My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 34 - Pertemuan


__ADS_3

Sesuai permintaan Lucas, keesokan harinya mereka menuju ke suatu tempat dengan tujuan hendak mengucapkan terima kasih. Fabian, pria itu yang ingin Lucas temui. Sepanjang perjalanan, dia terus menggenggam jemari Zora seolah benar-benar takut kehilangan.


Cukup lama waktu yang mereka butuhkan, hingga keduanya tiba di sebuah kota kecil dengan sejuta keindahannya. Tempat dimana Zora menghabiskan waktu bersama calon buah hatinya, tanpa sosok ayah. Hati Zora menghangat kala berada di tempat ini, suasana yang masih tampak sama dan dia benar-benar suka.


Kota ini mengajarkan Zora, bahwa hidup tidak hanya sekadar hidup. Fabian banyak memberikan pengalaman, maklum saja dunia Zora tidak seluas Fabian. Tidak ingin Lucas menyimpan perasaan yang tidak-tidak, Zora menceritakan banyak hal sepanjang perjalanan.


Hingga, ada satu hal yang membuat Lucas tertarik dan ingin melakukannya juga. Menikmati ice cream di musim panas bersama wanita yang dia cintai, tentu saja itu adalah hal mudah.


Zora memenuhinya tanpa banyak bicara, untuk pertama kali dia lakukan, sebenarnya sejak awal kehamilan Zora sudah begitu ingin menghabiskan waktu bersama Lucas.


"Kau duduk di sini, aku akan membelinya lebih dulu," tutur Lucas sebelum kemudian meninggalkan sang istri.


Zora mengangguk pelan, dia menghela napas lega seraya menghentak-hentakkan kakinya. Perasaan semacam ini kembali terulang, dia dibuat berdegub tak karu-karuan padahal yang berada di sana adalah sang suami, suami yang benar-benar dia cintai.


"Hai, kau kemana saja?!!"


Belum lima menit pasca kepergian suaminya, mata Zora dibuat membola kala pria tampan dengan jaket hitam dan topi yang biasa dia gunakan kini berdiri di hadapan Zora. Entah sejak kapan dia berada di sana, tapi yang jelas belum sempat Zora bertanya pria itu merengkuh tubuh Zora begitu erat tanpa peduli lingkungan sekitar.


"Kau tahu berhari-hari aku mencarimu, Zora? Kenapa tidak menghubungiku? sudah kukatakan salah-satu yang perlu kau ingat di dunia ini adalah nomor ponselku, kenapa kau batu sekali?"


Layaknya seseorang yang begitu merasa kehilangan, Fabian seolah enggan Melepasnya dari pelukan. Sama sekali dia tidak peduli sekalipun Zora meminta untuk dilepaskan bersama, yang jelas dia menemukan kembali cahaya setelah kemarin merasakan gelap gulita.


"Bian, tolong lep_"


"Tidak akan, kau tidak boleh tertangkap lagi, Zora. Kau kembali, pasti banyak yang kau lewati bukan? Terima kasih sudah berjuang, kau memang harus pergi dari sisi baji_"

__ADS_1


Bugh


Pelukan Fabian terlepas, ucapannya terhenti kala seseorang menarik punggung dan melayangkan pukulan tepat di wajahnya hingga terhuyung. Dia belum sempat melihat bagaimana seseorang yang berani menyerangnya.


"Lancang!! Kau berani memeluknya?"


"Lucas stop!! Jangan sakiti dia, ini salah paham okay?!"


Mereka terdengar berdebat, sejak itulah Fabian dapat menyimpulkan bahwa yang kini datang adalah suami Zora. Ya, penjahat gila yang menorehkan luka dan trauma dalam diri Zora. Akhirnya, dia diberikan kesempatan untuk bertemu pencundang itu.


Begitulah Fabian menyebut sosok suami Zora, pecundang yang tidak tahu diri dan hanya merusak mental seorang istri. Sejak lama dia berharap bisa bertemu dan menghajarnya hingga sesak napas, kini kesempatan itu datang jelas tidak akan dia sia-siakan.


Sementara mereka masih berdebat, Fabian menyiapkan ancang-ancang dan bangkit sebelum kemudian mendaratkan pukulan yang dua kali lebih kuat tepat di wajah Lucas. Sedikit terkejut, ternyata pecundang yang dia pikir adalah seorang tua bangka, ternyata justru sebaliknya.


"Sialan!! Jaga bicaramu!!"


Zora bingung, kedua pria ini justru sama-sama panas hingga pertengkaran tak bisa terelakan. Lucas tersinggung, Fabian sengaja cari perkara hingga berakhir imbang dan keduanya sama-sama hampir kehabisan tenaga.


.


.


Pertemuan pertama yang sangat berkesan, dua pria itu masih sama-sama diam ketika tiba di apartemen. Pada akhirnya Fabian juga yang harus mengalah, dia terlalu gegabah hingga salah menduga.


Itu juga harus karena Zora yang bicara. Kendati demikian, Fabian enggan meminta maaf karena dia adalah korban yang sebenarnya. Walau sah-sah saja, semua kesalahan terletak pada dirinya, salah sendiri kenapa lancang memeluk istri orang padahal sudah Zora larang.

__ADS_1


"Ehm ...."


"Bicaralah, aku akan mendengarmu," ucap Fabian seraya mengobati lukanya sendiri.


Menyebalkan sekali isi dunia, sama-sama terluka, tapi dia justru dihadapkan dengan hal semacam ini. Zora dengan hati-hati mengobati luka sang suami, dan Fabian sedikit iri.


"Aku saj_"


"I'm okay, Baby ... sudah hentikan, biar aku yang bicara," ucap Lucas lembut dan terdengar menyebalkan di telinga Fabian, sungguh.


"Intinya sma, 'kan? Biar aku yang bicara."


"No, Honey, harus aku sendiri."


Hendak bicara saja harus berdebat dahulu, padahal apa susahnya segera katakan. Dalam hati Fabian menggerutu, salah-satu yang dia tidak suka di dunia ini pasangan pengantin baru, pasangan yang dimabuk asmara dan intinya pasangan.


"Kalian akan terus begitu? Kebetulan besok aku harus pulang ke negaraku, katakan jika memang penting ... jika tidak, aku harus tidur sekarang."


"Tunggu, aku yang akan bicara," pinta Lucas kemudian, dia sudah meminta maaf sebelum ini, tapi Fabian masih memendam kekesalan padanya.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2