
Seharian mengurus banyak pekerjaan dan hampir semuanya proyek penting, membuat Arkana kelelahan. Pemuda itu berniat mandi dengan air hangat untuk membuat tubuhnya lebih rileks. Baru saja, ia menerima handuk pemberian Lita, tapi tak lantas membiarkan pemberinya pergi begitu saja. Lita yang sudah sempat balik badan langsung mendelik kesal, tapi ia sungguh menikmati reaksi istrinya itu. Arkana mencintai Lita dan ia menginginkan istrinya, tak masalah sekalipun istrinya sangat galak kepadanya.
“Mandi bareng, yuk?” ajak Arkana dengan suara lirih. Sengaja merayu tanpa melepaskan cekalannya terhadap tangan kanan Lita terlebih Lita juga belum mandi. Istrinya itu masih memakai pakaian kerja tanpa jas yang sempat membuat penampilannya elegan.
Lita menghela napas asal, “Aku harus urus Hesa terus kamu pun minta kepiting lada hitam, kan? Aku mau langsung masak karena Mbak sudah siapin bahan-bahannya, biar habis beres mandi, kamu langsung bisa makan.” Terdiam sejenak, Lita mengerutkan wajah kemudian menahan napas, menatap tegang kedua mata Arkana yang lagi-lagi terlihat begitu menginginkannya. Ia membiarkan tubuhnya menempel pada Arkana yang sudah langsung mendekap pinggangnya menggunakan tangan kanan yang masih memegang handuk.
Dunia Lita seolah berputar lebih lambat, seyap. Hanya detak jantungnya yang mampu ia dengar selain deru napas Arkana yang sampai terasa hangat di sekitar bibirnya. Bibir berisi milik Arkana baru saja menempel di bibirnya dan itu membuat Lita berangsur memejamkan matanya tanpa pemberontakan. Awalnya, Lita yang larut memang sempat membalas, tapi kehadiran Lilyn yang marah-marah, langsung mengubah segalanya.
“Enggak berperasaan banget sih, kalian!” Berkaca-kaca Lilyn yang hanya memakai kaus oblong warna oren dipadukan dengan celana hotpants berwarna senada, menatap marah sekaligus kecewa wajah Lita.
“Enggak berperasaan gimana? Kamu yang enggak sopan asal masuk ke kamar orang!” Arkana marah. “Harusnya kami yang marah karena asal masuk!”
Tak terima, Lilyn berkata, “Tadi aku sudah ketuk pintu. Aku juga sampai sapa-sapa, tapi enggak ada jawaban.”
“Enggak ada jawaban bukan berarti kamu bisa masuk seenaknya meski ini kamar kakak kamu dan kamu punya tujuan!” sergah Arkana masih bertutur cepat saking marahnya. Ia tak memberi Lilyn kesempatan untuk melakukan pembelaan terlebih sampai memotong pembicaraannya. “Iya kalau asal masuk enggak langsung nyolot marah-marah, ini kamu langsung marah menghakimi kami. Kami sudah menikah dan kami pun melakukannya di kamar, bukan di tempat umum terlebih tempat terlarang! Kalaupun kamu suka ke aku, dari awal pun aku sudah menolak kamu. Kamu saja yang terus enggak tahu diri dan malah sibuk menyudutkan Lita agar Lita menjauhiku. PERLU KAMU TAHU, LYN!” Arkana menyingsing kasar kedua lengan kemejanya di tengah fokus matanya yang masih lurus menatap kedua mata Lilyn.
“Lita juga baru tahu semuanya ketika ijab kabul kami. Lima tahun terakhir aku sengaja merahasiakan identitasku sekaligus hubungan kami karena aku sangat mencintainya. Jadi, stop berpikir bodoh dan menyalahkan semua kekecewaanmu kepada Lita! Selama ini Lita sudah enggak kurang-kurang ke kamu. Lita selalu menjadi kakak yang baik buat kamu, tapi kamu tetap saja enggak tahu diri!”
Dihakimi Arkana, Lilyn makin murka. Namun bukan kepada Arkana, tapi Lita. Ia menatap kesal Lita, terus begitu meluapkan kemurkaannya yang juga teramat kecewa kepada Lita.
“Jahat kamu, Kak!”
“Jahatku di mana, Lyn?” Lita menghela napas dalam. “Aku netral. Aku enggak bela siapa pun. Apa yang Arkana katakan benar,” ucapnya yang sudah langsung dipotong oleh Lilyn.
“Kalian sama saja! Sama-sama munafik!”
“Otak kamu sudah geser apa bagaimana, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu? Salah kami apa? Masih karena kamu mencintaiku tapi aku tidak pernah mencintaimu dan aku malah menikah dengan kakakmu? Hei Lyn, maaf tolong melek, otakmu dipakai biar enggak bikin hidup kamu makin menyedihkan!”
