
Sesuai dugaan Fabian, sebenarnya Zora sedang berusaha menghubungi pria itu. Dia mencoba mengingat nomor ponsel Fabian, tapi memang tidak berhasil. Dia lupa, karena nomor ponselnya saja tidak dia ingat, bagaimana dengan nomor Fabian.
"Kau sedang apa?"
Suara Lucas mengejutkan Zora, wanita itu menoleh dan dia tersenyum kaku di hadapan sang suami. Khawatir Lucas marah, padahal mata teduh Lucas mana mungkin tega menatapnya dengan amarah.
Sudah hampir larut, tapi Zora masih berkutat dengan telepon genggam dan kertas kosong yang sudah dia coret berkali-kali. Begitu banyak kombinasi angka yang tertera di sana, tanpa perlu dijelaskan Lucas seolah mengerti apa yang tengah istrinya lakukan.
"Sejak tadi kau mencobanya? Apa belum berhasil juga?"
"Belum ... kau sudah selesai, Lucas? Ayo tidur, kau terlihat lelah sepertinya," ungkap Zora menepuk sisi tempat tidurnya.
"Kita datangi saja besok, kau masih ingat dimana tempatnya bukan?" Bukannya menjawab, Lucas justru balik bertanya dan membuat Zora merasa dia terlampau egois saat ini.
"Lucas, kenapa kau begini?"
"Aku ingin berterima kasih karena sudah menjaga anak dan istriku, kenapa kau setakut itu?" Sungguh, sama sekali Lucas tidak berpikir picik kali ini.
Niatnya memang datang untuk mengucapkan terima kasih, bukan marah tidak jelas dengan alasan cemburu dan yang lainnya. Sosok Fabian terlalu baik, dia sangat sempurna sebagai pria di mata Lucas.
Seorang Fabian yang bisa saja bertindak lebih jahat kala menemukan Zora, tapi dia tidak melakukan hal itu. Jika saja bukan dipertemukan dengannya, mungkin nasib Zora akan berbeda.
Karena itulah dia merasa memiliki hutang budi, walau hanya sekali dia ingin bertemu Fabian dan mengucapkan terima kasih. Namun, agaknya Zora justru berpikir lain dan khawatir jika Lucas melakukan hal yang tidak baik pada Fabian.
"Benar hanya untuk itu?"
__ADS_1
"Tentu saja, kau pikir untuk apa lagi? Hm?" tanya Lucas mengusap lembut wajah cantik sang istri.
"Kau tidak akan memukulnya?" tanya Zora sekali lagi, beberapa waktu lalu raut wajahnya terlihat berbeda kala mengetahui jika yang menjaga Zora adalah seorang pria, bukan wanita.
"Pikiranmu buruk sekali, mana mungkin aku akan memukulnya."
Lucas mengacak gemas rambut sang istri, mengembalikan ponsel serta kertas dan pena ke tempat seharusnya. Sudah terlalu larut, Zora harus tidur begitu juga dengan dirinya.
Dugaan Zora salah, dia pikir setelah berhasil menikahinya, Lucas akan egois dan hanya mementingkan naluri sebagai laki-laki. Bukan tanpa alasan Zora berpikir begitu, karena sejak awal kembali Lucas bahkan mencari 1001 cara demi bisa memandangi tubuhnya secara cuma-cuma.
Namun, kenyataannya berbeda. Lucas tidak pernah membujuk Zora untuk memuaskan kerinduan sejak bertemu, hanya sebatas memeluk dan mengecupnya, tidak lebih. Entah karena kondisi Zora yang tengah hamil, atau memang karena Lucas punya alasan lain.
"Ayo tidur, kau pasti lelah."
Kembali terbukti malam ini, malam pertama sebagai suami istri, tapi Lucas tidak meminta Zora melayaninya. Pria itu menarik sang istri dalam pelukan, detak jantung Lucas seolah menjadi tempat pelarian ternyaman bagi Zora.
"Hm? Ada apa? Apa tidak nyaman?"
"Bukan, apa kau yakin akan segera tidur tanpa melakukan apa-apa?" tanya Zora sedikit malu, mungkin setelah ini Lucas akan menganggapnya meminta lebih dahulu.
"Melakukan apa memangnya? Apa kau mau kupijat?"
Kembali Zora menggeleng, bukan sama sekali. Dia tidak minta dipijat, tapi justru menawarkan hal lain yang sedikit sulit untuk dia utarakan.
"Lalu apa?"
__ADS_1
"Kita sudah menikah, apa kau tidak menginginkan aku?"
Walau malu luar biasa, tapi Zora berhasil meloloskan pertanyaan itu pada akhirnya. Jantungnya bergemuruh, dia malu dan takut Lucas justru menggila seperti kala itu. Namun, di sisi lain sesuatu dalam dirinya juga mengatakan ingin.
"Sangat, tapi kau hamil aku tidak tega," jawab Lucas jujur seraya menatap Zora dengan mata sendunya.
Jika dahulu dia mungkin bisa egois demi memikirkan diri sendiri, kini tidak lagi. Enam bulan lalu sudah cukup menjadi pelajaran, Zora yang malang hampir kehilangan nyawa karena keegoisannya, jelas saja kali ini dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Kata dokter tidak apa-apa, tapi harus hati-hati dan pakai perasaan."
"Hm? Kau tahu dari mana? Dokter belum mengatakan hal itu pada kita." Seingat Lucas, mereka memang belum pernah mendatangi dokter kandungan, dan jelas dia belum pernah mendengar pernyataan itu.
"Aku pernah diperiksa dokternya beberapa kali, dan diizinkan untuk melakukan hubungan," jawab Zora dengan mata yang berkedip pelan.
"Fabian yang menemani? Lalu dia dianggap suamimu oleh dokter itu? Ck, sial dimana rumah dok_"
"Bian tidak pernah mengakuiku sebagai istri di hadapan siapapun, jadi jangan berpikir macam-macam ... katakan saja mau atau tidak? Jika tidak kita tidur dan jangan pernah meminta sampai tahun depan."
"MAU!!" jawab Lucas penuh semangat hingga telinga Zora sedikit sakit, dia sempat terkejut dan kini dada wanita itu berdegub tak karu-karuan.
"Hah semudah itu berubah pikiran?" tanya Zora tak percaya, cepat sekali dia merubah keputusan.
Tentu saja, mana mungkin Lucas menolak. Dia rindu, sangat merindukan wanita yang telah membuat air matanya seakan terkuras habis enam bulan terakhir. Sebelum bertemu Fabian esok hari, jelas dia harus menyiapkan tenaga karena khawatir justru merasa tak berguna nantinya.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -