My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 21 - Memang Berbeda


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu? Sayangku Zora ... jangan lupa makan ya, bayi kita butuh nutrisi."


Julian menghela napas panjang, hampir setiap malam dia memeriksa ponsel Zora demi memantau putranya. Pria itu memejamkan mata seraya memijat pangkal hidungnya, benar-benar rumit.


Niat hati membuat Lucas betah setelah sekian tahun tak pulang ternyata tercapai juga. Namun, sayang sekali cita-cita untuk kembali menghangat itu hancur seketika. Julian tenggelam dalam penyesalan, melihat Lucas yang begini dia sama hancurnya.


Meski sama sekali tidak dia perlihatkan kepeduliannya pada Lucas sejak pertikaian mereka hari itu, tapi pasca kepergian Zora perasaan bersalah pada keduanya membelenggu dalam batin Julian.


Berkali-kali dia berkaca dan merenungi ucapan asisten Mike, dia yang sudah terlampau tua tidak seharusnya masih memiliki angan untuk memiliki seorang gadis yang lebih pantas menjadi putrinya.


"Bukankah tujuan utama Anda adalah Lucas?"


Kepalanya mendadak sakit, Julian kembali mengingat ucapan asisten Mike. Memang benar, tujuan utamanya adalah adalah Lucas, bukan Zora. Dia mencari wanita yang bersedia menjadi seorang ibu semata-mata hanya demi Lucas, lantas kenapa kini dia malah egois menginginkan Zora juga.


"Huft ... tapi tetap saja wanita itu mengkhianatiku!!"


Julian masih belum begitu stabil, jika hanya Lucas yang mencoba menggoda maka dia tidak masalah. Akan tetapi, ketika memeriksa seluruh rekaman cctv yang masih berfungsi, kekesalan itu seakan kembali membuncah.


Terlebih lagi, kala Julian mengingat bagaimana Zora yang berpura-pura baik selama dua bulan ini. Seolah sengaja menipunya dan berniat terus berkhianat hingga akhir. Andai saja tidak ketahuan, mungkin sampai mati mereka akan bersandiwara dan Julian tertipu dengan keluarga manis yang ternyata hanya semu.


"Huft lupakan saja, lambat laun Lucas juga akan membaik dengan sendirinya."


Dua pria berbeda generasi itu dibuat sakit kepala hanya karena seorang wanita. Jenifer Azora yang saat ini perlahan mengerti bahwa dunia tidak sekejam itu. Lari dari neraka yang Julian ciptakan dan dipertemukan dengan sosok pria yang begitu baik adalah sebuah anugerah menurut Zora.


Dia tidak melupakan Lucas, sama sekali tidak. Namun, untuk kembali lagi juga enggan karena fakta sudah menunjukkan bahwa kehadirannya di antara mereka hanya membuat kekacauan.

__ADS_1


Bermodalkan kemampuan yang dia punya, Zora sedikit banyak bisa bermanfaat dengan membersihkan rumah seorang pria yang telah berbaik hati padanya. Pria lemah lembut dan humoris yang bahkan tetap memperlakukan Zora dengan baik meski tahu jika dia bukan seorang gadis, melainkan ibu hamil.


"Kau sedang apa? Aku saja ... ibu hamil tidak boleh terlalu lelah."


Zora tidak mengerti kenapa orang asing ini begitu baik, dia begitu sigap mengambil alih tugas Zora. Fabian Alexander namanya, wajahnya memang tidak setegas Lucas, tapi hati mereka kurang lebih sama.


"Aku menumpang di sini ... aku tidak ingin semakin merepotkanmu," tuturnya kemudian, tapi hendak membantah juga tidak bisa karena kini Fabian sudah mengambil alih piring kotor itu.


"Hahaha bahasamu aneh sekali ... biasa saja, lagi pula hanya cuci piring, ada baiknya kau istirahat. Sudah larut," titahnya kemudian, pria baik yang seolah menegaskan pada Zora bahwa dia hanya terjebak di lingkungan orang-orang yang salah.


Diminta istirahat, Zora tidak segera menurut karena memang belum ngantuk sama sekali. Dia yang merasa tertarik dengan serial kartun di televisi kini duduk dan menggantikan posisi Fabian yang sejak tadi menghabiskan waktu dengan cara ini.


Tidak berselang lama, Fabian kembali dengan tangan yang sedikit masih basah. Zora mendongak dan tersenyum tipis padanya, jujur saja dia kaku dan agak sedikit tidak nayaman awalnya.


Cukup jauh dari tempat tinggal Julian, meski mungkin saja tertangkap, tapi selagi Zora tidak keluar dari apartemen bisa dipastikan dia aman-aman saja.


"Bian."


"Iya? Kenapa?" tanya Fabian tetap fokus dengan televisi di depan sana, tapi telinganya cukup peka untuk mendengar ucapan Zora.


"Apa benar aku tidak masalah tinggal di sini?"


"Tidak ada, kenapa memangnya?"


"Aku khawatir bagaimana jika nanti kekasihmu datang dan menuduhmu yang tidak-tidak," ucap Zora mengutarakan kekhawatirannya, jujur saja dia tidak memiliki cita-cita dilabrak seorang wanita yang memang berhak atas diri pria itu.

__ADS_1


"Aku tidak punya kekasih ... santai saja," jawabnya santai, baginya tidak ada yang perlu dipusingkan di dalam dunia ini.


"Benarkah? Lalu siapa wanita yang ada di foto itu?" tanya Zora menunjuk sebuah foto dimana Fabian duduk di sisi seorang wanita yang memang tampak begitu muda dari usianya.


"Mamaku, cantik bukan?"


"Oh syukurlah jika begitu."


Dia tersenyum simpul, senyuman yang ternyata Fabian artikan lain. Seketika dia lupa jika wanita asing yang bersamanya sejak satu bulan ini adalah istri orang. Miris sekali nasibnya, nekat pergi ke luar negeri mengikuti langkah sahabat kecilnya pasca patah hati ternyata hasilnya berbeda.


Jangankan bertemu gadis cantik yang bisa dijadikan pasangan. Hampir setahun dia hidup di negara empat musim ini dan kehidupan asmaranya masih begitu-begitu saja. Dia justru dipertemukan dengan ibu hamil, beruntungnya Zora mengaku sejak awal. Jika tidak, besar kemungkinan dia akan terbawa pesona gadis cantik bermata biru itu.


"Boleh aku lihat suamimu?" tanya Fabian kembali, dia benar-benar penasaran dengan sosok pria yang membuat Zora sampai lari dalam keadaan hamil begini.


"Suami?"


"Hm, ayah dari anak itu ... suami yang mana lagi, jangan bilang berbeda ya," ucap Fabian kemudian tergelak dan menepuk pundak Zora hingga tubuh wanita tanpa aba-aba.


"Masalahnya memang berbeda, Bian."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2