My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 27 - Bukan Istri Daddy


__ADS_3

"Kenapa? Apa kau takut kehilanganku?"


Pertanyaan konyol, jelas saja Zora takut. Salah-satu alasan pergi juga demi Lucas, bukan hanya dirinya saja. Dia tidak menjawab, tapi air mata itu sudah menegaskan apa yang menjadi jawabannya.


"Katakan, Zora ... aku butuh pengakuanmu."


"Tentu saja, Lucas, kau bahkan lebih lemah dari bayanganku. Wajar saja aku takut," tutur Zora sejujur-jujurnya.


Dia pernah mengharapkan Lucas akan mampu melindunginya, tapi ternyata kepercayaan itu patah karena pada faktanya Julian tetap berkuasa dan mampu menekan diri Lucas hingga terkulai lemas.


"Ya, aku memang lemah dan tidak punya kekuatan untuk melawan Daddy ... tapi kau percaya, 'kan jika Daddy masih memiliki hati nurani?"


Lucas akui, dia memang tidak memiliki kekuatan untuk melawa ayahnya. Mau bagaimanapun dia berusaha, tetap saja Lucas kalah. Hanya saja, kali ini dia berbaik hati dan Lucas sedang beruntung.


"Percaya, daddymu masih berbaik hati menerimaku sebagai istri meski aku tengah mengan_"


"Zora, please!! Bisa kau berhenti menganggap Daddy suami? Hatiku sakit," ucapnya seraya menyentuh dada seolah baru saja tertusuk anak panah, dramatis sekali pria itu.


"Lalu siapa?"


"Daddy ya Daddy ... kau megandung anakku, jadi yang suamimu itu aku," tegas Lucas seenaknya, memutuskan sesuatu sesuai keinginan dan tidak peduli fakta yang ada.


"Mudah sekali kau bicara, Lucas, andai dunia seindah itu."


"Memang benar begitu, Zora, kau bukan lagi istri Daddy jadi kau adalah milikku, paham?"


Bagi Lucas, wanita itu adalah miliknya tidak peduli bagaimana status awal. Lagi pula Daddy Julian mengatakan jika Zora tidak lagi menjadi istrinya, wanita itu sudah lepas dari jerat Julian tanpa syarat.

__ADS_1


"Kau sedang membohongiku, 'kan?"


Sempat patah karena terlalu berharap Lucas bisa menghadapinya, kali ini Zora masih cukup sulit untuk percaya ucapan pria itu. Bukan hanya karena dia lemah di mata Zora, tapi pada kenyataannya, Lucas memang terbiasa membual.


"Wajahku sudah seserius ini, bagaimana bisa kau mengatakan aku berbohong, Zora?" tanya Lucas seraya menghela napas panjang, ya dia paham memang dirinya selemah itu. Namun, apa tidak bisa Zora percaya padanya sedikit saja kali ini?


"Siapa tahu, setelah hari itu aku bahkan tidak percaya bahwa kau mencintaiku, Lucas."


Lucas mengerutkan dahi, perkataan Zora kali ini sedikit mengejutkan dan menggores hatinya. Pria itu menatap perut Zora yang kini membesar, mungkin dia merasa malu pada calon buah hatinya.


"Aku bahkan mengikatmu dengan bayi itu, laki-laki mana yang bersedia menanam benih di rahim wanita yang tidak dia cintai?"


Penafsiran cinta menurut Lucas dan Zora memang berbeda. Bagi Lucas sederhana saja, dia menyentuh Zora karena cinta, bukan sekadar pelampiasan belaka.


"Jadi menurutmu anak adalah bukti cinta?"


Percaya diri sekali dirinya, padahal Zora sudah mengutarakan keraguannya tentang perasaan Lucas. Pria itu tergesa-gesa, dan dahulu meminta bukti cinta dengan tubuhnya, wajar saja jika Zora ragu seketika.


"Tidak juga," jawab Zora mencebik kesal jika mengingat hal itu, mudah sekali dirinya pasrah kala Lucas merayunya.


"Oh iya? Tapi kau sangat menyayangi bayiku ... kata Sofia kau sampai berniat kabur lagi karena takut Daddy menyingkirkannya," ucap Lucas mengikis jarak hingga napasnya seolah menyentuh permukaan kulit Zora.


"Oh bayi ini? Jelas saja, aku sangat menyayanginya karena dia bayiku. Bukan berarti cinta mati padamu, tuan muda," balas Zora tak mau kalah.


"Apapun itu, kau begitu takut kehilangannya karena benihnya dariku ... andai dari Daddy bagaimana? Apa mungkin kau setakut itu?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Zora bungkam, seolah tahu isi hatinya, Lucas melontarkan pertanyaan jebakan yang membuat wanita bingung seketika. Padahal, Lucas hanya memberikan pengandaian dan dia justru sakit kepala memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan? Sudah dibayangkan? Wajahmu sudah menjelaskan kau mencintai anak itu karena aku yang jadi ayahnya," ucap Lucas memang akan terus percaya diri dan Zora tidak memiliki jawaban sama sekali.


"Terserah kau saja, sana pergi aku harus mandi ... seseorang membersihkan tubuhku semalam dan aku yakin tidak bersih," ucapnya sebelum kemudian beranjak berdiri dan secepatnya Lucas halangi.


"Akan kuulangi, semalam aku diawasi Sofia jadi tidak bisa bebas. Daerah lipatan dan aset milikku tidak bisa kusentuh walau ingin, Zora."


Zora memerah, meski jujur saja dia bahagia kala Lucas memberikan penegasan tentang siapa yang membersihkan tubuhnya semalam, tetap saja Zora malu. Tanpa dia duga Lucas akan bicara sesantai itu tanpa sedikitpun peduli tentang rasa malunya.


"Terima kasih, tapi aku akan lakukan sendiri jadi kau pergi saja," pinta Zora mendorong tubuhnya agar segera menjauh.


"Aku bantu ya, kau hamil dan susah menunduk bukan? Kau tidak bisa menjangkau beberapa bagian tubuhmu dengan bebas, jadi biarkan aku saja."


"Lucas, tidak perlu dan aku bisa mandi sendiri ... perutnya tidak mengganggu dan aku masih bisa bergerak bebas jadi jangan khawatir," tolak Zora tidak terbantahkan, hanya karena tengah hamil bukan berarti Zora tidak bisa melakukan apa-apa.


"Baiklah, tapi pintunya jangan ditutup." Lucas menyerah, tapi tidak sepenuhnya karena dia justru mengambil posisi di ambang pintu dan mempersilahkan Zora mandi sendiri.


"Kau mau apa di sana?"


"Melihatmu," jawabnya santai.


"Kau bercanda? Aku sudah dewasa dan tidak perlu diawasi," gerutu Zora kesal sendiri, dia sempat berpikir kehadiran maid adalah sesuatu yang paling menyebalkan dalam hidup, tapi kali ini dengan jelas dia katakan bahwa Lucas lebih menyebalkan dari itu.


"Aku mengawasi anakku, bukan dirimu ... sana mandi, dia memang harus mandi pagi agar tumbuh dengan baik."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2