My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 30 - Hati Seorang Ayah


__ADS_3

"Ssshh pelan-pelan."


Tidak butuh waktu lama bagi Lucas untuk menerima pembalasan dari lidah tajamnya. Dalam kurun waktu tidak lebih dari lima belas menit, alam seolah bekerja sama untuk memberikan pelajaran padanya.


"Apa masih perih?"


Lucas mengangguk, memang fakta lutut dan sikunya terasa perih. Padahal, dia hanya menghindari kejaran sang ayah hingga ke luar rumah. Namun, sialnya kaki pria itu justru salah melangkah dan tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga terjatuh layaknya bayi baru belajar berjalan.


Lutut dan tangan Lucas terluka, tergores lantai kasar di depan rumahnya. Tanpa dipukul ataupun mendapat serangan dari pengawal sang ayah, dia terjatuh sendiri dan berhasil membuat Julian tertawa puas meski dia tidak bertindak.


"Sudah kukatakan jaga bicaramu, akhirnya begini ... rasakan saja."


"Mana kutahu kalau Daddy mengawasiku, menyebalkan sekali. Kenapa tua bang_ maksudku Daddy tahu segalanya," ucap Lucas pelan, hampir saja dia kembali melontarkan julukan itu untuk sang ayah, jika Zora tidak mendelik mungkin dia tidak akan sadar.


"Sudah tahu dia tahu segalanya dan kau masih berani bertingkah ... Daddy sudah baik dan kita harus jaga sikap."


Sempat mengatakan Julian sebagai pria paling menakutkan dan tidak memiliki hati, tapi kali ini Zora merasakan kebaikan dari pria itu. Seperti yang dia katakan, Julian memang seorang ayah yang baik dan dia bahkan merasa berdosa karena telah membuat hubungan anak dan ayah itu renggang karena dirinya.


"Akan kucoba, andai bisaaaarrghhh pelan-pelan ... Zora, apa tempurung lututku ini pecah? Kenapa sakit sekali rasanya?"


Luka yang dia alami tidak separah itu sebenarnya, darah yang keluar juga hanya sedikit. Namun, Lucas seolah baru saja mengalami kecelakaan besar yang membuat anggota tubuhnya tidak berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Hanya luka, dan ini tidak parah jangan berlebihan," ucap Zora menenangkan pria itu, sejak tadi dia berusaha mengobati luka kecil di lutut Lucas dan selalu terhenti karena mulutnya heboh sendiri.


"Benarkah? Tapi tadi aku jatuhnya jauh sekali, Zora ... seperti dilempar dengan sengaja, untung saja wajahku tidak terluka. Bayangkan jika sampai tergores, pasti kuhajar yang tadi berani mengejarku!!"


Dia yang menghindar, dia yang jatuh sendiri dan ternyata menyalahkan orang lain. Padahal, Zora turut melihat bagaimana Lucas berlari menghindari kejaran para pengawal hingga akhirnya terjatuh, tentu saja tidak sejauh dan semengerikan yang Lucas ceritakan.


Besar kemungkinan luka sekecil itu akan jadi hambatan Lucas selama berhari-hari. Bukan hanya menjadi beban Zora, tapi juga sang ayah yang berakhir memanggil dua dokter sekaligus demi memastikan kondisi putranya sebelum tengah hari.


Jika dia tahu akan begini, rasanya lebih baik diam dan menerima semua ucapan Lucas. Hanya karena insiden jatuh tanpa sengaja itu, Lucas mengeluh dan membuat Julian benar-benar khawatir bahwa tempurung lutut Lucas bermasalah.


"Tidak ada masalah, Tuan, hanya luka kecil dan saya perhatikan sudah ditangani dengan benar."


Sama iyanya, Zora pikir pria itu bisa berpikir jernih. Nyatanya justru persis Lucas yang merengek dan takut lumpuh akibat cidera lutut. Dua dokter yang dipanggil sudah memberikan penjelasan, agaknya mereka merasa gagal jadi tim medis.


"Tidak ada, Tuan, dan juga sebenarnya tuan muda jatuh dari mana? Lantai tiga atau dimana?" Tidak ada salahnya kembali bertanya, pria dengan jas putih itu penasaran dan khawatir jika salah menangkap penjelasan pasiennya.


Tidak lelah Julian menjelaskan, sementara Lucas yang terbaring di tempat tidur hanya mendengar dengan seksama ucapan sang ayah. Dia benar-benar merindukan masa ini, masa dimana sang ayah panik dan mendesak dokter setiap kali dia terluka.


"Ah kami tidak salah dengar ternyata," sahut pria itu kemudian mengulas senyum kaku.


Hendak bagaimana lagi dia bicara dan menjelaskan pada keluarga pasiennya ini bahwa yang dialami Lucas hanya luka biasa. Entah karena pasien terlalu manja, atau memang ayahnya yang terlalu khawatir hingga luka semacam itu sampai mendesak dua dokter ke rumahnya segera.

__ADS_1


"Begini saja, saya akan berikan obat pereda nyeri untuk luka-lukanya. Sepertinya tidak akan lama jika Anda minum tepat waktu."


Sedikit bisa diatasi, beruntung saja Julian tidak lagi banyak protes dan menerima ucapan dokternya. Mereka bergegas pulang meninggalkan keluarga itu, keluarga yang ternyata perlahan menghangat seiring dengan berbagai hal dalam kehidupan mereka.


"Ada-ada saja, Daddy harus pergi ... tidak masalah, 'kan?"


"Hm, thanks, Dad," ucap Lucas pelan, sejak tadi dia merenung apa mungkin insiden itu teguran semesta akibat sikapnya pada sang ayah.


Bukan hal mudah untuk memperbaiki semua ini. Julian harus meredam ego dan mengubur rasa malu di hadapan Zora. Terlebih lagi dia sempat bersikap kasar tentu saja membuat Julian merasa bersalah pada keduanya.


Dia melangkah pelan meninggalkan Lucas, hingga langkah Julian terhenti ketika hendak menutup pintu kamar putranya. Sedikit terkejut, tapi Julian kembali berbalik.


"Ada apa, Lucas?"


"Jangan berjudi lagi, sudah waktunya Daddy berhenti," ucap Lucas lembut hingga Julian kini terpaku mendengar ucapan sang putra.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2