maksud Dinda. Tatapannya lurus kepada gadis muda yang menggincu tebal bibirnya dengan warna merah menyala dan itu membuat penampilan Dinda sangat berlebihan.


“Semua itu wanita cantik, terlebih sekelas kamu yang menjual diri dan menjadikannya sebagai ladang penghasilan. Namun demi apa pun, … demi apa pun wanita enggak hanya cukup cantik karena wanita juga harus mandiri, memiliki harga diri, dan tentunya cerdas, bahkan sekalipun dia terlahir di keluarga kaya raya.” Kecewa, Lita sungguh merasakan itu kepada Dinda. “Tidak usah merasa bangga jika kamu berhasil mendapatkan laki-laki yang kamu kencani karena mereka yang mau sama kamu juga otomatis enggak punya harga diri. Dan andaipun suami saya sampai lebih milih kamu, saya tidak akan pernah rugi karena tanpa suami pun, masih banyak yang antri kepada saya. Tentunya, mereka antre tanpa harus membuat saya menjual diri!”


“Saya tahu kamu menyukai suami saya, tanpa harus membuat kamu mengatakannya. Kan sudah dibilang, cerdas! Wanita harus cerdas biar sekadar lalat hijau seperti kamu juga masih bisa terdeteksi!” Lita mengakhiri ucapannya sambil melirik sengit Arkana. “Pulang! Kamu beneran udah keterlaluan!” Bergegas ia balik badan dan siap langsung pergi.


“Saya mau kerja sama ini!” sergah tuan Yudi sambil menatap lurus pada punggung Lita.


Lita yang langsung terdiam, berkata, “Tidak perlu!”


“Saya benar-benar mau!” Kali ini tuan Yudi memaksa.


Lita berangsur balik badan dan langsung menatap lurus kedua mata tuan Yudi. “Saya mau hitam di atas kertas. Pastikan tidak ada wanita lain selain istri Anda, jika Anda sedang bersama suami saya. Baik ketika untuk mengurus kerja sama, maupun urusan lain!”


“Kamu bilang kamu cerdas, tapi apa yang kamu lakukan menegaskan bahwa kamu takut kepadaku!” sinis Dinda.


Lita tersenyum semringah. “Akhirnya, topeng aslimu terbuka. Bahkan saya yakin, kamu lebih mengerikan dari ini.”


Tuan Yudi melirik sinis Dinda. Ia mencengkeram keji pergelangan tangan kiri Dinda sebagai wujud dari peringatan kerasnya.


 “Madam ….” Melihat Lita yang sekarang dan biasanya selalu tampil natural, seorang Lucas benar-benar tidak tahan. Ia sampai berlari dan tak segan berdiri di hadapan Lita tanpa peduli apa yang tengah terjadi.


Hati Lucas berbunga-bunga seiring senyuman yang bermekaran menghiasi wajah tampannya hanya karena Lita langsung balas menatapnya dan juga menjadikannya sebagai fokus perhatian.


“Saya suka warna lipstik merah Madam. Itu sangat pas di bibir Madam yang sangat, ... sek-sii!” puji Lucas, tak peduli meski Arkana sudah langsung menyimpan Lita di balik punggungnya.


“Bapak Negara tidak perlu marah jika Bapak Negara saja berani dugem tanpa Madam Negara!” sinis Lucas memberi Arkana peringatan.

__ADS_1


Kali ini, Lita tak berniat membela terlebih melindungi Arkana seperti yang beberapa saat lalu ia lakukan sekalipun momen tersebut juga ia manfaatkan untuk menghakimi Dinda. Biar bagaimanapun, baginya, apa yang Lucas lakukan benar. Bahkan ia merasa berhutang budi pada kebucinan seorang Lucas kepadanya. Karena andai Lucas tidak mengabarinya, tentu Arkana sudah dalam bahaya. Lantas, siapa yang terjebak dan juga menjebak, ketika pada akhirnya, kerja sama yang Lita harapkan tanpa Dinda dan juga tuan Hong, membuat Arkana mendapatkan proyeknya? Satu lagi yang berbeda dalam kebersamaan mereka. Lucas juga menjadi bagian dari mereka. Pria berbola mata biru itu menghabiskan stok wine di meja. Lita membiarkan Lucas bergabung sebagai apresiasinya kepada play boy cap kodok ijo itu. Tentunya, hukuman untuk Arkana akan tetap ada karena biar bagaimanapun, suaminya itu wajib mendapatkan hukuman.


“Jaga jarak dan cepat pergi dari sini!” Arkan masih sibuk mengusir Lucas yang selalu saja menempel kepada Lita. Kesalnya, diamnya Lita yang membiarkan semuanya terjadi, juga membuatnya tak bisa berbuat banyak termasuk itu sekedar membuat Lucas tak menjadi bagian dari mereka.


__ADS_2