My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 28 - Durhaka


__ADS_3

Untuk kali ini Lucas tidak sedang berdusta ataupun bersilat lidah. Pria itu sudah menepati janji dan dia hanya sekadar mengawasi, melihat Zora membersihkan tubuhnya, tidak lebih.


Tanpa melepaskan Zora dari tatapannya, terlihat jelas jika wanita itu tidak nyaman, tapi terserah yang jelas Lucas tidak ingin melewatkannya. Bukan karena dia sedang mencari kesempatan belaka, tapi memang dia merindukan wanita itu dengan sangat.


Hingga Zora usai, dia tetap setia di posisinya tanpa melakukan apapun. Lucas tersenyum hangat kala Zora mendekat dan agak sedikit menghindar, padahal sama sekali tidak ada niat untuk menikmati tubuhnya saat ini. Ya, walau jujur saja dia juga merindukan hal itu, tapi bukan berarti Lucas bisa memaksa sesuai dengan kehendaknya.


"Kau terlihat berisi, kau hidup dengan baik tanpaku, Zora?"


Lucas belum bertanya soal itu, tepatnya belum ada waktu. Pria itu sangat bersyukur, bayangan buruk tentang Zora selama enam bulan terbukti salah besar. Tidak ada Zora yang menderita, dia baik-baik saja dan sepertinya jatuh ke tangan orang yang tepat.


"Baik, Tuhan mengirimkan malaikat untuk melindungiku waktu itu."


Terlahir sebagai wanita yang jujur, Zora jelas mengaku dan tidak menutup-nutupi apa yang terjadi. Menurutnya tidak perlu dirahasiakan, bahkan Lucas harus tahu siapa pahlawan yang telah berperan penting dalam hidup Zora beberapa bulan terakhir.


"Ah aku harus beterima kasih padanya, boleh tahu siapa orangnya?"


Sampai di titik ini Lucas masih berbinar, dia tersenyum dan begitu sabar menunggu jawaban Zora. Dia tidak akan segan memberikan imbalan besar untuk siapapun yang sudah merawat Zora dengan begitu baik.


"Fabian."


"Hah? Fabian?"


Kening Lucas berkerut seketika, dia mencoba tidak berpikir lebih jauh dahulu. Nama itu tidak identik dengan pria bukan? Ya, dalam otak Fabian begitulah adanya. Dia berharap jika nama itu adalah nama seorang wanita, jangan pria.


"Iya, kenapa? Kau mengenalnya?"


"Tidak, apa dia seorang wanita, Zora?" tanya Lucas lagi, dia mengekor di balik punggung Zora yang berlalu mendahuluinya.


"Laki-laki, usianya mungkin tidak jauh darimu, tapi terlihat lebih muda karena dia orang Asia."


Zora hanya menganggap Fabian sebagai dewa penolong yang baiknya luar biasa. Rasanya tidak salah andai dia mengungkapkan dengan jelas Bagaiman sosok pria itu. Namun, Lucas justru menanggapinya berbeda.

__ADS_1


Dia yang tadi berbinar kini mendadak murung. Raut wajahnya mendadak berubah dan memilih diam, entah karena tidak tertarik atau ada hal yang membuatnya berpikir dua kali untuk membahas hal itu.


Tanpa bicara, dia juga tidak terlihat marah dan masih sigap mengambil pakaian yang sudah disiapkan untuk Zora. Seperti biasa, Zora yang memang tidak sepeka itu jelas mengira semua baik-baik saja.


Bukan tanpa alasan, usai Zora bicara Lucas memang tidak terlihat mencurigakan. Dia hanya mengangguk pelan lalu diam membisu, selagi dia tidak banyak protes maka bukan masalah besar.


"Kalian hanya berdua?" Beberapa saat terdiam, Lucas kembali angkat bicara dan bertanya lebih dalam meski perlahan.


"Iya, beberapa kali ada pelayan tapi tidak menginap."


"Kalian tidur bersama?" Mungkin terdengar menyakitkan, tapi Lucas harus bertanya demi memastikan hal ini.


Sekalipun iya, dia tidak akan kecewa dan marah pada Zora, tapi justru pada dirinya sendiri. Lucas yang gagal melindungi, Lucas pula yang terlalu lemah hingga Zora memilih pergi. Hanya saja, andai benar iya hati Lucas sudah pasti terluka.


"Mana mungkin, Lucas, di apartmennya ada dua kamar dan kami tidur terpisah."


"Tapi tetap saja, dia laki-laki ... apa tid_"


Besar kemungkinan yang kini ada di otaknya Fabian akan mencuri kesempatan seperti yang dahulu kerap dia lakukan. Sebelum kalimat itu terlontar, Zora hanya ingin meluruskan agar Lucas tidak sembarang bicara, itu saja.


"Enam bulan kau pergi dan tinggal bersama pria, wajar saja aku bertanya, Zora."


"Iya, aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi percayalah tidak ada yang perlu dikhawatirkan ... dia hanya menampungku layaknya tamu, tidak lebih dan dia juga tidak pernah merayuku karena tahu aku punya suami," jelas Zora sedetail mungkin lantaran khawatir Lucas akan terus mempermasalahkannya.


"Suami? Suami yang mana?" tanya Lucas mulai memperlihatkan ekspresi tidak terima, padahal memang begitu keadaannya.


"Juli_"


"Zora!! Sudah kukatakan jangan disebut lagi, kau benar-benar ingin aku gila sepertinya." Belum selesai Zora bicara, Lucas memotong pembicaraan dengan suara yang meninggi.


Sensitif sekali, salah-satu fakta yang tidak dia suka di dunia ini adalah status Zora sebagai istri sang ayah. Dia sungguh malas mendengar hal itu, padahal posisinya dalam rumah tangga Daddy Julian tidak lebih dari orang ketiga.

__ADS_1


"Hahahaha kau lucu sekali, aku benar-benar tidak menduga akan bertemu lagi dalam keadaan seperti ini ... apa kau merengek pada Daddymu?"


"Tidak, Daddy sadar diri mungkin."


"Sadar diri soal apa?" tanya Zora agak sedikit bingung soal ini.


"Ya sadar diri kalau dia sudah tua dan tidak pantas menjadi suamimu ... daddy sudah bau tanah memang tidak cocok menikahi gadis belia." Ocehannya masih sama, sungguh Zora dibuat mengelus dada.


"Jaga bicaramu!!"


"Kenapa? Memang fakta Daddy sudah bau tanah, kenapa kau tidak suka?"


.


.


Lancar sekali mulutnya bicara, tanpa dia sadari jika sejak tadi semua yang keluar dari mulutnya sampai ke telinga Daddy Julian. Lebih memalukan lagi, suara lantang Lucas itu didengar juga oleh asisten Mike yang sejak tadi sudah payah menahan tawa.


"Mike, kau dengar anak itu bilang apa? Dia mengutukku bau tanah!! Mulutnya sama sekali tidak berubah. Apa menurutmu aku memang bau tanah?" tanya Daddy Julian memastikan, dia bahkan sempat menatap wajahnya di cermin pasca mendengar umpatan Lucas.


"Ah maaf, Tuan mungkin itu hanya ungkapan saja ... menurut saya tuan bau rokok, tidak bau tanah," jawab Asisten Mike sama gilanya hingga membuat Daddy Julian menatap datar.


"Terserah kau saja, Zora ... tapi di mataku tua bangka yang kerap main judi itu sudah bau tanah."


"Astaga anak ini!! Awas saja kau, Mike panggil mereka keluar untuk sarapan, aku pastikan sendok garpu tertancap di mata anak durhaka itu!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2