My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 29 - Perlu Dihajar


__ADS_3

Setelah enam bulan berlalu, suasana di meja makan kembali hidup. Daddy Julian kembali menyaksikan putranya menikmati sarapan dengan wajah yang tampak berbinar, segar dan terlihat bahagia. Tidak sia-sia dia mengorbankan waktu dan uang demi mencari Zora jika begini.


"Syukurlah, aku harap tubuhnya akan sedikit berisi setelah ini."


Sudah begitu lama dia tidak menyaksikan sang putra menikmati makanan dengan baik. Lucas terlihat lahap bahkan sempat memuji pelayan hanya karena susu yang dia minum manisnya pas. Sebuah momen langka yang memang patut membuat Daddy Julian menghela napas lega.


"Tapi tunggu!! Kau tidak boleh terlena, anak itu harus diberi pelajaran!!"


Hampir saja Daddy Julian lupa, hanya karena putranya terlihat bahagia dia sampai terlena dan seolah lupa tujuan awalnya. Beruntung saja kewarasan Daddy Julian segera kembali dan mengingat tujuan awal. Ya, anak durhaka satu ini perlu diberikan pelajaran agar dia sadar dan hati-hati dalam bicara.


"Lucas! Boleh Daddy bertanya?" tanya pria dengan rambut yang sudah memutih seraya menatap tajam Lucas.


"Hm? Silahkan, Dad ... apa?" Tidak hanya Daddy Julian yang terlena, tapi Lucas juga.


Sama aekali dia tidak menyadari kesalahan pada sang ayah. Ajakan untuk sarapan bersama dia anggap sebagai sebuah sambutan baik dan sikap hangat ayahnya.


"Bagaimana pendapatmu tentang anak yang tidak memiliki sopan santun dan tidak tahu terima kasih pada orang tuanya?" Masih dengan nada yang terdengar santai, Daddy Julian mulai bertanya dan hal itu jelas ditanggapi dengan seksama dan akal sehat oleh Lucas, sebagai anak baik tentunya.


"Wah pantas dicambuk, Dad, sopan santun adalah hal utama yang harus dimiliki seorang anak."


"Benar begitu?"


"Tentu saja, aku tidak bisa membayangkan kenapa anak-anak semacam itu masih hidup di dunia. Apa mereka lupa orang yang telah berjasa pada mereka? Ah aneh sekali," jawabnya mantap dan sama sekali tidak ada keraguan.


"Benar sekali, Daddy sependapat denganmu ... tapi bagaimana jika nanti anakmu yang justru begitu?"

__ADS_1


"Sebagai ayah, aku akan mendidiknya secara tegas, Dad!! Kesopanan adalah hal penting dalam hidup. Bukan hanya pada kedua orang tua saja, tapi pada semua orang dia juga harus bisa bersikap sopan," papar Lucas tampak cerdas dan menunjukkan sisi naluri seorang ayah yang baik di dalam dirinya.


Cukup lama terdiam, bahkan angin seolah bersiul dan meragukan ucapannya. Sama seperti Zora yang sejak tadi mengerjap pelan dan menatap Lucas dengan tatapan tak terbaca.


"Sesuai Harapan Daddy cara berpikirmu memang dewasa," puji Daddy Julian yang ternyata benar-benar membuat Lucas besar kepala.


"Ah jangan terlalu memujiku, Dad. Seperti yang Daddy tahu, sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah juga ... jadi tentu saja hal semacam ini harus aku rencanakan."


Murni jawaban yang muncul dari otaknya, suasana hati Lucas pagi ini teramat baik hingga dia tidak memiliki pikiran picik tentang sang ayah. Padahal, sudah jelas yang dimaksud Daddy Julian adalah dirinya.


"Ah benar juga, Daddy lupa."


"Kenapa bisa lupa? Apa karena Daddy masih menganggap Zora istri?"


"Tidak, perceraian sudah Daddy urus sejak lama dan kalian bisa menjalani hubungan sebagaimana mestinya ... lupakan semua yang terjadi sebelum ini, dan teruntuk Zora, Daddy meminta maaf atas apa yang kau alami."


Seketika suasana kembali tegang, Zora tampak kaku dan bingung hendak menjawab apa. Sementara Lucas yang justru terharu dengan ucapan sang ayah tanpa terduga mengutarakan sebuah ucapan terima kasih dengan cara yang membuat Daddy Julian mendadak geli.


"Daddy aku sangat bersyukur ... ternyata Daddy tidak sejahat yang kupikirkan. Terima kasih, Daddy aku benar-benar tidak menyangka penjudi ini masih memiliki hati nurani," ucapnya seraya memeluk erat tubuh sang ayah hingga napas pria itu terasa sesak.


"Ck kau ini!! Bisakah jaga bicaramu sedikit saja?"


"Hah? Kenapa, Dad? Apa kata-kataku menyakiti Daddy?" tanya Lucas polos tanpa merasa bersalah, agaknya dia terlalu bahagia hingga melakukan segala sesuatu tanpa berpikir lebih dulu.


"Iya anak setan!! Tua bangka, bau tanah, penjudi dan apa lagi? Kau pikir itu tidak menyakiti?" Sempat ingin mengubur dalam-dalam kemarahannya, tapi emosi itu kembali menguar kala Lucas menyebutnya penjudi yang masih memiliki hati.

__ADS_1


"T-tapi itu nya_"


"Nyata? Iya!! Daddy tahu itu nyata tapi tidak perlu dipertegas juga, paham kau?"


Segera dia menyingkirkan tangan sang putra yang melingkar di lehernya. Sejak kapan hubungan mereka sehangat itu, sepertinya tidak pernah.


"Ah jadi yang Daddy maksud tadi adalah aku?" Setelah mendengar pengakuan sang ayah, baru dia tersadar dan mulai mengerti maksud pertanyaan Julian.


"Menurutmu?"


"Sepertinya iya, ta-tapi aku tidak bermaksud mencaci Daddy sungguh!!"


"Tapi kau lakukan, apa bedanya?!"


"Spontan, Dad, lidahku sudah terbiasa jadi ...." Lucas berhenti bicara kala menyadari tatapan tajam sang ayah. Dia kembali salah bicara, dan tangan Daddy Julian yang kini berusaha meraih garpu membuat jantung Lucas berdegup dua kali lebih cepat.


"Terbiasa? Ah terbiasa rupanya? Jadi lidahmu sudah terlatih mencaci Daddy, Lucas?"


"Bu-bukan begitu, astaga aku salah bicara ... Daddy tenang dan jauhkan benda itu," ucap Lucas mulai mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.


"Tadinya Daddy ingin memaafkanmu, tapi sepertinya kau memang harus Daddy hajar, Lucas!!" Belum selesai Daddy Julian bicara, Lucas sudah menghilang dan diikuti sang ayah yang meminta para pengawal untuk menghalangi jalan Lucas.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2