My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 24 - Pulanglah


__ADS_3

"Zora!! Kau dengar aku?!"


Pertanyaan itu benar-benar ingin Zora jawab, bahkan jika bisa dia ingin berteriak sekuat tenaga demi mendapat pertolongan dari Fabian. Sayangnya, secepat itu seseorang justru mengambil alih ponsel Zora dan memutuskan panggilan teleponnya.


Belum ada kalimat yang diucapkan pria di hadapannya, tapi mata Zora sudah membasah dan lututnya mendadak lemas. Dia menatap sekeliling, keberadaannya sudah terkepung dan tidak memungkinkan untuk benar-benar pergi.


Zora yang tidak lagi punya kuasa, segera berlutut dan kembali melakukan hal yang sudah biasa dia lakukan dahulu. Ya, layaknya seorang budak yang merasa bersalah pada tuannya, Zora berlutut seraya meremmas jemarinya.


"Biarkan saya pergi, Tuan ... saya mohon."


Tidak seperti pada adegan film action yang pernah dia saksikan, Zora tidak ditemukan seseorang yang dia cintai, melainkan sebaliknya. Julian membawa orang-orangnya untuk membawa Zora kembali ke neraka yang susah payah Zora tinggalkan.


Jangan ditanya bagaimana perasaannya, jelas saja takut dan kalut menjadi satu. Satu-satunya ketakutan yang membelenggu batin Zora ialah bayi di dalam kandungannya, dia takut dan sangat-sangat takut.


"Pulanglah, sudah cukup aku memberimu kesempatan hidup bebas di luar sesuai keinginanmu."


Zora mendongak, jelas saja dia tidak mau. Wanita itu menggeleng berkali dan menunduk dalam, andai tidak ada yang mengintai dari belakang kemungkinan besar dia akan berlari sejauh mungkin. Sedikit saja tidak ada niat Zora untuk kembali ke rumah itu, cukup sudah dia merasakan penderitaan tiada habisnya di sana.


Saat ini, lebih baik Zora berakhir dibandingkan harus kembali menjadi istri pria itu. Bukan hanya tidak bersedia, tapi tidak sudi sama sekali. Membayangkan aroma dan caranya bersikap saja sudah membuat Zora mual, mana mungkin dia bersedia menerima ajakan Julian walau cara bicaranya tampak halus begitu.


"Saya tidak akan kembali ke rumah itu."


Tidak ada jawaban dari Julian, dia hanya memberikan kode pada asisten Mike untuk kemudian meringkus Zora. Sempat berontak, dia tidak bersedia untuk kembali terjerat ke dalam hubungan yang terlampau rumit itu.

__ADS_1


Namun, pada dasarnya Zora memang wanita lemah jika sudah berada di bawah pengawasan Julian. Dia yang tadinya berontak, perlahan melemah bersamaan dengan asisten Mike yang membekap mulutnya hingga kesadaran wanita itu menurun.


Sama sekali Zora tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kemana dibawa dan bagaimana nasibnya nanti sama sekali Zora tidak mengerti. Didampingi asisten Mike, Julian akhirnya kembali membawa kelinci lemah yang berani lari sejauh ini.


Seekor buruan merepotkan yang membuat putranya seolah kehilangan akal sehat. Hanya karena mencari Zora, Lucas bahkan bermalam di luar dan asal tidur saja. Dia yang terus berhalusinasi bahkan menganggap semua pelayan di rumahnya adalah Zora adalah alasan paling kuat kenapa Julian mencari Zora.


.


.


Tidak hanya Julian yang mencari, tapi Lucas juga demikian. Dia juga tidak berkeliling di satu tempat, tapi di beberapa kota dan Lucas kerap menimbulkan kekacauan dan berakhir menjadi buruan polisi.


Sekacau itu Lucas karena wanita, dan sejak satu minggu yang lalu dia dilarang keluar oleh sang ayah entah apa penyebabnya. Lucas malas, hubungan mereka belum baik-baik saja dan dia sempat memberontak.


Jika sudah di kamar, yang dia lakukan selalu sama. Mencoba menerka kemana Zora meninggalkan dirinya. Sudah begitu banyak titik yang Lucas datangi, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda Zora berada di sana.


Dia tahu Zora bukan wanita nakal, tapi Lucas nekat mencari Zora ke beberapa club malam. Pikirannya sepicik itu, dia berpikir dan khawatir Zora justru kembali dipertemukan oleh orang-orang yang tidak jauh berbeda seperti ayahnya.


Hingga, di tengah kesibukannya deru mobil sang ayah beserta para pengawalnya mulai terdengar. Bukan hal aneh bagi Lucas, pertanda tua bangka yang selalu mengekangnya itu sudah kembali.


Awalnya Lucas tidak peduli, tapi entah kenapa kali ini dia hatinya tergerak untuk menyambut kedatangan ayahnya. Sudah berhari-hari mereka tidak bertemu, dan asisten Mike mengatakan ayahnya sudah berhenti berjudi.


Lucas tidak melakukan hal yang sama seperti Zora, mana mau dia menyambut sang ayah hingga ke depan pintu utama. Dia hanya memantau saja, menyaksikan kedatangan pria itu dari lantai dua meski sebenarnya tidak ada yang menarik.

__ADS_1


Ya, tidak ada yang menarik. Namun, mata Lucas dibuat membola setelahnya kala menyadari asisten Mike membopong seorang wanita dengan jaket tebal dan membalut tubuhnya. Siapa lagi? Apa mungkin ayahnya sudah melupakan Zora hingga mencari wanita lain? Jika benar, maka Lucas akan sangat bersyukur lagi.


"Tunggu ...."


Lucas menajamkan pandangannya, setelah tadi berusaha menelisik siapa wanita yang asisten Mike bawa, kini hatinya berdenyut kala sekilas dia melihat wajah wanita itu.


"Lucas turunlah ... lihat apa yang Daddy bawa untukmu."


Tanpa menjawab lagi, Lucas berlari seolah tidak peduli andai dia terjatuh dari tangga itu. Dia mengambur ke arah asisten Mike dan memastikan siapa wanita yang masih terpejam itu.


"Dad?"


Lucas menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya, sama sekali tidak dia duga setelah perang dingin yang terjadi selama ini, Julian akan tersenyum hangat dan memeluknya.


"Daddy?"


"Tidak perlu berterima kasih, sembuhlah, Lucas ... Daddy sudah membawakan obat yang kau butuhkan."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2