Lita sampai memunggungi Arkana karena suaminya itu nyaris mengamuk Lilyn.
“Pergi dari sini!” tegas Lilyn dengan suara turun drastis.
Lita dan Arkana langsung tercengang dan refleks saling tatap.
“Aku bilang, pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian di sini lagi!” Lilyn menjerit.
__ADS_1
Lita menunduk dalam saking kesalnya di tengah napasnya yang memburu. Ia membiarkan Arkana yang sampai menghantamkan handuknya ke wajah Lilyn.
\*\*\*
Sekitar tiga jam kemudian, Arkana dan Lita melangkah loyo dan bertemu di satu titik. Mereka berangsur berdiri bersebelahan sambil menatap suasana kamar yang masih minim barang. Hanya ada satu tempat tidur di sana tanpa yang lain, selain tiga koper besar milik Lita dan Mahesa. Itu merupakan kamar mereka di rumah baru mereka yang belum dibersihkan secara khusus. Mereka baru membersihkan kamarnya. Arkana bahkan masih memegang tongkat pel karena ia yang mengambil peran bersih-bersih. Sedangkan Lita bertugas menyiapkan tempat tidur untuk mereka agar layak ditempati. Baru saja, Xin datang membawa Mahesa yang sudah tidur. Mahesa sudah memakai piama dan itu pun Xin yang mengurus.
“Kita mandi dulu, sudah malam, capek,” ucap Arkana sesaat setelah memberikan tongkat pelnya kepada Xin. Ia sudah langsung menggandeng sebelah pergelangan tangan Lita.
Lita hanya mampu mengulas senyum masan. Ia sudah terlalu lelah, terlepas dari waktu kini yang ia yakini sudah larut malam.
“Makanan kalian sudah dingin.” Xin menatap haru kedua wajah majikannya. Sosok yang juga sudah seperti kawan sendiri. Keduanya yang terlihat sangat kelelahan, menatapnya sambil mengulas senyum masam.
Mandi bersama, saling mengurus dan memberi perhatian, kemudian makan pun masih mereka lakukan bersama dan itu di lantai depan tempat tidur. *Rice bowl* yang mereka pesan benar-benar sudah dingin bahkan sebagiannya melar karena bumbu yang terserap.
“Kana, … momen ini, … beneran enggak akan pernah aku lupa.” Lita mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya.
Tak ada kepiting lada hitam kesukaannya, tapi disuapi oleh Lita layaknya sekarang jauh lebih lezat apa pun makanannya.
“Bukan masalah itu. Ini tentang apa yang baru saja kita lewati. Kita sama-sama pergi, ke rumah sendiri dan enggak bergantung ke orang tua walau kita sangat bisa bergantung kepada mereka.” Lita berangsur mengelap kuah bumbu yang menghiasi bibir bawah Arkana menggunakan ibu jari tangan kanannya. “Ini lebih *sweet* dari … dari apa pun.” Lita berkaca-kaca menatap Arkana. Ia tersenyum dan perlahan menunduk. Ia memang bahagia, tapi kenyataan mereka yang sampai diusir Lilyn, dan hubungan mereka dengan keluarga Lita menjadi kurang baik gara-gara Lilyn, semua itu sungguh membuat Lita sedih.
*Cup*. Arkana mengecup kilat bibir Lita. Istrinya itu terkesiap dan perlahan menatapnya. Arkana ingin mengatakan semuanya baik-baik saja karena ia akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Lita seksligus hubungan mereka, tapi Arkan merasa sangat berat melakukannya karena Lita terlihat sangat sedih meski istrinya itu tak sampai berkeluh kesah kepadanya.
Arkana merengkuh pinggang ramping Lita kemudian menyimpan tubuh istrinya itu di pangkuannya. Ia mendekapnya penuh sayang, tapi kemudian melepas handuk yang membungkus kepala Lita. Ia mengeringkan kepala istrinya yang memang masih setengah basah layaknya kepalanya meski ia tak sampai membungkusnya juga menggunakan handuk.
“Aku memang bukan tua bangka seperti om Fean yang kamu idolakan sebagai pasangan idama. Aku lebih muda dari kamu, tapi aku pastikan, aku akan selalu membahagiakanmu. Kita akan menua bersama dan aku akan selalu mencintaimu.”
“Eh, kamu ngapain sih bawa-bawa om Fean terus? Kasihan tahu, telinga om Fean pasti panas gara-gara terus kita bahas!” Lita tersenyum geli sambil mendongak hanya untuk menatap wajah suaminya.
