
Zora pikir kedatangan Julian kala itu bermaksud untuk kembali menjebaknya dalam neraka. Namun, fakta yang terjadi sebenarnya berbeda. Dia kembali pada Lucas, pria yang membuatnya mabuk dan seolah gila hingga rela menyerahkan segalanya.
Pria yang berniat menikahi, menjadikan istri sesungguhnya meski dengan cara yang amat-amat salah. Hendak bagaimanapun, tindakan Lucas memang sangat salah, tapi Julian yang begitu menyayanginya memilih untuk meredam ego dan mengizinkan sang putra memperistri Zora segera.
Mungkin hadirnya Zora sempat membuat hubungan mereka memanas, tapi tidak dapat dipungkiri Zora pula yang membuat mereka kembali menyatu. Walau, hingga detik ini Zora masih benar-benar kaku.
Berada di rumah yang sama dengan status yang berbeda bukanlah hal mudah. Walau sudah berkali-kali Daddy Julian mengatakan untuk melupakan apa yang telah terjadi, faktanya tetap saja Zora sedikit risih.
Kendati demikian, tidak mungkin Zora hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada Lucas yang menunggunya sangat lama di sini, Julian juga berusaha susah payah mencari setelah enam bulan terakhir berada di bawah perlindungan Fabian.
Bicara tentang Fabian, Zora jadi kepikiran. Tentu pria itu akan kehilangan, bagaimana dia sekarang? Sial, di hari pernikahannya Zora justru memikirkan pria asing. Bukan karena cinta atau bagaimana, tapi dia merasa bersalah jika terlampau bahagia sementara Fabian tidak dia ketahui bagaimana rimbanya.
Usai pernikahan dilakukan, Lucas membawa sang istri menuju rumah yang dia siapkan sejak lama untuk bersama Zora. Tepatnya, sebelum malam panas itu terjadi. Lucas sudah menyiapkan segalanya, tapi kala itu Zora menolak untuk pergi dengan cara lari dari genggaman Julian karena khawatir sang ayah meregang nyawa.
Ketika tiba di sana keduanya telah disambut seorang wanita paruh baya yang Lucas pilih untuk membantu Zora di rumah. Sama seperti rumah, wanita itu juga telah Lucas pinta untuk menjaga istana kecil mereka sejak lama.
"Kau menyiapkan semua ini, Lucas?" Mata Zora berkaca-kaca seraya menatap lekat Lucas yang kini menggenggam tangannya.
Pria itu tersenyum, meski tidak semewah dan semegah mansion ayahnya, tapi jujur saja Zora merasa semua lebih baik. Semua Lucas berikan untuk keluarga kecilnya, tanpa bantuan sang ayah, Lucas menggunakan uang yang dia dapatkan dari hasil kerjanya selama 9 tahun menghilang.
__ADS_1
"Sejak kapan? Kenapa semua barangku sudah kau tata di sini?"
"Sudah lama, enam bulan kau pergi, tapi aku yakin kau akan kembali. Untuk itu aku berpikir akan lebih baik jika semua barangmu aku bawa saja lebih dulu," Jawab Lucas yang seketika membuat air mata Zora kembali menetes, entah mengapa Lucas benar-benar berhasil membuatnya menyesal pergi malam itu.
"Luc_"
"Shuut, don't cry, Honey ... aku tidak mengajakmu menangis, tapi hidup bersama."
Semakin Lucas melarangnya, semakin air mata Zora tumpah. Susah payah dia menahan, tetap tidak bisa. Dia sempat meragukan cinta Lucas, tapi pada faktanya dia yang justru tidak bisa membuktikan kekuatan cinta itu.
Dia tidak mampu bertahan dan berpikir begitu matang untuk pergi dan membesarkan anak itu sendiri. Sementara Lucas? Dia berbeda, dengan kekuataan seadanya, dia tetap melakukan segala cara dan percaya jika Zora akan benar-benar kembali padanya.
Kendati demikian, dia berusaha melakukan apapun yang dia bisa. Termasuk mencari Zora tanpa peduli matahari sudah berganti bulan ataupun sebaliknya. Dia kerap pulang malam, bahkan tidak sengaja mabuk karena hanya itu cara dia merasa sedikit lebih tenang.
"A-aku merasa bersalah, kau melakukan segalanya agar aku kembali sementara aku ... aku bahkan berpikir untuk pergi lebih jauh lagi," tutur Zora penuh sesal, bibirnya bergetar dengan air mata yang mengalir hingga menetes dari wajah cantiknya.
"Tidak apa-apa, kau begitu karena aku yang terlalu lemah ... andai aku bisa melawan Daddy waktu itu, mungkin kita tidak akan begini."
Lucas tidak akan pernah menyalahkan Zora yang pergi darinya. Siapapun bisa menyimpulkan jika wanita itu pergi karena Lucas seolah tidak dapat diandalkan, dia hanya takut jika bayi dalam kandungannya terancam.
__ADS_1
Terlebih lagi, kala itu Julian memang tidak menunjukkan bahwa dia akan mengalah walau sedikit. Sebagai seorang ibu, jelas saja Zora terpaksa memilih jalan tengah meski harus menyakiti hati pria yang begitu dia cinta.
"Berhenti bersedih, kita akan memulai semua dari awal. Lupakan masa lalumu bersama Daddy, musnahkan semua ingatan itu ... kau milikku saat ini," ucap Lucas menegaskan sekali lagi, khawatir saja jika Zora lupa akan statusnya.
Senyum Zora mengembang, dia menatap lekat Lucas yang kini perlahan mengikis jarak. Namun, secepat mungkin Zora menahan dada Lucas hingga pria itu mengerutkan dahi.
"Heum? Kenapa? Sopankah istri menolak ciumman suami?" Sebelum menikah boleh-boleh saja, sekarang dilarang jelas saja dia merasa bingung.
"Aku malu, jangan di sini."
"Malu? Malu kenap_ astaga, Ester kenapa berdiri di sana?"
Wajar saja istrinya malu, saat ini Ester, sang pelayan tengah berdiri di tidak jauh dari mereka. Dia membawakan air hangat yang tadi sempat Lucas minta ketika tiba.
"Silahkan lanjutkan, air hangatnya sudah siap."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -