
Lucas memang bukan pria baik, tapi dia tahu cara untuk berterima kasih. Walau sempat terlibat percekcokan panas, Lucas tidak akan melupakan tujuan utamanya. Tidak hanya terima kasih sekarang, tapi juga permintaan maaf karena sempat menyerang Fabian tanpa aba-aba.
Dia hanya terbawa suasana, naluri sebagai suami seakan menggila dan tidak terima kala melihat sang istri berada dalam pelukan pria lain, itu saja. Tidak lain dan tidak bukan, Lucas memiliki ketakutan tersendiri Zora pergi dari hidupnya untuk kedua kali.
"Aku sangat mencintainya, tapi seperti yang kau katakan aku pecundang dan gagal melindungi Zora."
Fabian bungkam, dia menggigit bibir bawahnya pasca pengakuan itu lolos dari bibir Lucas. Dia pikir pembicaraan mereka terhenti sebatas maaf dan terima kasih saja, tapi ternyata lebih dari itu.
Agaknya dia terlalu buru-buru dalam menilai Lucas, faktanya pria itu sangat lembut. Pribadi yang mudah rapuh dan Fabian bisa merasakan hal itu. Entah bagaimana masa lalu Lucas, dia juga tidak mengerti dan tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih dalam.
"Kau pria baik, aku yakin takdirmu lebih baik nanti ... terima kasih sekali lagi, di lain waktu semoga semesta mengizinkan aku membalas semua kebaikanmu, Fabian."
Bingung, hanya anggukan yang Fabian berikan sebagai jawaban. Sebagai sesama pria, dia bisa mengerti bagaimana perasaan Lucas. Terlebih lagi, usai dia mendengar penuturan Lucas terkait kisah yang mereka jalani.
Percintaan rumit yang sempat membuat kepalanya sakit. Fabian sempat tersedak, bahkan batuk cukup lama pasca mendengar bahwa Zora adalah mantan ibu tirinya sendiri. Agaknya dunia memang sudah gila, kisah cinta papanya saja sudah cukup membuat Fabian menganga, ternyata di belahan dunia yang lain masih ada yang lebih gila.
"Kau akan kemana setelah ini?" tanya Lucas mengalihkan pembicaraan, tatapan tak terbaca dari Fabian membuatnya agak sedikit tidak nyaman.
"Pulang, papa memintaku pulang mau bagaimana lagi," jawabnya pasrah, jujur saja dia enggan jika harus pulang.
Fabian malu, kemungkinan besar mantan kekasihnya semakin bahagia andai tahu dia pulang tanpa membawa pasangan seperti yang pernah dia katakan.
"Kau sangat dekat dengan papamu?"
"Sedikit, kami memiliki banyak perbedaan jadi tidak bisa bersatu begitu lama," jawab Fabian mulai masuk dengan pembicaraan.
__ADS_1
"Sama, aku juga begitu ... sejak kecil aku benar-benar membenci Daddy, tapi kau tahu ternyata sejahat apapun dia masih mengutamakan yang terbaik. Begitu juga dengan papamu."
Berawal dari meminta maaf dan mengucapkan terima kasih, keduanya berakhir dengan pembicaraan yang cukup intens. Mereka baru mengenal, bahkan cara mereka bertemu juga tak biasa.
Kendati demikian, baik Lucas maupun Fabian bisa saling mengatasi semua itu. Tidak ada dendam, murni sebuah kesalahpahaman dan memilih berakhir sebagai teman.
Dari kejauhan Zora tampak berusaha mencuri dengan pembicaraan mereka, entah apa alasannya sampai Lucas justru meminta bicara empat mata. Dia beralasan jika pembicaraan itu adalah pembicaraan sesama pria, dan Zora tidak diizinkan ikut mendengar.
.
.
Cukup lama Lucas dan Zora berada di sana. Pertemuan sekaligus perpisahan, besok pagi Fabian akan pergi. Beruntung saja Lucas dan Zora tidak terlambat, mereka masih diberikan kesempatan untuk saling mengenal meski hanya hitungan jam.
Menjelang malam, Lucas dan Zora memilih hotel sebagai tempat bermalam. Sebenarnya Fabian mengizinkan, tapi tidak mungkin dan Lucas menghargainya. Akan tidak lucu jika pria lajang menampung pasangan suami istri di tempatnya.
"Kau suka?"
"Tentu saja, di sini menenangkan aku sangat menyukainya, Lucas." Dia menjawab dengan mata terpejam seraya menikmati suasana yang begitu dia rindukan, mungkin calon buah hatinya yang rindu tempat ini.
"Bukan itu, maksudku kita sekarang," bisik Lucas kemudian mengecup bibirnya, sedikit cemburu karena suasana di tempat ini mengalahkan usahanya dalam membuat Zora melayang ke awang-awang.
"Ah, aku pikir hotelnya," jawab Zora tersenyum simpul dengan wajah yang kini memerah.
Dia malu kala membuka mata dan menyaksikan sang suami tengah menatap lekat di atas tubuhnya, seharusnya Lucas tidak perlu bertanya dan cukup melakukan apa yang dia suka. Jika ditanya suka atau tidaknya, jelas saja iya.
__ADS_1
"Lalu yang ini tidak suka?" tanya Lucas tanpa mengghentikan kegiatannya, tatapan mata Zora sudah menjawab pertanyaan Lucas sebenarnya.
"Jawab, jika tidak aku akan berh_"
"Suka!! Apa perlu kujawab?" Zora menahan punggung Lucas yang hendak menjauhkan diri, sebuah taktik tarik ulur yang berhasil membuat senyum Lucas mengembang setelahnya.
Zora yang mencebik kesal begitu menggemaskan di matanya, jawaban itu Lucas anggap sebagai permintaan hingga dia kembali berkuasa di atas tubuh Zora yang begitu candu sejak lama.
Begitu hati-hati Lucas melakukannya, Zora terbuai dan dibuat luluh berkali-kali. Dia sangat mencintai wanita ini, kemarin, hari ini, esok dan nanti Lucas tidak memberikan batas akhir.
Tanpa peduli bagaimana masa lalu Zora, dia yang akan membuat Zora lupa tentang hal buruk itu. Zora hanya miliknya, dan dia masih memiliki cita-cita untuk hidup seribu tahun lama lagi bersama wanita ini.
Tubuh Lucas menegang, dia mengerang sebelum kemudian ambruk di sisi istrinya. Percintaan usai menikah terasa berbeda, Lucas dibuat tergila-gila dan ingin lagi tanpa pernah ada kata bosan berada di dekatnya.
"Aku mencintaimu, Zora, sungguh," ucapnya lembut seraya mengecup kening Zora begitu lama, dipertemukan kembali bersama Zora adalah hal yang tidak akan pernah Lucas sia-siakan.
"Aku juga mencintaimu, Lucas." Zora membalas pelukan sang suami, saat ini hanya Lucas yang dia miliki. Tidak ada yang lain, karena sang ayah bahkan tidak peduli kala Daddy Julian memintanya datang ke pernikahan Zora.
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah pergi lagi, apapun keadaannya."
"Aku berjanji, bahkan jika bisa mati aku akan bersamamu."
Kisah cinta terlarang yang kini direstui semesta, Lucas menentang dunia dan garis takdir demi cintanya. Terbukti bahwa semua itu tidak sia-sia, Lucas menikmati manis perjuangan di akhir sekalipun nyawa pernah menjadi taruhannya.
.
__ADS_1
.
- Tamat -