Tak pernah Lita bayangkan sebelumnya, pergi dari rumah orang tuanya dan langsung menempati rumah baru yang siangnya baru mereka pilih, malah membuatnya mendapat banyak kebersamaan romantis bersama Arkana. Mereka bahu-membahu mengurus semuanya, membayangkan akan selalu begitu hingga akhir karena mereka akan menua bersama. Sungguh tak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan dari apa yang kini Lita rasakan. Bahkan Lita mau-mau saja tak ada bulan madu dalam hubungan mereka karena mereka bisa melakukannya di rumah baru sambil mendesain sekaligus mengisinya sedemikian rupa, agar rumah mereka dan memang pilihan Lita, menjadi rumah idaman untuk mereka.
Anggapan bahwa setelah menikah, tinggal di rumah sendiri selalu jauh lebih nyaman tanpa peduli keadaan daripada menumpang bahkan ke orang tua sekalipun, kiranya tengah mereka rasakan. Bahkan meski nyamuk masih ada di mana-mana dan membuat hidup mereka jauh dari nyenyak, Lita dan Arkana bangun dengan perasaan bahagia. Mereka membuka mata sambil bertukar senyuman sekaligus pelukan.
__ADS_1
“Nanti kita bisa buatkan kamar khusus untuk Hesa,” ucap Arkana masih mendekap Lita dan fokus menatap Mahesa yang ada di sebelah Lita.
Lita menoleh dan menatap Arkana tanpa mau buru-buru beranjak dari tempat tidur terlebih keluar dari selimut sekaligus dekapan Arkana. Pagi ini sangat dingin meski di kamar mereka belum sampai dipasang AC. Mungkin karena semalaman penuh bahkan sampai sekarang, hujan masih berlangsung. Selain itu, hari ini jadwal mereka juga sama-sama padat. Meski Lita akan memilih bekerja dari rumah agar ia bisa menata rumah baru mereka dibantu perkerja. Ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Arkana sebagai wujud dari *quality time* mereka.
“Tapi aku kasihan kalau dia harus tidur sendirian,” lirih Lita.
“Ya enggak apa-apa, biar terbiasa.” Namun, Arkana juga mendadak berubah pikiran. “Iya, sih … memang kasihan. Kalau gitu, kita taruh sofa *bed* di—” Arkana mengatur denah di kamar mereka, memberi Lita arahan karena yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah pasti Lita meski Lita sendiri juga sudah sangat sibuk dengan urusan pekerjaan.
“Nanti di sini kan lemari pakaian kamu, sana juga masih punya kamu sampai depan kamar mandi. Di sini lemariku, lalu di sana nanti brankas koleksi jamku. Nanti sofa *bednya* kita taruh di belakang lemari tas sama sepatu kamu. Semacam ruang rahasia tapi tanpa sekat dinding.”
“Berarti sebelah jendela, kan?”
“Heeum.”
“Nanti luarnya dibikin taman biar pas jendelanya dibuka, suasananya lebih seger. Nanti dikasih beberapa pohon besar biar adem.”
“Nah, bener. Biar kita bisa olahraga rutin lebih nyaman, daripada repot-repot fitnes!”
“*Olahraga rutin* ini maksudnya apa? Sek-s?”
Sambil memijat-mijat kepalanya, Arkana yang menatap Lita berkata, “Ya iya, memangnya apa lagi? Olahraga menyegarkan sekaligus menyehatkan kan itu.”
“Ah Kana. Ujung-ujunya kamu enggak jauh-jauh dari itu! Kucing garong emang!”
Arkana menahan tawanya. “Ya enggak apa-apa, sama istri sendiri. Aku kan bukan tuan Yudi!”
“Ih Kana … jangan bahas dia kenapa? Dia lebih horor dari hantu kepala buntung yang nenteng-nenteng kepalanya sambil keliling kompleks, tahu!”
Arkana hanya cekikikan sambil mengacak-acak kepalanya menggunakan tangan kiri yang tak mendekap tubuh Lita.
“Kana, hari ini aku belum bisa masak karena belum ada perabotan.”
“Kita makan di restoran om Fean saja. Aku males ke restoran kamu karena di sana ada Culas.”
“Lucas, Kana, … bukan Culas.”
__ADS_1
“Ah, apa bedanya. *Play boy* kelas kodok ijo dia. Lompat sana-sini enggak mutu banget. Aku sumpahin dia dapat janda nenek-nenek yang anaknya banyak biar dia makin kerja keras dan lupa jadi *play boy*!” ucap Arkana yang kemudian berkata, “Ya sudah aku mandi dulu.” Ia meninggalkan Lita yang masih tertawa gara-gara sumpahnya.