My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 23 - Tidak Terduga


__ADS_3

Sebagaimana sungai yang terus mengalir, begitu juga dengan waktu. Selama enam bulan terakhir Fabian memang begitu baik, tapi bukan berarti Zora tidak tahu diri dan menjadi beban untuk memenuhi keinginannya.


Meski sudah diminta untuk tetap berada di apartemen, Zora tetap pergi keluar untuk sekadar memenuhi hasrat sang buah hati. Maklum saja, kandungannya saat ini semakin membesar dan ternyata dia merasakan sesuatu yang kerap dirasakan ibu hamil lainnya.


Kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh hingga memungkinkan Zora merasa aman-aman saja. Selain itu, keinginan semacam ini tidak datang setiap hari.


Sama halnya seperti Lucas, pria itu ternyata cerewet juga. Larangan ini dan itu semakin bertambah seiring dengan perkembangan kehamilannya. Bahkan, jika ada sesuatu yang Zora rasakan maka Fabian akan menghubungi dokter yang sekiranya bisa diandalkan untuk memeriksanya.


Fabian melakukannya bukan tanpa alasan, di mata pria itu sosok suami Zora adalah pria jahat tak berhati yang harus benar-benar dihindari. Oleh karena itu, dia berusaha melindungi Zora dengan cara yang dia bisa.


Tidak jarang dia panik bahkan marah hanya karena Zora tiba-tiba keluar tanpa izinnya. Namun, Zora sedikit pembangkang dan malam ini dia kembali keluar lantaran mendadak ingin ice cream. Dia terpaksa, hendak menunggu Fabian masih lama dan akhir-akhir ini sahabatnya itu kerap pulang malam.


"Ice cream sebelum tidur memang benar-benar menyenangkan ... haruskah aku beli beberapa untuknya?" Zora bermonolog dan seakan tengah berdiskusi dengan pikirannya sendiri.


"Tapi nanti dia marah bagaimana? Aku makan di sini saja kalau begitu," ucapnya kemudian tersenyum simpul dan menikmati ice cream yang baru saja dia bayar.


Tidak begitu banyak hal yang membuatnya sedih akhir-akhir ini. Meski tidur sendiri terkadang membuat Zora kesepian, bukan berarti dia menjadikan hal itu sebagai penyebab turunnya air mata.


Zora sangat bahagia dengan kehamilannya, dia menikmati kehidupan manis yang tengah Fabian ciptakan. Terlebih lagi, pria itu bahkan rela pindah ke kota kecil yang dia rasa aman untuk Zora bersembunyi, pria asing itu memang benar-benar baik di mata Zora.


"Terima kasih, Bian ... kau baik sekali," tutur Zora di tengah kegiatannya menikmati ice cream tersebut.


Rasa manis dari vanila yang dia dambakan begitu menenangkan pikiran kusut Zora. Dia tersenyum tipis menatap keluar sana, malam ini kembali kelam seperti biasa. Kebebasan orang-orang yang berlalu-lalang tanpa khawatir tertangkap atau semacamnya di sana membuat Zora iri.

__ADS_1


Sungguh dia ingin, berbeda sekali dengan dirinya yang harus memakai jaket tebal dan topi demi melindungi dirinya. Tidak peduli sejauh apa dia pergi, tetap saja Zora harus waspada dan meyakini jika orang-orang Julian masih mengintainya.


Usai dengan ice cream yang dia nikmati, Zora berencana untuk pulang. Sebisa mungkin harus tiba sebelum Fabian pulang, jika tidak maka dia akan terancam dalam bahaya.


Usai menuntaskan ngidamnya, Zora berniat untuk pulang. Sudah tentu dengan berjalan kaki karena memang tidak sejauh itu. Namun, baru berlalu beberapa langkah, Zora tiba-tiba dikejutkan dengan beberapa orang berjas hitam yang berada di hadapannya.


Enam bulan kepergiannya, tapi bukan berarti dia tidak bisa mengenali siapapun yang pernah dikenalnya. Pria itu sangat familiar di matanya, bahkan caranya berjalan juga begitu dia kenal.


Zora meneguk salivanya pahit, sama sekali tidak dia duga jika perkiraannya selama ini salah. Hanya karena pindah ke kota yang lain, Zora merasa aman-aman saja.


Nyatanya, malam ini matanya terbuka kala menatap secara langsung asisten Mike beserta para bodyguard Julian berada tepat di depan mata. Zora takut, dia khawatir tertangkap dan justru kembali menjadi bahan siksaan.


Belum lagi, dia yang kali ini melarikan diri, sudah tentu Julian mungkin akan membakarnya hidup-hidup. Habis sudah hidup Zora, ice cream yang tadi sempat membuatnya sedikit lebih tenang kini mendadak gemetar hanya karena kejadian ini.


Zora mengambil langkah mundur dan mengambil arah yang berlawanan. Rasanya orang-orang itu tidak akan sadar dan mana mungkin mengenali dirinya. Dia sudah mengikuti kata Fabian, pakaian yang dia gunakan sudah begitu tertutup.


Namun, Zora merasa aneh dan seseorang mengikuti langkahnya di belakang. Segera dia mempercepat langkah dan berharap tidak akan ada yang terjadi beberapa saat kedepan.


Semakin lama Zora melangkah, semakin dia merasa orang itu semakin dekat. Namun, jika memang mengejar dirinya kenapa mereka tidak mencegat langkahnya, pikir Zora.


"Jang_"


Setelah cukup lama perperang dengan diri sendiri, barulah Zora memutuskan untuk menoleh dan memastikan siapa yang mengejarnya. Benar saja, tidak ada siapapun di belakang dan semua itu seolah murni halusinasi belaka.

__ADS_1


Zora mengerjap pelan, dia menghela napas panjang seraya mengelus dadanya. Ketakutannya berlebihan, bahkan tidak sadar jika dia sudah terlampau jauh dari lokasi sebelumnya.


Baru saja beberapa saat Zora merasa lebih tenang, wanita itu kembali dibuat terkejut kala ponselnya berdering. Hampir saja dia mengumpat, Fabian menghubunginya dan sudah pasti pria cerewet itu akan marah besar padanya.


"Kau dimana?"


"Di luar, aku sudah di jalan pulang."


"Tanpa izinku lagi, kenapa kau pembangkang sekali, Zora."


"Maaf, tadinya aku benar-benar menginginkan ice cream jadi aku pergi sendirian," jawab Zora pelan, dia khawatir sebenarnya andai pria ini benar-benar marah.


"Katakan saja dimana, aku akan menjemputmu."


"Aku di_" Ucapan Zora terhenti, lidahnya mendadak kaku dan ponsel yang dia genggam jatuh begitu saja dan meninggalkan Fabian yang memanggil namanya berkali-kali.


"Zora!! Kau dengar aku?!"


Tidak lagi ada kesempatan menjawab, Zora bergeming seketika kala melihat siapa yang kini berada di hadapannya. Detik itu juga kaki Zora mendada kaku dengan tangan yang memeluk perutnya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2